Konsumsi Protein Hewani Indonesia Tertinggal Jauh dengan Negara Lain

Ketua Ikatan Sarjana Ilmu Peternakan Indonesia (ISPI) saat memberikan protein hewani kepada siswa. (Lisdya)

MALANGVOICE – Masyarakat Indonesia dinilai masih tertinggal dalam hal konsumsi protein hewani dibanding negara ASEAN lain.

Ketua Ikatan Sarjana Ilmu Peternakan Indonesia (ISPI), Didik Purwanto, menjelaskan alasan tersebut, Sabtu (8/12).

“Penyediaan protein hewani Indonesia salah satu yang dipandang tertinggal dibandingkan negara ASEAN lainya,” ujarnya.

Terkait produksi dalam negeri, ia menyebut Indonesia masih kurang. Sebab, hampir 70 persen kebutuhan protein hewani seperti daging, telur, susu dan lain sebagainya masih import.

“Karena produk dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan di Indonesia,” tambahnya.

Dari sisi konsumsi pun dikatakannya, sektor peternakan Indonesia masih kalah dibandingkan negara tetangga. Konsumsi protein hewani di Indonesia hanya sekitar 8 persen saja.

Sementara negara Thailand dan Filipina sudah mencapai 20 persen dan 21 persen. Bahkan di negara Malaysia, konsumsi protein hewaninya sudah mencapai 28 persen.

“Jelas kita sudah kalah dengan Malaysia, jauh itu. Negara kita per tahunnya saja hanya 8 koma sekian persen itu,” tegasnya.

Selain itu konsumsi susu juga dinilai sangat rendah. Memang masyarakat Indonesia sejak kecil tidak terbiasa meminum susu.

“Untuk susu kita masih sangat tertinggal karena budaya kita belum minum susu. Kalo budaya minum susu itu dari ASI. Kita harus banyak sekali kampanye-kampanye seperti ini,” pungkasnya. (Der/Ulm)