Mengenal Sosok Mbah Rasimun

Konsisten Sejak 1945, Karya Mbah Rasimun Tembus Pasar Internasional

Mbah Rasimun pada Festival Payung Indonesia di Pura Mangkunegaran, Surakarta. (Istimewa)

MALANGVOICE – Perjalanan panjang mewarnai lika-liku perjuangan Mbah Rasimun, Warga Jalan Laksamana Adi Sucipto Gang Taruna 3, RT 04, RW 03, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Gelar sebagai maestro seni payung kertas, tidak begitu saja didapat dengan mudah.

Kakek 90 tahun ini sudah membuat payung kertas sejak tahun 1945. Konsistensinya sampai saat ini, membuahkan hasil berupa penghargaan dari Sri Paduka Mangkunagoro IX Kasunanan Surakarta dan Mataya 17 September lalu, pada acara Penutup Festival Payung Indonesia di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah.

Pada mulanya, payung kertas hasil kreasi Mbah Rasimun ini hanya dijual di beberapa lokasi. Namun, atas keteguhan dan keseriusannya, karya tersebut mampu tembus pasar internasional.

Putra Mbah Rasimun, Rusikin (38), menilai, kesuksesan Mbah Rasimun mengangkat Kota Malang di level nasional hingga internasional melalui seni payung kertas memberikan motivasi tersendiri bagi warga sekitar. Tentu saja, itu semua untuk mengembangkan seni pembuatan payung kertas.

Alhasil, warga bersama tokoh masyarakat kini aktif berdiskusi untuk mengembangkan Kampung Payung sebagai destinasi wisata Kota Malang. “Warga dan Pak RW akan berembug dan rapat bagaimana nantinya pengembangan Kampung Payung di lokasi Mbah Rasimun tinggal ini,” ujar Rasikin.

Terpisah, Yuyun dari Karya Bunga Ngalam yang selama ini membantu pengembangan karya Mbah Rasimun mengatakan, pihaknya sedang menyiapkan kolaborasi payung kertas buatan Mbah Rasimun dengan lukisan Topeng Malang. Karya itu akan dinamakan ‘Payung Ngepot’.

Penggunaan kata Ngepot sendiri merupakan bahasa ‘walikkan’ dari Topeng. “Kami akan bekerjasama dengan seni lukis topeng di Desaku Menanti, sehingga kolaborasi ini diharapkan menjadi hal yang sangat positif mendatang,” kata Yuyun.

Ia menjelaskan, kolaborasi serupa sebenarnya sudah dilakukan Kabunga. Waktu itu payung kertas hasil kreasi Mbah Rasimun dikombinasi dengan lukisan para pelukis ternama Kota Malang. Hasilnya, payung kertas itu laris manis di pasaran hingga dipesan wisatawan dari Jepang, Perancis dan bahkan dalam waktu dekat Mbah Rasimun diundang ke Thailand.

“Kami bangga memiliki maestro seni payung kertas asal Kota Malang. Dan yang positif, setelah Mbah Rasimun mendapat penghargaan warga sekitar semangat untuk mengembangkan seni tersebut. Tentunya ini adalah peluang yang baik bagi tumbuhnya ekonomi warga,” pungkasnya.(Coi/Yei)