Kolaborasi Dindik Jatim dan ITS Sukses Bantu Guru Honorer Bangun Usaha Mandiri

MALANGVOICE– Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jatim meluncurkan Program Terapan Ekonomi Guru (PROTEG). Sebuah terobosan untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer melalui jalur kewirausahaan. Program ini mampu mengantarkan para guru menciptakan peluang ekonomi.

Sebanyak 30 guru honorer se Jatim dihadirkan saat sharing session yang digelar di Van Der Man Coffee, Jalan Sultan Agung, Kota Batu, Kamis (5/1/2026). Mereka berbagi praktik baik pengembangan usaha yang kini telah mapan, legal dan berkelanjutan melalui kberhasilan program itu.

Beragam jenis usaha berhasil dijalankan para peserta. Mulai dari kuliner, percetakan, permainan anak-anak, tata busana, hingga usaha kreatif berbasis teknologi. Tak sekadar bertahan, usaha-usaha tersebut juga telah mengantongi legalitas, membuka peluang ekspansi yang lebih luas.

Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai mengaku bangga dengan capaian PROTEG. Menurutnya, program ini menjawab kebutuhan nyata guru honorer yang selama ini masih bergulat dengan persoalan kesejahteraan.

“PROTEG bukan sekadar program, tetapi bukti nyata kepedulian. Kita melihat langsung guru-guru honorer yang kini mampu berdiri mandiri secara ekonomi, dengan usaha yang legal dan berkelanjutan,” tegas Aries.

Ia menambahkan, kolaborasi Dindik Jatim dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjadi kunci keberhasilan program. Pendampingan yang terstruktur dinilai mampu meningkatkan kompetensi kewirausahaan tanpa mengganggu tugas utama peserta sebagai pendidik.

“Ketika kesejahteraan guru terjaga, semangat mengajar akan semakin kuat. Inilah pendidikan berdampak yang kita bangun bersama untuk masa depan Jawa Timur,” imbuhnya.

Sementara itu, Koordinator Pelaksana PROTEG, M Zainul Asrofi menjelaskan, program ini telah berjalan selama dua tahun sejak 2024 dan menyasar guru honorer di seluruh Jawa Timur. Pada tahun pertama, sebanyak 200 guru ikut serta. Jumlah itu meningkat menjadi 500 peserta pada 2025.

“Peserta dibekali keterampilan kewirausahaan yang praktis dan aplikatif. Karena mereka tetap punya kesibukan utama sebagai guru,” ujar Zainul.

Ia tak menampik, program ini lahir dari realitas rendahnya pendapatan guru honorer, sementara pemerintah belum sepenuhnya mampu memberikan take home pay yang memadai. Kondisi tersebut, kata dia, terjadi hampir di seluruh Indonesia.

Melihat situasi itu, Dindik Jatim bersama ITS menggagas PROTEG sebagai upaya pemberdayaan. Materi pelatihan mencakup perencanaan usaha, pemasaran, pengembangan produk, pengelolaan bisnis, hingga praktik menjalankan usaha secara mandiri.

Seluruh rangkaian kegiatan dilakukan secara daring dan luring, lengkap dengan coaching serta pendampingan sesuai karakter usaha masing-masing peserta. Penekanan khusus diberikan pada pemanfaatan teknologi dan digital marketing agar jangkauan usaha lebih luas.

Dari 500 peserta PROTEG 2025, sekitar 30 persen dinilai memiliki usaha sangat baik dan layak dilepas mandiri. Sebanyak 60 persen masuk kategori baik, sementara kurang dari 10 persen masih berkinerja rendah.

“Memang ada guru yang memilih fokus mengajar dan tidak tertarik usaha. Itu pilihan bebas. Tapi yang terbaik kami undang hari ini untuk penguatan branding sekaligus apresiasi,” jelasnya.

Sebanyak 30 guru terbaik tersebut mendapatkan pembekalan lanjutan terkait pemasaran digital, copywriting dan branding. Dalam penguatan ini, PROTEG juga menggandeng konsultan branding yang berpengalaman mendampingi UMKM di berbagai daerah.

“Kami berharap 30 terbaik ini ke depan bisa menjadi fasilitator bagi peserta lain. Meski saat ini ada efisiensi, semangat berbagi dan berdaya harus tetap dijaga,” ujarnya.

Salah satu peserta PROTEG, Aryo Saputro Panji Riyanto mengaku sangat terbantu dengan adanya program tersebut. Sebab para peserta dibekali materi mulai dari Business Model Canvas, manajemen usaha, pengelolaan keuangan, hingga strategi membangun jejaring bisnis.

Bagi Aryo, inilah fase penting yang mengubah cara pandangnya dalam mengelola usaha. “Dari PROTEG saya belajar bikin sistem. Sekarang usaha bisa jalan lebih rapi dan mandiri, tidak harus selalu saya pegang langsung,” ujarnya.

Berbekal ilmu tersebut, Aryo mengembangkan usaha kopinya lebih serius. Kafe yang sebelumnya ia kelola perlahan bertransformasi menjadi supplier kopi bagi sejumlah kafe di wilayah Malang Raya. Ia juga membangun jaringan petani binaan dan mengelola kebun kopi sendiri demi menjaga kualitas dan kesinambungan pasokan.

“Saya ingin usaha ini tidak hanya untung, tapi juga sehat dan berkelanjutan. Petani ikut sejahtera, kualitas kopi terjaga,” katanya.(der)

Berita Terkini

Arikel Terkait