Kenali Cabin Fever, Bisa Serang Mental di Tengah Pandemi Covid-19

Ilustrasi karantina mandiri (foto: shutterstock)
Ilustrasi karantina mandiri (foto: shutterstock)
Article top ad

MALANGVOICE – Di masa pandemi virus corona atau Covid-19. Pemerintah pusat maupun daerah sudah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan menganjurkan masyarakat agar dirumah saja guna memutus rantai penyebarannya.

Seiring berjalannya itu, masyarakat ternyata tidak hanya mulai dipusingkan dengan kondisi perekonomiannya. Melainkan juga mulai timbul perasaan bosan, sedih, sepi, takut hingga lesu karena terlalu lama berdiam diri di rumah.

Kondisi perasaan kacau atau istilah barunya Cabin fever tersebut bisa berdampak pada kondisi mental dan psikis. Sehingga perlu adanya perhatian agar tidak menjadi timbulnya penyakit lainnya.

Menurut beberapa pengamat mengungkapkan bahwa cabin fever adalah semacam sindrom musiman atau efek dari claustrophobia (ketakutan dan serangan panik irasional karena tidak dapat melarikan diri dari situasi berbahaya).

Kondisi ini tidak dianggap sebagai gangguan psikologi. Meski begitu, kondisi ini dapat meningkatkan tingkat stres dan gejala depresi.

Sebagaimana melansir dari berbagai sumber, berikut MVoice merangkum faktor-faktor gejala timbulnya cabin fever pada seseorang diantaranya:

1. Sedih, kesepian, dan merasa gelisah.
2. Keputusasaan, lekas marah, dan tidak sabar.
3. Lemas, lesu, kehilangan semangat, dan stres.
4. Bingung, ketakutan, dan perasaan kacau.
5. Mengalami gangguan tidur dan sulit konsentrasi.
6. Perubahan berat badan, mengidam makanan tertentu, dan mengalami penurunan motivasi hidup.
7. Halusinasi dan mudah tersinggung.
8. Tidak mampu mengatasi diri sendiri dan tidak percaya diri dengan orang sekitar.

Dijelaskan bahwa gejala tersebut umumnya terjadi pada kondisi ketika tidak berinteraksi sosial dalam jangka waktu tertentu.

Makanya, kepribadian dan diri sendiri yang dapat menentukan sampai kapan ini akan terjadi. Karena ada beberapa kelompok yang mungkin sulit mengatasi kesedihan tersebut.

Namun, ada salah satu kelompok yang mengatasinya dengan menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas baru. Sehingga, hal tersebut bisa dilupakan dengan adanya aktivitas tadi.(Der/Aka)