Kembang Ikhlaskan Diri Jaga TMP Tanpa Bayaran Sejak 1967

Tmp
Kembang (kiri, baju batik). (Toski D).
Article top ad

MALANGVOICE – Kembang, warga Desa Gunung Petung, Kecamatan Turen, miliki cara tersendiri untuk hormati dan membalas semua jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur.

Cara Kembang untuk membalas jasa para pahlawan yang telah gugur perlu diapresiasi, lantaran, pria paruh baya tersebut mengikhlaskan diri untuk menjadi penjaga Taman Makam Pahlawan (TMP) Desa Gunung Petung, Turen, tanpa ada bayaran atau gaji sejak tahun 1967 silam.

Keinginan Kembang menjadi penjaga TMP tersebut ternyata atas permintaan dari salah satu kyai di daerah Turen.

“Saat itu, di tahun 1967, saya di suruh menjaga makam ini oleh salah satu kyai yang mau meninggal, dan anaknya gak mau meneruskan,” ucap Kembang, saat ditemui,. Sabtu (15/8).

Menurut Kembang, Kyai tersebut datang langsung ke rumah, sambil meminta agar dirinya merawat makam yang saat itu masih ada 100 makam, dan kondisinya sangat memprihatikan.

“Kyai itu datang ke rumah minta buat merawat di sini (TMP, red) kira-kira waktu itu masih 100 Makam. Akhirnya saya mau mengurus karena tidak tega makam-makam pahlawan ini tidak terurus, dan banyak rumput-rumput ilalang setinggi batu nisan. Alhamdulillah saya bersihkan sampai serapi ini sekarang,” jelasnya.

Akan tetapi, dalam mengurus TMP tersebut, Kembang tidak mendapatkan gaji pokok dari pihak Desa Gunung Petung maupun dari Kecamatan Turen. Dia, mengaku ikhlas tanpa ada bayaran.

“Saya dari awal ikhlas tanpa dibayar, Alhamdulillah baru-baru ini dapat bantuan beras dan uang dari Departemen Sosial. Jika dari desa cuma dikasih beras sesekali dan baru-baru ini. Sebelumnya tidak pernah dapat bantuan sama sekali,” terangnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Kembang menjadi buruh cangkul atau mendapatkan santunan dari peziarah atau warga.

“Tapi, kalau dari merawat makam tidak dapat gaji. Biasanya ada bantuan seikhlasnya dari warga dan peziarah. Selain merawat makam ini biasanya saya bekerja jadi buruh cangkul,” akunya.

Namun, di tahun 2019 lalu, Kembang akhirnya mendapatkan gaji per tiga bulan sekali, tapi terasa tidak layak atas jasanya merawat makam para pahlawan ini sejak 1967, dan saat ini sudah ada 172 makam yang harus dirawat dalam setiap harinya

“Sejak 2019 ini Departemen Sosial memberikan Rp 750.000,- per 3 bulan. Di tahun 2020 ini rencananya naik jadi Rp 1.120.000,- per 3 bulan, tapi jadi apa tidak saya belum tahu. Saya merawat di sini setiap hari dari pagi sampai sore, biasanya menyapu dan mencabuti rumput,” tandasnya

Komandan Koramil (Danramil) 0818/14 Turen, Kapten Inf Yuyud Hadi Purnomo mengakui jasa-jasa Kembang selama ini. Bahkan, setiap kali dirinya datang ke TMP, ia selalu melihat kondisi TMP bersih tanpa ada rumput liar.

“Komentar saya mengenal Pak Kembang, apapun ceritanya bahwa dia berjasa kepada TMP. Apalagi Pak Kembang juga kategori keluarga ekonomi sederhana,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Yuyud, dirinya berharap Pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Sosial bisa meringankan beban ekonomi bapak Kembang, terutama pihak Desa Gunung Petung.

“Kita harap juga ada perhatian dari semua pihak, kalau hanya mengandalkan Koramil ya pasti ada batasnya juga. Karena Koramil hanya pemakaman dengan protokol-protokol kemiliteran. Tugas untuk perawatan atau memberikan honor penjaga makam adalah pada dinas terkait,” tukasnya.(der)