DICARI: PARA PENONTON YANG BERBUDAYA

“Ini perhelatan budaya, kami mempersiapkan dan bekerjakeras menyelenggarakan acara ini dengan semangat, nilai-nilai dan cara-cara yang berbudaya, jika anda ingin menontonnya, menikmati acaranya, berinteraksi, belajar, dan atau mengambil makna daripadanya, jadilah penonton yang berbudaya dan layak dihormati”

Oleh: Tatok (Kristanto Budiprabowo)

Para penonton

Kehadiran penonton adalah bagian penting dalam sebuah pertunjukan. Ada beragam model penonton, diantaranya adalah: yang pertama, penonton yang dekat, langsung, dan berinteraksi dengan suasana yang diciptakan oleh sebuah pertunjukan. Penonton ini kadang bisa nampak sangat fanatik mencintai apa yang ditontonnya, kadang mengenal para pemain pertunjukan secara personal, dan mengekspresikan diri dalam semangat yang ditampilkan oleh sebuah pertunjukan.

Yang kedua adalah penonton yang pasif, apatis, kadang sinis menjaga jarak. Penonton ini lebih memilih menikmati dirinya sendiri dan keasyikannya sendiri sembari berada di keramaian sebuah pertunjukan. Apapaun yang terjadi dalam pertunjukan itu tidak penting. Bahkan susah untuk menanyakan pada mereka apa yang disukai dalam pertunjukan tersebut.

Yang ketiga, ini biasanya sedikit saja, adalah kelompok penonton yang justru berusaha menjadi orang yang ingin ditonton, ingin menjadi pusat perhatian dalam pertunjukan. Bahkan para pemainpun berusaha mengarahkan pertunjukan bagi orang-orang ini. Penonton diarahkan sedemikian rupa bahwa pertunjukan hanyalah sarana agar para penonton menonton penonton khusus ini. Aneh memang. Tapi begitulah seringkali orang penting didudukkan dan mendudukkan diri dalam sebuah pertunjukan.

Yang keempat, sebagai akibat dari makin canggihnya teknologi, adalah penonton jarak jauh lewat media televisi atau streaming jaringan internet. Penonton seperti ini kadang yang paling keras membuat analisa baik buruknya sebuah pertunjukan berlangsung. Semacam sindrom kolonialisme pendidikan; penelitian obyektif adalah yang dilakukan dengan cara mengambil jarak. Begitulah kadang di kalangan penonton jenis inilah sebuah pertunjukan bisa menjadi isu dan perbincangan sosial yang berkepanjangan.

Belajar dari suporter Arema

Yang banyak tidak diketahui orang di dunia sepakbola adalah adanya hubungan yang saling menguntungkan antara penonton sepak bola dengan keseluruhan sistem managemen tim dan bahkan berabagai kompetisi sepakbola yang ada. Keempat jenis penonton diatas, dalam dunia suporter sepakbola adalah asset-asset penting yang dikelola dengan sangat sistematis sehingga hubungan saling memuaskan itu memberi makna pada pesan-pesan peradaban.

Arema dengan slogan “Salam Satu Jiwa” nya adalah contoh yang paling original dalam gerakan akar rumput untuk menghubungkan kecintaan masyarakat tidak hanya pada tim sepakbola kesayangannya melainkan juga pada makna nilai-nilai hidup yang berbudaya dan berperadaban. Kecantikan permaian, kemenangan dalam kompetisi, dan transparansi managemen tim selalu penting, namun dibalik itu ada gelora massa untuk menyadari jadi diri sebagai sebuah kesatuan kebersamaan bagi kejayaan.

Upaya-upaya pengorganisasian yang dibangun secara formal, kebebasan tiap-tiap orang untuk menciptakan komunitas-komunitas dengan segala kreatifitas ekspresinya, dan keleluasaan memanfaatkan segala atribut bagi kepentingan bersama, adalah realitas yang patut disyukuri yang menghadirkan arema bukan hanya sekedar sepakbola. Dia bisa juga soal bakso, soal cwimie, soal pecel dan es campur, soal dagang kaos, soal media, soal nusik dan lagu, dan bahkan soal-soal yang lebih fundamental semacam relasi interpersonal menghadapi keragaman sosial yang ada secara filosophis, sosiologis dan bahkan politis.

Arema way adalah pesan damai dalam kegembiraan bersama dan kebanggaan bersatu jiwa. Maka tidak perlu heran jika pertandingan tim arema selalu menjadi hal yang menarik dan mendapatkan apresiasi dari para penonton dengan beragam evaluasi. Karena dibalik kegembiraan kemenangan atau kekecewaan kekalahan tim kesayangannya, tiap-tiap penonton menemukan ruang refleksi mendasarnya, yaitu “salam satu jiwa”.

Penonton seni tradisi Malangan

Mengapa gelora kecintaan para penonton seperti yang terjadi pada pertandingan sepakbola tidak terjadi pada ekspresi-ekspresi seni budaya lainnya, terutama ekspresi seni tradisional yang semua orang menyadari adalah bagian dari hidup arema? Bukankah penonton tetaplah penonton apapun pertunjukan yang ditampilkannya; entah itu pertandingan sepakbola atau pertandingan bantengan, jaranan, patrol, atau kompetisi musik, tari, teater tertentu?

Menjawab hal ini jelas tidaklah mudah. Kalaupun hendak diadakan survey, dia akan menghadapi persolan-persoalan mendasar hingga pada kecenderungan memaknai hidup masyarakat yang ada di dalamnya. Jadi pertanyaan di atas sebenarnya adalah pertanyaan eksistensial yang akan memperlihatkan keaslian wajah arek-arek malang – arema dalam kesadaran budhi dan dayanya. Pendek kata, hal itu akan mempertanyakan budaya penonton dan budaya pertunjukan yang ada di Malangraya ini serta usahanya mempraktekkan nilai-nilai hidup di dalamnya.

Arema adalah bagian penting dari budaya Malangraya untuk Indonesia. Sesungguhnya tiap perhelatan yang melibatkan penonton, termasuk pertandingan sepakbola adalah perhelatan budaya yang mencerminkan kehidupan manusia-manusia yang terlibat di dalamnya.

Dalam asumsi saya pribadi, sudah waktunya bagi masyarakat Malangraya – arema – untuk membebaskan diri dari resistensi masa lalu yang memposisikan segala bentuk perhelatan – selain sepakbola – sebagi ajang propaganda dan indogtrinasi politis.

Kita sudah hidup di era pasca reformasi, era dimana segala bentuk ekspresi budaya telah terbebas dari cengkeraman dan ancaman tunduk pada kemauan kekuasaan. Jika arema sebagai suporter sepakbola telah menjadi pioner pembebasan diri dari hal itu, tentu terbuka peluang bagi gelora penonton yang sama pada segala jenis pertunjukan seni budaya yang ada di Malangraya.

Bagaimana itu bisa dimulai? Mari kita tanyakan pada semua orang yang terlibat dalam dunia seni dan budaya. Kalau perlu mengajak mereka belajar pada arema. Belajar membangun semangat “salam satu jiwa”.

Dulu bangga menjadi arek Karuman, sekarang bangga menjadi Arema

Diskresi BP2T Kota Malang, Pelanggaran Serius atas Tata Kelola Toko Modern

Oleh: Soetopo Dewangga *

Menurut Undang –Undang No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, yang dimaksud dengan pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.

Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BP2T) Kota Malang merupakan alat penyelenggara negara yang mempunyai kewajiban melayani setiap warga negara dan penduduk untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan publik yang merupakan amanat UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Karena itu BP2T sebagai Badan Pelayan Publik harus mampu membangun kepercayaan masyarakat atas pelayanan publik yang dilakukan penyelenggara pelayanan publik sekaligus merupakan kegiatan yang harus dilakukan seiring dengan harapan dan tuntutan seluruh warga negara dan penduduk tentang peningkatan pelayanan publik.

Semangat UU Pelayanan publik jelas, bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas dan menjamin penyediaan pelayanan publik sesuai azas-azas umum pemerintahan dan korporasi yang baik serta untuk memberi perlindungan bagi setiap warga negara dan penduduk dari penyalahgunaan wewenang di dalam penyelenggaraan pelayanan publik, diperlukan pengaturan hukum yang mendukungnya.

Terkait pelayanan BP2T perihal perijznan operasional toko modern di Kota Malang, Pemuda Demokrat Indonesia Kota Malang bersama Aliansi Masyakat Peduli UMKM telah melakukan hearing dengan BP2T dan Dinas Perindag yang difasilitasi Komisi C DPRD Kota Malang, dan terungkap secara nyata, BP2T telah melukan pelanggaran terhadap Perda No 8 Tahun 2010 khususnya Pasal 25 ayat 1 yang menyatakan bahwa, Pelaku usaha yang akan melakukan kegiatan usaha di bidang Toko Modern, wajib memiliki IUTM untuk Minimarket, Supermarket, Department Store, Hypermarket dan Perkulakan.

Dalam hearing itu, Kepala BP2T mengakui bahwa BP2T sebagai Badan yang melayani perizinan tidak pernah mengeluarkan Izin Usaha Toko Modern (IUTM), kecuali izin gangguan (HO) dan Amdal Lalin. Diskresi yang dilakukan BP2T Kota Malang ini berdampak pada operasional toko modern yang masif (223 unit) yang keberadaannya ilegal, karena hanya dialasi hak izin HO dan secara nyata merupakan pelanggaran terhadap Perda No 8 tahun 2010.

Keberadaan operasional toko modern di Kota Malang mayoritas dikelola dengan model ritel modern waralaba, yang seharusya juga berpedoman pada Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang – Undang No 28 tahun 2002 tentang waralaba Jo Peraturan Pemerintah No 42 tahun 2007 tentang waralaba. Ketugasan pengawasan, pengendalian, monitoring dan evaluasi tentang waralaba ini melekat pada Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Perindag, yaitu pemrosesan rekomendasi perizinan di bidang usaha perdagangan dan pelaksanaan pemberian dan pencabutan perizinan di bidang perdagangan.

Sesuai lampiran III A-1 Peraturan Mentri Perdagangan Republik Indoensia No 53/M-DAG/PER/8/2012 tentang penyelenggaraan waralaba, maka di dalam surat permohonan tanda pendaftaran waralaba ( SP-STPW ) harus menguraikan perihal jenis dan merk usaha yang diwaralabakan sebagaimana tertuang dalam porpektus waralaba.

SP–STPW inilah sebagai check list bagi Perindag untuk melakukan monitoring dan evaluasi operasional toko ritel modern waralaba. Jika ada temuan pelanggaran terhadap SP–STPW, Perindag dapat melakukan tindakan dari peringatan hingga pencabutan SP–STPW yang berarti akan menghentikan operasional ritel modern waralaba.

Dalam praktek ritel modern waralaba di Kota Malang, ternyata megikuti tren pola hukum pasar, yaitu meyediakan barang yang dibutuhkan konsumen, hingga semua kebutuhan masyarakat tersedia di toko modern waralaba, bahkan diberi label sesuai dengan merk toko modern waralaba yang bisa jadi ada unsur pelanggaran HAKI (Hak intelektual maupun hak cipta).

Ketika ritel toko modern waralaba tidak memiliki SP-STPW maka keberadaan ritel toko modern waralaba Ilegal sebagaimana diatur dalam UU No 28 tahun 2002 tentang waralaba. Dan sebaliknya jikalau ritel toko modern waralaba pemegang SP-STPW menjalankan praktek perdagangan yang menyimpang dan dibiarkan oleh Dinas Perindag, maka ini juga pelanggaran Tupoksi Dinas Perindag terhadap UU no 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik.

Jalan tengah yang diusulkan Aliansi Masyarakat Peduli UKMK Kota Malang dan menunggu rekomendasi DPRD Kota Malang, adalah ferivikasi faktual terhadap operasional dan tata kelola toko modern di Kota Malang, agar terjadi sebuah persaingan usaha yang sehat serta kondusif, sebagaimana diatur dalam UU No 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, sehingga UMKM kota Malang bisa tumbuh dan berkembang sebagai penyokong utama dalam pertumbuhan ekonomi baik dalam sekala lokal maupun nasional.

Berdasar informasi yang diterima Aliansi yang perlu dipastikan, bahwa ada sekitar 40% dari 223 toko modern di kota malang izinnya akan berakhir pada 2015, semoga BP2T tidak lagi melakukan perpanjangan izin, walau bagi aliansi, izin yang dikeluarkan BP2T secara nyata bertentangan dengan perda No 8 tahun 2010, sehingga bisa dinyatakan ilegal, setidaknya ini bisa menjadi sebuah langkah awal kemauan politik pemerintah Kota Malang untuk menata keberadaan toko modern, termasuk toko modern waralaba sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.

Jikalau pembiaran ini terus berlanjut, bukan mustahil rakyat akan bertindak dalam batas ketidakwajaran sebagaimana BP2T dan Perindag yang terindikasi turut serta melakukan ketidakwajaran atas bergai diskresi operasional toko modern di Kota Malang.

Pada Konsumen dan pelaku UMKM saatnya menjadi konsumen dan pelaku UMKM yang cerdas, saling bergandeng tangan untuk melakukan perlawanan dalam batas–batas kepatutan atas penghisapan potensi ekonomi dalam persaingan usaha yang tidak sehat akibat diskresi pemkot Malang atas operasional toko modern yang ilegal dan carut marut.

*Soetopo Dewangga, Ketua Cabang Pemuda Demokrat Indonesia Cabang Malang dan Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli UMKM.

Liwat Gang Gawat…

ikon paitun gundulBiasae lek ate nang Alun-alun, Paitun nunut mikrolet. Tapi saiki kepingin uklam. Nrabas gang-gang, liwat trotoar, terus ngaso diluk nang isor wit. Kolem sak uklame sikil, Paitun ublem Gang Gawat.

“Suwe gak liwat kene, wong-wong tambah sugih ketoke,” batine Paitun. Sak dowone gang ancene akeh sing mbangun omah, onok ae lek agit.
“Lho, Paitun, dungaren liwat kene!” bu Wiwik mbengok, Paitun sampek jumbul. Onggot mulai emar komentar. Paitun meneng ae, ngaso ndik buk’e pos. Dirungokno ae nggedabruse wong-wong nang kono.

“Paling Paitun melok-melok blusukan ya?” onok sing nyaut.
“Yo ket biyen lek Paitun. Durung onok sing blusukan, Paitun wis blusukan,” jare liane. Mbak Tin mecungul kolem pisan, takok nang Mbak Tin.
“Mbak Tin, tukang sampeyan prei ta?
“Duduk tukange sing prei, sidu iki cupet?
“Sopo sidu iku mbak?”
“Si duitt….” Mbak Tin jawab cengengesan. Paitun mbatin, pancet ae Tin iki. Mulai nom sampek rabi sik prengesan ae koyok arek enom.
“Alaa paling yo ojire deleh isor bantal. Ndang marekno omah sampeyan cek ndang apik,” jare Mbak Wiwik, manasi. Paitun mek mesem tail wong-wong iku.

“Kono lho, njaluko walikota, mumpung saiki mbangun kantore. Be’e sampeyan oleh lungsurane kayu reng ta semen,” onok sing mulai ngawur.
“Ngawurae… lek jenenge walikota, yo opo ae yo enak. Kepingin sembarang sak det sak nyet yo dadi. Lha aku, iso ae mbangun omah ndang mari, uuaapik, tapi maringono poso setahun. Isuk bengi teter sego krupuk ambek kecap, lak iso kendho kabeh sak omah.” Wong-wong podho kekel, Paitun mek mesem. Iso koyok aku koen, batine Paitun. Awak bendino kemping hare.
“Takok’o Paitun. Tun, awakmu wis mampir ta nang balaikota. Mampiro Tun.”
“Yo Tun, deloken, jare uaapikk, mewah Tun. Awakmu masio ngono yo kudu ngrasakno. Lungguhane jare empuk Tun,” Bu Wiwik ngurupno spiker aktipe.
Wis iki, batine Paitun, mulai gak enak iki. Omongane Bu Wiwik mulai pengaruh. Mbak Tin tambah banter.
“Lho iyo lho, masio awake dewe yo kudu ngrasakno.”

“Kita kan termasuk ikut urun?” mbak Wiwik mulai gae bahasa.
Paitun kroso mulai gak enak. Ngadek alon-alon ateh ngaleh.
“Ate nang endi Tun. Dijak rundingan dadak ngaleh.”
Paitun acuh ae. Lek gak ngaleh, awak iso kepengaruh.
“Paitun cabut, rek!” jare wong-wong podo atawek.
Paitun nyludurae, sing bengak-bengok jarno batine Paitun. Paitun wis ate utem gang, ngono yo onok ae sing mebngok tekan loteng.

“Tun, lek ketemu walikota sampekno yo, kapan rek slametane. Ojok lali ayas ambek onggot-onggot diundang ya!?! Temenan Tun, sampekno yo…!
Paitun gak ngreken, tapi pas mlaku sobo trotoar nerusno uklame sikil, Paitun mbatin, wong-wong yo onok benere. Cobak se tak mampir, ambek ate ngomong suwun soale alun-alunku male apik.

Titi Mongso Goro-Goro (Patahan Sejarah)

Oleh: Cokro Wibowo Sumarsono *

Dalam jagad pewayangan digambarkan dengan jelas melalui janturan Ki Dalang bahwa akan tiba sebuah masa (titi mongso) sulit dan gelap gulita dalam berkehidupan. Sebuah titi mongso yang harus dilalui oleh sebuah bangsa sebelum memasuki jaman kencono (jaman keemasan).

Masa gelap tersebut dinamakan dengan istilah goro-goro, yang ditandai dengan beberapa pertanda alam secara beruntun sebagai berikut, yaitu :
‘Akeh udan salah mongso, guntur gludhug bledheg sesamberan, peteng ndhedhet lelimengan. Gunung jugrug sinartan lindhu, padhas gempal, tebing longsor, lesus pindha pinusus. Jawah deres angin garudha ugi banjir bandhang’.

Artinya :
‘Banyak hujan yang salah musim (waktunya panas tetap hujan), guntur dan guruh sambar menyambar, mengakibatkan gelap gulita tanpa cahaya (gelap mata). Gunung meletus yang disertai dengan gempa bumi, tanah-tanah keras pada rontok, tebing banyak yang longsor dan puting beliung beriringan. Hujan deras disertai dengan badai taufan serta banjir bandang di mana-mana’.

Selain itu disebutkan pula tanda-tanda lainnya yaitu :
‘Brahmana wis sirna tapane, satriya sirna kaprawirane, bebasan kali ilang kedhunge. Sepuh anem salang tunjak numbuk bentus, rebut ing ngarsa luru boga tanpo wigih ringa-ringa. Temah telas tilasing kamanungsan, tilar kapribaden, tebih ing katresnan, datan asih mring sesami, datan metang sangsaraning liyan, angger kasembadan kang sinedya’.

Artinya :
‘Orang-orang yang dituakan sudah tidak menjalankan fungsinya lagi sebagai pengayom sedangkan para ksatriya telah kehilangan jiwa patriotnya. Seperti sungai yang kehilangan palungnya (karena tertutup limbah dan sedimentasi sampah). Tua ataupun muda saling menghujat dan menghajar, saling berebut menjadi pemimpin terdepan, berburu rente dengan tanpa malu-malu lagi. Telah lenyap peri kemanusiaan, kepribadian bangsa ditinggalkan, menjauhi kasih sayang antar sesama manusia. Tak pernah menghiraukan kesengsaraan orang lain, yang penting terwujud keinginan pribadinya’.

Gambaran pujangga kuno tersebut banyak yang terjadi pada saat ini. Liberalisasi politik dan ekonomi telah menciptakan budaya liberal secara massif dan sistemik. Ajang silaturahmi dikalahkan dengan media sosial, gotong royong dirontokkan dengan menjamurnya individualisme. Kekeluargaan diganti dengan permusuhan, tradisi kritik oto kritik berubah menjadi hasut dan bully membully. Politik persatuan telah bergeser menjadi politik adu domba dan pecah belah antar anak bangsa.

Semua mengurus pemerintahan, sedikit saja yang mengurus negara. Hiruk pikuk selalu terjadi dalam pemilihan umum (demokrasi prosedural) sementara sedikit saja yang berminat dengan demokrasi substansial.

Perbedaan antara negara dan pemerintahan perlu ditegaskan, agar jelas program buat rakyat atau konstituen. Perbedaan antara anggaran publik dan anggaran aparatur juga perlu diluruskan. Agar belanja aparatur tidak lebih besar daripada belanja untuk publik. Hak asasi juga harus diiringi dengan kewajiban asasi. Kritik juga seiring dengan solusi.

Goro-goro merupakan patahan sejarah, sebuah masa pergolakan yang dipengaruhi oleh anasir unsur alam dan ketidakseimbangan peri kemanusiaan.
Goro- goro merupakan patahan sejarah, jikalau kita lengah akan diterkam habis oleh predator yang siaga mengintai di tapal batas.

Goro-goro merupakan patahan sejarah, yang harus kita lalui dengan tabah, demi masa keemasan menuju negeri adil makmur seperti yang dicitakan pendiri bangsa.

Kencangkan ikat pinggang, perkuat kemandirian, siapkan mental dan logistik guna hadapi peristiwa besar yang bakal terjadi.
Tetap setia di garis massa!

*Cokro Wibowo Sumarsono, Mantan Sekretaris Jenedral Presidium GMNI dan Ketua DPP Gerakan Pemuda Desa Mandiri (Garda Sandi).

Quo Vadis Toko Modern Ilegal di Kota Malang

Oleh: Soetopo Dewangga *

GEMURUH suara Pemkot Malang pada detik–detik menjelang akhir 2015 dalam merespon keresahan masyarakat, yang salah satunya disuarakan Aliansi Anti Toko Moderen Illegal Kota Malang, terkait menjamurnya toko moderen yang menurut temuan Aliansi keberadaannya Illegal, direspon gegap gempita oleh Wali Kota Malang, yang antara lain menyampaikan akan inspeksi mendadak (Sidak) dalam bentuk Opsgab (operasi gabungan), dan bagi yang melanggar pasti disanksi, bahkan yang tak berizin di-police line.

Opsgab yang dilaksanakan pada 30 Desember dengan melibatkan beberapa SKPD terkait, telah menemukan beberapa toko moderen yang menurut Kepala BP2T, ada yang tidak bisa menunjukkan surat izin dalam bentuk SIUP maupun HO dan atau beberapa di antaranya SIUP dan HO nya sudah mati. Padahal SIUP dan HO hanyalah salah satu di antara persyaratan lain bagi pemilik usaha toko moderen untuk memperoleh IUTM ( Izin Usaha Toko Moderen ).

Atas temuan itu, ternyata Pemerintah Kota Malang tidak memberi sanksi apapun, bahkan janji memberi tanda police line pun hanya sebagi ungkapan bombastis yang tidak ada dalam tindakan nyata.

Dalam beberapa bulan terakhir, kita semua dibuat tercengang dengan penampilan akrobatik SKPD terkait took modern di Kota Malang, terutama menyangkut terkait tata kelola toko moderen.
Kasus Perda No 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Pusat Perbelanjaan,
Toko Moderen dan Pemberdayaan Pasar Tradisional, cacat tanggal penandatanganannya oleh Wali Kota Malang, sehingga Perda itu justru menjadi simbol carut-marut dan amburadulnya sistem penegakkan Perda Kota Malang terkait tata kelola toko moderen, disusul dengan Opsgab yang tak berhujung pangkal.

Sementara itu Pemerintah Kota Malang dengan tegasnya melakukan penindakan pada pedagang asongan di Alun–alun, PKL di kawasan Pasar Besar dan terakhir penertiban parkir liar, menjadi pemandangan kontras betapa dewi keadilan dengan mudahnya menebas hak-hak wong cilik secara serampangan, yang sesungguhnya memiliki derajat kesamaan dalam pelanggaran terhadap Peraturan daerah .

Akibatnya, masyarakat menilai secara tidak langsung bahwa penegakkan Perda bukan lagi menjadi bastion of justice (benteng keadilan), melainkan bassinet of justice (keranjang keadilan) yang mudah dininabobokan dan diayun sesuai kehendak penguasa.

Menyitir metode ‘moral reading’ dari Ronald Dworkin, Satjipto Rahardjo (2008) telah mengkonstruksikan negara hukum Indonesia sebagai suatu negara dengan nurani atau negara yang memiliki kepedulian (a state with conscience and compassion). Artinya, common sense dan legal sense yang berselaras dengan legal and moral ethics sejatinya menempati status penting dalam sistem penegakkan hukum di Indonesia.

Maka dari sudut subyeknya, penguasa harus membuka hati dan pikirannya terhadap perkembangan masyarakat, berdasar ketentuan hukum positif yang berlaku, agar dapat terhindar dari jebakan bahwa hukum tanpa ketegasan justru seringkali menghalangi lahirnya keadilan itu sendiri.

Berdasar data yang diungkap Kepala BP2T Kota Malang, bahwa jumlah toko moderen sebanyak 265 unit, terdiri dari 223 sudah diverifikasi dan 42 dimungkinkan tidak berizin, serta dinyatakan semuanya illegal oleh Aliansi, maka titik-titik kanker sudah diketemukan, dan melakukan operasi caesar dengan pisau yang tepat layak segera dilakukan, serta langkah seanjutnya adalah menata ulang sesuai peraturan perundangan berlaku.

Seyogyanya momentum ini dimanfaatkan sebagai renaissance ( kebangkitan ) nurani Pemkot Malang, sebagai wujud nyata komitmen dan kemauan politik dari Pemkot Malang dan DPRD. Sudah barang tentu masyarakat amat merindukan teladan hukum, sehingga prasyarat kejujuran, ketegasan, dan keberanian dalam menegakkan Perda dengan moral dan nurani, menjadi syarat minimal dari pencarian keadilan bagi masayarakat.

Sebaliknya, jika terbukti atau setidak-tidaknya terindikasi adanya praktik penyimpangan atas Perda di atas kekuasaan manapun, maka sudah selayaknya segera dibersihkan. Dalam konteks ini, ibarat ikan membusuk mulai dari kepala hingga ke ekor, maka tindakan yang pantas dilakukan adalah dengan memotong dan membuangnya (Imperium, 2007).

Masalah pelik dihadapi, ketika nurani seseorang tertutup kabut tebal akibat ‘keterlanjurannya’ terlibat atas sandiwara Prosedur dan Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi). Satu hal yang tidak kalah pentingnya, bahwa carut marut tata kelola toko moderen di Kota Malang telah jatuh di meja publik melalui pemberitaan media massa, sehingga tabir kelam penegakkan Perda Toko Moderen di Kota Malang dapat tersingkap.

Quo Vadis (ke arah mana) tata kelola toko moderen di Kota Malang masih membutuhkan perjuangan dalam menegakkan keadilan berdasar moralitas dan hati nurani yang tulus memang terasa berat dan tiada henti. Akan tetapi, keyakinan atas pencapaiannya tidak boleh pernah goyah atau redup sedikitpun.

Tentunya di masa yang akan datang kita berharap, tak perlu lagi kita mengais-ngais untuk sekedar mencari sebongkah nurani di tengah-tengah ilalang keadilan.

Sesuai kajian yang dilakukan Aliansi Anti Toko Moderen Illegal Kota Malang, menujukkan bahwa operasional toko modern di Kota Malang adalah bentuk nyata pembiaran praktek usaha perdagangan ilegal oleh Pemerintah Kota Malang, terbukti tidak satupun tempat usaha toko modern yang dialasi izin IUTM ( Izin Usaha Toko Moderen ) sebagaimana disyaratkan dalam pasal 25 ayat 1 Perda No 8 Tahun 2010.

*Soetopo Dewangga, Koordinator Aliansi Anti Toko Moderen Illegal Kota Malang.

Kehinaan yang Terlupakan; Puisi-puisi Aqin Jejen

Manusia Adalah Manusia

ada yang terlupakan dari manusia
ada yang tertinggal dari Adam dan Hawa
dari manakah asal segala cahaya terjadi

bumi dan langit tercipta
matahari dan bulan tercipta
jin dan hewan tercipta
gunung dan sungai tercipta

kita terpantul dari sebuah lubang cahaya
dari manusia yang paling sempurnah.

saat wahyu-wahyu menuntun
adakah yang dibaca dari kalam
mengenali dari mana kita mula-mula?

Yogyakarta, 2018

 

 

Membaca Alam, dari Isyarat Mata Kekasih

pernah jibril turun di gua hira’
membawa kabar penciptaan

aku mencari sisi lain,
engkau gembira di pelukan
dalam selimut yang basah
dekapan yang tak bisa aku baca
namun terasa hangat menyengat

iqra’, aku membaca isyarat dari matamu
matamu telanjang tampak tak berdosa
dari sezarah kelak ditimbang di alam mahsyar

iqra’, aku membaca dari ketidaktahuan
alfa-beta kehidupan yang fana
Sulaiman bicara dengan hewan;
Yunus dimengerti ikat Paus
Ibrahim mengenal api

adakah yang mustahil aku baca dari matamu?

Yogyakarta, 2018

 

 

Dari Lubang Kesunyian

serasa beda dari yang senyap
kurasakan nafasmu semakin ringan
bagai detak kematian
“Allah, Allah, Allah”

selagi mabuk meneguk aggur
kita sadar kesunyian tak pernah ada

desing suara kenalpot;
orasi politik;
celoteh para pengamen;
menyelinap ke dalam dadaku
ada ruang yang kosong ditempati

begitulah kesombongan.

Yogyakarta, 2018

 

 

Kehinaan yang Terlupakan

setelah tenggelam pada kotoran yang nyenyak
bauh alkohol dan bir menusuk-nusuk
aku mengerti, manusia seperti tetes mani yang menjijikkan
apa yang mesti dibanggakan?

gemercik air mengalir di wajahmu bersama wudzu’
malaikat-malaikat bergelantungan
membaca puji-pujian dan rahmat
sedang kita selalu bercumbu
di atas bongkahan daging yang menggiurkan syahwat

Yogyakarta, 2018

 

 

Kerinduan, dan Sebuah Puisi yang Kucipta

selalu tak ada perbedaan cara memahamimu
dari jarak yang jauh entah pula dari jarak terdekat

sulit kita membedakan
antara puisi dan kata-kata manja;
surat cinta, novel asmara, apalagi sebuah drama

akan kucari dari batang kerinduan ini
atas goresan tinta dan sebuah irama

mungkin ada lagu yang belum kau tau
sesekali bisa kau dengarkan menjelang kantuk
dan saat kau terbangun malam nanti

Yogyakarta, 2018

*Aqin Jejen, lahir di Sumenep Jawa Timur. Menulis Essai, Puisi, dan Cerpen. Tulisan-tulisannya dimuat di Radar Madura (Jawa Pos Group), Buletin Jejak, Majalah Sastra Horison (Kaki Langit), terantologi bersama Penyair Kopi Dunia, The Gayo Institut (TGI), Aceh Culture Centre (ACC), dan Ruang Sastra (RS), terpilih sebagai 10 Kontributor Puisi terbaik Gebyar Bulan Bahasa 2016 tingkat Mahasiswa Se-Jawa Timur, IKIP PGRI Bojonegoro, Terantologi dalam Lomba Cipta Puisi Nasional 2016, Hari Puisi Indonesia, Jawa Barat, Juara Lomba menulis Cerpen Writing Festival, SM’s Day se-Madura Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan 2017, dan Juara Cipta Puisi Penerbit Aksara Aurora Media 2017

Tuan Tukang Cerita

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Cerpen Oleh: Mudiuddin
mahasiswa IDIA Prenduan, anggota AJMI
…..

Api itu terus berkobar, melalap semua yang disentuhnya. Di dalam sana hanya seorang kakek yang duduk bersantai seakan-akan api itu tidak ada sama sekali di hadapannya. Di luar orang hanyalah sebagai saksi mata atas kobaran api itu. Ya, mereka hanya menyaksikan bagaimana api begitu menikmati rumah itu. Bahkan tidak ada seorang pun yang berpura-pura memegang gayung yang diisi ar untuk menyiram api itu, tidak juga dengan menghubungi pemadam kebakaran. Semua hanya diam menyaksikan.
“Tidak adakah yang bisa memadamkan api itu? Setidaknya untuk menyelamatkan orang di dalamnya.” Cletuk salah seorang di kerumunan itu.
“Di dalam hanyalah seorang kakek-kakek, siapalah yang mau menyelamatkannya. Toh dia juga sudah bau tanah. Itung-itung itu akan mempermudahkannya, anggap saja itu sekali jalan menuju surga.” Timpal seseorang.
“Mau di selamatkan juga dia akan mati, siapa yang akan mengurus mayatnya. Yang akan memandikannya, meyiapkan kayu bakar, dan upacara pembakaran mayatnya. Catatan keluarga saja tidak jelas.” Timpal lagi salah seorang dari kerumunan itu.
“Biarlah dia menjadi abu bersama rumahnya itu, kalau sudah padam apinya kita tinggal ambil abunya sedikit saja dan kita taburkan di pantai sebagai upacara terakhirnya. Tapi siapa yang akan melakukannya?” Timpal lagi dari yang lain.
Kakek di dalam rumah itu begitu tenang, ia tersenyum. Sama sekali tak mengharap ada orang yang datang menerobos api untuk menolongnya. Ya, siapa pula yang akan menolongnya. Ia sudah tahu itu, seperti apa yang di katakan orang-orang di luar. Biarkan saja menjadi abu.
***
Tuan tukang cerita itu menghentikan ceritanya, orang-orang di sekitarnya masih memandangi berharap tuan tukang cerita masih meneruskan ceritanya. Sebagian sedang memasang muka geram karena masih tidak bisa lepas dari cerita dari tuan tukang cerita, sebagian lagi berlinang air mata. Selalu saja begitu. Mereka yang mendengarkan tuan tukang cerita bercerita selalu mengharapkan cerita itu masih terus berlanjut. Orang sudah tua itu yang kerap kali dipanggil tuan tukang cerita selalu bisa membuat orang ingin mendengarkan ceritanya. Tuan tukang cerita mengembalikan raut mukanya seperti biasa.
“Hallo… Tuan-tuan, Nyonya-nyonya, dan anak-anak. Ceritanya sudah selesai, sampai kapan kalian akan terus menatapku dengan tatapan aneh itu?” Tuan tukang cerita terkekeh-kekeh, bibirnya sedikit terlipat ke dalam. Bisa dimaklumi usianya sudah tua.
“Bagaimana akhir dari ceritanya?” Tanya salah sorang dari para pendengar.
“Ini adalah akhir dari ceritanya anakku.” Balas tuan tukang cerita.
“Bagaimana dengan kakek tua itu?”
“Kalian bisa mengira-ngiranya sendiri.” Tuan tukang cerita itu kembali terkekeh dan bibirnya sedikit terlipat ke dalam.
“Ah… Tuan tukang cerita selalu saja seperti itu.” Keluh mereka yang menjadi pendengar cerita dari tuan tukang cerita.
“Inilah kebebasan dalam bercerita anakku, kita tidak pernah tahu akhir dari cerita. Kita mungkin cukup mereka-rekanya saja, tak lebih. Selama masih ada kehidupan cerita tidak akan benar-benar selesai.”
“Tapi…” Tuan tukang cerita menjeda perkataannya dengan menunjukkan wajah penyesalan.
“Tapi apa tuan tukang cerita?”
“Tapi siapa yang akan mengisi mangkuk ini!” Tuan tukang cerita kembali dengan tertawanya yang terkekeh, semua orang juga ikut tertawa paham maksud tuan tukang cerita. Orang-orang itu kemudian bergiliran mengisi mangkuk di hadapan tuan tukang cerita dengan beberapa koin atau lembaran uang.
“Mau pesan makanan kakek tua?” Seseorang menghampiri tuan tukang cerita menawarkan makanan.
“Kau selalu tahu anakku.” Ia kembali terkekeh.
“Siapkan satu untuk kakek tua kita ini.” Teriak orang itu.
***
Sudah seperti sore biasanya, tuan tukang cerita itu datang ke sebuah kedai makan yang biasa dikunjungi. Bukan untuk memesan makan atau hanya sekedar minum. Bukan. Tapi untuk berbagi cerita pada orang-orang yang ingin mendengarkannya. Meskipun begitu, penjaga ataupun pemilik kedai itu tidak merasa terganggu ataupun rugi. Mereka menganggap Tuan tukang cerita itu sebagai penglaris bagi kedai makannya. Ya, begitulah kata mereka. Tak pernah sebelum ini kedai itu serame sekarang. Meskipun pada awalnya orang-orang hanya ingin mendengarkan cerita si tuan tukang cerita itu. Pada akhirnya mereka merasa kurang jika hanya mendengarkan cerita, mereka akan membeli minuman atau makanan ringan sebagai pelangkap. Terkadang usai mendengarkan mereka memilih untuk memesan makan sebelum pulang.
Seperti sore biasanya, kadatangan tuan tukang cerita selalu di nanti. Dengan baju yang sedikit kumuh yang tak pernah diganti, tapi tak tercium bau tak sedap sedikit darinya. Ia datang dan duduk di kursi yang biasa ia tempati. Sekarang ia begitu diterima tidak seperti pertama ia datang di desa itu dan mampir ke kedai itu. Ya, belum sempat melangkahkan kaki kanannya ke dalam kedai ia langsung di cegat oleh pemilik kedai dan mengusirnya. Pun demikian dengan orang lain yang hanya melihat. Hanya seorang anak ingusan yang mendekatinya dan memperhatikannya yang menggerutukan sesuatu dengan pelan.
“Ada apa Nak?” Anak itu hanya memandanginya tanpa menjawab “ oh kau tidak mau bicara.”
“Mau mendengar cerita?” Anak itu mengangguk dan tuan tukang cerita menceritakannya sesuatu. Tentang seorang kakek yang mencari kematian dan tak kunjung ia bertemu dengan kematian. Ia selalu mencari ke manapun di tempat seluruh dunia, ia pernah sengaja sedikit menggoreskan pisau di lengan kirinya tapi itu tak pernah berhasil, hanya sekedar mengantarkannya ke rumah sakit. Menyewa seorang algojo untuk membunuhnya masih tidak berhasil. Sengaja membaringkan diri di rel kereta ketika kereta sedang melintas masih tidak berhasil juga. Entah kenapa waktu itu kereta tiba-tiba keluar dari rel dan berbaring tepat di samping kakek itu. Pada akhirnya ia menyerah dan memilih untuk diam di rumah menunggu kematian menjemputnya. Itu juga masih sia-sia, karena kematian tak juga menjemput.
Tuan tukang cerita yang pertama kali bercerita di tempat itu menghentikan ceritanya. Anak itu masih melihatnya dan orang-orang yang tanpa sengaja ikut mendengarkan di hadapannya. Kemudian ia mengeluarkan mangkuk dari tas kecil yang ia bawa di punggungnya.
“Anak-anak, cerita bersambung. Sekarang biarkan mangkuk ini juga merasakan beberapa koin atau lembar dari uang kalian.” Ucap tuan tukang cerita kemudian sedikit terkekeh.
“Tapi Tuan, cerita yang anda sampaikan seperti belum selesai.”
“Bukan seperti anakku, tapi memang belum selesai. Jika kalian ingin cerita ini berlanjut datanglah ke mari atau ke kedai di seberang jalan itu. Sekarang isi dulu mangkuk ini, saya memaksa. Kalau tidak”
“Kenapa Tuan.”
“Kalau tidak, aku terpaksa berpuasa lagi.” Orang itu tertawa lalu menaruh apa yang diminta tuan tukang cerita dan pergi.
Orang-orang sudah menunggunya, ia terkekeh dan meletakkan tongkatnya “sudah berapa lama kalian menunggu?”
“Seperti biasa.” Tuan tukang cerita mengangguk kepala.
“Bagaimana, ada yang bisa melanjutkan ceritanya? Bagaimana keadaan kakek tua itu, hah.”
“Aku tidak akan bercerita kali ini, kemarin adalah yang terakhir. Heheheh.” Lanjutnya.
“Lantas bagaimana tentang kakek tua itu, apakah dia mati?”
“Berpikirlah sedikit kreatif dalam mereka-reka.”
“Jika ia masih hidup?”
“Boleh anakku, tapi bagaimana ia masih hidup? Heheheh.”
“Entahlah, mungkin ketika api sudah padam kakek itu masih sempat tertolong.”
“Tidak anakku, tidak ada yang menolongnya. Bukankah sudah kuceritakan yang kemarin, tidak ada yang menolong setelahnyapun tidak ada. Bagaimana ia bisa masih hidup, tidak ada yang tahu. Kehidupan terlalu membencinya, sehingga tak memberi ruang kematian kepadanya.”
“Lantas apa yang dilakukan kakek itu?”
“Ia kembali berjalan, berkeliling mencari kematian. Ia yakin akan bertemu dengannya di suatu tempat. Sampai sekarang pun ia masih mencari, terkadang mengambil rehat di suatu tempat kemudian melanjutkannya perjalanan.” Tuan tukang cerita menghela nafas “boleh aku meminta makanan dan minuman, kali ini aku tak akan mengeluarkan mangkuk untuk kalian isi. Aku hanya minta itu.”
Seseorang mengantarkan makanan dan minuman untuknya “Kuharap aku tidak akan menikmati semua ini lagi!”
“Kenapa Tuan, apakah makanannya tidak enak?”
“Bukan apa-apa.” Tuan tukang cerita menghabiskan semua kemudian pergi. Punggung bungkuknya tidak lagi terlihat setelah keluar dari kedai. Ia sudah cukup rehat di desa itu, ia kembali mencari apa yang dia inginkan. Dan orang-orang, kembali ke pekerjaan masing-masing. Tidak ada lagi yang mendengarkan cerita, dan kedia juga seperti semula, sepi tanpa pengunjung.
***
“Apakah tuan tukang cerita masih berkeliling dan membacakan cerita, Ma?”
“Tentu Nak, ia masih berkeliling tapi bukan untuk bercerita. Itu ia lakukan ketika berehat saja, setelah itu ia akan mencari.” Ibu itu mengelus kepala putranya.
“Kenapa ia ingin sekali bertemu dengan kematian, padahal setiap orang ingin hidup lebih lama.”
“Entahlah Nak, hanya ia yang tahu.” Ibu itu mengecup kening putranya, menyelimutinya dan lampu dimatikan. Putranya mulai tertidur dengan bayang-bayang ia akan bertemu dengan tuan tuang cerita untuk menceritakannya sebuah cerita.
Prenduan, 09 September 2018.

Minum Air Kloset agar Lekas Sehat

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Oleh Surya Gemilang*

“Sebaiknya Anda minum air kloset agar lekas sehat,” balas dokter itu setelah kuucapkan keluhanku. Sinting bukan main, kan?!

Barangkali Sijit, teman baikku, tidak kalah sintingnya karena telah merekomendasikanku untuk pergi ke dokter sinting itu.

“Kau sialan, Jit!” hardikku melalui ponsel sepulangnya aku dari tempat praktik si Dokter Sinting. “Kau bilang dokter itu dapat diandalkan! Rupa-rupanya dokter itu sinting!”

“Lho? Sinting bagaimana?” tanya Sijit.

“Masa aku disuruh minum air kloset agar lekas sehat?!”

“Kalau memang begitu suruhannya, ikuti saja.”

“Ikuti saja?! Kau sinting sebagaimana dokter itu, ya?!

“Dengarkan aku baik-baik, Babah.” Sijit berhenti sebentar. “Waktu salah seorang saudaraku sakit gede, tak ada seorang dokter pun yang bisa menangani penyakitnya, kecuali dokter yang kau anggap sinting itu. Kau tahu dia menyuruh saudaraku minum apa? Dia menyuruhnya untuk minum kopi campur telur mentah! Dan, saudaraku langsung sembuh begitu menuruti suruhan dokter itu!”

“Itu, kan, hanya kopi campur telur mentah, Jit! Bukan a-i-r k-l-o-s-e-t!”

***

Rasa sakit yang ganjil itu hinggap di perutku sejak sebulan yang lalu. Semula, kupikir aku maag. Maka, kuminumlah obat maag, tapi rasa sakit di perutku tak kunjung membaik. Hari demi hari, sejak rasa sakit itu muncul, perutku terus membesar—sedikit demi sedikit saja, sehingga tak langsung kusadari hal itu. Kala rasa sakit di perutku semakin mengganggu, aku memutuskan untuk tidak ngantor sampai rasa sakit itu lenyap—entah kapan. (Toh, meski tak bekerja, uang tetap menghujani rekeningku.)

Sebelum mendatangi si Dokter Sinting, tak kurang dari sepuluh orang Dokter Normal yang telah kudatangi, dan mereka semua tidak tahu penyakit macam apa yang hinggap di perutku. Sempat aku berpikir bahwa aku disantet. Tapi, bukankah tukang santet dan semacamnya sudah pada punah di tahun 2040 ini?

***

Pagi ini—sehari setelah kudatangi si Dokter Sinting—begitu membuka mata, kudapati perutku sudah sebesar perut seorang wanita yang kandungannya berusia delapan bulan! Padahal, kemarin, ukuran perutku masih sekitar setengah dari ukuran perutku yang sekarang. Otomatis, baju-bajuku jadi pada tidak muat, sehingga aku mesti telanjang dari pinggang ke atas. Langkahku pun terasa berat. Perutku semakin sakit.

Masa, sih, aku mesti minum air kloset?! pikirku.

***

Entah kenapa kekasihku, Babah, tak bisa dihubungi pagi ini. Oleh karena itulah aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Di depan gerbang rumah mewah tempatnya tinggal, aku bertemu dengan Sijit. “Kekasihmu tak bisa kuhubungi, dan itu membuatku khawatir,” jawab Sijit ketika kutanyai maksud kehadirannya kemari.

Kami pun masuk ke rumah Babah—pembantunya yang sudah pantas disebut “nenek” itu yang membukakan pintu—dan terbelalak begitu sampai di kamarnya.

“Ya ampun, Babah!” pekikku dan Sijit bersamaan.

Kekasihku tergeletak lemas di kasur, tanpa memakai baju. Wajahnya pucat, sepucat mayat—tapi ia masih hidup—dan perutnya … Ya ampun!

“Kenapa kau tidak berinisiatif untuk mencarikan dokter buat majikanmu?” ucapku pada si Pembantu yang sudah tua, setengah membentak.

Si Pembantu tertunduk. “Maunya, sih, begitu, Nona. Tapi Tuan Babah melarang saya.”

“Aku sudah bosan bertemu dengan dokter!” sambung Babah, suaranya parau. “Mereka semua tidak berguna!”

Sijit berdeham. “Apa kau sudah minum air kloset?”

(Aku sudah dengar soal “minum air kloset” itu dari Babah kemarin, via video call.)

“Bah! Kau jangan sinting, Jit! Pasti ada solusi yang lebih baik untuk menyembuhkan penyakitku ini!”

Heninglah beberapa jenak.

Si Pembantu memberi isyarat minta diri, dan Babah mengangguk, lantas pergi dari kamar ini.

Sijit tiba-tiba tampak menahan tawa. “Barangkali, perutmu itu terus membesar secara ganjil karena rekeningmu terus menggendut secara sama ganjilnya!” Tawa Sijit lantas pecah. “Makanya, jangan kaucurangi bosmu sendiri!”

Babah mengerang sebelum berkata, “Sialan betul kau! Mentang-mentang kini aku kesakitan, dan rasanya hampir mati, kau malah mengingatkanku akan dosa-dosaku sendiri!”

Sijit tergelak lagi, kemudian berkata kepadaku, “Nah! Benar, kan, apa kataku? Kekasihmu ini kotor!”

“Aku tidak peduli pada kotor-bersih dirinya,” balasku, dengan wajah memerah.

Sijit mendecak-decakkan lidah. “Wah … wah … Cinta dan uang sama-sama bisa bikin bodoh.”

“Mending kau pergi saja, Jit!” hardikku.

Wajah teman baik kekasihku itu sontak masam. Ia lalu berlalu dari kamar ini, tanpa kata-kata, sehingga tersisalah aku dan Babah.

“Biarlah dia pergi,” kata Babah lirih. “Kita tak memerlukannya.”

Tak terlalu lama kemudian, Sijit kembali ke kamar ini dengan segelas air di tangannya. Aku langsung tahu air apa itu sebab aromanya yang rada-rada tengik tercium jelas di hidungku.

“Kau mau meminumkan air kloset kepadanya?!” kataku.

“Jangan gila, Sijit!” Babah memekik parau. “Kau tidak boleh meminumkanku air kloset!”

Dengan gerakan cepat, aku pun merebut gelas itu dari tangan Sijit. Dan Sijit merebut gelas itu dari tanganku. Dan aku merebut gelas itu dari tangan Sijit. Dan Sijit … Selagi kami saling memperebutkan gelas tersebut, kulihat Babah bangkit perlahan-lahan, dengan susah sungguh, lantas meninju rahang Sijit dari samping dengan teramat keras hingga teman baiknya itu pingsan.

***

Komunitas