28 November 2022
28 November 2022
21.8 C
Malang
ad space

Akhir Pekan Liburan ke Kediri, Ada Destinasi Surganya Wanita di Dhoho

Jalan Dhoho. (kedirisupport)

MALANGVOICE – Bagi kebanyakan perempuan, berwisata dan belanja adalah satu paket. Di Kediri, ada tempat yang cocok bagi kaum hawa menghabiskan waktu. Jalan Dhoho namanya.

MVoice merangkum alasan Dhoho bisa disebut sebagai ramah perempuan, berikut penjelasannya.

Belanja Produk Fesyen dengan Beragam Harga dan Merek Sepuasnya

Ada berbagai produk fesyen yang ditawarkan toko-toko di kawasan Dhoho, seperti pakaian, sepatu, aksesori, bahkan makeup.

Kualitas barang di Jalan Dhoho bervariasi; ada yang asli, bermerek, atau kw. Harganya pun beragam. Nah, Anda tinggal belanja menyesuaikan kebutuhan dan bujet. Oh ya, kawasan ini bisa dibilang Malioboro-nya Kediri, lo!

Tidak hanya produk fesyen dan riasan, Anda juga bisa menemukan buku, kebutuhan rumah tangga, sampai kebutuhan sehari-hari. Lengkap deh!

Mencicip Nasi Pecel Pincuk dengan Rasa Maknyus

Saatnya mengisi perut setelah lelah belanja! Kawasan Jalan Dhoho dipenuhi berbagai kafe dan tempat makan. Cukup pilih saja mana tempat yang paling cocok untuk beristirahat dan bersantai.
Yang tak boleh ketinggalan jika datang ke sini adalah mencicip kelezatan nasi pecel pincuk. Kuliner ini adalah salah satu kuliner khas Kediri yang sangat populer di kawasan Dhoho.

Jangan lewatkan minta sambal tumpang pada penjualnya, ya. Sambal tumpang ini merupakan olahan fermentasi tempe yang bakal membuat makanan lebih maknyus! Pecel ini dihidangkan dengan daun pisang yang dibentuk pincuk.

Mencari Penginapan Mudah Tanpa Harus Repot Keliling Kota

Tidak perlu panik jika Anda belum mendapat hotel untuk menginap. Kawasan Dhoho dipadati hotel dari berbagai kelas. Mulai kelas melati sampai berbintang, semua ada.

Mau lebih gampang, manfaatkan saja aplikasi Airy untuk mencari hotel di Kediri. Cara pesan kamarnya mudah, pilihan hotelnya banyak, harganya terjangkau pula. Belum lagi fasilitasnya lengkap dengan berbagai promo! Sempurna, kan?

Bosan Berdiam di Hotel? Saatnya Main ke Mal!

Perempuan biasanya mudah bosan dan butuh hiburan. Nah, Anda bisa mampir ke mal atau pusat perbelanjaan sekitar Jalan Dhoho. Ada Dhoho Plaza I, Dhoho Plaza II, Borobudur, dan Ramayana. Anda bisa jalan-jalan, makan, menonton film, dan tentunya belanja lagi!

Beli oleh-oleh untuk keluarga di rumah
Selesai liburan, perempuan biasanya memikirkan masalah oleh-oleh. Nah, Jalan Dhoho ini merupakan salah satu pusat untuk membeli oleh-oleh di Kediri.
Jadi, tidak hanya belanja baju saja, Anda juga bisa membawa pulang aneka buah tangan khas Kediri, seperti stik tahu, keripik bekicot, gethuk pisang, tahu kuning, atau cokelat tempe.

Selesai liburan ke Kediri, Anda bisa melanjutkan liburan ke Blitar. Di sini juga banyak tempat wisata yang seru kok. Hotel di Blitar juga banyak; jadi jangan takut kalau tidak dapat tempat menginap. Selamat berlibur!
(Der/Ulm)

Markobar Hadir di Malang, Warga Ketagihan Pol

Gibran dan martabak manisnya (ist)
Gibran dan martabak manisnya (ist)

MALANGVOICE – Markobar (Martabak Kota Barat), martabak manis dari Solo yang sudah eksis sejak tahun 1996 ini beroperasi di Kota Malang sejak 29 November 2016.

Dua bulan dibuka di Monopoly Cafe Jalan Soekarno Hatta, minat warga Malang untuk mencicipi kuliner manis berbahan utama tepung dan telur alias terang bulan ini cukup tinggi.

Putra Presiden RI sekaligus pengembang bisnis Markobar, Gibran Rakabuming, mengatakan, outlet di Kota Malang merupakan outlet ke 21 dan kota 13.

“Pangsa pasar di Malamg memang besar. Saya yakin warga Kota Malang pasti ketagihan Markobar. Ini martabak manis tampilanya menarik, rasanya juga berkualitas, dan tidak dilipat,” kata Gibran.

Markobar, martabak wuenak (ist)
Markobar, martabak wuenak (ist)

Gibran meyakinkan, Markobar punya cita rasa yang berbeda dari martabak manis lainnya. Awal mulanya, masyarakat banyak yang mengira kalau dia menjual martabak asin.

Markobar ini memiliki 8 rasa. Yakni Nutella, Delfi, Cadburri, Kitkat cokelat, Oreo, Ceress, Keju, dan Tloberon. Kobar Nendro, Marketing Manager Markobar, di beberapa otlet sudah ada 16 rasa.

“Kita beri 8 rasa dulu. Dengan pilihan rasa premium dua rasa yaitu Greentea dan Ovo Maltin. Harganya sangat bersahabat, 70 ribu rupiah,” kata dia.

Kedepan, Markobar akan buka cabang outlet di Kota Batu.

Pan Java, Sajikan Kuliner Bernuansa Jawa

Suasana Pan Java, Menu makan. (Istimewa)
Suasana Pan Java, Menu makan. (Istimewa)

MALANGVOICE – Panorama Alam Nusantara Java/Jawa (Pan Java, red) merupakan salah satu tempat yang siap menyajikan masakan bernuansa Jawa yang menjadi salah satu destinasi wisata kuliner yang yang terletak di Desa Mulyoagung, Dau.

Pan Java yang mengusung konsep budaya dipadukan dengan alam yang asri tersebut dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Budaya Mulyoagung.

Destinasi wisata kuliner yang baru dibuka pada awal tahun 2019 ini memang mengusung konsep budaya dipadukan dengan alam yang asri. Begitu datang kesini, pengunjung bakal disuguhi gaya arsitektur ala Jawa kuno yang sangat kental.

“Ini ala-ala kampung rakyat era kerajaan Majapahit. Kita ada 83 jenis makanan disini, lokal khas Malang. Kalau ingin merasakan makan makanan desa, petani, ya wajib datang kesini. Soal rasa itu, kita natural, seperti misalnya kalau Malang kan itu identik sedap dan gurih, beda sama Jogja yang manis,” ujar Ketua Pokdarwis Kampung Budaya Mulyoagung, Miftakhul Adhim, Rabu (25/12).

Di area seluas 6 ribu meter persegi tersebut, Pan Java terbagi dalam tiga zona, diantaranya Warung Tani, Kasemo dan Cafe Kopi Tani. Masing-masing zona pun memiliki konsep berbeda.

Pertama adalah Warung Tani. Warung Tani ini mengandalkan sajian kuliner khas Jawa, termasuk penyajiannya dan gaya bangunan, serta menu ala prasmanan.

Zona kedua ada Kasemo atau akronim dari Khas Mulyoagung. Di Kasemo ini menu kulinernya cenderung modern dan lebih variatif.

Terakhir ada Cafe Kopi Tani. Di zona ini, pengunjung bisa menikmati seduhan kopi, makanan ringan seperti kafe pada umumnya.

“Kita ada 50 karyawan. Kita juga layani untuk wedding. Sementara ini sudah tiga kali wedding disini. Kalau hari-hari biasa gini bisa sampai 700 orang pengunjung, sampai malam itu. Ya yang banyak mahasiswa, dari luar kota juga ada. Sasaran sebenarnya kan semua kalangan, pejabat, mahasiswa, orang biasa, yang penting ini konsepnya untuk menengah kebawah,” jelasnya.

Selain menawarkan ragam wisata kuliner, lanjut Adhim, pihaknya juga menyediakan edukasi serta wisata pemancingan. Semua itu coba dikemas di satu tempat tersebut.

“Ada edukasi bahasa Inggris, dan kolam ikan, yang dikelola oleh karangtaruna. Kolam ikan tersebut, biasanya digunakan perlombaan memancing,” pungkasnya. (Der/ulm)

Smile Addict, Learning Cafe Baru dan Satu-satunya di Malang

Smile Addict Cafe Baru di Malang. (Instagram Smile Addict)

MALANGVOICE – Kelompok atau komunitas yang bingung mencari tempat nongkrong, kini tak perlu repot lagi. Smile Addict Learning Cafe hadir sebagai solusi.

Smile Addict Cafe adalah sebuah tempat makan, nongkrong dan ngopi dengan konsep learning cafe satu-satunya di Malang. Berlokasi di Jalan Sumbersari no 91, Kav 3, Malang, cafe ini baru saja resmi dibuka 28 September 2017.

Pemilik cafe, Sari Kurniawati, mengatakan cafenya menjawab kegelisahan anak-anak muda, anggota komunitas, yang selama ini kebingungan mencari tempat gathering.

“Sekalipun menemukan tempat yang enak, tapi biasanya berisik, lalu ada yang makanannya nggak enak, banyak asap rokok lagi. Kalau di cafe kami, kami menyediakan tempat yang nyaman, full wifi, makanan enak murah meriah, dan bebas asap rokok,” katanya saat ditemui MVoice.

Smile Addict memang mengangkat konsep healthy environment, sehingga pengunjung tidak diperbolehkan merokok. Menu yang disajikan kebanyakan snack ringan seperti toast, french fries dan lainnya yang tentunya ramah di kantong.

Selain itu, Smile Addict memang mengutamakan segmentasi pasar dari komunitas yang ada di Malang Raya karena Smile Addict ingin menjadi fasilitator dan bagian dari kegiatan positif dan sosial.

“Nama Smile Addict dipilih karena tersenyum merupakan awal memulai mod yang positif dan baik,” tukas Sari.

Dalam peluncurannya, Smile Addict mengeluarkan kartu member bagi komunitas seperti Lukis Bareng Ngalam, Cat Lovers Malang, Gerakan 1000 Guru, Gerakan Dongeng Indonesia, Backpacker Dunia, Akar Tuli dan sebagainya. Member akan mendapatkan diskon 10 persen tiap pemesanan. Setelah 5 kali kunjungan, komunitas akan mendapatkan diskon 20 persen. Fasilitas yang didapatkan yaitu tentunya ruang kumpul lengkap dengan LCD, snack, minuman. Karena terbatas, komunitas di Malang Raya yang ingin menjadi member segeralah mendaftar langsung ke cafe.

“Kami batasi karena kami ingin memastikan pengunjung yang menjadi member kami dapat menikmati suasana learning senyaman mungkin,” tutupnya.(Der/Yei)

Festival Bakso dan Cwimie Segera Hadir di Kota Malang

Febi Damayanti, Bendahara BPPD. (ist)

MALANGVOICE – Sudah bukan rahasia umum jika Malang terkenal dengan bakso dan cwimie. Mulai dari bakso bakar hingga varian mie yang berbeda-beda menjadikan Malang layak sebagai destinasi wisata kuliner.

Hal itu menjadi pemantik Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Malang menggelar Festival Bakso dan Cwimie (FBC). Dua menu andalan itu bakal dikolaborasikan pada ajang ini.

Febi Damayanti selaku Bendahara BPPD Kota Malang menjelaskan, pedagang bakso dan cwimie akan dikumpulkan dalam satu acara. Tujuannya agar mereka memperkenalkan produk dan bisa saling bekerjasama membangun Kota Malang sebagai kota bakso dan cwimie.

“Sebenarnya banyak makanan khas yang ada di Malang ini, tapi memang yang terkenal ini ya bakso dan cwimienya. Karena itu, BPPD menyatukan dua jenis makanan tersebut ke dalam festival mendongkrak Kota Malang sebagai kota kuliner bakso dan cwimie,” papar wanita berjilbab tersebut, Rabu (5/7).

Festival akan dikemas tidak seperti festival pada umumnya, melainkan seperti tempat nongkrong kuliner lengkap dengan pedestrian dan tempat makan dipinggir jalannya. Selain itu pembayarannya juga berbeda, yakni menggunakan non-tunai dengan harapan bisa membantu pemerintah dalam mensukseskan gerakan Bank Indonesia terkait Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT).

“Jadi nanti konsepnya itu seperti tempat kongkow dimana kita juga menyediakan meja kursi untuk makan di tempat. Selain itu pembayaran juga bisa nontunai karena kami ingin membiasakan warga Malang untuk bertransaksi non-tunai,” terang Febi.

Sementara itu, Ketua Pelaksana FBC, Brando Alfonso, juga menjelaskan, momen penyelenggaraan even FBC ini bertepatan dengan agenda APEKSI (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia) Juli mendatang. Apakah sendiri dihadiri 90 kota seluruh Indonesia yang diwakili langsung Gubernur Jawa Timur, Walikota dan beberapa pejabat pemerintahan terkait, sehingga sangat berpotensi dalam memperkenalkan bakso dan cwimie ke tanah air.

“Akan ada ratusan orang dari 90 kota yang hadir ke Kota Malang, sehingga tujuan kita untuk mendongkrak Malang sebagai kota Bakso dan Cwimie ke Nasional dan Internasional terbuka lebar. Untuk itu kami berharap adanya kolaborasi yang bagus dengan para pelaku bisnis bakso dan cwimie yang ada di Malang Raya,” terang pria yang akrab disapa Nando tersebut.

FBC diselenggarakan pada tanggal 19 – 20 Juli 2017 mendatang di halaman depan Balai Kota Malang dan sepanjang Jalan Kertanegera. Sekitar 100 stan bakso dan cwimie disediakan panitia.

Tidak hanya memperkenalkan bakso dan cwimienya saja, kegiatan tersebut juga dimeriahkan dengan beberapa hiburan mulai dari pertunjukan budaya, senam aerobic, hiburan musik dan bintang tamu Cak Kartolo yang akan berpartisipasi dalam mensukseskan festival kuliner tersebut.

“Intinya kami tidak hanya memperkenalkan kuliner khas Malang, tapi juga tradisi dan budayanya. Untuk itu setiap event selalu kita selipkan dengan pertunjukan seni budaya,” tutup Nando.


Reporter: Muhammad Choirul Anwar
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Gratis Biaya Antar Area Kota Malang untuk Nikmati Rawon, Nasi Buk, atau Tom Yam Thailand

Rawon Malang spesial yang dagingnya empuk cocok dinikmati segala usia di rumah.(Mvoice/istimewa

MALANGVOICE – Hotel Tugu Malang mensupport Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang berlangsung 3-20 Juli. Salah satunya dengan pelayanan antar pesan atau delivery order.

Media Relation Hotel Tugu Malang, Budi Sesario, mengatakan dua restoran masing-masing Melati Restaurant dan SaigonSan Restaurant melayani pesan antar makanan-makanan yang diolah dengan prosedur kebersihan dan sanitasi sesuai dengan standar WHO.

Di Melati Restaurant, kata pria yang akrab disapa Rio ini, terdapat banyak menu andalan khas lokal maupun masakan Cina dan Eropa.

“Misalnya rawon Malang spesial, kemudian masakan Madura yang terkenal, Nasi Buk, serta Nasi Goreng Bang Samin. Juga kami tawarkan Tugu Steak yang terdiri dari daging sapi tenderloin, udang, dan juga daging ayam,” ujarnya seraya menambahkan beragam menu ini bisa dipesan sejak 06.00.

Tomyam di SaigonSan Restaurant dikenal penikmat kuliner paling nikmat dibanding tempat lain.(Mvoice/istimewa)

Tempat makan lainnya, SaigonSan Restaurant, lanjut Rio, spesialisasi masakan Thailand dan Vietnam memulai jam pesan antar pukul 12.00.

“Variasi masakan khas mulai dari lumpia segar Vietnam dengan yaitu Goi Cuon, sup North Bangkok Tom Yam Goong yang sangat terkenal di Thailand, mie kuah sedap dengan irisan daging asal negeri Vietnam yaitu Pho, hingga hidangan penutup yaitu Khao Niao durian dapat dipesan untuk disantap di rumah bersama dengan keluarga,” terangnya.
 
Ditambahkan Rio, beberapa pilihan makanan khas di Melati Restaurant dan juga SaigonSan Restaurant dapat dibeli dalam bentuk fresh siap makan maupun frozen untuk dijadikan stok makanan di rumah.

“Tak ada biaya pengantaran alias gratis biaya Delivery untuk area Malang kota,” kata Rio seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Mvoice sambil menambahkan untuk pemesanan Melati Restoran di +62 822-3126-3723, sementara SaigonSan Restaurant di +62 812-5997-7618.(end)

Hmmm… Soto Mat Tjangkir Ini Benar-benar Gurih

Seporsi soto (anja)
Seporsi soto (anja)

MALANGVOICE – Suka makan soto Kudus? Sekarang Anda bisa menikmatinya di Malang tanpa jauh-jauh ke Kudus. Soto Mat Tjangkir bisa ditemui di Jalan Saxophone, Karangploso Malang.

Soto Mat Tjangkir ini lokasi awalnya di Alun-alun Simpang 7, jantung kota Kudus, dan berkembang pesat hingga sekarang sudah memiliki banyak sekali cabang di seluruh Indonesia, termasuk salah satunya di Malang.

Seporsi Soto Ayam + Nasi Putih ini harganya cuma Rp 15 ribu saja. Uniknya soto ayam ini disajikan dalam mangkuk mungil seperti cangkir.

Soto Mat Tjangkir ini punya karakteristik kuah soto yang bening, bukan model soto bersantan. Jadi kuahnya berupa kaldu ayam yang ditambah dengan sohun, tauge, tomat, suwiran ayam plus taburan bawang putih goreng.

Kalau suka soto yang manis, tinggal tambahkan saja kecap manis plus perasan jeruk nipis.

Sebagai pelengkap makan soto, tersedia perkedel kentang Rp 5 ribu. Plus aneka sate-satean seperti sate ayam, sate jeroan, sate kerang, sate telur puyuh yang harganya Rp 6 ribu saja per tusuknya.

Grand Opening Se’i Sapiku Malang Bagi 100 Porsi Menu Andalan ke Mahasiswa

Se'i Sapiku Indonesia cabang Malang. (Deny Rahmawan)

MALANGVOICE – Se’i Sapiku Indonesia cabang Malang membagi 100 porsi makanan ke mahasiswa yang tak bisa pulang kampung karena pandemi Covid-19.

Pembagian ini merupakan rangkaian acara grand launching Se’i Sapiku di ruko Jalan Terusan Borobudur, Sabtu (11/7). Pembagian dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan.

“Kami juga ada diskon 30 persen selama grand launching ini. Memang kami menyasar mahasiswa sebagai bentuk support dan dukungan,” kata Owner Se’i Sapiku Indonesia cabang Malang, Gilang Widya Pramana.

Pembagian seporsi Se’i Sapiku Indonesia ke mahasiswa. (deny rahmawan)

Gilang mengatakan, pembukaan restoran baru ini berawal dari kegemarannya mencoba beragam kuliner bersama istrinya. Sampai dia mencoba Se’i Sapiku di Surabaya.

“Saya coba ini kok enak. Jadi daging asap, gurih, empuk dan enak. Sudah itu langsung saya putuskan join buka di Malang,” ujarnya.

Meski buka di tengah pandemi Covid-19, Gilang yang juga pengusaha produk kesehatan kulit MS Glow dan transportasi Juragan 99 ini tetap optimistis bisa meraih pasar dengan baik. Apalagi, harga termurah satu porsi berkisar Rp15 ribu dengan varian daging ayam.

“Kami akan andalkan penjualan online, di situ yang kami genjot. Yah, mudah-mudahan jadi kuliner favorite di Malang,” ia menambahkan.

Se’i Sapiku Indonesia memiliki 10 cabang. Malang selain Surabaya, Sidoarjo, Banyuwangi. Selain itu juga ada di Solo, Semarang, Makassar, Jakarta, dan Bekasi.

Dalam waktu dekat, Gilang menyatakan bakal membuka cabang baru di tempat lain seperti Kota Batu atau Kabupaten Malang.(der)

Mencicipi Sajian Ketan ‘Legenda’ yang Tak Lekang Waktu di Kota Batu

Kedai pos ketan legenda yang berada di di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu (Ayun/MVoice)
Kedai pos ketan legenda yang berada di di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu (Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Kota Batu memang punya segudang pesona. Saat berkunjung ke kota ini, ada banyak tempat wisata menarik yang bisa kamu eksplor. Mulai dari wisata alam, wisata buatan hingga wisata pertanian.

Tak hanya itu saja, tempat wisata kuliner dengan cita rasa lezat yang melegenda pun juga bisa kamu coba saat berkunjung ke kota yang mendapat julukan de Kleine Swizterland.

Bicara soal kuliner legenda di Batu, tentu tak lepas dari hidangan yang satu ini. Nah, Pos Ketan yang melegenda ini berada di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu.

Berdiri sejak tahun 1967, Pos Ketan Legenda kini memiliki puluhan varian toping. Mulai dari rasa original yang terdiri dari parutan kelapa, bubuk kedelai dan gula jawa, rasa keju susu, hingga rasa duren yang disajikan bersama buah duren asli.

Khotiul Jannah, pengunjung asal Pasuruan mengungkapkan belum ke Kota Batu jika belum mencicipi legitnya sajian ketan di kota dingin ini.

“Tekstur ketannya memang begitu pulen dan terasa meleleh di dalam mulut. Ini menjadi alasan saya kuliner ke Kota Batu. Karena ketan di sini beda dengan lainnya. Meski dibiarkan seharian teksturnya tak keras,” ujarnya.

Sugeng Hadi generasi kedua penerus bisnis Pos Ketan Legenda mengatakan usaha ketan ini pertama kali dirintis oleh neneknya, Siami.

“Resep itu seperti yang dijual oleh nenek sejak 57 tahun silam, hingga ketan kini identik dengan Kota Batu,” ungkapnya saat diwawancarai MVoice.

Pos Ketan Legenda juga mampu menjaga konsistensi rasa sejak 1967. Menurut Sugeng tak ada kiat khusus untuk memasak ketan.

“Paling penting pilih ketan yang berkualitas baik. Kami pilih ketan dari Thailand yang kualitasnya paling baik. Ini lebih mudah diolah dan awet daripada ketan lokal,” imbuhnya.

Untuk penambahan legenda pada nama Pos Ketan diberikan lantaran ketan ini memang melegenda di kalangan pelanggan setia. Warung ketan telah hadir sejak 52 tahun lalu dan masih ramai hingga saat ini.

Pos Ketan Legenda juga dikenal dengan waktu operasional panjang yakni sejak pukul 16.00-03.00 WIB.

Sementara, Plt. Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Imam Suryono mengatakan kuliner merupakan aset andalan untuk menjual dan meningkatkan perekonomian di suatu daerah.

“Banyak daerah dikenal karena kulinernya. Kuliner memberikan pula manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat,” tuturnya.

Nah, untuk mencicipi kenikmatan ketan legendaris ini, kamu cukup merogoh kocek sebesar Rp 6 ribu hingga Rp 16 ribu saja tergantung dengan varian rasa dan topping yang ingin dipilih.

Legitnya ketan Kota Batu menjadi destinasi kuliner yang sayang jika dilewatkan saat berada di kota dingin ini.(Der/Aka)

Ingin Nongkrong dengan Konsep Barang Bekas? Ini Tempatnya

Pengunjung saat asik berswafoto di Retrorika Cafe Bar & Resto, Kota Batu (Foto: Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Berkonsep recycle reuse, Retrorika Cafe Bar & Resto menyajikan nuansa berbeda dan unik di antara kafe yang ada di Kota Batu. Sembari bersantai, pengunjung bisa menikmati suasana dan pemandangan Kota Apel.

Ya, kafe ini terletak di Desa Bumiaji, Kota Batu. Hampir 90 persen bahan interior dan eksterior penghias kafe ini dari barang bekas. Tak heran jika kafe ini menjadi perhatian khusus kalangan anak muda. Lantaran kafe ini mengusung konsep green house dan eco-friendly.

Owner Retrorika Cafe Bar & Resto, Swiss Winnasis mengatakan jika awalnya hanya sekadar hobi mengoleksi barang-barang bekas. Ia tak pernah merasa gengsi untuk mengumpulkan barang bekas dari rongsokan.

“Retrorika sengaja saya konsep ramah lingkungan. Baik dari bangunan hingga pengolahan limbah sampahnya,” ungkapnya.

Menurutnya, kafe ini merupakan satu-satunya kafe yang memiliki konsep ramah lingkungan atau Eco-Friendly. Sehingga, mulai dari bahan bangunan hingga cara pengolahan limbah dapur sangat ramah lingkungan.

Selain tempat nongkrong, Retrorika Cafe Bar & Resto juga memiliki ratusan koleksi tanaman sukulen berbagai jenis. Sehingga menjadikan kafe ini menjadi satu-satunya kafe di Indonesia yang memamerkan koleksi tanaman sukulen berbagai jenis

Tak hanya itu saja, di dalam kafe juga terdapat perpustakaan mini. Buku-buku di sana tertata rapi di lesung bekas.

Buku-buku itu juga merupakan koleksi pribadi milik Swiss. Tanaman yang ada di sana tidak hanya sekadar dijadikan pajangan saja, namun juga dijual.

Lokasi kafe itu adalah rumah tinggalnya. Sampai sekarang Swiss sangat menerima jika ada yang menghibahkan barang bekas kepada dirinya.

“Untuk menu makanannya juga masih tradisional, semua makanan dimasak fresh. Tidak ada makanan yang disimpan di dalam freezer,” bebernya.

Tidak hanya ornament nya yang dari barang bekas, bahkan sampahnya juga dimanfaatkan untuk peternak. Jika ada sampah plastik, diberikan ke bank sampah. Sementra sampah dapur diberikan ke peternak bebek.

Kafe ini buka sejak pagi pukul 10.00 WB – 23.00 WIB. Diketahui, Swiss hanya membutuhkan waktu satu tahun untuk mempersiapkan semua ini.

Ella Sani (23) pengunjung asal Lumajang menyatakan suka dengan kafe ini. Dikatakannya, selama kurang lebih satu jam di sana ia menghabiskan waktu hanya untuk berswafoto.

“Awalnya penasaran, karena saya tau di Instagram teman-teman pada foto di kafe ini. Ternyata keren banget dan sangat instagramable,” tutupnya.(Hmz/Aka)