Berikan Program Sosial, BI Hadirkan BI Corner di Beberapa Lembaga

peresmian BI Corner di FEB UB. (Lisdya)

MALANGVOICE – Sebagai tugas Bank Indonesia (BI) guna memberikan program sosial, salah satunya dengan meresmikan BI Corner di Perpusda maupun lembaga pendidikan.

“BI Corner ini sangat tepat terutama kami soroti untuk jadi pusat ilmu perbankan. Dan tujuannya adalah untuk mengenalkan bank sentral kepada masyarakat, karena masyarakat masih sering menanyakan tugas Bank Indonesia itu apa,” ujar Direktur Gubernur BI, Sugeng saat meresmikan BI Corner di Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Senin (14/1).

Salah satunya, BI Corner dipasang di FEB UB dengan slogan ‘Indonesia Cerdas’, dan diisi buku-buku literatur bertema moneter, finansial, perbankan, enterpreuneur dan kisah inspiratif. Kemudian juga terdapat fasilitas tambahan seperti komputer dan televisi edukasi.

BI Corner adalah sebagai bentuk kepedulian Bank Indonesia terhadap dunia pendidikan dan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait ekonomi dan peranan BI. Melalui BI Corner diharapkan akan meningkatkan budaya baca dan menulis khususnya di kalangan generasi muda.

“Dengan mendekatkan BI Corner ini kami harapkan pemahaman masyarakat tentang Bank Sentral semakin baik. Sesuai target, BI akan membuat seribu unit BI Corner di seluruh wilayah Indonesia hingga 2020 mendatang,” lanjutnya.

Hingga saat ini BI telah memiliki 10 BI Corner yang tersebar di Jawa Timur. Lima di antaranya berasal dari Malang yakni di Politeknik Negeri Malang (Polinema), SMA 1 Lawang, FEB UB, Universitas Islam Malang (Unisma) serta Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

Sementara itu, wakil rektor bidang kemahasiswaan UB, Arief Prajidno mengapresiasi serta berpesan kepada mahasiswa agar dapat memanfaatkan dengan baik fasilitas yang telah di sediakan oleh BI.

“Sehingga kami bisa tahu perkembangan tentang perbankan, dan anak-anak juga bisa mengupgrade perkembangan tersebut hingga ke tingkat nasional atau bahkan mungkin internasional,” tambahnya. (Der/Ulm)

Kualitas Berani Bersaing, UMKM Dongkrak Perekonomian

Pameran Koperasi dan UMKM Expo 2017 di Grand City Convex. (Istimewa)
Pameran Koperasi dan UMKM Expo 2017 di Grand City Convex. (Istimewa)

MALANGVOICE – Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Malang, Tri Widyani mengatakan, saat ini pihaknya sedang serius menjalankan berbagai program peningkatan kapasitas bagi pelaku UMKM dan koperasi. Hal ini juga menjadi perhatian usai menerima anugerah City of Charm Jatim Expo 2017.

Tujuannya, agar produk koperasi dan UMKM bisa bersiap menuju persaingan di pasar global. Apalagi, setelah dibuka pintu Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), AFTA, dan sebagainya sehingga peran kedua sektor itu penting.

“Pemkot Malang saat ini sedang serius untuk meningkatkan koperasi dan UMKM, melalui berbagai program,” kata Tri Widyani.

Dijelaskan selama ini kontribusi koperasi dan UMKM sangat membantu roda perekonomian di Kota Malang. Beberapa koperasi bahkan sudah berjalan dengan maksimal dan membawa dampak positif dalam upaya mendongkrak tingkat perekonomian.

Kenaikan prosentase dalam bidang ekonomi di Kota Malang hingga mencapai 5,6 persen, tak lain juga dikarenakan peran UMKM dan koperasi dalam bidang tersebut.

“Kita coba akan mengkoneksikan bagaimana antara koperasi dan UMKM ini bisa berjalan dengan baik, sehingga menjadi salah satu sumber kekuatan perekonomian di Kota Malang,” tukasnya.

Data Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur, menyebutkan jika terjadi kenaikan prosentase peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) dari UMKM dan koperasi tiap tahunnya.

Pada tahun 2013 tercatat PDB dari koperasi hanya sebesar 1,71 persen dan kemudian terus mengalami lonjakan hingga pada tahun ini sudah mencapai 3,99 persen. Bahkan di Jawa Timur sendiri sebesar 54,98 persen roda perekonomian ditopang oleh koperasi dan UMKM.

Wali Kota Malang, HM Anton, juga menaruh harapan besar. “Kami berharap ke depan produk koperasi dan UMKM bisa bersaing di ranah global, karena kualitas yang dihasilkan tidak kalah dibanding dengan daerah atau negara lainnya,” pungkasnya.


Reporter: Muhammad Choirul Anwar
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yunus Zakaria

Lalapan Ayam Penyumbang Inflasi Tertinggi Kota Malang

(Istimewa)
(Istimewa)

MALANGVOICE – Kota Malang alami inflasi sebesar 0,30 persen pada Oktober 2018 ini. Angka itu jadi angka tertinggi di Jawa Timur dan penyumbang inflasi ternyata dari konsumsi ayam.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Oktober tahun 2016 lalu Kota Malang mengalami deflasi 0,2 persen, selanjutnya pada Oktober tahun 2017 mengalami inflasi 0,02 persen. Sementara pada Oktober tahun ini mengalami inflasi 0,30 persen.
Salah satu faktor utama tingginya inflasi disebabkan harga kebutuhan pangan yang tinggi. Tingginya harga daging ayam ras menjadi pemicu terjadinya inflasi.

“Kota Malang jadi kota yang konsumsi daging ayam relatif paling banyak dibandingkan daerah-daerah lain di Jawa Timur. Misalnya saja konsumsi lalapan di kawasan sekitar kampus,” beber Kepala Seksi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang Dwi Handayani Prasetyowati.

Dwi menambahkan, pada Oktober tahun ini Kota Malang mengalami inflasi paling tinggi selama tiga tahun terakhir.

“Inflasi di bahan pangan cukup besar, 0,57 persen. Terutama dari konsumsi daging ayam ras,” sambung dia.

Daging ayam ras mengalami kenaikan harga 7,12 persen dengan menyumbang inflasi 0,0892 persen, Oktober lalu.
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) di Jawa Timur, harga daging ayam ras memang mengalami kenaikan sejak awal Oktober lalu. Harga daging ayam ras berada di kisaran Rp 30 ribu per kilogram, per 1 Oktober lalu.

Lalu tercatat, angkanya naik menjadi Rp 31.600 per kilogram, 14 Oktober. Lalu naik lagi menjadi Rp 32.400 per kilogram, 27 Oktober.

Selain itu, komoditas sandang juga menyumbang inflasi, terutama harga emas perhiasan yang naik 0,44 persen.

“Karena emas dipengaruhi dolar, kalau dolar naik emas naik,” pungkasnya.(Der/Aka)

Ratusan Pelaku UMKM di Malang Diajari Kembangkan Usaha Lewat E-Commerce

Workshop UMKM Satu Peluang Sejuta Kebahagiaan. (istimewa)

MALANGVOICE – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menggelar workshop UMKM Satu Peluang Sejuta Kebahagiaan. Acara yang diikuti lebih dari 100 peserta ini diadakan di Hotel Savana, Kamis (4/10).

UMKM dinilai sebagai salah satu motor penggerak perekonomian Indonesia. Karena itu BCA mendukung penuh perkembangan UMKM dengan workshop tersebut.

Kepala BCA KCU Malang Chen Lin Andrew, mengatakan, pihaknya sudah memiliki program jangka panjang dan berkelanjutan agar pelaku UMKM dapat mengembangkan usahanya.

“BCA terus berupaya untuk turut meningkatkan berbagai bidang usaha masyarakat agar mampu bertumbuh dan maju secara mandiri,” kata Chen Lin Andrew.

Rangkaian workshop UMKM ini akan dilaksanakan juga di Makassar dan Samarinda. Pada program ini BCA bekerja sama dengan Blibli.com. Para pelaku UMKM akan menerima paparan mengenai trend digital dan E-commerce, social media, serta pemahaman lebih tajam menjadi pelaku usaha UMKM.

Selain itu, workshop digelar dalam rangka menggarap potensi penyaluran kredit di sektor UMKM. Tahun ini, rasio penyaluran kredit UMKM ditargetkan mencapai 20 persen dari total porfotolio kredit BCA. Per Semester I 2018, kredit UMKM yang disalurkan BCA mencapai Rp 59,9 triliun atau tumbuh 23,0% YoY.

Vice President Pengembangan Bisnis Mikro BCA Ade Bachtiar, berharap melalui kegiatan ini dapat mendulang kontribusi BCA dalam mengembangkan UMKM di Indonesia sehingga dapat mengurangi angka pengangguran, memerangi kemiskinan, dan menciptakan produk-produk unggulan Indonesia yang mampu bersaing di dalam dan luar negeri.

“Peranan UMKM di perekonomian nasional terhitung cukup besar. Oleh sebab itu, pemberdayaan terhadap UMKM di Indonesia juga harus ditingkatkan,” tandasnya.

Workshop ini menghadirkan beberapa narasumber, di antaranya Economist BCA David E. Sumual yang memaparkan mengenai lanskap ekonomi digital dan sejumlah nasabah BCA yang telah sukses menjalankan usahanya melalui bisnis online. (Der/Ulm)

Malang Masuk 10 Besar “Dapur” Industri Digital

Malang Masuk 10 Besar

MALANGVOICE – Perkembangan ekonomi digital di Indonesia sangat impresif. Nilai pasar ekonomi digital Indonesia telah menembus US$40 miliar pada 2019 dan diproyeksikan mencapai US$133 miliiar pada 2025.

Namun, angka tersebut tidak dapat menggambarkan dengan lengkap perkembangan dan potensi pasar digital di Tanah Air. Laporan East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) adalah upaya untuk memetakan perkembangan dan potensi ekonomi digital di penjuru Nusantara, mencakup data dari 34 provinsi dan 24 kota terbesar.

Laporan EV-DCI menunjukkan bahwa ekonomi digital yang saat ini tumbuh pesat, hanyalah
sebagian kecil dari potensi Indonesia. Pertumbuhan bakal makin melesat jika Indonesia bisa menanggulangi beberapa kendala yang dihadapi seperti keterbatasan talenta digital, pelaku usaha yang enggan menggunakan produk digital, hingga akses atas layanan finansial yang rendah.

EV-DCI juga menggambarkan ada ketimpangan perkembangan ekonomi digital di Indonesia.
Skor daya saing digital Jawa jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pulau lain, sedangkan
selisih skor antara Jakarta dengan provinsi lain di Jawa masih sangat besar.

Infrastruktur internet yang lengkap dan tingkat adopsi digital yang cepat membuat Jakarta
sebagai magnet industri digital dan pendiri-pendiri startup baru. Skor daya saing digital Jakarta (EV-DCI = 76,8) adalah yang tertinggi di Indonesia.

Namun, beberapa kota lain juga menunjukkan perkembangan yang menarik. Kota berukuran
sedang seperti Malang (EV-DCI = 47,2), misalnya, mampu menempati posisi 10 besar. Posisi Malang sebagai “dapur” industri digital Indonesia membuatnya unggul dalam aspek talenta digital. Balikpapan adalah kota dengan daya saing digital paling tinggi di Kalimantan (EV-DCI = 44,2).

“Kehadiran perusahaan-perusahaan besar di Balikpapan membuatnya sebagai tempat
pertemuan pekerja berkeahlian dari seluruh Indonesia,” kata Partner East Ventures, Melisa Irene.

Kota dengan daya saing paling tinggi di Sumatra adalah Medan (EV-DCI = 50,3). Meskipun memiliki infrastruktur yang kuat dan pasokan talenta yang memadai, Medan mencatatkan skor yang rendah dalam hal adopsi digital.

Di wilayah bagian timur Indonesia, Makassar adalah kota dengan daya saing paling tinggi (EV-DCI = 46,8). Posisi ini tidak mengherankan karena Makassar adalah pusat ekonomi di regional timur. Namun, skor penetrasi layanan finansial digital dan tingkat adopsi UMKM atas layanan digital sangat rendah.

Laporan dan data yang lengkap bisa diunduh di east.vc/dci. Dari data yang disajikan oleh EV-DCI, para pemangku kepentingan dan sektor publik dan sektor swasta bisa saling membandingkan tingkat pemanfaatan teknologi digital di wilayah masing-masing.

Misalnya, bagi pemimpin di tiap daerah, dengan memanfaatkan indeks tersebut dapat semakin
terpacu untuk berlomba menciptakan ekosistem yang terbaik bagi perkembangan ekonomi, digital, baik lewat pembangunan infrastruktur, pengembangan talenta, maupun regulasi yang tepat.

Bagi para pemain besar di industri teknologi Indonesia, EV-DCI bisa menjadi panduan untuk
melangkah lebih jauh dari kota-kota besar ke seluruh pelosok Tanah Air, untuk membantu lebih banyak bangsa Indonesia menikmati manfaat perekonomian digital.

“Untuk mereka yang akan atau baru merintis bisnis, EV-DCI adalah sebuah peta peluang,” tandasnya.(Der/Aka)

Sun Life Luncurkan Manfaat Wakaf Untuk Polis Asuransi Jiwa Syariah

PT Sun Life Financial Indonesia (“Sun Life”) meluncurkan manfaat wakaf untuk polis produk asuransi jiwa syariah. (istimewa)

MALANGVOICE – PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) meluncurkan manfaat wakaf untuk polis produk asuransi jiwa syariah, di Jakarta, Senin (14/8).
Elin Waty, Presiden Direktur Sun Life, mengatakan, peluncuran manfaat wakaf pada polis asuransi syariah Sun Life merupakan penegasan komitmen dalam memberikan layanan dan produk asuransi syariah secara lengkap.

“Manfaat wakaf melalui produk asuransi merupakan solusi inovatif, nasabah kami tidak hanya memperoleh proteksi jangka panjang yang sesuai dengan prinsip syariah, tetapi juga menjalankan ibadah dengan memperbanyak amal melalui kesempatan berwakaf,” katanya dalam rilis yang diterima MVoice.

Bagi para tenaga pemasar, menurut Elin, kehadiran manfaat wakaf yang melengkapi polis asuransi syariah Sun Life berpotensi untuk mempermudah upaya mereka dalam melakukan pendekatan pasar yang didominasi oleh masyarakat muslim.

Melalui manfaat yang berlaku untuk semua produk asuransi syariah ini, peserta asuransi kini dapat mewakafkan manfaat asuransinya hingga maksimal 45% dari santunan asuransi dan mewakafkan manfaat investasinya hingga maksimal sepertiga dari total kekayaan dan atau harta warisan (tirkah).

Adanya batasan maksimal tersebut sesuai dengan fatwa DSN-MUI. Berdasarkan fatwa tersebut, manfaat investasi harus tetap dapat dinikmati oleh ahli waris. Langkah Sun Life dalam memberikan fitur wakaf bagi pemegang polis syariah juga memperoleh dukungan DSN-MUI.

Sun Life memberikan kemudahaan dalam menyalurkan dana wakaf dengan menggandeng lembaga pengelola aset wakaf (nazhir) yaitu Badan Wakaf Indonesia, Dompet Dhuafa, Rumah Wakaf, dan 174 lembaga yang terdaftar di Badan Wakaf Indonesia (BWI). Seluruh lembaga pengelola aset wakaf terdaftar dan diawasi BWI yang berperan untuk membina pengelola aset wakaf agar aset tersebut dikelola lebih baik dan produktif.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria

BPS Kota Malang: Cabai Rawit Penyumbang Inflasi Terbesar

(Humas Pemkot Malang)
(Humas Pemkot Malang)

MALANGVOICE – Komoditi cabai rawit menjadi penyumbang terbesar Inflasi di Kota Malang. Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat andil Inflasi mencapai 0,1857 persen, Juli 2019 ini.

Kepala BPS Kota Malang Drs. Sunaryo, M,Si menyampaikan bahwa komoditas penyumbang tertinggi inflasi Kota Malang pada bulan Juli 2019 adalah cabai rawit. Ini juga akibat kenaikan harga sebesar 151,86 persen. Harga cabai rawit ini menyumbang sebesar 0,1857 persen dari angka inflasi 0,20 bulan Juli Kota Malang.

“Pada bulan Juli 2019 ini komoditas penyumbang inflasi terbesar kota malang adalah cabai rawit dengan andil sebesar 0,1857 persen yang pedasnya menasional, kenaikan harga bukan hanya di Kota Malang tapi berdampak nasional,” kata Sunaryo, Kamis (1/8).

“Sedangkan penghambat inflasi Kota Malang terdapat dari angkutan udara dengan andil sebesar -0,2343,” imbuhnya.

Berdasarkan rilis data BPS kota Malang, inflasi bulan Juli Kota Malang sebesar 0,20 persen. Angka inflasi ini lebih tinggi dari Inflasi bulan Juli Provinsi Jawa Timur yang berkisar di angka 0,16 persen.

Inflasi Kota Malang diklaim tertinggi keempat se-Jawa Timur setelah Jember dengan 0,24 persen. Inflasi bulan Juli 2019 dipicu oleh naiknya harga beberapa komoditi antara lain, cabai rawit, daging ayam ras, cabai merah, emas perhiasan, buah pir, tauge/kecambah, ketimun, pisang, labu siam/jipang dan upah pembantu rumah tangga.

Sedangkan kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan inflasi pada Bulan Juli 2019, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 2.01 persen, diikuti kelompok sandang sebesar 0.59 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau sebesar 0.17 persen serta yang terkecil adalah kelompok pendidikan rekreasi & olahraga sebesar 0.01 persen.

Adapun komoditi yang menahan laju inflasi pada bulan Juli 2019 seperti: angkutan udara, bawang putih, tomat sayur, mujair, bawang merah, tongkol pindang, semangka, selada/daun selada, tarif kereta api dan besi beton.(Der/Aka)

Bekraf: Packaging Kuliner di Kota Malang Belum Menarik

Direktur Akses Non Perbankan Bekraf, Syaifullah Agam saat memberikan sambutan. (Lisdya)

MALANGVOICE – Perkembangan kuliner yang pesat di Kota Malang ternyata menjadi perhatian pemerintah, dalam hal ini Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Meski kuliner di Kota Malang dinilai sangat kreatif dan berkembang pesat, namun, Direktur Akses Non Perbankan Bekraf, Syaifullah Agam mengatakan jika packaging kuliner di Kota Malang belum menarik.

“Sebenarnya kami itu cari yang unik dan menarik. Malang itu terkenal loh kulinernya, misalkan seperti bakwan Malang, terkenal kan? Hanya saja packaging kurang,” ujar Syaifullah dalam acara Sosialisasi Kreatifood di Harris Hotel, Selasa (2/4).

Ia pun mengimbau kepada para pelaku usaha untuk terus mengembangkan ide-ide kreativnya. “Dengan sosialisasi ini, mereka jadi mengerti dan terus mengembangkan idenya,” jelasnya.

Saat ini, lanjutnya, pasar-pasar luar negeri tengah bersaing di Indonesia. Sayangnya, dari jumlah 300 ribu lebih, pasar lokal belum mampu bersaing.

“Kita tahu seperti restaurant dari negara Thailand dan Jepang, sudah menguasai hampir seluruh pasar-pasar Internasional. Maka dari itu, dengan sosialisasi ini para pelaku diharapkan siap bersaing, baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional,” tegasnya.

Pada tahun 2020 mendatang, dijelaskan Syaifullah, diperkirakan lebih dari 140 ribu pasar berpotensi sebagai big market atau konsumen dengan kemampuan membayar tinggi. Dalam kesempatan itu pula, diharapkan produk kuliner lokal mampu bersaing hingga mancanegara.

“Bekraf juga bekerjasama dengan lembaga ekspor impor untuk memberi peluang baru bagi pelaku usaha kuliner untuk memperluas jaringan,” paparnya.

Sementara itu, Plt. Direktur Pengembangan Pasar Dalam Negeri, Fahmy Akmal mengatakan, Kreatifood tahun lalu, Kota Malang masuk dalam top seller untuk memasarkan produk dari FoodStartup Indonesia.

“Ini menunjukkan antusias pelaku usaha kuliner di Kota Malang sangat luar biasa,” tandasnya.(Hmz/Aka)

Pengaruh Musim Panen, Harga Beras Terus Melonjak

Stok Beras Di Pasar Blimbing Malang. (Lisdya/MVoice).
Stok Beras Di Pasar Blimbing Malang. (Lisdya/MVoice).

MALANGVOICE – Harga beras di pasaran yang terus merangkak naik membuat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Malang menggelar operasi pasar.

Menurut Kepala Disperindag, Wahyu Setianto, menjelaskan, kenaikan bahan pokok terutama beras dipicu karena hasil panen, selain itu pedagang juga memasok beras dari luar Kota Malang.

“Stoknya memang tidak banyak seperti tahun kemarin, karena barang tidak terlalu banyak akhirnya harga naik,” ujar Wahyu.

Lebih lanjut, Wahyu menambahkan kenaikan yang cukup signifikan mulai meresahkan masyarakat, pasalnya beras yang merupakan bahan pokok utama yang kini mulai langka juga mempengaruhi masyarakat kecil yang kesulitan perekonomiannya.

Saat ditinjau oleh MVoice di Pasar Blimbing Malang, pada Sabtu (13/1), saat ini harga beras untuk kualitas nomor 1 (super) Rp 12,5 ribu per kg. Padahal awal bulan Desember lalu, harga beras untuk kualitas yang sama masih berkisar Rp 10,5 ribu per kg.

“Iya banyak masyarakat yang bingung, banyak yang protes tapi bagaimana kondisinya juga seperti ini, karena musim panen, kita juga ngambil dari luar daerah,” ujar Pedagang Pasar Blimbing, Suratmi.

Musim panen untuk tanam rendeng akan mundur dari jadwal biasanya. Ini tentu akan dapat memicu terus meningkatnya harga beras di pasaran saat ini.

“Bahkan untuk yang 10 kg yang kualitas super itu sekarang mencapai harga 300 ribu,” pungkasnya.(Der/Aka)

Deflasi Kota Malang Tertinggi di Tahun 2018

Kasi Statistik Distribusi BPS Kota Malang, Dwi Handayani. (Lisdya Shelly)
Kepala Seksi Statistik Distribusi BPS Kota Malang, Dwi Handayani Prasetyowati.. (Lisdya Shelly)

MALANGVOICE – Badan Pusat Statistik (BPS) Malang mencatat pada bulan September, rasio gini Kota Malang mengalami tingkat kenaikan deflasi yang cukup tinggi yakni sebesar -0,31 persen.

Dibanding dua tahun terakhir, jumlah ini sangat jauh berbeda. Tercatat pada September 2016, angka inflasi Kota Malang mengalami kenaikan sebesar 0,17 persen. Sementara, di bulan September 2017, angka inflasi menurun menjadi 0,05 persen.

“Ini deflasi yang cukup besar -0,31 persen,” ujar Kepala Seksi Statistik Distribusi BPS Kota Malang, Dwi Handayani Prasetyowati kepada awak media, Senin (1/10).

Dwi menambahkan, penyebab deflasi di Kota Malang dikarenakan menurunnya harga komoditas pangan seperti telur, ayam, bawang putih, bawang merah serta beberapa bahan pokok lainnya.

“Itu terjadi karena harga beberapa komoditas pangan di Malang yang mengalami penurunan,” tambahnya.

Selain itu, ia menilai jika adanya deflasi tersebut akan menguntungkan masyarakat. Ini karena harga bahan pokok menurun sehingga masyarakat mampu membelinya.

“Harga-harga yang turun pasti senang masyarakat, kalau dari sisi petani ya rugi karena kalau harganya terlalu rendah juga tidak baik,” pungkasnya.

Dwi berharap, pemerintah Kota Malang mampu menstabilkan harga pangan di pasar sehingga tidak ada lagi masyarakat ataupun petani yang dirugikan.

Perlu diketahui, deflasi merupakan kebalikan dari inflasi. Bila terjadi deflasi maka harga-harga di pasar secara umum akan jatuh dan nilai uang pasti bertambah. (Hmz/Ulm)