Kreatif, Ini Aksesoris Resin dan Bunga Kering Karya Mahasiswa UB

Karya Basra Masra. (Anja a)
Karya Basra Masra. (Anja a)

MALANGVOICE – Salah satu aksesoris fashion yang tidak boleh terlewat pastinya kalung, cincin ataupun gelang. Nah, dua mahasiswa Seni Rupa Universitas Brawijaya (UB) mengusung ide menarik menciptakan aksesoris handmade memanfaatkan resin dan bunga kering. Karya mereka begitu unik, sehingga setiap orang akan memiliki kalung yang berbeda.

Mereka adalah Angelica Merici M U dan Bhagas Artha Bangun. Keduanya sudah menggeluti bisnis aksesoris handmade ini sejak setahun lalu. Menurut Angelica, karya handmade berbahan resin memiliki banyak peluang di Malang. Angelica dan Bhagas mencoba menggabungkan bunga kering dan resin. Hasilnya, menjadi karya gantungan kalung, cincin bahkan gelang yang unik dan menarik. Bunga kering itu seolah berada di dalam kaca.

“Resin memiliki hasil seperti kaca namun kekuatannya seperti plastik. Jadi tidak mudah pecah,” imbuh Bhagas.

Untuk proses pembuatan, bisa menghabiskan waktu 4 hari sampai 1 pekan. Proses pengeringan bunga memakai teknik oshibana. Bunga yang digunakan pun tidak sembarangan.

“Bunga warna merah biasanya tidak bisa, karena warnanya pasti luntur kalau terkena resin. Resin cair sifatnya panas,” tambah Bhagas.

Selanjutnya bunga diletakkan di cetakan kemudian disiram dengan resin. Lalu tunggu hingga kering. Dalam satu kali pembuatan, Angelica dan Bhagas membuat 10-20 produk sekaligus. Saat ini produk mereka dijual dari teman ke teman, di sosial media, dan juga pameran-pameran kerajinan. Satu pendant bisa dijual mulai dari Rp 50 ribu- Rp 100 ribu. Karya Angelica dan Bhagas bisa dijumpai di akun instagram @brasamrasa.(Der/Ak)

BNN Kota Malang

Serangan Dampit-Wonokoyo, Pertempuran Terbesar di Wilayah Semeru Selatan

Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) yang tak terlupakan (1949)
Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) yang tak terlupakan (1949)

MALANGVOICE – Atas pengarahan dari Komandan CMK Malang, Mayor Wiyono, pasukan PGI (Pasukan Gerilya Istimewa) dengan semangat yang kembali menyala, dikonsolidasikan dan disusun kembali dengan kekuatan seksi-seksi menjadi Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) dengan Komandan Sukardi (N. Sugiyama) berpangkat Kapten. Seksi I dipimpin oleh Umar (T. Maekawa), Seksi II dipimpin Peltu Jupri, dan Seksi III dikomandani Letnan Arti Jawak. Mereka menjadi pasukan terotorial di bawah komando militer daerah Malang dengan wilayah operasi Semeru Selatan.

Sementara itu, didorong ambisinya menduduki Kota Dampit, pasukan Belanda memperkuat intensitas patroli, melakukan provokasi dan teror terhadap penduduk untuk menurunkan semangat juang rakyat. Mereka membentuk pasukan khusus IVG yang melakukan tugas spionase. Dengan aktivitas tinggi mereka memperbaiki jembatan dan jalan-jalan yang dihancurkan oleh pasukan gerilya.

PUS 18 (Pasukan Untung Suropati 18) bergerak dari Wonikitri menuju Gunung Kelop yang ditetapkan sebagai pangkalan persiapan (Februari 1949) dan dibuatlah perbentengan di sana. Stelling dilakukan dan dikirim satu regu penyelidik ke jurusan Sumber Kembar. Berdasarkan informasi yang didapat, Regu Keiki Kanjue (senapan mesin ringan) dan regu senapan dari Seksi I dan Seksi II bergerak turun menuju Sumber Kembar lalu meringsek masuk ke Kota Dampit.

Di pertigaan jalan besar dekat pasar, dilakukan penembakan terhadap musuh dan menewaskan dua serdadu Belanda. Terjadi pertempuran sengit ketika pasukan Belanda yang lain keluar dari pasar dan mereka juga segera mendapat bantuan dari Pamotan. Pasukan PUS 18 terpaksa mundur sementara musuh terus mengejar dengan persenjataan berat. Tak terduga, dua juuki dan tekidanto dari atas Gunung Kelop membantu menembaki pasukan Belanda yang kemudian bergerak mundur. Dalam pertempuran 40 menit itu, gugur dua prajurit PUS 18 dan tewas 25 serdadu Belanda.

Beberapa hari kemudian PUS 18 menguasai Sedayu dan Banjarpatoman. Didapatkan informasi bahwa pasukan Belanda sedang bergerak menuju Ngelak dan Amadanom. Pasukan gerilya segera mendaki Gunung Pandan Asri dan mengadakan stelling di saat musuh mendekati ujung kampung Banjarpatoman. Ternyata pasukan Belanda bermaksud mengurung dari balik bukit dan memancing dengan melepaskan tembakan-tembakan. PUS 18 sengaja berdiam diri untuk merahasiakan posisi dan menghemat persediaan amunisi. Menurut informasi, pasukan Belanda berkekuatan satu setengah kompi bersenjata juuki, pistol mitralyur, dan dikuti pasukan genie dan telegrafi, serta tentara Cakra yang ditarik dari Bali.

Pada pukul 08.00 pagi di saat pasukan Belanda masuk dalam jarak tembak, PUS 18 menembak dengan serentak dan pertempuran pun berlangsung hampir 3 jam. Persenjataan yang minim dan persediaan amunisi yang menipis menyebabkan PUS 18 menghentikan serangan. Pasukan Belanda menghentikan tembakan pula karena mengira pasukan gerilya bergerak mundur. Siangnya, mereka mengangkut mayat-mayat dan korban yang terluka, bergerak melalui Amadanom, melewati lembah sungai menuju Dampit.

Esok harinya, pasukan Belanda mendatangkan bala bantuan untuk menghancurkan sarang gerilya di Banjarpatoman. Dengan mendatangkan pesawat tempur, mereka segera meratakan wilayah pertempuran di seputar bukit Pandan Asri. Namun, PUS 18 menduga hal itu dan telah meninggalkan wilayah tersebut.

Pertempuran Wonokoyo boleh disebut sebagai pertempuran terbesar di wilayah Semeru Selatan. Akibat tewasnya komandan mereka di awal pertempuran menjadikan pasukan Belanda kebingungan. Belum lagi terbunuhnya tiga opsir dan 30 orang lebih terluka. Di pihak PUS 18, gugur 3 prajurit dan 3 penduduk sipil. Dari pertempuran itu, PUS 18 berhasil memperoleh rampasan pistol mitralyur, Karaben beserta 300 butir pelurunya, tempat peluru lengkap dan 3 mortier.

Untuk merebut kembali Kota Dampit, Markas Gerilya (MG) III/SMK Malang merencanakan penyerangan terhadap Kota Dampit pada 27 Juli 1949. Pukul 05.45 tembakan pertama dilakukan dengan tekidanto untuk komando dimulainya serangan. Tetapi tembakan mortier yang dilakukan tidak berhasil, pasukan senjata ringan pun bergerak hingga jarak dua ratus meter dari markas pasukan Belanda. Pukul 08.30 pagi seluruh pasukan gerilya mundur dan berkumpul di Gadung Sari lalu bergerak ke Ampel Gading.

Belanda bermaksud mengerahkan bala bantuan dari Sedayu tetapi terkendala berbagai rintangan jalan yang dilakukan oleh pasukan Macan Putih Talok. Di pihak Belanda jatuh korban 24 tewas dan luka-luka. Pasukan gerilya juga berhasil menembak Surateman yang ditengarai sebagai mata-mata musuh.(idur)

BNN Kota Malang

Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) dalam Penyerbuan Pajaran, Tumpang, dan Jebakan Ranjau antara Wajak-Turen

Konvoi serdadu Belanda di Jawa (kiri). Serdadu Belanda melakukan rasia terhadap rakyat (kanan).
Konvoi serdadu Belanda di Jawa (kiri). Serdadu Belanda melakukan rasia terhadap rakyat (kanan).

MALANGVOICE – Berdasarkan perundingan dengan Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) penasehat TKR di Yogyakarta, Juli 1948, Kolonel Sungkono menginstruksikan kepada semua anggota kesatuan di bawah pimpinannya untuk mengumpulkan orang-orang Jepang, yang sedang berada di kesatuannya masing-masing di Jawa Timur untuk ditarik dan dijadikan satu kesatuan dengan tujuan bersama melawan Belanda. Tidak lama terkumpul 28 orang Jepang di Wlingi Blitar.

Di Wlingi, atas inisiatif Arif (T. Yoshizumi) dan Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) dibentuklah Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) yang dikomandani oleh Brigade Surachmad. Di sini, pasukan berlatih militer dan strategi gerilya secara mandiri dan mengusahakan makanan sendiri. Pada Agustus 1948, persiapan telah mantap, pasukan disebar, Komandan (WK) dengan 17 pasukan PGI menuju Dampit. Harsono (T. Tanimoto) dengan anggota 11 orang bertugas menuju Kediri.

Di Dampit mereka memasuki perkebunan dan menggunakan bekas kantor perkebunan Kartodol sebagai tempat untuk antara lain: merencanakan penyerangan pos-pos Belanda, membuat barang dan bahan perang rahasia untuk kepentingan sabotase, menyusun jaringan informasi, dan membentuk gerilya rakyat. Dalam perkembangannya, PGI ini kemudian mendapatkan tambahan 2 (dua) regu dari Brigade XIII.

Pada 30 Agustus 1948, pukul 24.00, PGI bersiap menyerbu pos Belanda di Pajaran yang memilik kekuatan satu seksi dan menempati gudang padi yang dipagari kawat berduri. Waktu itu kampung Pajaran suasananya terang penuh lampu minyak di kanan-kiri jalan karena sedang memeriahkan perayaan ulang tahun Ratu Belanda. Keadaan ini sangat menguntungkan PGI untuk menyerang. Kode ledakan dua bulu granat di atas pos Belanda member isyarat dimulainya penyerangan. Begitu gencarnya serangan, tetapi dari dalam pos tidak ada perlawanan sama sekali. Ketika terdengar tembakan dari arah depan pos, penyerangan dihentikan karena diduga ada pasukan bantuan Belanda yang baru datang dari pos Wajak. Esoknya diperoleh informasi, ternyata perlawanan Belanda malam itu bukan pasukan bantuan dari Wajak, tetapi tentara Belanda sejumlah 10 orang yang kebetulan baru pulang dari undangan Kepala Desa dalam rangka selamatan perayaan hari besar Belanda. Saat PGI menyerang, mereka tidak berani kembali ke pos yang sudah hancur dan hanya berjaga-jaga di halaman rumah Kepala Desa. Mereka juga tidak mengetahui siapa yang melakukan serangan.

Menurut laporan dari pasukan Brigade XII yang ditugaskan untuk memeriksa hasil serangan, pos Belanda hancur lebur, tiga orang petugas jaga bersenjata 12.7 mm mati tertembak, dan di dalam pos/gudang padi 20 orang Belanda tewas akibat reruntuhan bagunan dan ledakan granat.

Di Tumpang, PGI kembali menyerang pos Belanda pada 3 Oktober 1948. Serangan gerilya ini dibantu rakyat dengan penyerangan intensif, menggunakan bahan peledak, dan aksi pembakaran-pembakaran. Hasilnya, terbakarnya asrama musuh dan tiga serdadu Belanda tewas. Moril rakyat pun kembali menguat.

Di pertengahan Desember 1948, Belanda mengawali penyerangan dengan menggunakan pesawat-pesawat tempur melintas Malang menuju ke selatan, menyerang Turen dan Sedayu. Ketika dipastikan Turen dan Sedayu sudah diduduki musuh, PGI pun menyusun kekuatan dipimpin oleh Subejo (Hayashi) dan Sobana (T. Sakai) dan merencanakan menghancurkan panser-panser Belanda. Mereka memasang ranjau di jalan antara Wajak dan Turen yang selalu dilewati pasukan Belanda, sedangkan pasukan senapan mesin diberangkatkan menuju lokasi pertahanan yang telah direncanakan. Didapat informasi, Belanda menambah pasukan dengan satu kompi serdadu bersenjata lengkap untuk menghancurkan PGI.

Sementara menunggu hasil ranjau yang dipasang, PGI dan pasukan bantuan lainnya bersiaga di rumah Asisten Wedono. Ketika ledakan pertama terdengar, ternyata mengenai seorang pemikul kelapa yang sedang lewat. Pukul 06.30 pagi terdengar ledakan kedua, seorang prajurit melaporkan bahwa ranjau berhasil mengenai sasaran, yakni panser Belanda dan truk pengiring di belakangnya. Sebanyak 16 orang serdadu Belanda tewas. Dari pos Turen, Belanda segera memberikan pertolongan sembari melakukan penembakan membabi buta di sekitar lokasi kejadian.­(dur)

BNN Kota Malang

Cinta Indonesia, Alasan Eka Tertarik Jadi Putri Duta Anti Narkoba

Putri duta anti narkoba Kabupaten Malang, Eka Fahrun Nisak Ramadhani. (istimewa)

MALANGVOICE – Eka Fahrun Nisak Ramadhani, dinobatkan sebagai putri duta anti narkoba Badan Narkotika Nasional Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu.

Ia berhasil menyisihkan 130 orang peserta lain. Sedangkan putra duta anti narkoba disandang M Renaldi Bagus Wijayanto, siswa MAN Gondanglegi.

Perempuan kelahiran Malang 06 Desember 2000 lalu ini mengaku tertarik menjadi duta anti narkoba lantaran memiliki misi kemanusiaan. Terlebih, menyangkut hidup masyarakat banyak.

Berlatar belakang sebagai organisatoris sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Eka tak terlalu sulit untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Siswi kelas XI SMAN 1 Kepanjen tersebut pun bersyukur dinobatkan sebagai duta anti narkoba. Selain peduli terhadap sesama, Eka mengaku mencintai Indonesia.

Putri duta anti narkoba Kabupaten Malang, Eka Fahrun Nisak Ramadhani. (istimewa)

“Seusia saya banyak yang terjerat narkoba. Saya tidak ingin teman-teman dan pelajar di Kabupaten Malang terjebak hal serupa,” aku putri sulung pasangan Kariono dan Anis Sulistiyoningsih ini.

Baginya, narkoba sangat berbahaya. Sasaran barang haram tersebut pun menyerang generasi muda Indonesia. Lantas bagaimana Indonesia di masa mendatang jika pemudanya telah terjangkit narkoba?

“Padahal, kami digadang-gadang sebagai penerus bangsa. Harapan masyarakat luas,” ungkap perempuan yang hobi berenang itu.

Langkah awal menyuarakan stop narkoba, katanya, akan dimulai dari diri sendiri. Sehingga nantinya bisa mengajak dan memberi contoh pelajar lain.

Mensosialisasikan bahaya narkoba membutuhkan keuletan dan kesabaran. Tidak hanya dilakukan di sekitar sekolah, tetapi juga di lingkungan masyarakat.

Meski demikian, perempuan yang aktif di Karang Taruna di desanya ini mengaku belum terlalu luas memahami kompleksitas soal narkoba. Eka butuh belajar lebih banyak agar wawasannya akan narkoba mumpuni.

“Saya harapkan ada bimbingan dari BNN. Terpenting, sebelum mengajak orang lain, saya harus bebas dari barang haram itu,” paparnya.

Ke depan, Eka berharap Indonesia bebas narkoba dan masyarakatnya hidup sehat tanpa narkoba. Sekaligus bersama-sama memberantas peredaran narkoba.

“Ini akan jadi pengalaman baru bagi saya dan teman-teman. Semakin banyak yang mensosialisasikan, saya yakin suatu saat Indonesia terbebas dari narkoba,” pungkasnya.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti
BNN Kota Malang

Mengenang Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (P­­eta)

Prajurit Peta sedang berlatih dengan bayonet terhunus (totsu geki).

MALANGVOICE – Memperhatikan sikap para pemimpin pemerintah pendudukan militer Jepang saat itu, para pemimpin Indonesia merumuskan gagasan-gagasan tentang pembentukan tentara nasional atau pasukan sukarela. Di saat Jepang mengerakkan pasukannya ke timur di wilayah Lautan Pasifik, ditengarai akan terjadi kekosongan pasukan dalam sistem pertahanan di wilayah Pulau Jawa dan Pulau Sumatra.

Mereka pun menyampaikan surat usulan kepada pemerintah pendudukan militer Jepang di Indonesia melalui Gatot Mangkupradja setelah mendapat persetujuan dari pemimpin golongan Islam (KH Mas Mansoer dkk.), golongan priyayi (Ki Ageng Suryo Mataram), seinenden (Mr. Soepangkat dan Sadarjoen), serta R. Soedirman. Moh. Hatta pun mengemukakan dukungannya dalam pidato di lapangan Ikada (3/11/1943).

Terkondisi oleh hal tersebut, Wakil Kepala Staf Umum Markas Besar Komando Kawasan Selatan Mayor Jenderal Inada Masazumi mengusulkan agar Jepang membentuk pasukan pribumi atau boei giyugun yang kemudian dikenal dengan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (Peta). Ini didasarkan pada pembentukan pasukan yang sudah berhasil seperti di Birma (Myanmar) dengan nama BIA (Burma Indipendence Army) yang dipimpin Aung San, dan di Malaya dikomandani Mohan Singh dengan nama INA (Indian National Army).

Pada Agustus 1944, perwira tamatan kursus kyoikutai Angkatan Pertama di tugaskan ke daidan-daidan bagian selatan Pulau Jawa. Angkatan Kedua disebar ke bagian utara Pulau Jawa, seperti Pekalongan, Cirebon, Banten, Semarang, Pati, Surabaya, dan Bojonegoro. Dilaksanakan juga pendidikan lainnya, seperti peralatan (heiki), keuangan (keiri), dan kesehatan (eisei). Selama Desember 1943 hingga Agustus 1944, pendidikan perwira Peta telah membentuk 55 daidan di Pulau Jawa. Daidan-daidan ini dibawah komando Panglima Tentara XVI Letnan Jenderal Harada Kumakichi. Komandan Pasukan (boetaicho) di Jawa Barat Mayor Jenderal Mabuchi Hayao, di Jawa Tengah Mayor Jenderal Nakamura Junji, di Jawa Timur Mayor Jenderal Iwabe Shigeo. Selanjutnya di bawahnya, komandan-komandan batalyon tentara regular Jepang (daitaicho).

Dalam perkembangannya, urusan tentara Peta diembankan kepada staf khusus Boei Giyugun Shidobu yang beranggotakan Kapten Yamazaki Hajime, tiga orang shodancho yaitu Kemal Idris, Daan Mogot, dan Zulkifli Lubis. Dari sipil, Ichiki Tatsuo, dan 3 orang Indonesia: Haji Agoes Salim, Sutan Perang Boestami, dan Otto Iskandardinata.

Di Karesidenan Malang, untuk membantu kelancaran fungsi Peta, para anggotanya diupayakan berasal dari berbagai golongan dari warga setempat. Perwira-perwira Peta yang menjadi komandan batalyon (daidancho) dipilih dari tokoh-tokoh setempat atau orang-orang terkemuka di daerah itu. Komandan kompi (chudancho) biasanya dipilih dari kalangan guru, komandan peleton (shodancho) diambil dari kalangan pelajar (SLTP/SLTA), serta komandan regu (budancho) direkrut dari pemuda-pemuda SD. Melalui tahapan proses pendidikan/ pelatihan, di Karesidenan terbentuk 5 daidan: Dai I Daidan Malang (Gondanglegi), Dai II Daidan Lumajang Pasirian, Dai III Daidan Lumajang, Dai IV Daidan Malang Kota, Dai V Daidan Probolinggo.

Dai I Daidan Malang (Gondanglegi)

Daidancho : Iskandar Soelaiman
Fukan : Soemarto (shodancho)
Eisei : dr. Ibnoe Mahoen (chudancho)
Keiri : Hendro Soewarno (shodancho)
Heiki : Soekardi (shodancho)
Sabar Sutopo (shodancho)

Dai I Chudan : Hamid Rusdi (chudancho)
Dai I Shodan : Ibnoe Soetopo (shodancho)
Dai II Shodan : Soediri Doemadi (shodancho)
Dai III Shodan : Abdoel Moekti (shodancho)

Dai I Chudan : Hamid Rusdi (chudancho)
Dai I Shodan : Ibnoe Soetopo (shodancho)
Dai II Shodan : Soediri Doemadi (shodancho)
Dai II Shodan : Soediri Doemadi (shodancho)

Dai II Chudan : Abdoel Manan (chudancho)
Dai I Shodan : Moeljono (shodancho)
Dai II Shodan : Soemeroe (shodancho)
Dai II Shodan : Soedarsono (shodancho)

Dai III Chudan : Harsono (chudancho)
Dai I Shodan : Moetakat Hoerip (shodancho)
Dai II Shodan : Ridwan Naim (shodancho)
Dai II Shodan : Soepardji (shodancho)

Dai IV Chudan : A. Masdoeki (chudancho)
Dai I Shodan : Singgih (shodancho)
Dai II Shodan : Umar Said (shodancho)
Dai II Shodan : Soepardji (shodancho)
Hombu Chudan : A. Masdoeki (chudancho)

Budancho: Soekarmen, Sarwono, Moenadji, Asnan Gozali, Soejoto, Bedjo, Soeprapto, Soeprantio, Koeswari, Rifai, Kasirin, Koesen, Achmad, Drajat, Slamet, G. Soentoro, Koesnadi, Soelaiman.

Dai IV Daidan Malang Kota

Daidancho : Imam Soedjai
Fukan : Soekardani (shodancho)
Eisei : dr. Muhamad Imam (chudancho)
Keiri : Achmad Soegiantoro (shodancho)
Heiki : Soehardi (shodancho)
Hifuku : Soesilo (shodancho)
Renraku gakari : Widjojo Soejono (shodancho)
Darsi gakari : Pandoe Soejono (shodancho)
Shudosi : Hariman (shodancho)
Honbu : Soebroto (shodancho)

Dai I Chudan : Sochifudin (chudancho)
Dai I Shodan : A. Manab Rasmosingo (shodancho)
Dai II Shodan : D. Soekardi (shodancho)
Dai III Shodan : Moh. Hidayat (shodancho)

Dai II Chudan : M. Mochlas Rowie (chudancho)
Dai I Shodan : A. Manab Rasmosingo (shodancho)
Dai II Shodan : D. Soekardi (shodancho)
Dai III Shodan : Moh. Hidayat (shodancho)

Dai III Chudan : Sulam Samsun (chudancho)
Dai I Shodan : Soejono (shodancho)
Dai II Shodan : Soekarjadi (shodancho)
Dai III Shodan : Soeprapto (shodancho)

Dai IV Chudan : Moch. Bakri (chudancho)
Dai I Shodan : Imam Hambali (shodancho)
Dai II Shodan : Aboe Amar (shodancho)
Dai III Shodan : Soebowo (shodancho)

Berlangsungnya proses pelaksanaan penyerahan kekuasaan dari Jepang kepada pihak Sekutu, dalam rapat gun-shireikan dibahas penjaminan keamananan Jepang di daerah wewenang Tentara Keenam Belas. Kesatuan-kesatuan seperti Peta dan Heiho dianggap berpoteni besar untuk bermasalah terutama dengan meletusnya pemberontakan Peta di Blitar. Pada 18 Agustus 1945 dikeluarkan perintah untuk membubarkan daidan-daidan Peta. Esok harinya, Panglima terakhir Tentara Keenam Belas di Jawa Letnan Jenderal Nagano Yuichiro menyampaikan pidato perpisahan kepada semua anggota Peta. Mereka diberi pesangon 6 bulan gaji serta pembagian bahan makanan dan bahan pakaian. (idur/Perjuangan Total Brigade IV pada Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang, 1997).

BNN Kota Malang

Bisnis Jamu Mengkudu, Shoffie Hasilkan Omzet Puluhan Juta Rupiah

Shoffie sukses menjalankan bisnisnya. (Istimewa)
Shoffie sukses menjalankan bisnisnya. (Istimewa)

MALANGVOICE – Shoffie Bunga Navandia, atau yang akrab disapa Shoffie mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mencetuskan ide brilian dengan memproduksi jamu tradisional yang berkhasiat membantu penyembuhan berbagai macam penyakit. Berkat idenya, usahanya sukses sampai beromzet puluhan juta rupiah.

Dara 20 tahun tersebut mengatakan bahwa idenya untuk membuat jamu muncul sekitar lima tahun lalu. Saat itu, ia harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya mengidap penyakit liver stadium C.

“Saya bingung harus bagaimana. Biaya berobatnya mahal sekali,” ujar Shoffie.

Saat Shoffie mulai ‘galau’ dengan biaya pengobatan sang ayah, salah satu kawan sang ayah dari Korea datang menjenguk dan membawakan jamu tradisional untuk dikonsumsi setiap hari. Tak disangka, setelah meminum jamu tersebut, lambat laun, penyakit ayahnya membaik. Sayangnya, Shoffie tak punya cukup uang untuk terus membeli jamu berbahan dasar mengkudu tersebut. Ia pun berinisiatif untuk membuat sendiri jamu dengan bahan yang sama.

“Jadi awalnya saya buat untuk dikonsumsi ayah saya yang sedang sakit waktu itu, tidak ada pikiran sama sekali untuk menjualnya ke masyarakat,” urainya kepada MVoice.

Jamu yang diproduksi Shoffie adalah jamu tradisional yang terbuat dari 100% fermentasi buah mengkudu tanpa campuran apapun. Buahnya juga dipilih melalui proses seleksi.

“Harus benar-benar dipilih kualitas terbaik,” tambahnya.

Setelah dibersihkan dengan baik, mengkudu kemudian diproses untuk diambil airnya. Sari buah mengkudu tersebut lalu difermentasi selama 6-12 bulan. Usai masa fermentasi, jamu mengkudu kemudian akan dikemas dalam botol ukuran 500 ml. Setiap botol dihargai Rp 65 ribu. Selain menjual eceran per botol, Shoffie juga menyediakan paket hemat yang berisi enam botol pada setiap paketnya. Setiap paket dibandrol dengan harga Rp 350 ribu.

“Kalau paketan lebih hemat. Satu paket hanya 350.000 rupiah,” tambahnya

Mencari pasokan mengkudu dengan jumlah yang banyak diakui Shoffie bukan hal yang mudah. Jika awalnya hanya mencari dari satu daerah ke daerah yang lain, kini Shoffie sudah memiliki lahan khusus untuk menanam mengkudu. Ia bahkan bekerja sama dengan pemerintah desa dan kelurahan untuk ikut serta mengajak masyarakat menanam pekarangan rumah.

”Lumayan bisa bantu para tetangga. Mereka saya kasih bibit, nanti kalau sudah panen saya beli Rp 2.000 per kg nya,” tambahnya.

Bukan bisnis namanya jika tidak ada rintangan menghadang. Meskipun sudah mematenkan merek dagangnya, kesulitanpun juga pernah dialami Shoffie dalam menjankan bisnisnya yang sudah dimulai sejak tahun 2014 ini. Ia belum mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meski telah mendapatkan Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).

“Saya juga sudah mengantongi hasil uji laboratorium. Tapi masih belum terdaftar di BPOM, ada beberapa syarat yang perlu ditambahkan misalnya masalah lahan produksi. Saat ini saya masih produksi di rumah,” katanya.

Jamu pace ini juga sudah banyak dipesan konsumen dari berbagai daerah mulai Gresik, Jakarta hingga Palembang. Tak tanggung-tanggung, omzet yang didapatnya mencapai puluhan juta pada setiap periode pengemasan.

“Sekali pengiriman untuk proses fermentasi, ada enam ember. Setiap ember berisi sepuluh liter sari mengkudu,” pungkasnya.(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Sering Diremehkan, Ternyata Sarjana Perpustakaan Punya Banyak Peluang

Riska saat ditemui MVoice di UM. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Sebagian orang masih menganggap profesi seorang pustakawan tampak sepele. Duduk saja di pojokan menjaga buku-buku perpustakaan, mencatat keluar masuk pinjaman, dan menyortir koleksi buku. Tak pelak mereka yang berkuliah mengambil jurusan Ilmu Perpustakaan sering diremehkan oleh teman dan kerabat. ‘Wah apa itu jurusan perpustakaan. Gak kanggo (gak berguna)!’ Begitulah kata yang sering didengar mahasiswa Ilmu Perpustakaan. 

Tapi itu tidak menghalangi semangat Riska Amelia, lulusan program D3 Ilmu Perpustakaan Universitas Negeri Malang yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik dalam wisuda ke-89 UM 2017, 14 Oktober 2017. 

Gadis asli Malang ini, awalnya agak keberatan ketika harus masuk jurusan D3 Perpustakaan karena target awal adalah masuk ke Fakultas Sastra. Namun, Riska mantap mengambil jurusan itu lantaran jurusan Ilmu Perpustakaan ternyata cukup langka. Dan lagi, lulusanya banyak dicari dan memiliki peluang kerja yang besar. Buktinya Riska sebelum diwisuda, sudah bekerja sebagai pustakawan di SMP/SMA Islamic Boarding School di Kota Batu. 

Serunya selama kuliah, lanjut Riska, dia dapat mempelajari banyak disiplin ilmu pengetahuan. Apalagi ketika menyeleksi buku, seorang pustakawan harus paham topik buku tersebut, dan kebermanfaatan isi buku kepada pembaca. 

“Jika orang meremehkan, maka saya jelaskan bahwa seorang pustakawan tak hanya sekedar jaga buku, tapi kamu juga menentukan isi koleksi perpustakaan itu, dan juga kami belajar banyak hal. Selain itu kami juga ahli IT,” katanya optimis. 

Riska pun sedikit mengkritik pelayanan dan fasilitas perpustakaan di Kota Batu. Menurutnya, lokasi perpustakaan umum di Balai Kota Among Tani masih belum menarik pembaca secara maksimal terutama kalangan anak-anak. Desain perpustakaan harus dibuat semenarik mungkin dan disediakan spot menarik khusus anak-anak. 

“Promosi perpustakaan kota juga harus digalakkan. Selama ini karena lokasi perpustakaan umum ada di balai kota, pengunjung umum merasa segan alias sungkan untuk masuk ke sana,” tutur gadis kelahiran 1995 ini.(Der/Yei)

BNN Kota Malang

Kisah BKR Ambil Alih Pensenjataan Jepang di Malang

Anggota BKR: Imam Soedjai, Hamid Rusdi, Moetakat Hoerip
Anggota BKR: Imam Soedjai, Hamid Rusdi, Moetakat Hoerip

September 1945. Kala itu di bawah langit pagi yang bersejarah, massa bergerombol di depan kantor Kempetai, Jalan Semeru 42 Malang (sekarang SMP Kristen), mendesak pasukan Jepang untuk meninggalkan gedung dan menyerahkan persenjataan mereka.

Tekanan itu berhasil. Kesatuan Kempetai bersedia meninggalkan gedung dan menyerahkan persenjataan kepada pimpinan BKR Malang. Upaya itu dilakukan untuk mengantisipasi beredarnya informasi bahwa persenjataan Jepang akan diserahkan kepada sekutu yang notabene akan dikuasai oleh Belanda yang sejak awal ingin mengambil kembali Indonesia sebagai tanah jajahan.

Pengambilalihan senjata tuntas dalam tiga hari, dilaksanakan Satuan Tugas yang terdiri dari Soebijanto, Moetakat Hoerip, Soesilo, Soegito, Soepardji, Soemeroe, Bowo, Soedjono, Sulam Samsun, Soegeng, dan Sochifudin. Para personel Jepang dibawa ke Lebakroto (Malang Selatan) dengan pengawalan ketat oleh BKR untuk dikarantina ringan sembari menanti kedatangan pasukan sekutu yang akan menangani mereka.

Selanjutnya, pengambilalihan persenjataan Angkatan Udara Jepang di pangkalan udara Bugis (sekarang Bandara Abd. Rahman Saleh). Waktu itu, pangkalan udara Bugis adalah pangkalan udara terbesar dan terkuat di Jawa Timur.

Setelah beberapa kali perundingan dicapai kata sepakat antara Pemerintah Daerah Republik Indonesia Malang dengan Pimpinan Pangkalan Udara Bugis untuk dilaksanakan penyerahan persenjataan Jepang yang disimpan di pangkalan udara Bugis.

Maka, diserahkanlah 64 pesawat terbang, 22 buah dapat dipakai, 12 buah sedang diperbaiki, dan 30 buah dalam keadaan rusak, serta generator pembangkit listrik, bom, dan granat yang tersimpan dalam peti-peti, amunisi dan senjata-senjata ringan. Para personel Jepang yang tinggal di situ dikirim ke Lebakroto, Malang Selatan.

Penanggung jawab pangkalan udara Bugis kemudian diserahkan kepada Soehoed yang saat itu menjabat Kepala Sekolah Penerbangan Menengah di Malang. Dengan ketetapan dari BKR Malang, Soehoed ditetapkan sebagai Kepala Pangkalan Udara Bugis. Kemudian, Pemerintah Pusat mengangkat Karmen, BKR Udara RI (mantan Daidanco Peta di Mojokerto) menggantikan Soehoed.

Langkah berikutnya adalah pelaksanaan pengambilalihan senjata di Pujon. Perundingan demi perundingan yang dilakukan BKR dengan Laksamana Angkatan laut Jepang di Pujon menghasilkan kata sepakat, persenjataan AL Jepang diserahkan secara damai.

Perundingan-perundingan untuk membahas pengambilalihan kekuasaan dari militer Jepang,dilakukan oleh Delegasi Indonesia yang terdiri dari: R.A.A. Sam (pejabat Residen Malang, ketua), Imam Soedjai (BKR, anggota), Iskandar Soelaiman (BKR, anggota), Hamid Rusdi (BKR, anggota), Soebijanto (BKR, anggota), Moetakat Hoerip (BKR, anggota), Bambang Soemadi (Kepolisian, anggota), Abdoerrachman (Kepolisian, anggota), dan Soesilo (pemuda, anggota). Delegasi pemerintah militer Jepang terdiri dari: Mayjen Iwabe (ketua), Laksamana Muda Isido (Kolonel Angkatan Udara), Katagiri Hishashi (Kolonel Angkatan Darat), dan seorang Kolonel Kempetai, serta seorang Juru Bahasa Mayor AL Wanatabe.(idur)

BNN Kota Malang

Wanita Perkasa di Perang Kemerdekaan

Pejuang Wanita pada Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang. Seksi Wanita dipimpin Bu Prapti. Berdiri dari kiri Soekesi, Tutuk Rukamah, Nurul Komariah Soetowidjojo, Marhati. Duduk dari kiri, NInik Suratmi, Ibu Soeprapti, Petty Soepatmi Kadarisman. 1948.
Pejuang Wanita pada Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang. Seksi Wanita dipimpin Bu Prapti. Berdiri dari kiri Soekesi, Tutuk Rukamah, Nurul Komariah Soetowidjojo, Marhati. Duduk dari kiri, NInik Suratmi, Ibu Soeprapti, Petty Soepatmi Kadarisman. 1948.

Seakan terselip di antara lembaran sejarah, pada Perang Kemerdekaan di wilayah Karesidenan Malang, banyak jasa dan pengabdian yang telah dilakukan Seksi Wanita. Saat induk dari kesatuan wanita tersebut mengalami kekosongan, Letnan Kolonel drh. Soewondho mengumpulkan mereka di daerah Sumber Pucung dan sejak saat itu mereka di bawah naungan CMK Malang.

Mereka menjadi sebuah kesatuan khusus, yaitu Seksi Wanita, dengan Komandan Ibu Prapti. Sebelum meietus perang kemerdekaan, beliau menjabat Kepala Sekolah Kepandaian Putri.

Karena panggilan ibu pertiwi, kedudukan terhormat tersebut ditinggalkannya dan ia menceburkan diri dalam medan perjuangan bersenjata. Ibu Prapti dan kelompoknya kaum wanita telah ikut berjuang sejak pertempuran Surabaya sampai dengan perang gerilya di wilayah Karesidenan Malang. Mereka giat mengurus jenazah-jenazah korban pertempuran, mernberikan bantuan perawatan kepada korban perang yang terluka, dan giat di di dapur urnum. KalautTokoh pejuang wanita di Surabaya yang terkenal adalah Ibu Dar “mortir”, maka di Malang yang menjadi kebanggaan di antara pejuang adalah Ibu Prapti.

Mereka melakukan kegiatan perhubungan, sebagai kurir untuk menyampaikan informasi dari kesatuan ke kesatuan lainnya dan menyampaikan surat-surat penting, antara lain dari Mayor Hamid Rusdi kepada Kapten Soendjoto di Kasin Gang VIII (belakang pos Belanda, sekarang pos polisi).

Dokumen-dokumen penting mereka kirimkan dari markas satu ke markas lainnya, SWK satu ke SWK lainnya, seperti dari Gunung Kawi ke Gunung Semeru. Seksi Wanita pimpinan Ibu Prapti jelas membutuhkan keberanian dan penuh risiko. Tugas lain dari seksi wanita ini adalah sebagai ‘penunjuk jalan’. Selain jagoan menguasai medan, mereka juga mengerti tempat kedudukan komando dan pejuang gerilya. Tidak kalah pentingnya, para pejuang wanita tersebut merupakan “mata dan telinga” gerilyawan, sehinga sangat menguntungkan untuk menghindari pendadakan serangan pasukan Belanda.

Sewaktu Belanda melakukan Agresi Militer II, markas Seksi Wanita berada di Sumber Pucung. Saat terjadi penyerbuan, Seksi Wanita itu ikut melakukan Wingate Action ke daerah pendudukan Belanda. Sebagian berkedudukan di daerah Ketawanggede, Dinoyo, Malang. Sementara, Ibu Prapti berada di sekitar Sumberporong, Lawang. Tempat beliau tidak menetap di satu desa atau lokasi. Tidak jarang, beliau menyamar sebagai seorang perawat, serta ikut berperan dalam penculikan dokter (antara lain dr. Sutoyo) dari rumah sakit Turen untuk dibawa ke daerah gerilya, termasuk menyuplai obat-obatan untuk para gerilyawan.

Saat tiba pengakuan kedaulatan, para anggota seksi wanita ikut semua memasuki Kota Malang. Berbagai tugas telah menanti mereka. Beberapa orang bertugas sebagai anggota karyawati TNI dan ada yang menjadi guru. Beberapa anggota Seksi Wanita yang gugur semasa Perang Kemerdekaan, antara lain Kurnia, yang gugur di daerah Kesamben. Atas jasa-jasa yang mereka sumbangkan kepada bangsa dan negara, mereka oleh pemerintah telah dianugerahi Bintang Gerilya.(idur)

BNN Kota Malang

Batu Bumi Hangus, Pertempuran di Wilayah Pujon dan Penyerangan Sebaluh

Pasukan Belanda saat Agresi Belanda I di Malang (kiri), Tank Belanda memasuki Batu (1947)
Pasukan Belanda saat Agresi Belanda I di Malang (kiri), Tank Belanda memasuki Batu (1947)

MALANGVOICE – Agresi Belanda I yang bergitu gencar menyebabkan sebagian besar pasukan RI mundur dan membuat pertahanan di Batu, yakni di Gunung Dali, Rajekwesi, Gunung Bale, Gunung Seruk dan di Pegunungan Banyak. Pada waktu itu, 1948, Pujon-Ngantang adalah bagian dari wilayah Malang Barat yang meliputi Karesidenan Batu, termasuk Kasembon dan Batu.

Konsolidasi pertahanan dipimpin oleh Mayor Abdul Manan dan memiliki kekuatan kompi seperti Kapten Soemitro dan Kapten Sumeru, serta bantuan dari pasukan Batalyon Soenandar. Malang Barat hampir seluruhnya dikuasai Belanda, seperti Sengkaling, Dinoyo, dan Karangploso. Maka, rakyat pun berbondong mengungsi ke daerah Pujon, Kasembon, dan Ngantang. Rakyat Batu sebagian besar mengungsi ke Pujon dan Jurangkuali.

Kampung Songgoriti, Tambuh, dan Songgokerto mengalami kerusakan parah dan kosong akibat beberapa pertempuran dan Kota Batu sudah dibumihanguskan. Belanda bertahan dan menguasai Batu, membuat benteng pertahanan di Nganglik, Jambedawe, Songgokerto, dan Kawedanan Batu. Oleh pasukan RI jalan besar antara Sebaluh dan Pujon dirusak dan terputus.

Arus pengungsi menuju Pujon, Kasembon, dan Ngantang menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk di sana dan kehidupan sehari-hari semakin berat. Sebagian rakyat berdagang ke daerah pedalaman melewati jalan-jalan yang tidak diawasi oleh pasukan Belanda. Saat itu Belanda sedang melaksanakan blokade ekonomi terhadap RI. Jatah bantuan makanan didapatkan dari Kediri, Jombang, dan Mojokerto, daerah-daerah yang masih dikuasai RI. Namun, dalam kondisi demikian Wedono Suntoro yang bertempat tinggal di Pujon dapat menjaga kehidupan pertanian berjalan sebagaimana biasanya.

Sebelum terjadinya Agresi Belanda II, Batalyon Abdul Manan secara bergiliran mengadakan penyusupan untuk mengenali medan dan menyelidik situasi. Kompi Sumeru melaksanakan gerakan untuk memasuki daerah Lawang, Kompi Yusuf bergerak menyusup ke daerah Malang Barat, Kompi Benu bertugas menembus ke daerah Batu. Sementara Kepala Staf Batalyon, Soemitro, berjaga di pos komando di daerah Pasar Pujon/Ngroto.

Di awal Agresi Belanda II, pos pasukan Belanda di daerah Sebaluh diserang oleh Batalyon Abdul Manan. Pasukan Belanda terdesak mundur dan didapatkan rampasan dari mereka, antara lain 6 buah mantel, helm, telepon, dan mobil jeep yang diangkut beramai-ramai oleh penduduk.

Pada 19 Desember 1948, diperoleh informasi bahwa Belanda sedang melintas menuju ke barat, yaitu Gunung Kelet, desa Bian, Bakir, dan Bendosari Kecamatan Pujon. Terjadilah kontak senjata dengan Batalyon Abdul Manan dan Batalyon Sabaruddin. Di wilayah desa Maron, pasukan Belanda dihadang dan terjadi kontak senjata dengan Kompi Mistar.

Melanjutkan gerakan pasukan menuju Desa Kambal dan Selorejo, di desa Klangon pertempuran hebat terjadi ketika pasukan Belanda disergap oleh Kompi Soemadi yang dipimpin Letda Martawi yang kemudian mundur ke desa Gobet Mendalan. Belanda ternyata bertaktik lain, mereka menerobos hutan menuju Waduk Sekuli dan menduduki Kleppen Huis. Mereka menutup pintu air yang mengalir ke turbin dan membuang ke sungai Konto. Listrik pun padam. Nampaknya pasukan Belanda sudah mengetahui tentang taktik pasukan RI, yakni taktik bumi hangus dengan memakai bom yang dialiri arus listrik.(idur)

BNN Kota Malang