Harlah ke-77 Gus Dur: Merawat Ingatan, Sebarkan Keberagaman

Tokoh lintas iman saat hadir dalam acara Harlah ke-77 Gus Dur di Desa Sukolilo, Jabung.(Gusdurian for MVoice)

MALANGVOICE – Hari lahir KH Abdurahman Wahid biasanya cukup diperingati segenap keluarga besar. Namun, pada Harlah ke-77 Gus Dur, ada yang istimewa, Gerakan Pemuda Gusdurian (Garuda) Malang terlibat merayakannya.

Uniknya, perayaan Harlah Gus Dur dilangsungkan di desa, tepatnya di Balai Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Minggu (6/8) malam kemarin.

Sejumlah penampilan seperti pembacaan puisi, Musik Karinding, Tari Sufi, Tari Egrang dari Komunitas Anak Alam dan Tari Topeng Malang.

Dengan tema “Dari Desa Kami Bersuara ke-Bhinnekaan dan ke-Indonesiaan”.
Tokoh lintas iman, beberapa komunitas dan masyarakat sekitar larut dalam kegiatan yang berakhir pukul 22.00 WIB.

Koordinator Gusdurian Malang, Ilmi Najib, mengatakan, merawat tradisi sangat penting dan harus dilakukan.

Najib mengingatkan kembali keberadaan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu.

“Dari desa, mari bersama-sama kobarkan semangat Kebhinekaan,” katanya, saat berbincang dengan MVoice.

Ia memilih desa karena menilai rasa Kebhinekaan masyarakat masih kurang. Langkah ini sebagai awal untuk mengenalkan arti keberagaman.

Bahkan, masyarakat menyambut baik kegiatan ini. Kehadiran Barongsai menjadi daya tarik dan terbilang langka.

Dikatan Najib, banyak kalangan bersuara lantang akan Pluralisme. Namun, faktanya belum ada gerakan nyata bagaimana inti kebhinekaan dan menyebarluaskan di masyarakat.

“Indonesia tidak jauh dari gerakan dan nilai-nilai yang ditinggalkan Gus Dur. Yakni menjadi Indonesia snagat beragam dan menjaga persatuan,” jelasnya.

“Saya jadi ingat Gus Dur. Adanya beliau, mematikan sekat-sekat kebencian, sekat perbedaan. Dan tiadanya beliau menghidupkan persaudaraan, menghidupkan kerukunan. Semoga apa yang menjadi cita-cita Gus Dur ada dalam diri kita masing-masing,” kata Icroel, perwakilan warga Jabung.

Tradisi dan kebudayaan di Indonesia bermacam-macam. Sehingga, Harlah Gus Dur menjadi momen penting sebagai tempat berkumpul bersama, baik suku, lintas iman dan agama.

“Semuanya untuk kemanusiaan sebagaimana cita-cita Gus Dur,” ungkapnya.

Senada dengan Icroel, salah satu tokoh Konghucu, Bunsu Andon, sebagai warga harus memiliki kesadaran bahwa Indonesia adalah bangsa yang bhinneka. Dibutuhkan kerja keras dalam memperjuangkan bangsa Indonesia. Baginya, kemerdekaan harus dipertahankan sepanjang zaman.

Ditambahkan Ketua GP Ansor Jabung, Gus Azam. Dalam orasi kebangsaannya Gus Azam, mengungkapkan konsep kata ‘Rohmah’ dalam lafadz ‘Basmalah’ yang artinya kewelasan, belas kasih atau rahmat tuhan kepada manusia. Baik pemeluk Agama Islam dan agama lain.

Menurutnya, manusia diciptakan dengan berbagai macam suku dan budaya. Tujuannya ialah saling mengenal satu sama lainnya. Manusia sendiri berasal dari kata ‘Al-Insan’ yang maknanya harmoni.

“Bagaimana manusia bisa mewujudkan Indonesia. Rukun antara yang satu dnegan lainnya. Ada banyak pilihan, namum semuanya tetap memiliki jiwa dan jalan hidup yang sama,” pungkasnya.

Selain Harlah, Gusdurian Malang juga rutin memeringati Haul Gus Dur setiap tahun.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Komunitas Akar Tuli Malang: Rumah Bagi Penyandang Tuli, Akrabkan Masyarakat dengan Bahasa Isyarat

Komunitas Akar Tuli Malang menjadi rumah bagi penyandang tuli. Mereka berjuang menyebarluaskan bahasa isyarat.(istimewa)

MALANGVOICE – Beberapa orangpemuda menikmati secangkir kopi di sebuah warung kopi di Kota Malang. Sesekali gadget di tangannya dimainkan serta tak luput berswafoto bersama. Deru kendaraan di jalan seakan tak dihiraukan. Di sisi lain, barista sedang meracik kopi untuk disajikan ke pelanggannya.

Sembari menunggu pesanan datang, sekelompok orang datang menghampiri. Sebagian sibuk memarkir kendaraan di tempat parkir. Mereka tidak lain adalah pengurus Komunitas Akar Tuli Malang. Ya, mereka adalah penyandang Tuli, tapi tak pernah malu atas keterbatasannya.

Satu persatu mereka bersalaman dan memilih tempat duduk. Yoga Dirgantara, Angelius Wahyu Utomo, Nur Syamsan Fajrina, Hufani Septaviasari Irnanto, Evangelia Sukmadatu Dewantari Putri, Maulana Aditya, dan Alif Maulana Agung Pribadi. Sesekali canda tawa pecah saat wartawan Malangvoice.com mencoba belajar bahasa isyarat, tapi tak kunjung bisa karena belum terbiasa.

Humas Akar Tuli Malang, Hufani Septaviasari Irnanto, memulai pembicaraan sembari menjadi penerjemah untuk memudahkan komunikasi dengan pengurus Akar Tuli. Komunitas Akar Tuli didirikan karena belum ada komunitas bagi penyandang Tuli di Kota Malang. Fani sendiri sesekali menggunakan alat bantu dengar untuk memudahkan berinteraksi.

Komunitas Akar Tuli berdiri 13 September 2013 lalu. Lima orang menjadi pioner berdirinya komunitas ini. Yakni Nur Syamsan Fajrina, Dina Amalia Fahima, Fikri Muhandis, Muria Najhiul Ulum, dan Safitri Safira. Mereka didampingi seorang voulentir, Vida Riahta, dari Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya.

“Semula, karena teman-teman Tuli sedikit. Makanya dibuatlah komunitas untuk tempat kumpul. Ternyata di Kota Malang teman-teman Tuli cukup banyak,” katanya, dua pekan lalu.

Akar Tuli lantas menjadi wadah bagi penyandang Tuli. Tidak hanya kalangan mahasiswa, juga masyarakat umum. Teman-teman Tuli lebih menemukan jati diri dan merasa dihargai ketika berada di komunitas. Mereka bisa berinteraksi dan mencurahkan isi hatinya antar sesama.

“Awal, memang tidak langsung akrab. Tapi lambat laun mereka mencair. Ya, kayak saudara sendiri,” ujarnya.

Penyandang Tuli tidak hanya dari wilayah Malang. Ada pula dari Jawa Barat dan luar jawa yang menempuh studi di Malang. Bahasa isyarat yang digunakan pun tak semuanya sama, sehingga butuh waktu untuk penyesuaian. Mereka juga sering meluangkan waktu untuk berkumpul dan saling bercerita. Bisa di dalam kampus maupun di taman-taman kota. Yang ikut komunitas juga dari berbagai kalangan, baik karyawan perusahaan, pelajar, dan mahasiswa.

Istilah Tunarungu dianggap berlebihan. Mereka lebih senang dipanggil sebagai Tuli. Alasannya, Tunarungu mengindikasikan orang sakit.”Kami tidak sakit, kami senang dibilang Tuli,” ungkap dia.

Sering Diperlakukan Diskriminasi

Penyandang Tuli masih saja diperlakukan secara diskriminasi. Mereka dipandang sebelah mata di masyarakat umum. Kehadiran mereka dinilai langka dan kerap diolok-olok. Masih banyak masyarakat yang enggan berinteraksi dengan penyandang Tuli. Selain tidak bisa berbicara, mereka juga tidak paham bahasa isyarat.

Mayoritas penyandang Tuli mengalami masa lalu yang kurang bagus. Baik di sekolah maupun di lingkungannya, mereka tidak luput dari bully teman-teman sebayanya. Sebagian bahkan putus asa dan tak mau sekolah. Obrolan tersebut menjadi pembahasan setiap kali ada mahasiswa baru yang Tuli. Curhatan mereka hampir semuanya merata.

“Padahal, kami ini juga mahluk sosial, ciptaan tuhan. Kami sama dengan manusia lain,” ungkap Fani.

Penyandang Tuli mengeluhkan akses publik yang belum ramah disabilitas. Salah satunya di perguruan tinggi. Penyandang Tuli di Universitas Brawijaya terbilang beruntung, karena ada voulentir yang mendampinginya setiap kali mengikuti perkualiahan. Dengan mudah penyandang Tuli memahami materi di dalam kelas.

“Dulu, pemandangan di dalam kelas dianggap aneh. Tapi lambat laun, diterima setelah dijelaskan. Dosen dan mahasiswa lain mengerti jika ada temannya yang Tuli,” beber perempuan yang dulu pernah mendapat perlakukan diskriminasi.

Sosialisasikan Bahasa Isyarat ke Masyarakat

Bahasa isyarat belum sepenuhnya dipahami masyarakat. Sehingga penyandang Tuli dipandang sebelah mata. Namun, perlakuan tersebut tidak direspon balik. Penyandang Tuli justru berusaha keras mensosialisasikan bahasa isyarat di masyarakat agar diterima.

Tujuannya tidak lain supaya penyandang Tuli bisa berkomunikasi dengan masyarakat umum. Semakin banyak masyarakat yang fasih menggunakan bahasa isyarat, semakin baik pula dampak terhadap penyandang Tuli.

Komunitas Akar Tuli beberapa kali turun ke masyarakat, mensosialisasikan bahasa isyarat ketika Car Free Day (CFD) di Jalan Ijen, Kota Malang. Aksi sosialisasi di CFD cukup unik, salah seorang dari mereka memerankan sebagai pantomin yang identik dengan gerakan isyarat. Masuk ke komunitas-komunitas dan Unit Kegiatan Mahasiswa. Selain itu, mereka siap mengajari masyarakat yang ingin belajar bahasa isyarat.

Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang distandarkan di Indonesia dinilai terlalu ribet dan kurang praktis. Pemandangan ini bisa dilihat di TVRI, televisi milik pemerintah yang menyediakan penerjemah bagi penyandang Tuli.

Penyandang Tuli lebih nyaman menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Selain lebih mudah, juga praktis dan cepat dipahami. Bisindo sendiri lebih menjelaskan huruf yang ingin diucapkan penyandang Tuli.

“Bahasa isyarat lebih pada intinya, menyampaikan apa yang diinginkan langsung pada intinya. Tidak suka bertele-tele, seperti sms gaul gitu,” jelas Fani melanjutkan cerita.

Adanya alat bantu dengar tidak lantas diterima semua penyandang Tuli. Selain harganya yang cukup mahal, juga tidak terbiasa. Penyandang Tuli terbiasa kesunyian sejak lahir, sehingga kaget ketika memakai alat bantu dengar. Ada pula yang menggunakan alat bantu dengar, tapi tidak berfungsi maksimal lantaran intensitas pendengarannya kategori parah.

“Bagi teman-teman, alat bantu dengar berisik. Sukanya kesunyian,” ungkapnya.

Terbatas Secara Fisik, Ukir Prestasi

Kendati dengan kondisi yang terbatas dan kerap mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang lain. Penyandang Tuli juga patut diacungi jempol. Mereka mampu menorehkan prestasi cemerlang, baik skala regional, nasional hingga internasional.

Penyandang tuli punya bakat yang tak kalah dengan masyarakat umum. Meski tidak bisa berbicara dan tidak bisa mendengar, mereka bisa mengekpresikan bakatnya. Meliputi puisi bahasa isyarat, pantomin, dan teatrikal.

Anggota Komunitas Akar Tuli, Yoga Dirgantara, berhasil menembus kancah internasional. Ia menjadi wakil Indonesia dalam kontes Miss & Mister Deaf International 2014 lalu di Inggris. Meski gagal keluar sebagai yang terbaik, Yoga, merasa bangga bisa mengharumkan nama baik Indonesia. Selain Yoga, anggota Akar Tuli lainnya, Octaviany Wulansari menjadi kandidat Deaf World 2011 lalu di Ceko.

Kontes tahunan ini terbagi tiga kategori, pertama Miss & Mister Deaf International (fokus sosial), Miss & Mister Deaf World (modeling), dan Miss & Mister Deaf Star (unjuk bakat).

“Kami juga punya cita-cita sama untuk mengharumkan nama baik Indonesia,” ungkap pria yang bekerja di sebuah pabrik rokok di Kota Malang.

Yoga dipercaya atasannya untuk menjadi penerjemah bagi penyandang Tuli yang bekerja di perusahaan. Ia merasa beruntung karena di tempat kerjanya, ia bisa diterima dengan senang hati dan belum mendapat perlakuan diskriminasi. ”Selain bahasa isyarat, teman-teman di tempat kerja bisa pakai oral saat berinteraksi dengan yang lain,” akunya.

Ia berharap mendapat tempat yang sama di masyarakat. Perlakuan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas tidak terjadi lagi dikemudian hari.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria

Prihatin Kondisi Lingkungan, Kelompok Punk Bersihkan Sungai di Lawang

Anak-anak punk membersihkan sungai di kawasan Lawang, Kabupaten Malang. (Muhammad Choirul)
Anak-anak punk membersihkan sungai di kawasan Lawang, Kabupaten Malang. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Ada pemandangan unik di beberapa desa kawasan Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Rabu (2/8). Sejumlah titik aliran sungai dikerubungi anak-anak punk.

Mereka tengah sibuk membersihkan sampah di sungai tersebut. Aktivitas itu mereka lakukan bukan karena menjalani hukuman, melainkan lahir dari kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.

Adalah kelompok Lawang Street Crew dan Lawang Rescue yang menginisiasi kegiatan ini. Momentum kali ini bukan kali pertama, tetapi sudah menjadi kegiatan rutin untuk sambang kali di beberapa desa.

Lawang Street Crew sendiri merupakan perkumpulan anak-anak punk di kawasan Lawang. “Ini merupakan bentuk perlawanan dan pemberontakan kami terhadap budaya masyarakat yang masih belum sadar betapa sangat tidak baiknya perilaku membuang sampah sembarangan, terutama di sungai,” kata Cussy, salah seorang penggagas kegiatan ini.

Tidak hanya bersih sungai, mereka juga membuat peta aliran sungai dan pengamatan penyempitan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang suatu saat bisa mengakibatkan banjir dan erosi. Selama ini, masyarakat menganggap punk hanya sebagai perkumpulan yang meresahkan.

“Image ini perlahan akan dijawab dengan bentuk-bentuk kegiatan positif seperti baksos (bakti sosial) dan berkesenian, terutama jaran kepang,” tandasnya.

Selain itu, mereka juga mengikuti pelatihan SAR dan belajar bahasa isyarat. Dalam hal ini, Lawang Rescue lebih banyak membantu dalam bidang teknis dan advokasi serta pengembangan pribadi.

“Ini mengingat potensi tiap personal punk begitu beragam, sehingga semua harus digali untuk dikembangkan,” pungkasnya.


Reporter: Muhammad Choirul Anwar
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yunus Zakaria

Kaos Kobong Glow in The Dark, Usung Nilai Kearifan Lokal Banyuwangi

Kaos Bernuansa Kearifan Lokal (istimewa)

MALANGVOICE – Slogan ‘Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing’ rupanya benar-benar diterapkan sekelompok mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Pasalnya, kelompok yang terdiri dari lima mahasiswa ini menciptakan kaos bermuatan bahasa dan budaya lokal Banyuwangi sebagai karya ilmiah yang mereka ajukan pada gelaran Pekan Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan (PKM-K).

Karya yang diberi nama Kaos Beranimasi Muatan Bahasa Osing (Kobong) Glow in the Dark ini menjadi salah satu dari 38 karya PKM UMM yang mengikuti monitoring dan evaluasi (monev) eksternal di Universitas Negeri Malang (UM) (12/7).

Salah satu anggota tim, Robby Cahyadi mengungkapkan karya PKM-K yang dibuatnya bersama tim mendapat apresiasi dari tim peninjau monev. Menurutnya, ini karena sejumlah keunggulan yang dimiliki, yakni bahan kaos yang digunakan berstandar distro, bahasa yang memiliki filosofi, mengangkat budaya lokal, dan tulisan di bagian belakang kaos dapat menyala dalam gelap (glow in the dark).

“Tidak ada pertanyaan yang diajukan untuk Kobong Glow in the Dark, Alhamdulillah. Kita optimis untuk bisa maju ke PIMNAS,” ujar Robby.

Karya ini terbilang unik karena menggabungkan ide desain visual dengan bahasa dan budaya lokal. Bagian depan karya ini adalah gambar-gambar budaya khas Banyuwangi, seperti blangkon atau barong. Menariknya, gambar-gambar ini dikemas dalam bentuk animasi tiga dimensi.

Tulisan Gemelaring yang berarti ‘terus berproses sampai sukses’ menghiasi bagian depan kaos di atas gambar tiga dimensi. Di bagian belakang kaos, terdapat tulisan Using Ngewod Selawase yang berarti bahasa Banyuwangi tidak akan mati selamanya.

“Sasarannya adalah semua usia, baik anak-anak maupun orang lansia, jadi kami buat desain yang bagus untuk semua usia,” imbuh mahasiswa semester empat ini.

Sejauh ini, Kobong glow in the dark sudah dipesan banyak orang. Kaos ini juga sudah bermitra dengan beberapa distro dan agen penjual pakaian di Rembang, Tuban, dan Pasuruan. Berbekal modal 10 juta dari Dikti, kini laba yang dikantongi lima mahasiswa ini mencapai enam juta. Bukan hal mudah untuk membuat karya yang dijual seperti sekarang, mereka butuh hingga lima kali penyempurnaan.

“Kami buat pertama, lalu ada masukan dari pembeli, kami perbaiki lagi, sampai lima kali,” kisah Robby.

Terkait strategi pemasaran, Robby mengaku mereka memanfaatkan semua media sosial, seperti Blackberry Messenger (BBM), whatsapp, line, dana kun Instagram Kobong Glow in the Dark dengan nama @kobong-gemelaring.

Tim ini beranggotakan lima mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yakni Robby Cahyadi, Rosidi Hadi Siswanto, Rani Rahmawati, Dewi Larasetiani, dan Risnawati. Meski tak semuanya berasal dari Banyuwangi, namun mereka menyiasatinya dengan membuat kamus bahasa Osing untuk mendukung kemampuan mereka mempelajari bahasa Osing, sehingga memperkaya kosakata dalam membuat kaos.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Lewat Pringtion, Remaja Junrejo Bisa Mandiri Cari Duit

Tim mahasiswa di desa Junrejo (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Kini para remaja Desa Junrejo, Kota Batu bisa tersenyum sumingrah. Lewat program Pringtion, mereka dapat menghasilkan uang dari menjual hasil pertanian membantu orangtua mereka yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.

Pringtion merupakan program pemberdayaan yang digagas mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya (UB), yakni Chastita Hikmatun Nisa, Mukhamad Lukman Khakim, Achmad Nabhan Yaman, Muhammad Hadyan Rahman, dan Salsabilla Harisma Indah.

Program ini bertujuan memberdayakan seluruh masyarakat terlebih para remaja desa. Selama ini, mahasiswa menilai kesejahteraan para petani belum terjamin, dimana harga jual hasil pertanian mereka jauh dibawah harga pasar.

Tim mahasiswa Pringtion (istimewa)

“Jadi dalam program ini remaja kami latih mulai dari segi ilmu pertaniannya sampai penjualan,” kata Chastita saat ditemui MVoice.

Konsep Pringtion cukup sederhana. Program itu terdiri dari tiga pilar, yakni Controling yang merupakan tahapan Pre Harvest, Prace merupakan tahapan Post Harvest, dan Distribution yang merupakan tahapan Distribution.

Pada tahapan Pre Harvest mereka melakukan sosialisasi dan pelatihan mengenai pengurangan penggunaan pestisida kimia, pembuatan bibit secara mandiri, dan cara kontroling tanaman.

Pada tahapan Post Harvest mereka melakukan sosialisasi dan pelatihan mengenai Pengemasan, Penyimpanan, Dan perhitungan BEP serta HPP. Dan pada tahapan terakhir yakni Distribition mereka melakukan pelatihan mengenai Rantai Pasok dan Coustemer Link.

“Pringtion merupakan salah satu bentuk pengabdian kami kepada masyarakat dengan mengaplikasikan ilmu yang kami dapatkan selama perkuliahan. Harapannya, desa Junrejo mandiri dan bisa sejahtera,” tutup dia.

Salah satu target keberhasilan program ini, remaja Junrejo bisa menjual hasil pertanian ke toko-toko sayur modern tentu dengan harga jual yang lebih tinggi. Kedepan, Chastita memastikan, remaja Junrejo mampu memasok sayur untuk toko modern besar seperti Hypermart dan sebagainya.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Mahasiswa UM Ciptakan Permen Pereda Perut Kembung

Mahasiswa memperkenalkan permen anti kembung. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Rasa permen yang manis dan selalu tersedia dalam berbagai varian rasa selalu menjadikannya primadona kuliner. Ini menginspirasi sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) membuat permen berbahan dasar buah kapulaga.

Mereka adalah Difandini Risky, Rensa Dwi, dan Tia Kusniawati. Adalah Casum, yang merupakan akronim dari Candy Amomum Subulatum (Permen Kapulaga), juga berkhasiat sebagai permen anti kembung.

Kemasan permen Casum. (Anja Arowana)

Perut kembung merupakan bentuk penyakit sistem pencernaan yang disertai penimbunan gas di dalam lambung akibat proses fermentasi berjalan cepat. Terlebih lagi kalangan mahasiswa kurang menjaga pencernaan, dikarenakan padatnya kuliah sehingga mengabaikan kebutuhan nutrisi, memilih makanan instan, dan pola hidup yang tidak sehat. Hal tersebut dapat memicu masalah pencernaan.

Di Indonesia kebanyakan produk pengobatan yang mengatasi masalah pencernaan khususnya masalah lambung berbahan obat kimia sintetik yang memiliki tingkat toksisitas tinggi dan jika dikonsumsi terus menerus akan menimbulkan suatu efek tertentu.

“Pemanfaatan Amomum subulatum oleh kalangan masyarakat masih sebatas pembuatan ramuan tradisional sehingga pemanfaatannya belum berkembang,” tukas ketua kelompok, Difandini.

Dia menambahkan, persebaran Amomum subulatum di Indonesia cukup merata dan cukup mudah didapatkan. Buah kapulaga mengandung minyak atsiri dengan komposisi yaitu cineol, terpineol, borneol dan lain-lain. Kandungan yang dominan adalah 1,8-Cineole yang mencapai 73,27 persen.

“Nah, Cineole mempunyai sifat antibakteri yang dapat mengobati luka lambung (ulkus) dan dapat mencegah terjadinya gas pada perut serta melancarkan pencernaan,” tutupnya.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Numani Senang, Lezatnya Nugget Berbahan Utama Rumput Laut Cocok untuk Diet

Nugget Rumput Laut yang sudah matang dan siap disantap (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) baru saja menciptakan makanan olahan nugget Numani Senang berbahan utama rumput laut. Mereka adalah Tristanti Rakhmaningrum, Anggia Kususma, Respati Satriyanis, Umdatul Muftin, dan Vany Zuhriya Zain oleh bimbingan Dr Murni Sapta Sari MSi.

Tristanti mengatakan, bahan rumput laut yang mereka ambil berasal dari Kabupaten Pacitan, tepatnya di Kecamatan Ngadirojo yang memiliki potensi sumber daya alam prospektif khususnya bidang perikanan di kawasan pantai. Bukan hanya ikan, ternyata daerah tersebut punya komoditas rumput laut yang besar.

Kemasan Nugget Rumput laut (Anja Arowana)

“Produksi rumput laut bisa sampai 13 ribu kilogram lebih tahun 2010 lalu. Jenis rumput laut yang banyak di daerah Ngadirojo adalah Eucheuma cottonii. Sayangnya rumput laut disana dijual dalam bentuk bahan mentah. Jadi untuk peningkatkan nilai produk harus ada inovasi baru,” kata dia kepada Mvoice.

Kemudian, Tristanti dan timnya membuat nugget rumput laut dengan cara mengganti bahan utama daging sebagai nugget dengan rumput laut yang dihaluskan. Metode pengolahannya pun hampir sama dengan metode membuat nugget pada umumnya.

Rumput laut jenis ini, lanjutnya, selain mengandung karagenan yang tinggi, apabila dalam bentuk tepung dapat mengandung serat pangan total mencapai 91,3% berat kering dan iodium sebesar 19,4 µg/g berat kering

“Cocok buat diet lho, karena lemaknya rendah, ” tukasnya.

Hasil inovasi mereka pun berhasil didanai penuh oleh DIKTI dalam program PKM Nasional 2017. Mereka berharap mampu meningkatkan kualitas maupun kuantitas produk hasil olahan rumput laut yang dapat menjadi produk unggulan khas daerah Pacitan, membantu meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya di Kecamatan Ngadirojo.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Lombe, Tradisi yang Bikin Petani Sumenep Kaya Raya

Tradisi Lombe di Madura (istimewa)

MALANGVOICE – Tradisi yang satu ini memang jarang didengar. Tradisi unik ini berasal dari pulau Kangean, Sumenep, Madura, bernama Lombe.

Tradisi ini mirip karapan sapi namun menggunakan dua ekor kerbau. Berkat ajang tradisi yang digelar dua kali setahun ini, petani dan peternak kerbau di Sumenep mampu berinvestasi dan menjadi kaya.

Hal itu diketahui dari hasil penelitian sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) jurusan Geografi 2015, yakni Misbahaul Ulum, Kartika Hardiyati dan Irfan dimentori dosen pembimbing Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu M.Si.

Tim peneliti tradisi lombe (Istimewa)

Misbahaul mengatakan, motivasinya untuk memperkenalkan tradisi dari daerah asalnya ini sederhana.

“Saya ingin teman-teman saya, kampus, dan bahkan masyarakat Madura terutama pemerintahnya mengenal dan melestarikan tradisi ini karena tidak banyak yang tahu,” kata dia.

Padahal, lanjutnya, Lombe mampu meningkatkan taraf sosial hingga ekonomi masyarakat sekitar, tentu disamping sebagai hiburan tradisi masyarakat.

“Dari segi sosial kalau misalnya menang, itu mereka bisa naik taraf sosialnya jadi lebih disegani,” tambah dia.

Misbahaul menunjukkan buku hasil penelitiannya dan tim (Anja Arowana)

Selain itu, harga jual kerbau jantan yang mampu memenangkan perlombaan ini bisa naik hampir 50% dari harga jual asli dari kerbau itu sendiri.

“Awalnya kan harga kerbau 35 juta saja. Tapi kalau kerbaunya menang nanti dia bisa naik harganya hingga 55 juta rupiah per-ekor. Bapak saya juga akhirnya bisa menguliahkan saya disini (UM) karena kerbau,” tukasnya.

Disamping meningkatkan harga jual dan tingkat sosial sang pemilik, ajang ini ternyata juga berhasil membuat angka populasi kerbau di daerah ini naik drastis karena masyarakat mulai sadar dengan prospek yang dijanjikan oleh kerbau.

“Mulai tahun 2010-an, tradisi ini semakin digandrungi. Semua berbondong-bondong ikut. Bukan karena mengejar hadiahnya, tapi karena memang masyarakat senang. Akhirnya semua semangat beternak kerbau. Menjadikannya sebagai investasi untuk masa depan,” tutupnya.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Safari Ramadhan d’Kross Community Gayeng dan Penuh Kekeluargaan

MALANGVOICE-Suasana gayeng dan penuh kekeluargaan mewarnai Safari Ramadan yang digelar d’Kross Community, di Masjid Baitus Shomad, Kelurahan Kotalama, Kamis (15/6) sore.

Diawali sholawat bersama, kegiatan di dalam masjid makin hangat dengan tausyiah yang dipimpin Habib Agil bin Ali bin Agil. Frontman d’Kross, Ir H Ade Herawanto MT, beserta segenap awak lintas komunitas dan tokoh Aremania turut membaur.

“Semoga Sam Ade dan segenap awak d’Kross Community dilimpahi karunia sehat,” ujar Habib Agil, diamini seluruh jamaah yang hadir.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, segenap awak d’Kross Community kembali menggelar kegiatan Safari Ramadan pada bulan suci ini. Dipimpin langsung oleh Sam Ade, rombongan lintas komunitas melakukan kunjungan ke sejumlah pondok pesantren (ponpes), panti asuhan dan blusukan kampung.

Selain menyambung silaturahmi antar warga dan sesama kaum muslimin, lewat kegiatan ini juga diberikan paket santunan kepada kaum dhuafa, anak yatim-piatu dan janda-janda tidak mampu.

Sebagai Kepala Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang, Sam Ade d’Kross turut mengajak serta seluruh pegawai dan tataran staf Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dipimpinnya.

Mulai dari Tenaga Non Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga pejabat struktural BP2D antusias ikut serta dalam berbagi kebaikan, membaur bersama seluruh awak d’Kross Community yang berasal dari berbagai kalangan, komunitas dan lapisan masyarakat.

Bantuan pada Safari Ramadan kali ini diberikan kepada perwakilan warga Kelurahan Kasin, Kelurahan Gadang dan Kelurahan Jodipan. Rombongan juga bersilaturahmi dengan segenap pengurus, santri dan santriwati Ponpes Nurul Muttaqin Al-Barokah asuhan KH Nurhadi, kawasan Tlogowaru.

Perjalanan dilanjutkan ke Panti Asuhan Yayasan Sunan Kalijaga (Yasuka) bimbingan Ustadz M Munir Cholily, kawasan LA Sucipto, Blimbing. Sebelum akhirnya kegiatan pada sore hari dituntaskan di kawasan Muharto, Kotalama, bersama warga non-panti binaan Perguruan Pencak Silat Cimande.

Warga pun tampak antusias menerima bantuan tersebut. Mereka bersyukur dan memanjatkan doa terbaik bagi seluruh donatur dan panitia.

Acara diakhiri dengan buka puasa bersama usai solat magrib berjamaah.

“Alhamdulilah, segala rangkaian kegiatan berjalan lancar. Semoga barokah dan kita semua diberi kesempatan untuk kembali bersilaturahmi dan berbagi pada Ramadan berikutnya,” tuntas Sam Ade.

Safari Ramadhan, d’Kross Community Blusukan dan Santuni Anak Yatim

MALANGVOICE- Seperti tahun-tahun sebelumnya, d’Kross Community kembali menggelar Safari Ramadan SI bulan suci, dipimpin langsung sang frontman, Ir H Ade Herawanto MT. Rombongan mengunjungi sejumlah pondok pesantren (ponpes), panti asuhan, dan blusukan kampung, Kamis (15/6).

Selain menyambung silaturahmi antar warga dan sesama kaum muslimin, lewat kegiatan ini juga diberikan paket santunan kepada kaum dhuafa, anak yatim-piatu, dan janda-janda tidak mampu.

Sebagai Kepala Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang, Sam Ade d’Kross turut mengajak seluruh pegawai dan staf Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dipimpinnya, mulai tenaga Non Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga pejabat struktural BP2D antusias dalam berbagi kebaikan, membaur bersama seluruh awak d’Kross Community yang berasal dari berbagai kalangan, komunitas dan lapisan masyarakat.

Bantuan pada Safari Ramadan kali ini diberikan kepada perwakilan warga Kelurahan Kasin, Kelurahan Gadang dan Kelurahan Jodipan. Rombongan juga bersilaturahmi dengan segenap pengurus, santri dan santriwati Ponpes Nurul Muttaqin Al-Barokah asuhan KH Nurhadi, kawasan Tlogowaru.

Perjalanan dilanjutkan ke Panti Asuhan Yayasan Sunan Kalijaga (Yasuka) bimbingan Ustadz M Munir Cholily, kawasan LA Sucipto, Blimbing. Hingga kemudian kegiatan pada sore hari dituntaskan di kawasan Muharto, Kotalama, bersama warga non-panti binaan Perguruan Pencak Silat Cimande.

Di Jalan Muharto, acara dipusatkan di Masjid Baitus Shomad dengan rangkaian kegiatan sholawat dipandu ta’mir setempat, Ustadz Abdul Hamid, sampai dengan solat magrib berjamaah dan buka bersama. Bantuan dan santunan untuk anak yatim-piatu dan kaum dhuafa juga dibagikan di acara bersamaan.