Wong Ngalam Perlu Tahu, Ini Dia Komunitas Malang Sound Community

Deklarasi MSC malam ini. (Anja)

MALANGVOICE – Masyarakat Malang Raya perlu tahu, bahwa ada komunitas bernama Malang Sound Community (MSC). Seperti namanya, komunitas ini mewadahi pelaku dan pengusaha di bidang industri sound system di seluruh Malang Raya.

Ketua MSC, Zam Zam Damayanto mengatakan, masyarakat selama ini mungkin belum tahu, pelaku industri sound system ini jumlahnya sudah ratusan. Dengan adanya MSC, mereka bisa berkumpul dan sharing informasi.

“Khusus yang bergabung di MSC kan jadi bisa connect satu sama lain. Sharing informasi,” ujarnya saat ditemui MVoice.

Anggota MSC ada ratusan. (Anja)

Selain itu, keberadaan MSC diharapkan mampu mempererat tali silaturahmi antar audio profesional se-Malang Raya. Komunitas ini memang baru dibentuk 22 Mei 2017 silam, namun baru sempat didaklarasikan sekarang, Rabu (20/12/2017) mengingat MSC ingin terlebih dahulu memantapkan program-program rutin.

“Program kami ada yang program pengembangan SDM anggotanya di bidang sound system. Lalu kegiatan sosial juga. Macam-macam kegiatan kita coba laksanakan sebulan sekali. Yang pasti ada kumpul rutin,” pungkasnya.

Zam-zam berharap, MSC dapat membawa kontribusi positif untuk Malang Raya kedepannya.

“Semoga bisa mewujudkan dunia audio profesional yang semakin berkualitas di Malang Raya,” harapnya optimis.(Der/Aka)

Safari Ramadhan d’Kross Community Gayeng dan Penuh Kekeluargaan

MALANGVOICE-Suasana gayeng dan penuh kekeluargaan mewarnai Safari Ramadan yang digelar d’Kross Community, di Masjid Baitus Shomad, Kelurahan Kotalama, Kamis (15/6) sore.

Diawali sholawat bersama, kegiatan di dalam masjid makin hangat dengan tausyiah yang dipimpin Habib Agil bin Ali bin Agil. Frontman d’Kross, Ir H Ade Herawanto MT, beserta segenap awak lintas komunitas dan tokoh Aremania turut membaur.

“Semoga Sam Ade dan segenap awak d’Kross Community dilimpahi karunia sehat,” ujar Habib Agil, diamini seluruh jamaah yang hadir.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, segenap awak d’Kross Community kembali menggelar kegiatan Safari Ramadan pada bulan suci ini. Dipimpin langsung oleh Sam Ade, rombongan lintas komunitas melakukan kunjungan ke sejumlah pondok pesantren (ponpes), panti asuhan dan blusukan kampung.

Selain menyambung silaturahmi antar warga dan sesama kaum muslimin, lewat kegiatan ini juga diberikan paket santunan kepada kaum dhuafa, anak yatim-piatu dan janda-janda tidak mampu.

Sebagai Kepala Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang, Sam Ade d’Kross turut mengajak serta seluruh pegawai dan tataran staf Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dipimpinnya.

Mulai dari Tenaga Non Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga pejabat struktural BP2D antusias ikut serta dalam berbagi kebaikan, membaur bersama seluruh awak d’Kross Community yang berasal dari berbagai kalangan, komunitas dan lapisan masyarakat.

Bantuan pada Safari Ramadan kali ini diberikan kepada perwakilan warga Kelurahan Kasin, Kelurahan Gadang dan Kelurahan Jodipan. Rombongan juga bersilaturahmi dengan segenap pengurus, santri dan santriwati Ponpes Nurul Muttaqin Al-Barokah asuhan KH Nurhadi, kawasan Tlogowaru.

Perjalanan dilanjutkan ke Panti Asuhan Yayasan Sunan Kalijaga (Yasuka) bimbingan Ustadz M Munir Cholily, kawasan LA Sucipto, Blimbing. Sebelum akhirnya kegiatan pada sore hari dituntaskan di kawasan Muharto, Kotalama, bersama warga non-panti binaan Perguruan Pencak Silat Cimande.

Warga pun tampak antusias menerima bantuan tersebut. Mereka bersyukur dan memanjatkan doa terbaik bagi seluruh donatur dan panitia.

Acara diakhiri dengan buka puasa bersama usai solat magrib berjamaah.

“Alhamdulilah, segala rangkaian kegiatan berjalan lancar. Semoga barokah dan kita semua diberi kesempatan untuk kembali bersilaturahmi dan berbagi pada Ramadan berikutnya,” tuntas Sam Ade.

Semula Iseng, Kini Gubuk Tulis Usung Misi Membumikan Budaya Baca dan Tulis

Tebar baca Gubuk Tulis di Taman Singha Merjosari. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi stimulus bagi masyarakat agar gemar membaca.(Gubuk Tulis for Mvoice)

MALANGVOICE – Gubuk Tulis. Ya dua kata yang mungkin tak asing lagi dalam kurun 1,5 tahun belakangan. Komunitas Gubuk Tulis dicetuskan Februari 2016 lalu. Al Muiz Liddinillah dan Viki Maulana, sebagai pioner berdirinya komunitas ini.

Berlatar sebagai aktivis mahasiswa, keduanya prihatin atas pesatnya perkembangan media online dan media sosial. Terbesit di benak mereka untuk menggalakkan literasi media, sebagai penyeimbang derasnya informasi dan konten-konten yang dinilai kurang mendidik.

Mereka lantas membuat website sebagai wadah tulisan baik sumbangan dari kolega dan berbagai kalangan. Kegiatan berupa jagongan dari warung kopi ke warung kopi menjadi tradisi dan rutinitas Gubuk Tulis. Mulai diskusi seputar gender hingga isu-isu yang sedang hangat. Tak sedikit yang ikut nimbrung setiap acara Gubuk Tulis.

“Tema diskusi variatif. Tidak hanya soal gender saja,” kata Muiz, saat ditemui MVoice, di Warung Kopi Oase, dua pekan lalu.

Muiz dan Viki lebih dulu menghiasi website dengan tulisannya-sebagai pemantik penulis lain untuk menuangkan idenya. Menodong kolega dan kerabat agar menyumbangkan tulisan kerap dilakukan. Hingga akhir 2016, lebih 150 kontributor menyumbangkan tulisan ke Gubuk Tulis. Isu yang ditulis pun beragam, dikemas dengan sederhana dan mudah dimengerti, baik berupa opini maupun agenda literasi.

Selain jagongan, Gubuk Tulis juga melayani peminjaman buku bagi yang membutuhkan. Buku-buku yang terkumpul semula merupakan koleksi pribadi beberapa pegiat Gubuk Tulis, sebelum ada hibah dari para donatur. Koleksi buku saat ini tidak sekadar soal sosial, politik dan agama, tetapi juga ada buku bacaan buat anak sekolah.

Nama Gubuk Tulis sendiri dipilih karena lebih cocok sebagai wadah bagi penulis pemula dan tempat kumpul. Muiz mengakui apabila tidak ada kata terlambat dalam menulis. Menuangkan ide dan gagasan menjadi sebuah tulisan merupakan kegemaran sederhana yang bisa dilakukan siapapun. Orang merasa sulit dan takut menulis karena tidak terbiasa dan belum melakukan.

“Tidak ada kata menakutkan dalam belajar menulis. Buku kan identik dengan sederhana,” ungkapnya.

Gubuk Tulis aktif melakukan tebar baca atau buka lapak baca buku gratis di ruang publik, seperti di Taman Singha Merjosari. Kegiatan ini berlangsung massif hingga sekarang. Tebar baca dilakukan mulai pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, satu minggu sekali. Khusus Bulan Ramadhan, tebar baca berlangsung hampir setiap hari.

Lambat laun antusiasme masyarakat meningkat drastis. Anak-anak sekolah yang biasanya sekadar bermain di taman pun mulai melirik buku-buku yang disediakan Gubuk Tulis.”Dulu buku-bukunya cocok ke mahasiswa, belum ada buku bacaan buat anak-anak. Sekarang, paling banyak anak-anak sekolah,” katanya.

Ia bersama pegiat Gubuk Tulis memiliki misi membumikan budaya membaca dan menulis di Indonesia. Berat memang, tapi, kata Muiz, harus dicoba dan dilakukan secara bersama-sama. Rendahnya minat membaca dan menulis menjadi masalah akut saat ini.

Sebagai mahasiswa akhir, Muiz dan Viki serta pegiat Gubuk Tulis lain merasa daya baca dan menulis mahasiswa masih rendah. Lantas bagaimana dengan masyarakat pada umumnya, jika mahasiswa saja enggan membaca, menulis dan melakukan riset!

Ditambah, kemajuan teknologi yang mendorong masyarakat, terutama kalangan pemuda lebih enjoy memainkan gadget, baik itu ngegame, maupun sekadar update status di media sosial. Pemandangan lazim ini bisa ditemui hampir di warung kopi. Hampir disetiap sudut warung kopi dipadati kalangan mahasiswa.

Ia mengistilahkan bahwa jagongan yang dikemas diskusi sebagai vitamin dan menulis adalah gizinya. Jagongan dengan safari dari warung kopi ke warung sengaja dilakukan untuk menebar virus literasi.

“Mimpi kami, setiap warung kopi di Malang nantinya diisi dengan hal positif, salah satunya disediakan buku bacaan. Seperti yang kami lakukan di Warung Oase. Selain tempat nongkrong, juga diisi dengan kegiatan keilmuan,”

Sambil berjalan, Gubuk Tulis terus berbenah dan merangkai kegiatan yang diharapkan bisa memikat hati mahasiswa dan masyarakat umum. Lahirlah kelas filsafat- filsafat jawa, gubuk justice dan ke depan akan ada kelas menulis.

Kegiatan yang dibuat Gubuk Tulis lebih pada penajaman wacana dan keilmuan, berbeda dengan yang diterima mahasiswa di kampus. Dengan harapan, mahasiswa kembali pada jati dirinya sebagai agen of change, agen of control dan perubahan.

“Untuk merangsang wacana mahasiswa, jangan hanya tahu berkoar-koar, tapi jarang baca dan menulis,” bebernya.

Senada dengan Muiz, Viki Maulana, mengutarakan bahwa lahirnya Gubuk Tulis tidak lepas dari kegelisahan pribadi. Pasang surut perjalanan Gubuk Tulis terekam jelas dibenaknya. Namun, berkat komitmen dan kerja keras semua pihak, Gubuk Tulis tetap eksis sampai sekarang.

Tidak sedikit yang mencibir keberadaan Gubuk Tulis. Mulai dari tudingan sekadar untuk sensasi semata, menilai keberadaan Gubuk Tulis tak akan bertahan lama sampai dipandang sebelah mata.

Awal kelahiran Gubuk Tulis, tambah Viki, butuh semangat berlipat dalam mengajak berbagai kalangan agar menyumbangkan tulisannya-tanpa sedikitpun iming-iming pamrih bagi penulis.

“Semula iseng aja. Tapi, peminatnya semakin banyak. Makanya kami niatkan untuk terus menebar virus literasi media di masyarakat melalui berbagai kegiatan yang kami sajikan,” pungkasnya.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria

Mahasiswa UM Ciptakan Permen Pereda Perut Kembung

Mahasiswa memperkenalkan permen anti kembung. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Rasa permen yang manis dan selalu tersedia dalam berbagai varian rasa selalu menjadikannya primadona kuliner. Ini menginspirasi sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) membuat permen berbahan dasar buah kapulaga.

Mereka adalah Difandini Risky, Rensa Dwi, dan Tia Kusniawati. Adalah Casum, yang merupakan akronim dari Candy Amomum Subulatum (Permen Kapulaga), juga berkhasiat sebagai permen anti kembung.

Kemasan permen Casum. (Anja Arowana)

Perut kembung merupakan bentuk penyakit sistem pencernaan yang disertai penimbunan gas di dalam lambung akibat proses fermentasi berjalan cepat. Terlebih lagi kalangan mahasiswa kurang menjaga pencernaan, dikarenakan padatnya kuliah sehingga mengabaikan kebutuhan nutrisi, memilih makanan instan, dan pola hidup yang tidak sehat. Hal tersebut dapat memicu masalah pencernaan.

Di Indonesia kebanyakan produk pengobatan yang mengatasi masalah pencernaan khususnya masalah lambung berbahan obat kimia sintetik yang memiliki tingkat toksisitas tinggi dan jika dikonsumsi terus menerus akan menimbulkan suatu efek tertentu.

“Pemanfaatan Amomum subulatum oleh kalangan masyarakat masih sebatas pembuatan ramuan tradisional sehingga pemanfaatannya belum berkembang,” tukas ketua kelompok, Difandini.

Dia menambahkan, persebaran Amomum subulatum di Indonesia cukup merata dan cukup mudah didapatkan. Buah kapulaga mengandung minyak atsiri dengan komposisi yaitu cineol, terpineol, borneol dan lain-lain. Kandungan yang dominan adalah 1,8-Cineole yang mencapai 73,27 persen.

“Nah, Cineole mempunyai sifat antibakteri yang dapat mengobati luka lambung (ulkus) dan dapat mencegah terjadinya gas pada perut serta melancarkan pencernaan,” tutupnya.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Lewat Pringtion, Remaja Junrejo Bisa Mandiri Cari Duit

Tim mahasiswa di desa Junrejo (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Kini para remaja Desa Junrejo, Kota Batu bisa tersenyum sumingrah. Lewat program Pringtion, mereka dapat menghasilkan uang dari menjual hasil pertanian membantu orangtua mereka yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.

Pringtion merupakan program pemberdayaan yang digagas mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya (UB), yakni Chastita Hikmatun Nisa, Mukhamad Lukman Khakim, Achmad Nabhan Yaman, Muhammad Hadyan Rahman, dan Salsabilla Harisma Indah.

Program ini bertujuan memberdayakan seluruh masyarakat terlebih para remaja desa. Selama ini, mahasiswa menilai kesejahteraan para petani belum terjamin, dimana harga jual hasil pertanian mereka jauh dibawah harga pasar.

Tim mahasiswa Pringtion (istimewa)

“Jadi dalam program ini remaja kami latih mulai dari segi ilmu pertaniannya sampai penjualan,” kata Chastita saat ditemui MVoice.

Konsep Pringtion cukup sederhana. Program itu terdiri dari tiga pilar, yakni Controling yang merupakan tahapan Pre Harvest, Prace merupakan tahapan Post Harvest, dan Distribution yang merupakan tahapan Distribution.

Pada tahapan Pre Harvest mereka melakukan sosialisasi dan pelatihan mengenai pengurangan penggunaan pestisida kimia, pembuatan bibit secara mandiri, dan cara kontroling tanaman.

Pada tahapan Post Harvest mereka melakukan sosialisasi dan pelatihan mengenai Pengemasan, Penyimpanan, Dan perhitungan BEP serta HPP. Dan pada tahapan terakhir yakni Distribition mereka melakukan pelatihan mengenai Rantai Pasok dan Coustemer Link.

“Pringtion merupakan salah satu bentuk pengabdian kami kepada masyarakat dengan mengaplikasikan ilmu yang kami dapatkan selama perkuliahan. Harapannya, desa Junrejo mandiri dan bisa sejahtera,” tutup dia.

Salah satu target keberhasilan program ini, remaja Junrejo bisa menjual hasil pertanian ke toko-toko sayur modern tentu dengan harga jual yang lebih tinggi. Kedepan, Chastita memastikan, remaja Junrejo mampu memasok sayur untuk toko modern besar seperti Hypermart dan sebagainya.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Numani Senang, Lezatnya Nugget Berbahan Utama Rumput Laut Cocok untuk Diet

Nugget Rumput Laut yang sudah matang dan siap disantap (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) baru saja menciptakan makanan olahan nugget Numani Senang berbahan utama rumput laut. Mereka adalah Tristanti Rakhmaningrum, Anggia Kususma, Respati Satriyanis, Umdatul Muftin, dan Vany Zuhriya Zain oleh bimbingan Dr Murni Sapta Sari MSi.

Tristanti mengatakan, bahan rumput laut yang mereka ambil berasal dari Kabupaten Pacitan, tepatnya di Kecamatan Ngadirojo yang memiliki potensi sumber daya alam prospektif khususnya bidang perikanan di kawasan pantai. Bukan hanya ikan, ternyata daerah tersebut punya komoditas rumput laut yang besar.

Kemasan Nugget Rumput laut (Anja Arowana)

“Produksi rumput laut bisa sampai 13 ribu kilogram lebih tahun 2010 lalu. Jenis rumput laut yang banyak di daerah Ngadirojo adalah Eucheuma cottonii. Sayangnya rumput laut disana dijual dalam bentuk bahan mentah. Jadi untuk peningkatkan nilai produk harus ada inovasi baru,” kata dia kepada Mvoice.

Kemudian, Tristanti dan timnya membuat nugget rumput laut dengan cara mengganti bahan utama daging sebagai nugget dengan rumput laut yang dihaluskan. Metode pengolahannya pun hampir sama dengan metode membuat nugget pada umumnya.

Rumput laut jenis ini, lanjutnya, selain mengandung karagenan yang tinggi, apabila dalam bentuk tepung dapat mengandung serat pangan total mencapai 91,3% berat kering dan iodium sebesar 19,4 µg/g berat kering

“Cocok buat diet lho, karena lemaknya rendah, ” tukasnya.

Hasil inovasi mereka pun berhasil didanai penuh oleh DIKTI dalam program PKM Nasional 2017. Mereka berharap mampu meningkatkan kualitas maupun kuantitas produk hasil olahan rumput laut yang dapat menjadi produk unggulan khas daerah Pacitan, membantu meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya di Kecamatan Ngadirojo.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Harlah ke-77 Gus Dur: Merawat Ingatan, Sebarkan Keberagaman

Tokoh lintas iman saat hadir dalam acara Harlah ke-77 Gus Dur di Desa Sukolilo, Jabung.(Gusdurian for MVoice)

MALANGVOICE – Hari lahir KH Abdurahman Wahid biasanya cukup diperingati segenap keluarga besar. Namun, pada Harlah ke-77 Gus Dur, ada yang istimewa, Gerakan Pemuda Gusdurian (Garuda) Malang terlibat merayakannya.

Uniknya, perayaan Harlah Gus Dur dilangsungkan di desa, tepatnya di Balai Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Minggu (6/8) malam kemarin.

Sejumlah penampilan seperti pembacaan puisi, Musik Karinding, Tari Sufi, Tari Egrang dari Komunitas Anak Alam dan Tari Topeng Malang.

Dengan tema “Dari Desa Kami Bersuara ke-Bhinnekaan dan ke-Indonesiaan”.
Tokoh lintas iman, beberapa komunitas dan masyarakat sekitar larut dalam kegiatan yang berakhir pukul 22.00 WIB.

Koordinator Gusdurian Malang, Ilmi Najib, mengatakan, merawat tradisi sangat penting dan harus dilakukan.

Najib mengingatkan kembali keberadaan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu.

“Dari desa, mari bersama-sama kobarkan semangat Kebhinekaan,” katanya, saat berbincang dengan MVoice.

Ia memilih desa karena menilai rasa Kebhinekaan masyarakat masih kurang. Langkah ini sebagai awal untuk mengenalkan arti keberagaman.

Bahkan, masyarakat menyambut baik kegiatan ini. Kehadiran Barongsai menjadi daya tarik dan terbilang langka.

Dikatan Najib, banyak kalangan bersuara lantang akan Pluralisme. Namun, faktanya belum ada gerakan nyata bagaimana inti kebhinekaan dan menyebarluaskan di masyarakat.

“Indonesia tidak jauh dari gerakan dan nilai-nilai yang ditinggalkan Gus Dur. Yakni menjadi Indonesia snagat beragam dan menjaga persatuan,” jelasnya.

“Saya jadi ingat Gus Dur. Adanya beliau, mematikan sekat-sekat kebencian, sekat perbedaan. Dan tiadanya beliau menghidupkan persaudaraan, menghidupkan kerukunan. Semoga apa yang menjadi cita-cita Gus Dur ada dalam diri kita masing-masing,” kata Icroel, perwakilan warga Jabung.

Tradisi dan kebudayaan di Indonesia bermacam-macam. Sehingga, Harlah Gus Dur menjadi momen penting sebagai tempat berkumpul bersama, baik suku, lintas iman dan agama.

“Semuanya untuk kemanusiaan sebagaimana cita-cita Gus Dur,” ungkapnya.

Senada dengan Icroel, salah satu tokoh Konghucu, Bunsu Andon, sebagai warga harus memiliki kesadaran bahwa Indonesia adalah bangsa yang bhinneka. Dibutuhkan kerja keras dalam memperjuangkan bangsa Indonesia. Baginya, kemerdekaan harus dipertahankan sepanjang zaman.

Ditambahkan Ketua GP Ansor Jabung, Gus Azam. Dalam orasi kebangsaannya Gus Azam, mengungkapkan konsep kata ‘Rohmah’ dalam lafadz ‘Basmalah’ yang artinya kewelasan, belas kasih atau rahmat tuhan kepada manusia. Baik pemeluk Agama Islam dan agama lain.

Menurutnya, manusia diciptakan dengan berbagai macam suku dan budaya. Tujuannya ialah saling mengenal satu sama lainnya. Manusia sendiri berasal dari kata ‘Al-Insan’ yang maknanya harmoni.

“Bagaimana manusia bisa mewujudkan Indonesia. Rukun antara yang satu dnegan lainnya. Ada banyak pilihan, namum semuanya tetap memiliki jiwa dan jalan hidup yang sama,” pungkasnya.

Selain Harlah, Gusdurian Malang juga rutin memeringati Haul Gus Dur setiap tahun.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Kaos Kobong Glow in The Dark, Usung Nilai Kearifan Lokal Banyuwangi

Kaos Bernuansa Kearifan Lokal (istimewa)

MALANGVOICE – Slogan ‘Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing’ rupanya benar-benar diterapkan sekelompok mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Pasalnya, kelompok yang terdiri dari lima mahasiswa ini menciptakan kaos bermuatan bahasa dan budaya lokal Banyuwangi sebagai karya ilmiah yang mereka ajukan pada gelaran Pekan Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan (PKM-K).

Karya yang diberi nama Kaos Beranimasi Muatan Bahasa Osing (Kobong) Glow in the Dark ini menjadi salah satu dari 38 karya PKM UMM yang mengikuti monitoring dan evaluasi (monev) eksternal di Universitas Negeri Malang (UM) (12/7).

Salah satu anggota tim, Robby Cahyadi mengungkapkan karya PKM-K yang dibuatnya bersama tim mendapat apresiasi dari tim peninjau monev. Menurutnya, ini karena sejumlah keunggulan yang dimiliki, yakni bahan kaos yang digunakan berstandar distro, bahasa yang memiliki filosofi, mengangkat budaya lokal, dan tulisan di bagian belakang kaos dapat menyala dalam gelap (glow in the dark).

“Tidak ada pertanyaan yang diajukan untuk Kobong Glow in the Dark, Alhamdulillah. Kita optimis untuk bisa maju ke PIMNAS,” ujar Robby.

Karya ini terbilang unik karena menggabungkan ide desain visual dengan bahasa dan budaya lokal. Bagian depan karya ini adalah gambar-gambar budaya khas Banyuwangi, seperti blangkon atau barong. Menariknya, gambar-gambar ini dikemas dalam bentuk animasi tiga dimensi.

Tulisan Gemelaring yang berarti ‘terus berproses sampai sukses’ menghiasi bagian depan kaos di atas gambar tiga dimensi. Di bagian belakang kaos, terdapat tulisan Using Ngewod Selawase yang berarti bahasa Banyuwangi tidak akan mati selamanya.

“Sasarannya adalah semua usia, baik anak-anak maupun orang lansia, jadi kami buat desain yang bagus untuk semua usia,” imbuh mahasiswa semester empat ini.

Sejauh ini, Kobong glow in the dark sudah dipesan banyak orang. Kaos ini juga sudah bermitra dengan beberapa distro dan agen penjual pakaian di Rembang, Tuban, dan Pasuruan. Berbekal modal 10 juta dari Dikti, kini laba yang dikantongi lima mahasiswa ini mencapai enam juta. Bukan hal mudah untuk membuat karya yang dijual seperti sekarang, mereka butuh hingga lima kali penyempurnaan.

“Kami buat pertama, lalu ada masukan dari pembeli, kami perbaiki lagi, sampai lima kali,” kisah Robby.

Terkait strategi pemasaran, Robby mengaku mereka memanfaatkan semua media sosial, seperti Blackberry Messenger (BBM), whatsapp, line, dana kun Instagram Kobong Glow in the Dark dengan nama @kobong-gemelaring.

Tim ini beranggotakan lima mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yakni Robby Cahyadi, Rosidi Hadi Siswanto, Rani Rahmawati, Dewi Larasetiani, dan Risnawati. Meski tak semuanya berasal dari Banyuwangi, namun mereka menyiasatinya dengan membuat kamus bahasa Osing untuk mendukung kemampuan mereka mempelajari bahasa Osing, sehingga memperkaya kosakata dalam membuat kaos.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Mengintip Kampung Sinau di Pinggiran Kota Malang

Kampung Sinau dalam berbagai kegiatan yang dilakukan.(Ist)

MALANGVOICE – Anak-anak terlihat serius mendengarkan pelajaran bahasa Indonesia yang dipandu seorang pengajar. Suasana mendung tak menyurutkan antusias anak-anak mulai taman kanak-kanak hingga sekolah dasar.

Dengan telaten dan ulet, volunteer yang juga Ketua Kampung Sinau ini mengajari anak-anak. Dibantu beberapa mahasiswa/i dari berbagai kampus ternama di Malang. Di antaranya Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hingga Universitas Machung.

Dia tidak lain adalah M Syamsu rofiqi Ahsan Aka. Ia diberi tanggung jawab mengelola Kampung Sinau yang didirikan sahabatnya, Toha Mansur Al Badawi, pada 2015 silam. Kampung Sinau sendiri berada di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedung Kandang, Kota Malang. Tepatnya di RT 04 RW 04.

Kampung Sinau dalam berbagai kegiatan yang dilakukan.(Ist)

Selain tempat belajar bagi anak-anak TK sampai SMA. Juga tersedia perpustakaan yang satu kompleks dengan musala. Untuk perpustakaan sendiri bisa diakses semua kalangan masyarakat.

“Tidak hanya anak sekolah, tapi warga juga dipersilakan. Terbuka selama 24 jam,” kara Ricky Shu sapaan akrabnya.

Jumlah buku yang tersedia pun beranekaragam. Namun, kata Ricky, warga sekitar lebih suka membaca buku-buku seputar Agronomi.

Dalam waktu dekat, Kampung Sinau akan mendirikan perpustakaan di RT 03 RW 04. Tujuannya tidak lain supaya masyarakat nantinya gemar membaca dan mendekatkan perpustakaan ke masyarakat. Perpustakaan yang didirikan Kampung Sinau tergabung dalam Forum Komunikasi Taman Baca Malang.

Komunitas Ini Lebih Suka Kalau Sepedanya Karatan

Komunitas Sepeda Onthel. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Jumlah penggemar sepeda onthel terus membengkak. Di Malang, penggemar sepeda onthel atau lebih dikenal sepeda kebo ini tergabung dalam Komunitas Onthel Lawas Independent (OLI) Malang.

Komunitas OLI sudah berdiri selama 3 generasi atau kurang lebih 30 tahun. Setidaknya ada 30 anggota yang aktif di komunitas. Mereka memiliki kesamaan, seperti hobi, cinta, solidaritas, kebersamaan, kepedulian, dan keinginan dalam melestarikan budaya bersepeda.

“Komunitas juga tidak memandang klasifikasi, strata, atau status sosial, termasuk latar pendidikan dan pekerjaan,” kata salah seorang anggota, Sugiandi kepada MVoice, Minggu (27/6)

Dia mengatakan onthel yang punya nama lain seperti sepeda unta, sepeda kebo, atau pit pancal, adalah sepeda standar dengan ban ukuran 28 inchi. Ukurannya sama seperti roda becak. Nama onthel sendiri konon berarti kayuh atau gowes.

Soal perawatan sepeda, Sugiandi mengaku perawatan onthel tidak murah. Onderdil sepeda terkadang sulit dicari dan harus beli dari luar negeri.

“Wah ini merawatnya susah,” kata dia.

Menurut Sugiandi, meski sepeda onthel terbuat dari besi dan selalu karatan, justru seharusnya tidak dicat. Karena karat itulah yang menjadi kesan ‘lawas’ atau jadul sepeda onthel.

OLI selalu aktif berpartisipasi dalam kegiatan karnaval di Kota Malang. Tiap minggu, OLI juga selalu bersepeda di Car Free Day Malang. Diskusi-diskusi soal sepeda lawas juga selalu digelar untuk berbagai info soal perawatan sepeda yang dulunya diproduksi di Belanda ini.(Der/Yei)

Komunitas