#PahlawanDigital​ ​Bantu UKM Malang Kenal Dunia Digital

Peserta #PahlawanDigital berfoto bersama. (Istimewa)
Peserta #PahlawanDigital berfoto bersama. (Istimewa)

MALANGVOICE – Sedikitnya 50 peserta yang berhasil terjaring dalam #PahlawanDigital akan bertugas membantu usaha kecil dan menengah (UKM). Semua peserta ini dikelompokkan menjadi buzzer, yang akan membantu pelaku UKM sebagai digital marketer; dan crafter, yang akan melakukan proses rebranding dan pengemasan.

Sebelum nantinya mereka melaksanakan tugasnya, #PahlawanDigital terlebih dahulu mengenalkan para peserta dengan para UKM di kota Malang untuk belajar banyak menjadi penguasaha dalam kegiatan bertajuk Wisata UKM. Dalam kegiatan ini, #PahlawanDigital
menggandeng Amazing Malang Raya (AMR) yang dikenal sebagai paguyuban terbesar di Kota Malang. AMR merekomendasikan beberapa UKM-nya untuk dikunjungi oleh peserta #PahlawanDigital, Minggu (15/10).

UKM yang dikunjungi seperti Omah Daster Bordir Khas Malang dan Nanda Collection. Omah Daster Bordir Khas Malang merupakan UKM yang fokus memproduksi aneka daster dengan sentuhan bordir. Tak main-main, pelanggan daster bordir Eva adalah kalangan pejabat Republik Indonesia (RI). Sedangkan Nanda Collection merupakan UKM yang bergerak di bidang kerajinan tangan dengan bahan dasar kain. Nanda Collection tercatat telah mengikuti berbagai ajang pameran bertaraf nasional dan internasional.

Berbincang soal kendala yang dihadapi pelaku UKM. (Istimewa)
Berbincang soal kendala yang dihadapi pelaku UKM. (Istimewa)

“Wisata UKM ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat berwirausaha anak muda agar setelah lulus kuliah mereka dapat menjadi wirausaha dan membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan empati anak muda
terhadap pelaku UKM. Ternyata untuk terjun ke dunia UKM itu diperlukan mental, konsistensi dan persintensi yang kuat,” papar Kepala Hubungan Masyarat PT Beon
Intermedia dan #PahlawanDigital, Rizky Kurniawan Suhyar.

Selain itu, Ketua paguyuban AMR, Nanang Sugeng sangat mengapresiasi kegiatan yang baru dilaksanakan sekali oleh #PahlawanDigital ini.

“Kami sangat senang jika banyak anak muda yang tertarik belajar berwirausaha. Kami di sini memfasilitasi para peserta #PahlawanDigital agar mereka tahu semakin banyak tentang seluk beluk UKM,” tukasnya.

Salah seorang peserta, Septhian Cahya Nugraha, mengaku senang karena mendapat kesenpatan berinteraksi dengan banyak pelaku UKM. Menurutnya UKM di Malang punya potensi yang luar biasa. Akan lebih luar biasa jika pelaku UKM diakrabkan dengan dunia digital.(Der/Ak)

Prihatin Kondisi Lingkungan, Kelompok Punk Bersihkan Sungai di Lawang

Anak-anak punk membersihkan sungai di kawasan Lawang, Kabupaten Malang. (Muhammad Choirul)
Anak-anak punk membersihkan sungai di kawasan Lawang, Kabupaten Malang. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Ada pemandangan unik di beberapa desa kawasan Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Rabu (2/8). Sejumlah titik aliran sungai dikerubungi anak-anak punk.

Mereka tengah sibuk membersihkan sampah di sungai tersebut. Aktivitas itu mereka lakukan bukan karena menjalani hukuman, melainkan lahir dari kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.

Adalah kelompok Lawang Street Crew dan Lawang Rescue yang menginisiasi kegiatan ini. Momentum kali ini bukan kali pertama, tetapi sudah menjadi kegiatan rutin untuk sambang kali di beberapa desa.

Lawang Street Crew sendiri merupakan perkumpulan anak-anak punk di kawasan Lawang. “Ini merupakan bentuk perlawanan dan pemberontakan kami terhadap budaya masyarakat yang masih belum sadar betapa sangat tidak baiknya perilaku membuang sampah sembarangan, terutama di sungai,” kata Cussy, salah seorang penggagas kegiatan ini.

Tidak hanya bersih sungai, mereka juga membuat peta aliran sungai dan pengamatan penyempitan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang suatu saat bisa mengakibatkan banjir dan erosi. Selama ini, masyarakat menganggap punk hanya sebagai perkumpulan yang meresahkan.

“Image ini perlahan akan dijawab dengan bentuk-bentuk kegiatan positif seperti baksos (bakti sosial) dan berkesenian, terutama jaran kepang,” tandasnya.

Selain itu, mereka juga mengikuti pelatihan SAR dan belajar bahasa isyarat. Dalam hal ini, Lawang Rescue lebih banyak membantu dalam bidang teknis dan advokasi serta pengembangan pribadi.

“Ini mengingat potensi tiap personal punk begitu beragam, sehingga semua harus digali untuk dikembangkan,” pungkasnya.


Reporter: Muhammad Choirul Anwar
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yunus Zakaria

12 Komunitas Ramaikan Kopi Darat di Together Forever

Kumpul komunitas di Together Forever. (Anja a)
Kumpul komunitas di Together Forever. (Anja a)

MALANGVOICE – Total 12 komunitas dari Kota Malang berkumpul dalam kegiatan Together Forever di The 1O1 Hotel Malang OJ, Rabu (25/4). Berbagai kegiatan dari komunitas seperti talkshow, demo pembuatan kopi, games, dan live music.

Ke-12 komunitas ini merupakan komunitas terpilih dari program prime time Kosmonita Malang, Coffee Morning. Coffee Morning juga merupakan program kerja sama antara Kosmonita Malang dan The 1O1 Hotel Malang OJ. 12 Komunitas ini meliputi Lukis Bareng Malang, Hijab Moms Community, Freeletics, Malang Jazz Community, Asosiasi Ibu Menyusui, Malang Foodies, Komunitas Pecinta Kopi, Pajero Club dan sebagainya.

Kumpul komunitas di Together Forever. (Anja a)
Kumpul komunitas di Together Forever. (Anja a)

“Dengan berkumpulnya komunitas ini diharapkan menjadi wadah untuk mereka berkolaborasi memajukan Malang. Diambil manfaatnya, silahlan berkenalan satu sama lain,” tutur General Manager The 1O1 Hotel Malang OJ, Anjar Maulana, saat ditemui MVoice, Selasa (25/4).

Anjar berharap, acara seperti ini bisa diadakan lagi tahun depan. Menurutnya, iklim komunitas di Kota Malang sudah sangat baik, sehingga perlu diperbanyak acara kolaborasi yang positif.(Der/Ak)

Mengintip Kampung Sinau di Pinggiran Kota Malang

Kampung Sinau dalam berbagai kegiatan yang dilakukan.(Ist)

MALANGVOICE – Anak-anak terlihat serius mendengarkan pelajaran bahasa Indonesia yang dipandu seorang pengajar. Suasana mendung tak menyurutkan antusias anak-anak mulai taman kanak-kanak hingga sekolah dasar.

Dengan telaten dan ulet, volunteer yang juga Ketua Kampung Sinau ini mengajari anak-anak. Dibantu beberapa mahasiswa/i dari berbagai kampus ternama di Malang. Di antaranya Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hingga Universitas Machung.

Dia tidak lain adalah M Syamsu rofiqi Ahsan Aka. Ia diberi tanggung jawab mengelola Kampung Sinau yang didirikan sahabatnya, Toha Mansur Al Badawi, pada 2015 silam. Kampung Sinau sendiri berada di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedung Kandang, Kota Malang. Tepatnya di RT 04 RW 04.

Kampung Sinau dalam berbagai kegiatan yang dilakukan.(Ist)

Selain tempat belajar bagi anak-anak TK sampai SMA. Juga tersedia perpustakaan yang satu kompleks dengan musala. Untuk perpustakaan sendiri bisa diakses semua kalangan masyarakat.

“Tidak hanya anak sekolah, tapi warga juga dipersilakan. Terbuka selama 24 jam,” kara Ricky Shu sapaan akrabnya.

Jumlah buku yang tersedia pun beranekaragam. Namun, kata Ricky, warga sekitar lebih suka membaca buku-buku seputar Agronomi.

Dalam waktu dekat, Kampung Sinau akan mendirikan perpustakaan di RT 03 RW 04. Tujuannya tidak lain supaya masyarakat nantinya gemar membaca dan mendekatkan perpustakaan ke masyarakat. Perpustakaan yang didirikan Kampung Sinau tergabung dalam Forum Komunikasi Taman Baca Malang.

Ribuan Bikers Meriahkan HUT ke-10 SBC

Ribuan bikers hadir dalam HUT ke-10 SBC. (Istimewa)
Ribuan bikers hadir dalam HUT ke-10 SBC. (Istimewa)

MALANGVOICE – Dalam rangka HUT ke-10 Surabaya Beat Club (SBC) dimeriahkan dua ribu bikers, Sabtu (19/1).

Ajang itu sekaligus jadi silaturahmi bagi pecinta sepeda motor skutik yang diselenggarakan di lapangan Universitas Bung Tomo Surabaya.

SBC merupakan wadah silahturahmi bagi pecinta sepeda motor skutik Honda Beat yang didirikan pada 2008. Di Surabaya sendiri beranggotakan lebih dari 65 anggota.

Pada HUT ke-10 ini SBC mengambil tema Transformatic Story of Brotherhood. Kegiatan ini dihadiri oleh pecinta sepeda motor honda matic dari berbagai daerah di Indonesia seperti klub BeAT Pengda OrBeAT Jawa Tengah, Pengda Jawa Barat, bahkan klub BeAT luar pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Bali.

Rangkaian kegiatan ini dimulai dengan Transformatic Rally heritage dengan keliling Kota Surabaya dengan mengambil start dari patung surabaya depan Kebun Binatang Surabaya – Tugu Pahlawan – Balai Kota – Monkasel – Bambu Runcing – Hotel Majapahit dan finish. Di setiap spot tempat heritage Kota Surabaya, peserta berhenti sejenak untuk foto bersama. Selain itu juga dilakukan kampanye safety riding.

Gelaran ini mendapat dukungan dari PT. Astra Honda Motor (AHM) dan PT. Mitra Pinasthika Mulia ( MPM) sebagai main dealer Honda wilayah Jawa Timur dan NTT.

“Kami support kegiatan positif yang dilakukan oleh komunitas Honda di wilayah Jawa Timur maupun di NTT. Semoga dengan adanya kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi antar sesame bikers tidak hanya diwilayah Jawa Timur tetapi di Indonesia,” kata Marcomm and Development division head MPM, Suhari.

Melengkapi malam puncak kebersamaan tersebut, beragam hiburan seperti band lokal, games dan beragam hiburan lainnya juga disuguhkan pada acara ini untuk memeriahkan dan semakin mempererat kebersamaan para bikers peserta satu dekade SBC.(Der/Aka)

Kaos Kobong Glow in The Dark, Usung Nilai Kearifan Lokal Banyuwangi

Kaos Bernuansa Kearifan Lokal (istimewa)

MALANGVOICE – Slogan ‘Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing’ rupanya benar-benar diterapkan sekelompok mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Pasalnya, kelompok yang terdiri dari lima mahasiswa ini menciptakan kaos bermuatan bahasa dan budaya lokal Banyuwangi sebagai karya ilmiah yang mereka ajukan pada gelaran Pekan Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan (PKM-K).

Karya yang diberi nama Kaos Beranimasi Muatan Bahasa Osing (Kobong) Glow in the Dark ini menjadi salah satu dari 38 karya PKM UMM yang mengikuti monitoring dan evaluasi (monev) eksternal di Universitas Negeri Malang (UM) (12/7).

Salah satu anggota tim, Robby Cahyadi mengungkapkan karya PKM-K yang dibuatnya bersama tim mendapat apresiasi dari tim peninjau monev. Menurutnya, ini karena sejumlah keunggulan yang dimiliki, yakni bahan kaos yang digunakan berstandar distro, bahasa yang memiliki filosofi, mengangkat budaya lokal, dan tulisan di bagian belakang kaos dapat menyala dalam gelap (glow in the dark).

“Tidak ada pertanyaan yang diajukan untuk Kobong Glow in the Dark, Alhamdulillah. Kita optimis untuk bisa maju ke PIMNAS,” ujar Robby.

Karya ini terbilang unik karena menggabungkan ide desain visual dengan bahasa dan budaya lokal. Bagian depan karya ini adalah gambar-gambar budaya khas Banyuwangi, seperti blangkon atau barong. Menariknya, gambar-gambar ini dikemas dalam bentuk animasi tiga dimensi.

Tulisan Gemelaring yang berarti ‘terus berproses sampai sukses’ menghiasi bagian depan kaos di atas gambar tiga dimensi. Di bagian belakang kaos, terdapat tulisan Using Ngewod Selawase yang berarti bahasa Banyuwangi tidak akan mati selamanya.

“Sasarannya adalah semua usia, baik anak-anak maupun orang lansia, jadi kami buat desain yang bagus untuk semua usia,” imbuh mahasiswa semester empat ini.

Sejauh ini, Kobong glow in the dark sudah dipesan banyak orang. Kaos ini juga sudah bermitra dengan beberapa distro dan agen penjual pakaian di Rembang, Tuban, dan Pasuruan. Berbekal modal 10 juta dari Dikti, kini laba yang dikantongi lima mahasiswa ini mencapai enam juta. Bukan hal mudah untuk membuat karya yang dijual seperti sekarang, mereka butuh hingga lima kali penyempurnaan.

“Kami buat pertama, lalu ada masukan dari pembeli, kami perbaiki lagi, sampai lima kali,” kisah Robby.

Terkait strategi pemasaran, Robby mengaku mereka memanfaatkan semua media sosial, seperti Blackberry Messenger (BBM), whatsapp, line, dana kun Instagram Kobong Glow in the Dark dengan nama @kobong-gemelaring.

Tim ini beranggotakan lima mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yakni Robby Cahyadi, Rosidi Hadi Siswanto, Rani Rahmawati, Dewi Larasetiani, dan Risnawati. Meski tak semuanya berasal dari Banyuwangi, namun mereka menyiasatinya dengan membuat kamus bahasa Osing untuk mendukung kemampuan mereka mempelajari bahasa Osing, sehingga memperkaya kosakata dalam membuat kaos.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Lombe, Tradisi yang Bikin Petani Sumenep Kaya Raya

Tradisi Lombe di Madura (istimewa)

MALANGVOICE – Tradisi yang satu ini memang jarang didengar. Tradisi unik ini berasal dari pulau Kangean, Sumenep, Madura, bernama Lombe.

Tradisi ini mirip karapan sapi namun menggunakan dua ekor kerbau. Berkat ajang tradisi yang digelar dua kali setahun ini, petani dan peternak kerbau di Sumenep mampu berinvestasi dan menjadi kaya.

Hal itu diketahui dari hasil penelitian sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) jurusan Geografi 2015, yakni Misbahaul Ulum, Kartika Hardiyati dan Irfan dimentori dosen pembimbing Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu M.Si.

Tim peneliti tradisi lombe (Istimewa)

Misbahaul mengatakan, motivasinya untuk memperkenalkan tradisi dari daerah asalnya ini sederhana.

“Saya ingin teman-teman saya, kampus, dan bahkan masyarakat Madura terutama pemerintahnya mengenal dan melestarikan tradisi ini karena tidak banyak yang tahu,” kata dia.

Padahal, lanjutnya, Lombe mampu meningkatkan taraf sosial hingga ekonomi masyarakat sekitar, tentu disamping sebagai hiburan tradisi masyarakat.

“Dari segi sosial kalau misalnya menang, itu mereka bisa naik taraf sosialnya jadi lebih disegani,” tambah dia.

Misbahaul menunjukkan buku hasil penelitiannya dan tim (Anja Arowana)

Selain itu, harga jual kerbau jantan yang mampu memenangkan perlombaan ini bisa naik hampir 50% dari harga jual asli dari kerbau itu sendiri.

“Awalnya kan harga kerbau 35 juta saja. Tapi kalau kerbaunya menang nanti dia bisa naik harganya hingga 55 juta rupiah per-ekor. Bapak saya juga akhirnya bisa menguliahkan saya disini (UM) karena kerbau,” tukasnya.

Disamping meningkatkan harga jual dan tingkat sosial sang pemilik, ajang ini ternyata juga berhasil membuat angka populasi kerbau di daerah ini naik drastis karena masyarakat mulai sadar dengan prospek yang dijanjikan oleh kerbau.

“Mulai tahun 2010-an, tradisi ini semakin digandrungi. Semua berbondong-bondong ikut. Bukan karena mengejar hadiahnya, tapi karena memang masyarakat senang. Akhirnya semua semangat beternak kerbau. Menjadikannya sebagai investasi untuk masa depan,” tutupnya.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Peduli Sosial, Lawang Rescue Ajak Anak Punk Belajar Isyarat

Sejumlah anak punk mengikuti pelatihan bahasa isyarat. (Istimewa)

MALANGVOICE – Belasan anak-anak punk anggota Lawang Street Punk Minggu (13/8) berbaur dengan masyarakat lainnya mengikuti pelatihan bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) di Agrowisata Petik Madu Lawang. Pelatihan yang diadakan Lawang Rescue ini bekerjasama dengan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin), komunitas disabilitas Lingkar Sosial (LINKSOS) dan Forum Malang Inklusi (FOMI).

Pelatihan ini bertujuan menyebar bahasa isyarat serta mengapresiasi kepedulian warga punk terhadap lingkungan dan sosial. “Anak punk yang selama ini dianggap sampah oleh sebagian masyarakat sebenarnya sama seperti warga negara lainnya yang memiliki kepedulian terhadap sosial dan lingkungan,” kata Ketua Lawang Rescue, Cussy, yang selama ini mendampingi anak-anak jalanan atau dikenal sebutan punk dengan berbagai kegiatan sosial.

Menurut Cussy, pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia anak-anak punk merupakan keterampilan dan bekal mereka agar bisa diterima masyarakat.

“Kami memiliki tim SAR untuk penanganan bencana alam, yang kedepan kami akan fokus membantu warga disabilitas ketika bencana, oleh karena itu pelajaran bahasa isyarat ini sangat penting untuk menghapus hambatan komunikasi dengan difabel utamanya tuli,” kata Cussy.

Forum Malang Inklusi (FOMI) sebagai wadah llntas organisasi penyandang disabilitas, sosial dan kemanusiaan di Malang Raya dalam kegiatan ini berperan menfasilitasi hubungan kerjasama antar pihak untuk mengkampanyekan hak-hak disabilitas termasuk aksesibilitas warga tuli. Mendukung sepenuhnya kegiatan Lawang Rescue dan lintas organisasi lainnya yang menaruh kepedulian terhadap masalah disabilitas.

Terkait tuli ketersediaan fasilitas isyarat memang masih minim dinikmati oleh penyandang disabilitas tuna rungu, seperti ketersediaan running tex di loket, bahasa isyarat di acara televisi juga sekolah inklusi. Hal ini mengakibatkan tuli mengalami hambatan komunikasi, ketinggalan informasi dan keterbelakangan sosial.

Belum lagi stigma atau pandangan negatif masyarakat yang sebagian menganggap tuli adalah aib. Mereka malu dan mengisolasi anggota keluarganya yang mengalami tuli dari pergaulan sosial.

Pelayanan yang berbeda pada warga negara yang mengalami tuli dan perlakuan masyarakat ini mestinya tak boleh terjadi, atas dasar hak azasi manusia dan amanah UU RI no 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Terkait aksesibilitas atau kemudahan bagi penyandang disabilitas dalam menggunakan fasilitas umum pun telah diatur dalam Permen PU Nomor 30 Tahun 2006.

Upaya menghapus stigma dan diskriminasi pun terus menerus dilakukan terutama oleh para penggiat komunitas tuli. Di Malang Raya lintas komunitas tuli Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin), Aksi Arek Tuli (Akar Tuli) dan Shining Tuli Kota Batu, memanfaatkan momen Car Free Day (CFD) untuk pelatihan bahasa isyarat gratis bagi masyarakat yang berminat.

Yang menggembirakan animo masyarakat untuk peduli terhadap warga tuli juga meningkat, hal ini ditandai dengan adanya beberapa kelas bahasa isyarat yang dikelola secara gratis di beberapa tempat. Seperti di Lawang Kabupaten Malang, Lingkar Sosial (LINKSOS) bekerjasama dengan lintas komunitas tuli membuat kelas bahasa isyarat secara rutin setiap bulannya secara gratis.

Kemudian di Sumbermanjing Kulon tepatnya di SD Muhamadiyah 10, kelas bahasa isyarat dibuka oleh Program 1000 Sepatu untuk Anak Indonesia bersama Gerkatin Malang selama satu bulan setiap hari Sabtu. Kelas ini diikuti oleh dua anak siswa tuli bersama orangtuanya, guru kelas, anggota komite dan kepala sekolah. Serta pelatihan bahasa isyarat Lawang Rescue bersama Lawang Street Punk yang kedepan berlanjut membangun kerjasama untuk pengurangan resiko bencana bagi penyandang disabilitas.


Reporter: Muhammad Choirul Anwar
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Mr Mo, Komunitas Motor yang Dijuluki Bikers Syariah

Komunitas Mr Mo. (istimewa)
Komunitas Mr Mo. (istimewa)

MALANGVOICE – Malang dikenal sebagai kota yang banyak memiliki komunitas, salah satunya komunitas motor yang memiliki ciri khas tersendiri, termasuk Malang Raya Max Owner (Mr MO).

Berdiri sejak 2015, kini jumlah anggota Mr Mo sekitar 90 orang. Sesuai namanya, anggota pasti punya kendaraan jenis Yahama Max series, entah itu NMax atau XMax.

Diketuai Yuyud Erawanto, Mr Mo bisa dibilang berkembang menjadi komunitas yang disegani di Malang. Bukan karena tampang anggotanya yang sangar, tapi karena kesantunannya dan persaudaraan yang erat. Karena itu Mr Mo sangat mencari kualitas daripada kuantitas saat merekrut anggota baru.

“Masuknya itu ketat sekali. Calon anggota harus paling tidak ikut kopi darat (kopdar) sebanyak tiga kali. Tujuannya agar akrab sama anggota lain. Dengan begitu persaudaraan bisa terjalin antar anggota,” kata Yuyud kepada MVoice.

Selain itu, menunjukkan kesantunannya, komunitas yang setiap Jumat berkumpul di depan Gereja Ijen ini menerapkan tertib berlalu lintas. Yuyud menekankan pada setiap anggota agar tidak mencoreng nama Mr Mo dengan tindakan yang melanggar aturan. Termasuk menggunakan narkoba, mabuk-mabukan di jalan dan hal lain. Sampai-sampai, Mr Mo dijuluki komunitas syariah atas peraturan tersebut.

Hal itu juga tampak dari sepeda motor anggota Mr Mo yang lengkap dengan spion, kenalpot standar, ban besar serta tidak menggunakan sirine atau rotator.

“Ada yang juluki kami bikers syariah. Memang di sini begitu aturannya. Dilarang menyalahi hukum, saling menghormati dan terpenting tidak bicara politik di sini,” lanjut pria yang punya hobi motor sejak kecil.

Di beberapa kesempatan, Mr Mo menggalang dana untuk membantu masyarakat yang sedang kesusahan. Diingat Yuyud, terakhir memberikan sumbangan ke Pacitan berupa barang dan uang. “Selain itu kami rutin ke panti asuhan atau fakir miskin lain. Pasalnya kami bentuk divisi sosial untuk menggalang dana. Semua murni dari kami,” lanjutnya.

Selain itu, paling unik dari komunitas ini adalah saling mendukung untuk terjun ke dunia wirausaha. Banyak anggota Mr Mo yang menggrluti dunia usaha bahkan setelah masuk ke komunitas itu. Yuyud sendiri mengaku sampai berhenti dari tempatnya bekerja hanya untuk menjadi wirausahawan. Padahal, waktu itu, kata Yuyud, posisinya sangat mapan.

“Teman-teman banyak yang heran. Padahal kerja saya sudah enak. Untung keluarga saya support. Akhirnya sempat saya jualan nasi. Karena kalau di kerjaan nanti gak bisa touring dan lain-lain,” jelasnya sambil terkekeh-kekeh.

Namanya komunitas motor, rasanya kurang afdol ketika tidak melakukan touring. Sama dengan Mr Mo, setiap tahun selalu mengadakan touring. Yuyud mengaku sudah pernah ke Aceh, Sumbawa dan Kalimantan.

Terdekat, agenda touring dilakukan pada Juni 2018 ke Banda Aceh. “Dulu pertengahan 2016 ke Aceh, nanti lagi touring nasional ke sana lagi. Terus ada lagi ke Magelang dan Balikpapan,” sambungnya.

Salah satu anggota lain, Lukman Hakim, mengaku baru pertama kali senang mengikuti komunitas motor. Padahal ia 26 tahun tidak pernah menaiki sepeda motor.

“Awalnya pinjam temen. Sekali naik NMax kok enak, akhirnya saya beli sendiri terus gabung ke sini. Di sini ya saya cari seneng, gak mikir apa-apa. Karena rasa persaudaraan itu, kalau gak kopdar itu rasanya kangen,” tuturnya.

Opa, sapaan akrabnya berharap Mr Mo ke depan bisa terus berkembang dan touring hingga keliling Indonesia. “Tidak hanya touring. Tapi menyebarkan kebaikan dan pendidikan juga ke anak-anak. Karena saya punya sekolah dan kelas inspirasi,” tandasnya.(Der/Aka)

Safari Ramadhan d’Kross Community Gayeng dan Penuh Kekeluargaan

MALANGVOICE-Suasana gayeng dan penuh kekeluargaan mewarnai Safari Ramadan yang digelar d’Kross Community, di Masjid Baitus Shomad, Kelurahan Kotalama, Kamis (15/6) sore.

Diawali sholawat bersama, kegiatan di dalam masjid makin hangat dengan tausyiah yang dipimpin Habib Agil bin Ali bin Agil. Frontman d’Kross, Ir H Ade Herawanto MT, beserta segenap awak lintas komunitas dan tokoh Aremania turut membaur.

“Semoga Sam Ade dan segenap awak d’Kross Community dilimpahi karunia sehat,” ujar Habib Agil, diamini seluruh jamaah yang hadir.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, segenap awak d’Kross Community kembali menggelar kegiatan Safari Ramadan pada bulan suci ini. Dipimpin langsung oleh Sam Ade, rombongan lintas komunitas melakukan kunjungan ke sejumlah pondok pesantren (ponpes), panti asuhan dan blusukan kampung.

Selain menyambung silaturahmi antar warga dan sesama kaum muslimin, lewat kegiatan ini juga diberikan paket santunan kepada kaum dhuafa, anak yatim-piatu dan janda-janda tidak mampu.

Sebagai Kepala Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang, Sam Ade d’Kross turut mengajak serta seluruh pegawai dan tataran staf Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dipimpinnya.

Mulai dari Tenaga Non Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga pejabat struktural BP2D antusias ikut serta dalam berbagi kebaikan, membaur bersama seluruh awak d’Kross Community yang berasal dari berbagai kalangan, komunitas dan lapisan masyarakat.

Bantuan pada Safari Ramadan kali ini diberikan kepada perwakilan warga Kelurahan Kasin, Kelurahan Gadang dan Kelurahan Jodipan. Rombongan juga bersilaturahmi dengan segenap pengurus, santri dan santriwati Ponpes Nurul Muttaqin Al-Barokah asuhan KH Nurhadi, kawasan Tlogowaru.

Perjalanan dilanjutkan ke Panti Asuhan Yayasan Sunan Kalijaga (Yasuka) bimbingan Ustadz M Munir Cholily, kawasan LA Sucipto, Blimbing. Sebelum akhirnya kegiatan pada sore hari dituntaskan di kawasan Muharto, Kotalama, bersama warga non-panti binaan Perguruan Pencak Silat Cimande.

Warga pun tampak antusias menerima bantuan tersebut. Mereka bersyukur dan memanjatkan doa terbaik bagi seluruh donatur dan panitia.

Acara diakhiri dengan buka puasa bersama usai solat magrib berjamaah.

“Alhamdulilah, segala rangkaian kegiatan berjalan lancar. Semoga barokah dan kita semua diberi kesempatan untuk kembali bersilaturahmi dan berbagi pada Ramadan berikutnya,” tuntas Sam Ade.

Komunitas