Numani Senang, Lezatnya Nugget Berbahan Utama Rumput Laut Cocok untuk Diet

Nugget Rumput Laut yang sudah matang dan siap disantap (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) baru saja menciptakan makanan olahan nugget Numani Senang berbahan utama rumput laut. Mereka adalah Tristanti Rakhmaningrum, Anggia Kususma, Respati Satriyanis, Umdatul Muftin, dan Vany Zuhriya Zain oleh bimbingan Dr Murni Sapta Sari MSi.

Tristanti mengatakan, bahan rumput laut yang mereka ambil berasal dari Kabupaten Pacitan, tepatnya di Kecamatan Ngadirojo yang memiliki potensi sumber daya alam prospektif khususnya bidang perikanan di kawasan pantai. Bukan hanya ikan, ternyata daerah tersebut punya komoditas rumput laut yang besar.

Kemasan Nugget Rumput laut (Anja Arowana)

“Produksi rumput laut bisa sampai 13 ribu kilogram lebih tahun 2010 lalu. Jenis rumput laut yang banyak di daerah Ngadirojo adalah Eucheuma cottonii. Sayangnya rumput laut disana dijual dalam bentuk bahan mentah. Jadi untuk peningkatkan nilai produk harus ada inovasi baru,” kata dia kepada Mvoice.

Kemudian, Tristanti dan timnya membuat nugget rumput laut dengan cara mengganti bahan utama daging sebagai nugget dengan rumput laut yang dihaluskan. Metode pengolahannya pun hampir sama dengan metode membuat nugget pada umumnya.

Rumput laut jenis ini, lanjutnya, selain mengandung karagenan yang tinggi, apabila dalam bentuk tepung dapat mengandung serat pangan total mencapai 91,3% berat kering dan iodium sebesar 19,4 µg/g berat kering

“Cocok buat diet lho, karena lemaknya rendah, ” tukasnya.

Hasil inovasi mereka pun berhasil didanai penuh oleh DIKTI dalam program PKM Nasional 2017. Mereka berharap mampu meningkatkan kualitas maupun kuantitas produk hasil olahan rumput laut yang dapat menjadi produk unggulan khas daerah Pacitan, membantu meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya di Kecamatan Ngadirojo.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Semula Iseng, Kini Gubuk Tulis Usung Misi Membumikan Budaya Baca dan Tulis

Tebar baca Gubuk Tulis di Taman Singha Merjosari. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi stimulus bagi masyarakat agar gemar membaca.(Gubuk Tulis for Mvoice)

MALANGVOICE – Gubuk Tulis. Ya dua kata yang mungkin tak asing lagi dalam kurun 1,5 tahun belakangan. Komunitas Gubuk Tulis dicetuskan Februari 2016 lalu. Al Muiz Liddinillah dan Viki Maulana, sebagai pioner berdirinya komunitas ini.

Berlatar sebagai aktivis mahasiswa, keduanya prihatin atas pesatnya perkembangan media online dan media sosial. Terbesit di benak mereka untuk menggalakkan literasi media, sebagai penyeimbang derasnya informasi dan konten-konten yang dinilai kurang mendidik.

Mereka lantas membuat website sebagai wadah tulisan baik sumbangan dari kolega dan berbagai kalangan. Kegiatan berupa jagongan dari warung kopi ke warung kopi menjadi tradisi dan rutinitas Gubuk Tulis. Mulai diskusi seputar gender hingga isu-isu yang sedang hangat. Tak sedikit yang ikut nimbrung setiap acara Gubuk Tulis.

“Tema diskusi variatif. Tidak hanya soal gender saja,” kata Muiz, saat ditemui MVoice, di Warung Kopi Oase, dua pekan lalu.

Muiz dan Viki lebih dulu menghiasi website dengan tulisannya-sebagai pemantik penulis lain untuk menuangkan idenya. Menodong kolega dan kerabat agar menyumbangkan tulisan kerap dilakukan. Hingga akhir 2016, lebih 150 kontributor menyumbangkan tulisan ke Gubuk Tulis. Isu yang ditulis pun beragam, dikemas dengan sederhana dan mudah dimengerti, baik berupa opini maupun agenda literasi.

Selain jagongan, Gubuk Tulis juga melayani peminjaman buku bagi yang membutuhkan. Buku-buku yang terkumpul semula merupakan koleksi pribadi beberapa pegiat Gubuk Tulis, sebelum ada hibah dari para donatur. Koleksi buku saat ini tidak sekadar soal sosial, politik dan agama, tetapi juga ada buku bacaan buat anak sekolah.

Nama Gubuk Tulis sendiri dipilih karena lebih cocok sebagai wadah bagi penulis pemula dan tempat kumpul. Muiz mengakui apabila tidak ada kata terlambat dalam menulis. Menuangkan ide dan gagasan menjadi sebuah tulisan merupakan kegemaran sederhana yang bisa dilakukan siapapun. Orang merasa sulit dan takut menulis karena tidak terbiasa dan belum melakukan.

“Tidak ada kata menakutkan dalam belajar menulis. Buku kan identik dengan sederhana,” ungkapnya.

Gubuk Tulis aktif melakukan tebar baca atau buka lapak baca buku gratis di ruang publik, seperti di Taman Singha Merjosari. Kegiatan ini berlangsung massif hingga sekarang. Tebar baca dilakukan mulai pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, satu minggu sekali. Khusus Bulan Ramadhan, tebar baca berlangsung hampir setiap hari.

Lambat laun antusiasme masyarakat meningkat drastis. Anak-anak sekolah yang biasanya sekadar bermain di taman pun mulai melirik buku-buku yang disediakan Gubuk Tulis.”Dulu buku-bukunya cocok ke mahasiswa, belum ada buku bacaan buat anak-anak. Sekarang, paling banyak anak-anak sekolah,” katanya.

Ia bersama pegiat Gubuk Tulis memiliki misi membumikan budaya membaca dan menulis di Indonesia. Berat memang, tapi, kata Muiz, harus dicoba dan dilakukan secara bersama-sama. Rendahnya minat membaca dan menulis menjadi masalah akut saat ini.

Sebagai mahasiswa akhir, Muiz dan Viki serta pegiat Gubuk Tulis lain merasa daya baca dan menulis mahasiswa masih rendah. Lantas bagaimana dengan masyarakat pada umumnya, jika mahasiswa saja enggan membaca, menulis dan melakukan riset!

Ditambah, kemajuan teknologi yang mendorong masyarakat, terutama kalangan pemuda lebih enjoy memainkan gadget, baik itu ngegame, maupun sekadar update status di media sosial. Pemandangan lazim ini bisa ditemui hampir di warung kopi. Hampir disetiap sudut warung kopi dipadati kalangan mahasiswa.

Ia mengistilahkan bahwa jagongan yang dikemas diskusi sebagai vitamin dan menulis adalah gizinya. Jagongan dengan safari dari warung kopi ke warung sengaja dilakukan untuk menebar virus literasi.

“Mimpi kami, setiap warung kopi di Malang nantinya diisi dengan hal positif, salah satunya disediakan buku bacaan. Seperti yang kami lakukan di Warung Oase. Selain tempat nongkrong, juga diisi dengan kegiatan keilmuan,”

Sambil berjalan, Gubuk Tulis terus berbenah dan merangkai kegiatan yang diharapkan bisa memikat hati mahasiswa dan masyarakat umum. Lahirlah kelas filsafat- filsafat jawa, gubuk justice dan ke depan akan ada kelas menulis.

Kegiatan yang dibuat Gubuk Tulis lebih pada penajaman wacana dan keilmuan, berbeda dengan yang diterima mahasiswa di kampus. Dengan harapan, mahasiswa kembali pada jati dirinya sebagai agen of change, agen of control dan perubahan.

“Untuk merangsang wacana mahasiswa, jangan hanya tahu berkoar-koar, tapi jarang baca dan menulis,” bebernya.

Senada dengan Muiz, Viki Maulana, mengutarakan bahwa lahirnya Gubuk Tulis tidak lepas dari kegelisahan pribadi. Pasang surut perjalanan Gubuk Tulis terekam jelas dibenaknya. Namun, berkat komitmen dan kerja keras semua pihak, Gubuk Tulis tetap eksis sampai sekarang.

Tidak sedikit yang mencibir keberadaan Gubuk Tulis. Mulai dari tudingan sekadar untuk sensasi semata, menilai keberadaan Gubuk Tulis tak akan bertahan lama sampai dipandang sebelah mata.

Awal kelahiran Gubuk Tulis, tambah Viki, butuh semangat berlipat dalam mengajak berbagai kalangan agar menyumbangkan tulisannya-tanpa sedikitpun iming-iming pamrih bagi penulis.

“Semula iseng aja. Tapi, peminatnya semakin banyak. Makanya kami niatkan untuk terus menebar virus literasi media di masyarakat melalui berbagai kegiatan yang kami sajikan,” pungkasnya.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria

Kaos Kobong Glow in The Dark, Usung Nilai Kearifan Lokal Banyuwangi

Kaos Bernuansa Kearifan Lokal (istimewa)

MALANGVOICE – Slogan ‘Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing’ rupanya benar-benar diterapkan sekelompok mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Pasalnya, kelompok yang terdiri dari lima mahasiswa ini menciptakan kaos bermuatan bahasa dan budaya lokal Banyuwangi sebagai karya ilmiah yang mereka ajukan pada gelaran Pekan Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan (PKM-K).

Karya yang diberi nama Kaos Beranimasi Muatan Bahasa Osing (Kobong) Glow in the Dark ini menjadi salah satu dari 38 karya PKM UMM yang mengikuti monitoring dan evaluasi (monev) eksternal di Universitas Negeri Malang (UM) (12/7).

Salah satu anggota tim, Robby Cahyadi mengungkapkan karya PKM-K yang dibuatnya bersama tim mendapat apresiasi dari tim peninjau monev. Menurutnya, ini karena sejumlah keunggulan yang dimiliki, yakni bahan kaos yang digunakan berstandar distro, bahasa yang memiliki filosofi, mengangkat budaya lokal, dan tulisan di bagian belakang kaos dapat menyala dalam gelap (glow in the dark).

“Tidak ada pertanyaan yang diajukan untuk Kobong Glow in the Dark, Alhamdulillah. Kita optimis untuk bisa maju ke PIMNAS,” ujar Robby.

Karya ini terbilang unik karena menggabungkan ide desain visual dengan bahasa dan budaya lokal. Bagian depan karya ini adalah gambar-gambar budaya khas Banyuwangi, seperti blangkon atau barong. Menariknya, gambar-gambar ini dikemas dalam bentuk animasi tiga dimensi.

Tulisan Gemelaring yang berarti ‘terus berproses sampai sukses’ menghiasi bagian depan kaos di atas gambar tiga dimensi. Di bagian belakang kaos, terdapat tulisan Using Ngewod Selawase yang berarti bahasa Banyuwangi tidak akan mati selamanya.

“Sasarannya adalah semua usia, baik anak-anak maupun orang lansia, jadi kami buat desain yang bagus untuk semua usia,” imbuh mahasiswa semester empat ini.

Sejauh ini, Kobong glow in the dark sudah dipesan banyak orang. Kaos ini juga sudah bermitra dengan beberapa distro dan agen penjual pakaian di Rembang, Tuban, dan Pasuruan. Berbekal modal 10 juta dari Dikti, kini laba yang dikantongi lima mahasiswa ini mencapai enam juta. Bukan hal mudah untuk membuat karya yang dijual seperti sekarang, mereka butuh hingga lima kali penyempurnaan.

“Kami buat pertama, lalu ada masukan dari pembeli, kami perbaiki lagi, sampai lima kali,” kisah Robby.

Terkait strategi pemasaran, Robby mengaku mereka memanfaatkan semua media sosial, seperti Blackberry Messenger (BBM), whatsapp, line, dana kun Instagram Kobong Glow in the Dark dengan nama @kobong-gemelaring.

Tim ini beranggotakan lima mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yakni Robby Cahyadi, Rosidi Hadi Siswanto, Rani Rahmawati, Dewi Larasetiani, dan Risnawati. Meski tak semuanya berasal dari Banyuwangi, namun mereka menyiasatinya dengan membuat kamus bahasa Osing untuk mendukung kemampuan mereka mempelajari bahasa Osing, sehingga memperkaya kosakata dalam membuat kaos.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Lombe, Tradisi yang Bikin Petani Sumenep Kaya Raya

Tradisi Lombe di Madura (istimewa)

MALANGVOICE – Tradisi yang satu ini memang jarang didengar. Tradisi unik ini berasal dari pulau Kangean, Sumenep, Madura, bernama Lombe.

Tradisi ini mirip karapan sapi namun menggunakan dua ekor kerbau. Berkat ajang tradisi yang digelar dua kali setahun ini, petani dan peternak kerbau di Sumenep mampu berinvestasi dan menjadi kaya.

Hal itu diketahui dari hasil penelitian sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) jurusan Geografi 2015, yakni Misbahaul Ulum, Kartika Hardiyati dan Irfan dimentori dosen pembimbing Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu M.Si.

Tim peneliti tradisi lombe (Istimewa)

Misbahaul mengatakan, motivasinya untuk memperkenalkan tradisi dari daerah asalnya ini sederhana.

“Saya ingin teman-teman saya, kampus, dan bahkan masyarakat Madura terutama pemerintahnya mengenal dan melestarikan tradisi ini karena tidak banyak yang tahu,” kata dia.

Padahal, lanjutnya, Lombe mampu meningkatkan taraf sosial hingga ekonomi masyarakat sekitar, tentu disamping sebagai hiburan tradisi masyarakat.

“Dari segi sosial kalau misalnya menang, itu mereka bisa naik taraf sosialnya jadi lebih disegani,” tambah dia.

Misbahaul menunjukkan buku hasil penelitiannya dan tim (Anja Arowana)

Selain itu, harga jual kerbau jantan yang mampu memenangkan perlombaan ini bisa naik hampir 50% dari harga jual asli dari kerbau itu sendiri.

“Awalnya kan harga kerbau 35 juta saja. Tapi kalau kerbaunya menang nanti dia bisa naik harganya hingga 55 juta rupiah per-ekor. Bapak saya juga akhirnya bisa menguliahkan saya disini (UM) karena kerbau,” tukasnya.

Disamping meningkatkan harga jual dan tingkat sosial sang pemilik, ajang ini ternyata juga berhasil membuat angka populasi kerbau di daerah ini naik drastis karena masyarakat mulai sadar dengan prospek yang dijanjikan oleh kerbau.

“Mulai tahun 2010-an, tradisi ini semakin digandrungi. Semua berbondong-bondong ikut. Bukan karena mengejar hadiahnya, tapi karena memang masyarakat senang. Akhirnya semua semangat beternak kerbau. Menjadikannya sebagai investasi untuk masa depan,” tutupnya.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Safari Ramadhan, d’Kross Community Blusukan dan Santuni Anak Yatim

MALANGVOICE- Seperti tahun-tahun sebelumnya, d’Kross Community kembali menggelar Safari Ramadan SI bulan suci, dipimpin langsung sang frontman, Ir H Ade Herawanto MT. Rombongan mengunjungi sejumlah pondok pesantren (ponpes), panti asuhan, dan blusukan kampung, Kamis (15/6).

Selain menyambung silaturahmi antar warga dan sesama kaum muslimin, lewat kegiatan ini juga diberikan paket santunan kepada kaum dhuafa, anak yatim-piatu, dan janda-janda tidak mampu.

Sebagai Kepala Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang, Sam Ade d’Kross turut mengajak seluruh pegawai dan staf Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dipimpinnya, mulai tenaga Non Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga pejabat struktural BP2D antusias dalam berbagi kebaikan, membaur bersama seluruh awak d’Kross Community yang berasal dari berbagai kalangan, komunitas dan lapisan masyarakat.

Bantuan pada Safari Ramadan kali ini diberikan kepada perwakilan warga Kelurahan Kasin, Kelurahan Gadang dan Kelurahan Jodipan. Rombongan juga bersilaturahmi dengan segenap pengurus, santri dan santriwati Ponpes Nurul Muttaqin Al-Barokah asuhan KH Nurhadi, kawasan Tlogowaru.

Perjalanan dilanjutkan ke Panti Asuhan Yayasan Sunan Kalijaga (Yasuka) bimbingan Ustadz M Munir Cholily, kawasan LA Sucipto, Blimbing. Hingga kemudian kegiatan pada sore hari dituntaskan di kawasan Muharto, Kotalama, bersama warga non-panti binaan Perguruan Pencak Silat Cimande.

Di Jalan Muharto, acara dipusatkan di Masjid Baitus Shomad dengan rangkaian kegiatan sholawat dipandu ta’mir setempat, Ustadz Abdul Hamid, sampai dengan solat magrib berjamaah dan buka bersama. Bantuan dan santunan untuk anak yatim-piatu dan kaum dhuafa juga dibagikan di acara bersamaan.

Mahasiswa UM Ciptakan Permen Pereda Perut Kembung

Mahasiswa memperkenalkan permen anti kembung. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Rasa permen yang manis dan selalu tersedia dalam berbagai varian rasa selalu menjadikannya primadona kuliner. Ini menginspirasi sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) membuat permen berbahan dasar buah kapulaga.

Mereka adalah Difandini Risky, Rensa Dwi, dan Tia Kusniawati. Adalah Casum, yang merupakan akronim dari Candy Amomum Subulatum (Permen Kapulaga), juga berkhasiat sebagai permen anti kembung.

Kemasan permen Casum. (Anja Arowana)

Perut kembung merupakan bentuk penyakit sistem pencernaan yang disertai penimbunan gas di dalam lambung akibat proses fermentasi berjalan cepat. Terlebih lagi kalangan mahasiswa kurang menjaga pencernaan, dikarenakan padatnya kuliah sehingga mengabaikan kebutuhan nutrisi, memilih makanan instan, dan pola hidup yang tidak sehat. Hal tersebut dapat memicu masalah pencernaan.

Di Indonesia kebanyakan produk pengobatan yang mengatasi masalah pencernaan khususnya masalah lambung berbahan obat kimia sintetik yang memiliki tingkat toksisitas tinggi dan jika dikonsumsi terus menerus akan menimbulkan suatu efek tertentu.

“Pemanfaatan Amomum subulatum oleh kalangan masyarakat masih sebatas pembuatan ramuan tradisional sehingga pemanfaatannya belum berkembang,” tukas ketua kelompok, Difandini.

Dia menambahkan, persebaran Amomum subulatum di Indonesia cukup merata dan cukup mudah didapatkan. Buah kapulaga mengandung minyak atsiri dengan komposisi yaitu cineol, terpineol, borneol dan lain-lain. Kandungan yang dominan adalah 1,8-Cineole yang mencapai 73,27 persen.

“Nah, Cineole mempunyai sifat antibakteri yang dapat mengobati luka lambung (ulkus) dan dapat mencegah terjadinya gas pada perut serta melancarkan pencernaan,” tutupnya.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Lewat Pringtion, Remaja Junrejo Bisa Mandiri Cari Duit

Tim mahasiswa di desa Junrejo (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Kini para remaja Desa Junrejo, Kota Batu bisa tersenyum sumingrah. Lewat program Pringtion, mereka dapat menghasilkan uang dari menjual hasil pertanian membantu orangtua mereka yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.

Pringtion merupakan program pemberdayaan yang digagas mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya (UB), yakni Chastita Hikmatun Nisa, Mukhamad Lukman Khakim, Achmad Nabhan Yaman, Muhammad Hadyan Rahman, dan Salsabilla Harisma Indah.

Program ini bertujuan memberdayakan seluruh masyarakat terlebih para remaja desa. Selama ini, mahasiswa menilai kesejahteraan para petani belum terjamin, dimana harga jual hasil pertanian mereka jauh dibawah harga pasar.

Tim mahasiswa Pringtion (istimewa)

“Jadi dalam program ini remaja kami latih mulai dari segi ilmu pertaniannya sampai penjualan,” kata Chastita saat ditemui MVoice.

Konsep Pringtion cukup sederhana. Program itu terdiri dari tiga pilar, yakni Controling yang merupakan tahapan Pre Harvest, Prace merupakan tahapan Post Harvest, dan Distribution yang merupakan tahapan Distribution.

Pada tahapan Pre Harvest mereka melakukan sosialisasi dan pelatihan mengenai pengurangan penggunaan pestisida kimia, pembuatan bibit secara mandiri, dan cara kontroling tanaman.

Pada tahapan Post Harvest mereka melakukan sosialisasi dan pelatihan mengenai Pengemasan, Penyimpanan, Dan perhitungan BEP serta HPP. Dan pada tahapan terakhir yakni Distribition mereka melakukan pelatihan mengenai Rantai Pasok dan Coustemer Link.

“Pringtion merupakan salah satu bentuk pengabdian kami kepada masyarakat dengan mengaplikasikan ilmu yang kami dapatkan selama perkuliahan. Harapannya, desa Junrejo mandiri dan bisa sejahtera,” tutup dia.

Salah satu target keberhasilan program ini, remaja Junrejo bisa menjual hasil pertanian ke toko-toko sayur modern tentu dengan harga jual yang lebih tinggi. Kedepan, Chastita memastikan, remaja Junrejo mampu memasok sayur untuk toko modern besar seperti Hypermart dan sebagainya.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Safari Ramadhan d’Kross Community Gayeng dan Penuh Kekeluargaan

MALANGVOICE-Suasana gayeng dan penuh kekeluargaan mewarnai Safari Ramadan yang digelar d’Kross Community, di Masjid Baitus Shomad, Kelurahan Kotalama, Kamis (15/6) sore.

Diawali sholawat bersama, kegiatan di dalam masjid makin hangat dengan tausyiah yang dipimpin Habib Agil bin Ali bin Agil. Frontman d’Kross, Ir H Ade Herawanto MT, beserta segenap awak lintas komunitas dan tokoh Aremania turut membaur.

“Semoga Sam Ade dan segenap awak d’Kross Community dilimpahi karunia sehat,” ujar Habib Agil, diamini seluruh jamaah yang hadir.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, segenap awak d’Kross Community kembali menggelar kegiatan Safari Ramadan pada bulan suci ini. Dipimpin langsung oleh Sam Ade, rombongan lintas komunitas melakukan kunjungan ke sejumlah pondok pesantren (ponpes), panti asuhan dan blusukan kampung.

Selain menyambung silaturahmi antar warga dan sesama kaum muslimin, lewat kegiatan ini juga diberikan paket santunan kepada kaum dhuafa, anak yatim-piatu dan janda-janda tidak mampu.

Sebagai Kepala Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang, Sam Ade d’Kross turut mengajak serta seluruh pegawai dan tataran staf Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dipimpinnya.

Mulai dari Tenaga Non Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga pejabat struktural BP2D antusias ikut serta dalam berbagi kebaikan, membaur bersama seluruh awak d’Kross Community yang berasal dari berbagai kalangan, komunitas dan lapisan masyarakat.

Bantuan pada Safari Ramadan kali ini diberikan kepada perwakilan warga Kelurahan Kasin, Kelurahan Gadang dan Kelurahan Jodipan. Rombongan juga bersilaturahmi dengan segenap pengurus, santri dan santriwati Ponpes Nurul Muttaqin Al-Barokah asuhan KH Nurhadi, kawasan Tlogowaru.

Perjalanan dilanjutkan ke Panti Asuhan Yayasan Sunan Kalijaga (Yasuka) bimbingan Ustadz M Munir Cholily, kawasan LA Sucipto, Blimbing. Sebelum akhirnya kegiatan pada sore hari dituntaskan di kawasan Muharto, Kotalama, bersama warga non-panti binaan Perguruan Pencak Silat Cimande.

Warga pun tampak antusias menerima bantuan tersebut. Mereka bersyukur dan memanjatkan doa terbaik bagi seluruh donatur dan panitia.

Acara diakhiri dengan buka puasa bersama usai solat magrib berjamaah.

“Alhamdulilah, segala rangkaian kegiatan berjalan lancar. Semoga barokah dan kita semua diberi kesempatan untuk kembali bersilaturahmi dan berbagi pada Ramadan berikutnya,” tuntas Sam Ade.

Komunitas