Fariz RM: Anak Zaman Sekarang Suka Diskoria Selecta

pressconference di MMI (anja)
pressconference di MMI (anja)

MALANGVOICE – Lagu-lagu karya musisi kenamaan Fariz RM masih banyak diminati. Namun, lagu yang diminati itu bukan lagu terpopuler seperti Sakura, Barcelona dan Interlokal.

Anak muda zaman sekarang, menurut Fariz RM, suka musik diskoria selekta. Yaitu sejenis lagu lama namun diremake menjadi disco party. Dan peminatnya biasanya berusia 15-25 tahun.

Melihat peluang itu, Fariz RM membuat album baru berjudul Groove, berisi lima lagu andalan Fariz yang masoh cocok untuk anak muda. Jadi, Fariz tidak perlu rekaman, tinggal membuat ulang musik lagu tersebut.

Fariz RM mengaku kagum sekaligus heran, dengan anak-anak muda yang menyukai lagu-lagu lamanya.

“Setelah lintas generasi, ternyata ada yang suka lagu saya,” tukas dia saat press conference di Museum Musik Indonesia (MMI), kemarin.

Christabel Annora Rilis Video Musik ‘Rindu Itu Keras Kepala’

MALANGVOICE – Pianist merangkap singer/songwriter asal kota Malang, Christabel Annora, akhirnya resmi merilis video musik “Rindu Itu Keras Kepala” pada tanggal 20 Desember 2016. Lagu ini merupakan singel kedua dari debut albumnya, Talking Days, yang dirilis oleh label rekaman Barongsai Records sejak bulan Mei 2016 yang lalu.

“Itu seperti sisi lain dari (album) Talking Days. Coba menggambarkan perasaan yang sangat manusiawi, diwakili dengan mengeluhkan rasa kangen,” ujar Christabel Annora tentang alasannya memilih lagu “Rindu Itu Keras Kepala” menjadi singelnya saat ini.

Musik dasar untuk lagu “Rindu Itu Keras Kepala” digarap sendiri oleh Christabel Annora, sementara untuk bagian gitarnya diisi oleh musisi folk terdepan asal Malang, Iksan Skuter. Yang menarik adalah lirik tembang ini diambil dari puisi karya sahabatnya sendiri, Nadia Agustina.

“Lagu ini penting dan sangat personal ketika saya bikin dulu. Pas itu Nadia Agustina memang suka mengirimkan puisi-puisinya kepada saya…” kata Christabel Annora. “Semua karyanya bagus-bagus sekali, tapi puisi tentang rindu ini yang paling kena ke saya. Rasanya kok pas, karena saya juga sedang mengalami hal yang sama persis seperti yang ditulis Nadia dalam puisinya itu. Lalu, tidak lama kemudian… Jreeeng, jadilah lagu ini.”

Selepas merilis singel pertama “Sunshine Talks” dan album Talking Days, aktivitas bermusik Christabel Annora tampak sibuk selama setahun belakangan ini. Selain jadwal show-nya sendiri yang mulai padat, ia juga masih kerap membantu sesi panggung unit folk terkemuka, Payung Teduh, serta tiba-tiba diajak tampil bareng salah satu band terbesar di Indonesia, Slank.

Perempuan yang berprofesi sebagai pengajar di sekolah musik itu juga melibatkan lagu kover “Desember” untuk proyek kompilasi Tribute To Efek Rumah Kaca yang dirilis Ripstore Asia tepat pada perhelatan Netlabel Day 2016. Sementara, tembangnya yang bertajuk “Satu” terpilih masuk dalam album kompilasi Malang’s Cassette Store Day 2016.

Video musik “Rindu Itu Keras Kepala” ini digarap oleh Prialangga, selaku sutradara merangkap Director of Photography (DOP). Sedangkan proses editing-nya dikerjakan oleh M.Y. Fahmi. Selain terdapat sosok Christabel Annora, dalam video tersebut juga menampilkan Titi Savitri dan Aswin Wiyatmoko sebagai cast atau model utama.

Menurut informasi dari sang sutradara, konsep video ini muncul setelah ia mengamati sendiri orang-orang yang ada di lingkungan terdekatnya tentang bagaimana perilaku mereka dalam mengelola dan mengatasi rasa rindu.

“Alurnya saya coba gambarkan melalui beberapa karakter tokoh. Soal bagaimana setiap karakter itu mencari, menunggu, sampai kemudian pasrah akan kerinduannya masing-masing. Namun video ini tetap membebaskan siapa pun juga untuk mendeskripsikan ceritanya menurut persepsi mereka sendiri,” tutur Prialangga tentang gambaran umum video garapannya.

“Eksekusinya sendiri tidak terlalu sulit kok. Karena memang dibikin santai dan mengalir…” imbuh pria asal Malang yang juga berprofesi sebagai fotografer dan videografer tersebut. Proses syuting video ini memakan waktu sekitar satu minggu pada bulan Oktober 2016, serta mengambil lokasi di empat kota; Jogjakarta, Semarang, Surabaya dan Malang.

“Menyenangkan sekali. Kebetulan semuanya juga sahabat saya. Jadi enak dalam koordinasi dan proses menuangkan ide-idenya,” ucap Christabel Annora menuturkan pengalamannya ketika bekerja sama dengan tim produksi video “Rindu Itu Keras Kepala”.

Beberapa hari menjelang dirilisnya video musik “Rindu Itu Keras Kepala” ini, Christabel Annora sempat berujar singkat, “Kadang soal rindu itu memang susah dipahami. Masing-masing orang kayaknya punya cara-cara tersendiri dalam mengungkapkan rasa rindunya…”

Video musik “Rindu Itu Keras Kepala” bisa ditonton melalui tautan berikut;

Credit Notes

“Rindu Itu Keras Kepala” (Official Video Music)
Director / DOP ; Prialangga
Editor ; M.Y. Fahmi
Styilsh ; Titi Savitri
Cast ; Christabel Annora, Titi Savitri, Aswin Wiyatmoko.

Music by Christabel Annora
Guitar by Iksan Skuter
Lyrics by Nadia Agustina
Taken from the album Talking Days (Barongsai Records, 2016)

Buttonijo Films, Inovasi Ruang Baru Penikmat Film

Ricas (kiri) dari Buttonijo memperkenalkan Buttonijo

MALANGVOICE – Event Siar Sinema 2015 dimulai Jumat sampai Sabtu hari ini, di Gedung Kesenian Gajayana Malang, dengan memutar film pendek kerja sama dengan Buttonijo Films.

Buttonijo films merupakan kolektif produksi dan inisiatif distribusi film-film alternatif, dirintis oleh Amir Pohan dan Myrna Paramita pada 2010.

Selaku kolektif produksi, Buttonijo berfokus pada karya sinema sebagai ekspresi artistik dan budaya, baik dalam wujud fiksi, dokumenter dan di antaranya.

“Selaku inisiatif distribusi, Buttonijo ingin menghadirkan opsi alternatif bagi pembuat film, sehingga tidak harus melulu bergantung pada lembaga bioskop dan festival sebagai kemungkinan distribusi film,” kata Head of Sales and Marketing Button Ijo, Ricas.

Bagi penonton, Buttonijo bertujuan membuka akses film-film yang sulit mendapat tempat di tata edar bioskop, juga semakin memberdayakan kegiatan-kegiatan pemutaran film yang kian marak di Indonesia.

Saat ini ada tiga program Buttonijo sedang giatkan, yakni distribusi online (via streaming), distribusi offline (via USB Sinema), dan film funding (pendanaan film). Siapa pun yang ingin mengakses ketiga program ini cukup registrasi menjadi anggota Buttonijo.

Untuk distribusi online, Buttonijo menggunakan sistem streaming. Materi film yang tersedia pada web buttonijo.com dapat diakses oleh siapa pun, kapan pun, dan di manapun melalui perangkat smartphone, tablet, personal computer, hingga laptop.

Hamzah dari Siar Sinema menunjukkan usb Buttonijo yang digunakan untuk distribusi film
Hamzah dari Siar Sinema menunjukkan usb Buttonijo yang digunakan untuk distribusi film

Harga untuk menonton film tersebut secara online dibagikan secara adil dengan pembuat film. Materi film pada web buttonijo.com telah diproses sedemikian rupa sehingga punya resolusi gambar setara blu-ray dengan ukuran file yang kecil (sekitar 100-200mb untuk film berdurasi 90 menit). Ini memungkinkan waktu buffering yang jauh lebih cepat saat menonton, dan akses yang mudah di seluruh wilayah Indonesia yang koneksi internetnya beragam.

Tentunya, sistem distribusi online ini turut dilengkapi dengan fitur keamanan mutakhir yang mencegah pembajakan.

Distribusi offline atau USB SINEMA memanfaatkan peredaran USB flash drive ke kelompok atau individu yang ingin mengadakan pemutaran film.

Usb disimpan pada box yang unik dan ada kesan eksklusif
Usb disimpan pada box yang unik dan ada kesan eksklusif

USB Sinema adalah inisiatif Buttonijo untuk bantu memperkuat kegiatan pemutaran independen yang banyak dilakukan komunitas film di Indonesia.

Kelompok atau individu bisa membeli USB Buttonijo yang sudah terisi film, untuk kemudian dijadikan materi pemutaran di layar-layar alternatif.

Film dalam USB tersebut sudah diproses sedemikian rupa oleh Buttonijo sehingga punya resolusi gambar high-definition, tidak bisa digandakan, dan hanya bisa diakses sampai batas waktu yang disepakati antara pemutar film dan Buttonijo.

Lewat batas waktu tertentu, file film secara otomatis tidak lagi bisa ditayangkan. Sampai dengan batas waktu itu juga, pemutar film punya hak untuk memutar film sebanyak yang diinginkan dan menarik tiket sesuai dengan harga yang dianggap layak.

Hasil penjualan tiket menjadi milik pembuat film, untuk dijadikan modal berkegiatan lagi setelahnya, sementara pembuat film mendapat uang dari hasil penjualan USB Buttonijo. Melalui USB Sinema ini, semua film dalam naungan Buttonijo punya kesempatan untuk diputar pada berbagai kesempatan di berbagai wilayah Indonesia dan internasional.

Film funding setiap tahunnya membuka kesempatan bagi tiga proyek film pendek dan satu proyek film panjang. Nilai total program ini adalah Rp 150 juta. Program ini Buttonijo adakan sebagai respons terhadap kesulitan yang kerap dialami pembuat film alternatif karena tidak punya anggaran khusus untuk produksi. Film-film hasil program ini akan Buttonijo bantu distribusikan lewat jaringannya.

Beberapa film yang sudah mendapat dukungan pendanaan Buttonijo antara lain: Ayam Mati di Lumbung Padi (Darwin Nugraha), Rocket Rain(Anggun Priambodo), Another Trip to the Moon(Ismail Basbeth), Riding the Light (Jeihan Angga), Langit Masih Gemuruh (Jason Iskandar). ”Check saja di web kami www.buttonijo.com,” ungkap Ricas.

Pensil Pandawa, Permudah Petani Tanam Bibit Sayur

Serah terima alat dengan petani di Pujon (anja)

MALANGVOICE – Teknologi pensil mekanik ternyata bisa digunakan pada bidang pertanian. Pandawa atau Pensil Mekanik Danawa (raksasa), merupakan teknologi baru cara menanam benih sayuran.

Pandawa (anja)
Pandawa (anja)

Pensil berukuran besar ini mengadopsi teknologi mekanik pegas. Bahan dasarnya dari besi, panjang sekitar 70 cm. Alat ini membantu petani menanam biji secara praktis.

Petani dan Pandawa (anja)
Petani dan Pandawa (anja)

Caranya, masukkan biji ke dalam alat ini dan ujung alat tancapkan ke dalam tanah. Lalu, dengan memencet tombol pada ujung atas, otomatis 1-2 biji akan keluar dan masuk ke dalam tanah.

Alat itu merupakan inovasi lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yaitu Moh Lutfi (mahasiswa jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan), Dwi Yunda A (Psikologi), Ari Widya (Psikologi), Pangestu Dwipa (Teknik Sipil), Rajih A (Sosiologi). Lima mahasiswa ini menyebut dirinya tim Pandawa.

Ditemui MVoice, Lutfi menjelaskan, ide tersebut berasal dari kegiatan pengabdian masyarakat di Kecamatan Pujon yang mereka ikuti, beberapa waktu lalu.

“Di sana kita temukan ide ketika ikut petani di Pujon menanam benih sawi. Ternyata, petani di sana kalau nanam masih tradisional. Masukin biji sawi satu-satu. Jadi sambil membungkuk gitu. Kita tanya mereka (petani), ternyata kebanyakan mengaku capek kalau menanam seperti itu,” tuturnya.

Setelah penyempurnaan desain, alat tersebut telah disosialisasikan dan diserahkan ke petani di Pujon.

“Kami sudah membagikan 7 alat ini ke sana (Pujon). Petani di sana sangat antusias. Sekalian kami ajarkan juga cara menanam bijinya, merawat alatnya sekaligus menggunakannya,” ungkap Yunda.

Saat ini, tim Pandawa sedang mengembangkan alat tersebut agar bisa digunakan untuk menanam benih jenis tanaman lain.

“Alat ini masih terbatas, bisa digunakan untuk menanam biji sawi-sawian saja. Ke depannya kita masih merancang dan memodifikasi lagi pensil ini agar lebih sempurna,” tutur Lutfi.

Merdunya Musik India Klasik Mengalun di Semeru Art Gallery

Penampilan (anja)

MALANGVOICE – Memperingati satu tahun berdirinya Semeru Art Gallery, malam ini, Log Sanskrit, Asrama Seni dan Literasi Jogjakarta, hadir menampilkan seni pertunjukan musik klasik India.

Asrie Tresnady (anja)
Asrie Tresnady (anja)

“Kami datang sebagai bentuk silaturahim sekaligus mendoakan agar semakin banyak seniman berkontribusi ke galeri ini,” kata Asrie Tresnady, ketua Log Sanskrit.

Musik klasik dimainkan langsung oleh Asrie dan Rahul, mahasiswa India penerima beasiswa Darmasiswa di Indonesia.

“Yang kami mainkan sitar dan tabla. Kalau saya memainkan instrumen dari India Utara, Tabla. Jadi bentuk doanya nanti melalui pujian-pujian berupa musik,” terang Rahul, kepada MVoice, beberapa menit lalu.

Rahul (anja)
Rahul (anja)

Sekadar tahu, Log Sanskrit berdiri sejak 2008 di Baroda, Gujarat India. Berpindah ke Jogja, komunitas ini fokus mempelajari kajian-kajian India di Indonesia, antara lain seni pertunjukan musik, tari, teater, dan literasi yang lebih mengedepankan Bahasa Sansekerta.

Ke depan Log Sanskrit akan melakukan seni pertunjukan musik serupa di beberapa lokasi di Malang, antara lain Kafe Pustaka UM, Museum Musik Indonesia, dan UB TV.

Hemat Pakan, Peternak Bebek Beli Limbah Rumah Tangga

Diono dan Ngadino, usai membeli sampah makanan untuk pakan bebek. (fathul)

MALANGVOICE – Peternak bebek di Kota Batu banyak memanfaatkan limbah rumah tangga untuk memenuhi pakan ternaknya, seperti nasi sisa, sayuran, dan lainnya.

Diono, warga Rejoso, Mojorejo, Kecamatan Junrejo, ini setiap hari mendatangi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk membeli sampah rumah tangga.

Meski sampah jenis ini baunya menyengat, namun Diono tak punya pilihan lain, karena bisa menghemat pakan ternak hingga 50 persen. “Kalau pakan hemat, saat kita jual bebek untungnya bisa banyak,” jelas Diono kepada MVoice.

Di Mojorejo, Diono memelihara 400 ekor bebek. Setiap hari ia ke TPA membeli lima plastik besar sampah makanan seharga Rp 7000.- per plastik, bisa dipakai selama dua hari.

“Satu hari habis tiga plastik besar, kalau yang dua plastik untuk persiapan besoknya. Jadi, tiap ke sini beli lima-lima saja,” ungkapnya.

Bukan hanya Diono yang memiliki ide seperti itu. Ngadino, peternak bebek lain warga Puthuk Gangsiran, Kecamatan Junrejo, juga melakukan hal yang sama. Hanya ia membeli lebih sedikit untuk pakan 200 ekor bebek.

“Banyak yang ternak bebek lalu dikasih makan begini. Itu yang bungkusan merah-merah, nanti juga ada yang ambil buat pakan babi. Memang lumayan, bisa hemat,” tutur Ngadino.

Kemarau Panjang, Pohon Ini Malah Berbunga Indah…

Pohon Tabebuya di sepanjang Jalan Arhanud (fathul)

MALANGVOICE – Musim kemarau panjang ini ternyata malah disambut berbunganya pohon Tabebuya. Seperti bisa dilihat di Jalan Arhanud, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, bunga Tabebuya tampak indah bersemi.

Bunga berwarna kuning yang mudah rontok itu pun menjadikan pinggiran jalan tampak seperti permadani. Memang terkesan aneh, karena berbunga justru di saat musim kemarau. Beberapa pengendara yang lewat pun sering kali menunjuk-nunjuk pohon ini dengan raut kekaguman.

Salah satu anggota Arhanud, Serda Setiawan, saat bertemu MVoice di sekitar Jalan Arhanud, mengatakan, pohon itu dikenal warga dengan nama bunga Sakura, karena dianggap mirip di Jepang. Tidak ada yang tahu nama asli pohon itu.

“Tiap tahun berbunga, kalau bunga yang sekarang ini sudah dua atau tiga minggu lalu berseminya. Kalau tahun sebelumnya saya tidak begitu tahu, karena belum tugas di sini,” tutur Setiawan.

Sementara Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH), Hari Santoso, menyebut pohon-pohon itu dengan nama Tabebuya. Ia membenarkan, pohon itu hanya berbunga di musim kemarau, karena termasuk pohon tropis.

“Memang jalan di sana bagus diberi pohon ini. Wilayah lain bisa mencontohnya, karena bisa menciptakan suasana keindahan. Kelemahan pohon ini, mudah kena hama rayap,” tandasnya.

Lengkuas, Obat Herbal Kaya Manfaat

MALANGVOICE – Lengkuas, meski namanya tidak setenar jahe, namun jenis tumbuhan umbi-umbian yang banyak ditemui di Indonesia tersebut memiliki banyak sekali manfaat sebagai obat herbal atau jamu.

Lengkuas memiliki senyawa yang baik bagi kesehatan, seperti antioxidan dan tannins (zat yang memperkuat kekebalan tubuh). Ekstrak lengkuas juga bisa membunuh bakteri berbahaya di dalam tubuh.

Dilansir altmedicine, lengkuas bisa mengatasi beberapa penyakit, seperti sesak nafas, diabetes, diare, sakit perut, mabuk perjalanan, mual, dan bisul di dalam perut.

Selain itu, lengkuas bisa meningkatkan kemampuan pencernaan, memperlancar sirkulasi darah, dan meningkatkan berat badan, tumbuhan yang memiliki nama latin Alpinia Galanga itu juga bermanfaat dapat mencegah beberapa jenis kanker. Untuk kulit, lengkuas bisa mencegah penuaan dini, jerawat dan mengobati luka bakar.

Meksi beberapa studi mengatakan efek samping dari lengkuas hanya sedikit, namun penggunaan dan mengkonsumsi dalam jangka panjang bisa menimbulkan iritasi kulit dan rasa panas di dada (heartburn). –

Ini Dia, Jembatan Paling Menakutkan di Dunia

MALANGVOICE – Daya tarik pariwisata terbaru di Cina baru saja dibuka. Jembatan suspensi di Shiniuzhai Geopark sempurna untuk mereka yang suka mencari sensasi tersendiri dalam berwisata.

China Bridges China Bridges-3

Jembatan itu terbuat dari kaca. Bayangkan, sepanjang 300 meter Anda berjalan melalui jembatan yang permukaannya terbuat dari kaca, dibangun tinggi di atas lembah 180 meter dari bawah permukaan tanah. Kaki dijamin gemetaran dan lemas.

Jembatan yang luar biasa ini merupakan jembatan terpanjang dari jenisnya di dunia. Jembatan ini sebelumnya adalah jembatan kayu, lalu kemudian secara periodik diganti menjadi jembatan kaca tembus pandang.

Tenang saja, walaupun menyeramkan, jembatan ini sangat aman. Panel kaca tembus pandang itu 25 kali lebih kuat dari pada kaca biasa sehingga tidak akan pecah walaupun dipijaki beban berat diatasnya.

Dinamakan jembatan pahlawan oleh penduduk setempat di Pingjiang, Provinsi Hunan karena dibutuhkan pekerja bangunan yang ekstra pemberani untuk menyelesaikannya.

Ketika pengunjung pertama mencobanya, beberapa harus tenggelam ke lutut dan merangkak karena tidak kuat dan takut melihat jurang di bawah. Bahkan ada yang memejamkan mata.

Bagaimana? Tertarik untuk berkunjung kesana?

Pic. mirror.uk

Kerokan Berpengaruh pada Kadar Endorfin

MALANGVOICE – Istilah kerokan atau ada yang menyebut kerikan, sudah tak asing lagi. Kalimat ini akan terucap ketika ada yang merasa tidak enak badan, masuk angin, atau lemah dan orang Jawa menyebutnya leso.

Praktik pengobatan ini dikenal sejak zaman nenek moyang, tetapi sejauh ini belum ditemukan literatur tentang asal-usul kerokan.

Metode semacam kerokan juga dikenal di negara lain, seperti di China (gua sha), Vietnam (cao gio), dan Kamboja (goh kyol).

Namun, seorang Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof Didik Gunawan Tamtomo, sudah berhasil meneliti hasiat dan manfaat dari kerokan. Penelitian dilakukan sepanjang tahun 2003-2005.

Pada tahap awal, Didik melakukan survei kuantitatif dan kualitatif. Hasilnya, dari 390 responden berusia 40 tahun ke atas yang mengembalikan kuesioner, hampir 90 persen mengaku kerokan saat ”masuk angin”.

Istilah ‘masuk angin’ sebenarnya tidak dikenal dalam dunia kedokteran. Masuk angin merujuk pada keadaan perut kembung, kepala pusing, demam ringan, dan otot nyeri.

Kerokan di Indonesia biasanya menggunakan uang logam ataupun alat pipih tumpul yang digerakkan di kulit secara berulang-ulang menggunakan minyak sebagai pelicin.

Pada tahap kedua, Didik menjadikan dirinya sebagai obyek penelitian. Ia mengerok bagian tangannya lalu dibiopsi, yaitu diambil sedikit jaringan kulit epidermisnya (kulit ari) untuk pemeriksaan mikroskopis.

Hasil pemeriksaan di laboratorium patologi anatomi UNS menunjukkan, tidak ada kulit yang rusak ataupun pembuluh darah yang pecah, tetapi pembuluh darah hanya melebar.

Melebarnya pembuluh darah membuat aliran darah lancar dan pasokan oksigen dalam darah bertambah. Kulit ari juga terlepas seperti halnya saat luluran.

Penelitian tahap akhir adalah penelitian biomolekuler, yakni pemeriksaan darah dari orang yang kerokan dan orang yang tidak kerokan.

Didik mengumpulkan sejumlah orang dengan kondisi serupa, seperti berat badan, usia, dan mengalami nyeri otot sebagai salah satu ciri ”masuk angin”.

Semua responden adalah perempuan karena mereka dinilai lebih suka kerokan daripada laki-laki.

Para responden dibagi dalam dua kelompok dan menjalani pemeriksaan darah.

Kelompok pertama kemudian dikerok, sedangkan kelompok kedua tidak. Seluruh responden selanjutnya diperiksa lagi darahnya.

Ada empat hal yang diamati, yakni:
1. Perubahan kadar endorfin,
2. Prostaglandin,
3. Interleukin, serta
4. Komplemen C1 dan C3.

Hasilnya, kadar endorfin orang-orang yang dikerok naik signifikan.
Peningkatan endorfin membuat mereka nyaman, rasa sakit hilang, lebih segar, dan bersemangat. Selain itu, ternyata juga kadar Prostaglandin turun.

Prostaglandin adalah senyawa asam lemak yang antara lain berfungsi menstimulasi kontraksi rahim dan otot polos lain serta mampu menurunkan tekanan darah, mengatur sekresi asam lambung, suhu tubuh, dan memengaruhi kerja sejumlah hormon.

Di sisi lain, zat ini menyebabkan nyeri otot. Penurunan kadar prostaglandin membuat nyeri otot berkurang.
Adapun perubahan komplemen C3, C1, dan interleukin yang menggambarkan adanya reaksi peradangan tidak signifikan.

Ia menyarankan, kerokan sebaiknya dimulai dari atas ke bawah di sisi kanan dan kiri tulang belakang, dilanjutkan dengan garis-garis menyamping di punggung bagian kiri dan kanan.

Alat pengerok dipegang 45 derajat agar saat bergesekan dengan kulit tidak terlalu sakit.

Salah satu unsur dalam kerokan yang mendukung pengobatan adalah hubungan emosional antara orang yang dikerok dan orang yang mengerok.

”Ibu yang mengerok anaknya sambil bercerita merupakan unsur biopsikososial dalam pengobatan yang kini digalakkan dalam pengobatan modern,” kata Didik.-

Komunitas