28 November 2022
28 November 2022
21.6 C
Malang
ad space

Bunga Tabebuya Bermekaran, Kota Batu Kian Cantik di Penghujung Tahun Ini

Pengunjung saat asik berswafoto di jalan raya sekitar Kawasan Pusat Pendidikan Artileri Pertahanan Udara (Pusdik Arhanud) di Desa Pendem, Kota Batu (Ayun/MVoice)
Pengunjung saat asik berswafoto di jalan raya sekitar Kawasan Pusat Pendidikan Artileri Pertahanan Udara (Pusdik Arhanud) di Desa Pendem, Kota Batu (Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Kota Batu belakangan hari ini terlihat makin cantik. Pasalnya, bunga Tabebuya (Chrysotricha) yang tumbuh di sepanjang jalan di kota berjuluk de Kleine Swizterland tengah bermekaran.

Rona kuning yang menyerupai bunga Sakura itu secara dominan mewarnai panorama kota.

Setiap hari rata-rata ratusan orang lebih berkunjung hanya untuk berfoto dengan bunga di kanan dan kiri jalan raya sekitar Pusat Pendidikan Artileri Pertahanan Udara (Pusdik Arhanud), Pendem, Kota Batu.

“Suasananya seperti di Jepang. Bunga Tabebuya bermekaran membuat jalanan kota semakin cantik,” ungkap Luli mahasiswa UMM kepada Malang Voice.

Ia mengaku rela menunggu hingga bulan September hanya untuk mendapatkan momen indah tersebut.

Bahkan, tahun lalu tak sedikit remaja yang rela menyewa kostum kimono, pakaian tradisional Jepang hanya untuk terlihat seperti di Negeri Sakura saat foto di area tersebut.

Selain itu, bunga yang bermekaran setiap akhir musim kemarau dan memasuki awal musim hujan itu membuat warga dan pengguna jalan merasa nyaman.

Ia berharap agar Pemerintah Kota Batu lebih memperbanyak lagi menanam pohon Tabebuya di jalanan kota maupun di taman-taman kota Batu.

“Biar kotanya tampak cantik dan indah, serta enak dipandang mata,” Imbuhnya.

Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Imam Suryono mengatakan bila pohon Tabebuya memang banyak jenisnya. Tapi yang ada di Batu hanya warna kuning saja.

“Mekarnya di September hingga November. Biasanya Desember sudah rontok,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan pemerintah berencana akan menjadikan momentum September dan Oktober sebagai musim Tabebuya yang diharapkan bisa menarik kunjungan wisatawan untuk datang ke Kota Batu.

“Seperti di Jepang, orang-orang datang ke sana pada saat musim bunga Sakura bermekaran,” tutupnya.

Perlu diketahui,Tabebuya merupakan jenis tanaman yang berasal dari Brazil dan termasuk jenis pohon besar.

Seringkali orang menyebutnya sebagai tanaman Sakura. Sebab bila berbunga bentuknya mirip vegetasi khas Negara Jepang.

Sementara, kelebihan dari pohon Tabebuya yakni, daunnya tidak mudah rontok. Kemudian saat musim berbunga akan terlihat sangat indah dan lebat.

Pohon yang bunganya bermekaran di penghujung tahun itu juga memiliki struktur ranting yang rindang. Serta pohonnya tidak terlalu tinggi. Pohon tersebut berfungsi untuk penyerapan karbon serta polusi kendaraan.(Der/Aka)

Belum Sampai Puskesmas, Seorang Mahasiswa UIN Malik Ibrahim Meninggal Ketika Ikuti Pembaiatan UKM Silat

Ilustrasi

MALANGVOICE – Penyebab kematian dua mahasiswa UIN Maliki masih menyimoan misteri. Baik Rumah Sakit Karsa Husada Batu maupun Puskesmas Karangploso tidak mengetahui yang menjadi sebab meninggalnya kedua korban.

Dua mahasiswa yang meninggal secara misterius tersebut masing-masing Moh Faishal Lathiful Fahris dan Miftah Rizki Pratama. Jika Faishal yang asal Lamongan itu merupakan mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah UIN, maka Rizqi mahasiswa Tadris Matematika asal Bandung.

Keduanya meninggal dunia saat mengikuti pembaiatan anggota baru UKM Pagar Nusa UIN di Coban Rais, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Sabtu (6/3).

Baca Juga: Dua Mahasiswa UIN Meninggal Saat Pembaiatan UKM Silat, Begini Penjelasan Warek...

Sebelum meninggal, Fasihal sempat pingsan dan dilarikan ke Puskesmas Karangploso pada pukul 15.00 WIB. Jarak Coban Rais ke Puskesmas Karangploso sendiri sejauh 10 kilometer.

Kepala Puskesmas Karangploso, drg Izza El Naila menyampaikan ketika Faishal datang sudah tak bernyawa. Tindakan yang dilakukan tenaga kesehatan di Puskesmas hanya menutup jenazah Faishal.

“Karena sudah meninggal kita tidak melakukan perawatan apa-apa soalnya di sini tidak menyediakan jasa pemandian jenazah,” jelasnya.

Setelah mengetahui Faishal sudah meninggal pihaknya langsung berkoordinasi dengan kepolisian. Kemudian mereka berkoordinasi untuk mencari identitas korban dan ditemukan Faishal berasal dari Lamongan sehingga langsung mengontak keluarganya.

“Faishal datang ke sini menggunakan ambulance dari Tlekung diantar empat orang,” imbuhnya tanpa menyebut identitas pengantar Faishal.

Berdasarkan pengamatan tim Puskesmas Karangploso, Faishal meninggal tanpa luka apapun di sekujur badannya. Mereka juga tidak berani melakukan autopsi atau vasum karena tidak mendapat surat pengantar dari kepolisian.

Kegiatan itu ternyata tidak mengantongi izin ke pihak kampus, Polres Batu, Satgas Covid-19, juga penanggung jawab Coban Rais.

Wakil Rektor 3 UIN, Dr Isroqun Najah mengatakan penyelenggara kegiatan itu tidak meminta izin. Pihak kampus pun tidak sempat melarang pelaksanaan kegiatan itu.

“Semua kegiatan luring mahasiswa dinonaktifkan. Bahkan mereka ke kampus saja tidak boleh,” terangnya, Senin (08/03).

Sementara itu, Kasat Reskrim AKP Jeifson Sitorus mengatakan hal serupa dialami oleh Mifta. Sebelum sampai di RS Karsa Husada juga dalam kondisi meninggal dunia.

“Jika ada indikasi tindak pidana maka pemeriksaan lebih lanjut bisa dilakukan. Jika keluarga menghendaki, autopsi bisa dilakukan,” tandasnya.(end)

Wisatawan Kota Batu Wajib Kantongi Surat Rapid Antigen

Suasana rapat Forkopimda (Achmad Sulchan An Nauri)

MALANGVOICE – Forkopimda Kota Batu gelar rapat membahas Surat Edaran (SE) untuk mengatur libur Natal dan tahun baru (nataru) agar aman dan nyaman. Rapat itu digelar di Ruang Rapat Utama Balai Among Tani, Kota Batu, Senin (21/12) sore.

Dalam rapat itu diputuskan wisatawan yang hendak berkunjung ke Kota Batu harus sudah melakukan rapid test antigen dengan hasil non reaktif. Hal itu diungkapkan oleh Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko.

Dewanti mewanti-wanti bagi wisatawan yang tidak mengantongi surat rapid akan dipulangkan ke daerah asalnya. “Nanti kita hubungi daerah asalnya agar dipastikan untuk pulang ke rumahnya,” jelas Dewanti.

Hal itu dilakukan agar Kota Batu terhindar dari resiko adanya klaster baru. Selain itu ada beberapa kebijakan lain untuk menghindarkan Kota Batu dari resiko tersebut.

Yakni, penutupan Alun-alun Kota Batu dan tidak ada acara pada malam tahun baru. “Di hotel kita larang untuk mengadakan acara, hanya boleh makan malam untuk pengunjung hotel,” jelasnya.

Sedangkan untuk penutuoan Alun-alun Kota Batu ini dilakukan pada malam tahun baru. “PKL yang disana terpaksa harus libur satu hari dulu,” jelasnya.

Dewanti mengatakan bahwa pihaknya memberi fasilitas untuk pindah tempat. Namun jika dirasa terlalu merepotkan ya ia berharap pihak PKL untuk mengikhlaskan satu hari saja.

Sementara itu Kapolres Batu, AKBP Catur C Wibowo mengungkapkan bahwa pengamanan nataru dilakukan dengan satgas gabungan. Pasalnya pengamanan untuk menjamin kanyamanan libur nataru diperlukan sinergi dari semua pihak.

Catur bertutur bahwa sekeras-kerasnya aparat perkerja, jika tidak didukung masyarakat akan sia-sia. “Maka dari itu kita juga memerlukan kesadaran dari masyarakat untuk menjaga dirinya sendiri,” tandasnya.(der)

3 Relawan Kota Batu Bantu Selamatkan Buaya Terpasung Ban

Kondisi buaya yang terpasung ban di Sungai Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: Prambors Radio)
Kondisi buaya yang terpasung ban di Sungai Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: Prambors Radio)

MALANGVOICE – Belum lepasnya ban yang terpasung di tubuh buaya berjenis Crocodylus Porosus di Sungai Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Sebanyak 3 orang relawan Kota Batu yaitu dua pawang Predator Fun Park dan 1 dari BKSDA Malang ikut turun membantu pelepasannya.

Mereka diantaranya yaitu Joe Javanese dan Sugeng yang merupakan pawang di Predator Fun Park. Kemudian Dwi Rubingi dari BKSDA Malang. Ketiganya berangkat sejak Senin (10/2).
Salah satu pawang Predator Fun Park, Joe Javanese mengatakan bantuan itu karena uji coba dua kali pelepasan ban belum membuahkan hasil. Sehingga, dia bersama dua orang lainnya akan ikut membantunya.

”Sebelumnya oleh Panji belum bisa. Kemudian, diupayakan lagi oleh BKSDA Sulteng dan Polair Polda Sulteng juga belum membuahkan hasil. Makanya, kami coba ikut membantu,” kata dia.

Dia menambahkan, untuk keberangkatannya tersebut didukung oleh Pemkot Batu, Predator Fun Park dan BKSDA Malang. Kemudian, juga dukungan dari Pemkot Palu yang sebelumnya sudah melakukan koordinasi.

Sementara itu, Walikota Batu Dewanti Rumpoko mengatakan hanya bisa berdoa semoga upaya tersebut bisa membuahkan hasil. Sekaligus, dia berharap semoga sama-sama bisa kembali dengan selamat pula.

”Harapan kami di Pemkot Batu. Semoga, bisa membantu membebaskan buaya tersebut. Tapi, bisa kembali ke sini juga dalam keadaan selamat,” kata dia diwawancarai di tempat terpisah.

Seperti diketahui, kondisi buaya terpasung ban di Sungai Palu itu sudah berlangsung selama empat tahun terakhir. Hingga kini, belum ada satu pun warga yang bernyali untuk membebaskannya.

Beberapa kali upaya sudah dilakukan. Namun, upaya-upaya tersebut belum membuahkan hasil sampai sekarang.(Der/Aka)

Wisata Edukasi dengan Ribuan Kincir Angin Warna-Warni di Kota Batu

Pengunjung saat asik berswafoto di Bumi Kitiran Kota Batu (Ayun/MVoice)
Pengunjung saat asik berswafoto di Bumi Kitiran Kota Batu (Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Perkembangan sektor pariwisata di Kota Batu terus meningkat beberapa tahun terakhir. Bukan hanya keindahan alam yang dipertontonkan, tapi juga kreativitas masyarakat dalam menciptakan atraksi wisata buatan.

Salah satunya bisa kita jumpai wisata Bumi Kitiran di Dusun Binangun, Bumiaji, Kota Batu.

Sebidang lahan di tengah area persawahan “disulap” menjadi kebun yang dipenuhi puluhan ribu kincir angin beraneka warna, seperti merah, kuning, hijau, biru, merah jambu, dan oranye.

Deretan kincir angin yang disusun sedemikian rupa menghasilkan pemandangan yang indah.

“Total kitirannya kurang lebih 24 ribu. Lengkap dengan penyangganya. Dan puluhan ribu kitiran itu ditancapkan di lahan seluas 6.000 meter persegi,” ujar Owner Bumi Kitiran, Sukaji Widya Antoko.

Ia menambahkan, destinasi wisata buatan yang baru saja di launching 18 Agustus lalu terinspirasi dari Taman Dewari Megelang, Jawa Tengah.

Ia sengaja membuat Bumi Kitiran yang sebelumnya merupakan lahan pertanian jeruk, lantaran ingin memberikan alternatif destinasi wisata yang berbeda dan belum ada sebelumnya di Kota Batu.

Menurut dia, melihat potensi wisata yang besar sehingga ia membuat hamparan kitiran berwarna-warni.

“Selain itu kami ingin mengedukasi wisatawan dan anak-anak pada khususnya agar melestarikan budaya mainan asli Indonesia,” ujar pria yang akrab disapa Aji itu.

“Ya, meski sudah dilaunching, kami harus terus berbenah. Rencananya ke depan kami akan buat taman bunga di beberapa titik dan tempat untuk nongkrong. Sehingga wisatawan dapat lebih lama di Bumi Kitiran,” imbuhnya.

Kemudian, untuk tiket masuk pengunjung cukup merogoh kocek Rp 10 ribu per orang. Jam bukanya sejak pukul 07.00 – 17.00 WIB setiap hari.

Sedangkan, untuk akses terbilang cukup mudah. Dari Alun-Alun Kota Batu, wisatawan hanya butuh waktu sekitar 20 menit ke lokasi. Untuk menuju lokasi, memang saat ini belum ada papan penunjuk arah.

Namun wisatawan bisa menggunakan Google Map agar lebih mudah menuju Bumi Kitiran.

Tak hanya pemandangan ribuan kitiran yang berbaris rapi, pesona pegunungan yang mengitari Kota Batu juga bisa dinikmati dari taman tersebut. Jika wisatawan berkunjung sore hari, pesona lain yang bisa dinikmati yakni panorama matahari terbenam (sunset).

Khalimatus Suhriyah (23) wisatawan asal Madura sengaja mengunjungi Bumi Kitiran menyatakan rasa kagumnya. Ia terpesona lalu datang bersama teman-temannya untuk foto di tempat wisata tersebut.

“Luar biasa tempat wisata Bumi Kitiran ini. Di sini saya bisa melepas stres dan mengenang masa kecil. Sangat unik dan bisa dibilang tidak ada di Malang Raya,” ungkapnya.

Sementara, Plt. Dinas Pariwisata Kota Batu (Disparta) mengatakan itu merupakan destinasi sangat bagus.

“Yang diharapkan kami kan seperti itu. Jadi warga ikut serta dalam pengembangan wisata. Kalau itu berkembang jadi sebuah destinasi wisata, ya anti akan kami bantu dari segi sarana dan prasarana,” tutupnya. (Hmz/Ulm)

Lewat Rute Ini untuk Mengakses Jalur Alternatif Masuk Kota Batu

Pekerja melakukan pemerataan lahan pada pembangunan lanjutan proyek jalan tembus Sisir-Pandanrejo. (MVoice/M. Noer Hadi)

MALANGVOICE – Proyek jalan tembus Sisir-Pandanrejo mencapai 65 persen. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu mematok proyek prioritas daerah ini rampung pada akhir November ataupun awal Desember. Sehingga bisa segera dioperasikan untuk jalur alternatif mengurai kemacetan lalu lintas saat libur nataru nanti.

Lokasi pembangunan sistem jaringan jalan baru ini berdekatan dengan Sendra Tari Arjuna Wiwaha, Kelurahan Sisir Kota Batu. Letaknya berada di sisi timur Alun-alun Kota Batu. Jarak antara Alun-alun Kota Batu dengan jalan tembus ini sekitar 1,5 kilometer.

Baca juga : Pembangunan Jalan Tembus Sisir-Pandanrejo Capai 65 Persen

Baca juga : Jalan Tembus Sisir-Pandanrejo Urai Kemacetan Kota Batu

Baca juga : Urai Macet, Jalan Tembus Sisir-Pandanrejo Dilanjutkan Agustus

Baca juga : Lakukan Pemerataan Lahan, Jalan Tembus Sisir-Pandanrejo Rampung November

Bagi pengendara yang melaju dari arah Kota Malang melewati Jalan Diponegoro bisa belok ke kanan (timur) ke Jalan Kawi. Kemudian lurus menuju ke Jalan H. Sutan Halim, Kelurahan Sisir dan belok ke kanan (selatan), tepatnya melintasi destinasi Sendra Tari Arjuna Wiwaha. Selanjutnya mengikuti alur jalan yang sekelilingnya masih hijau dengan hamparan lahan pertanian menuju jalan tembus Sisir-Pandanrejo.

Jalan tembus ini kurang lebih panjangnya sekitar 1 kilometer. Pembangunannya dikerjakan dua tahap. Tahap pertama merampungkan sepanjang 470 meter dengan menelan anggaran Rp5,2 miliar dari pagu anggaran Rp8 miliar. Pembangunan tahap kedua dilanjutkan pada Agustus lalu. Menuntaskan penyambungan jalan sepanjang 590 meter dengan anggaran senilai Rp4,7 miliar.

Jalan tembus Sisir-Pandanrejo dibangun membentang di atas aliran anak Sungai Brantas. Jalur itu terhubung ke Dusun Pandan, Desa Pandanrejo, Bumiaji, Kota Batu. Jaringan jalan ini juga juga terhubung ke destinasi wisata Lumbung Petik Stroberi Pandanrejo.

Kepala DPUPR Kota Batu, Alfi Nur Hidayat menjelaskan, jalan tembus ini juga untuk mengurai kepadatan lalu lintas. Terutama di Jalan Raya Pandanrejo yang menjadi akses utama di sisi utara untuk masuk-keluar Kota Batu.

“Selain mengurai kemacetan di jantung kota, jalur ini untuk memecah kemacetan di akses masuk Kota Batu di sisi utara,” ujar Alfi.

Baca juga : Trouble Spot Membelit Hampir Seluruh Ruas Jalan Kota Batu saat Libur Lebaran

Baca juga : Pengalihan Arus Diberlakukan di Kota Batu Volume Kendaraan Padat

Baca juga : Wali Kota Batu Ingatkan Titik Krusial Antisipasi Kemacetan saat Libur Lebaran

Selama ini, terutama saat masa liburan, titik kemacetan kerap terjadi di jalan-jalan protokol menuju kawasan Alun-alun Kota Batu. Mulai dari Jalan Diponegoro-Jalan Gajah Mada hingga ruas Jalan Brantas.

Begitu juga di akses masuk keluar Kota Batu sisi utara. Di akses sisi utara titik kemacetan kerap terjadi di simpang tiga Bendo karena ada penumpukan arus kendaraan. Simpul jalan ini mempertemukan arus kendaraan dari Jalan Bukit Berbunga, Desa Sidomulyo-Jalan, Desa Pandanrejo-Jalan Brantas, Kelurahan Ngaglik.(end)

Warga Batu Geger, Perempuan Hamil 8 Bulan Dievakuasi dari Kuburan

Anggota Tagana KWB melakukan evakuasi orang diduga sakit jiwa dan tengah mengandung 8 bulan, di Makam Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Rabu malam (28/6). (istimewa)

MALANGVOICE – Ketenangan warga di lingkungan Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu dibuat geger, Rabu (28/6) malam lalu. Pasalnya, suara perempuan mengerang kesakitan hinggap ke telinga warga.

Usut punya usut, suara itu berasal dari komplek pemakaman Kelurahan Sisir. Petugas Tagana Kota Wisata Batu (KWB) pun didatangkan guna melakukan evakuasi.

Kehebohan kian menjadi setelah perempuan tanpa identitas tersebut ditemukan dalam kondisi perut membuncit. Koordinator Tagana KWB, Simon Purwoali, mengatakan, kegegeran bermula sekitar pukul 19.00.

Saksi yang pertama kali menemukan, yakni Jaswadi, mendengar rintihan dan teriakan dari arah kuburan tersebut. Saat dicek, dilihatnya perempuan dengan kondisi lusuh, mengenakan atasan warna merah.

Perempuan berambut panjang itu tak mampu menyembunyikan perutnya yang tampak besar. ”Saksi yang juga perangkat Kelurahan Sisir lantas menghubungi Dinas Sosial (Dinsos) dan meneruskan ke kami (Tagana KWB),” kata Simon.

Personel Tagana KWB, lanjut Simon, yang tengah siaga di Posko Mudik Jalan Ir Soekarno, Desa Beji, Kecamatan Junrejo didatangkan menuju lokasi. Perempuan yang sementara ditengarai berasal dari Purwokerto itu dievakuasi menuju Rumah Sakit Karsa Husada Kota Batu.

Pemeriksaan medis terhadap perempuan diduga gangguan jiwa. (istimewa)

”Setelah dicek ternyata benar hamil usia delapan bulan. Namun belum ada tanda kelahiran. Setelah itu dirujuk menuju IGD RSSA (Rumah Sakit Saiful Anwar), sekitar pukul 23.30,” urainya.

Diduga perempuan ini mengalami gangguan jiwa. Kasi Bantuan Jaminan Sosial, Dinas Sosial Kota Batu, Fatonah, membenarkan pihaknya kini menangani orang dengan ganguan jiwa (ODGJ) yang hamil 8 bulan.

Dia menegaskan, kasus tersebut bakal ditangani dengan baik, mulai dari perawatan medis hingga pembiayaannya. ”Pasien saat ini sudah menjalani rawat inap di RSSA serta penanganan kejiwaan dari ahlinya,” tukas Fatonah saat dihubungi Mvoice, beberapa saat lalu.

Sudah Online, Urus Kependudukan di Kota Batu Kini Hanya Perlu Klik

Petugas Dispendukcapil Kota Batu mengoperasikan aplikasi administrasi kependudukan online, Jumat (7/7). (Aziz Ramadani)

MALANGVOICE – Kabar baik muncul bagi warga Kota Wisata Batu. Kini, pengurusan administrasi kependudukan tak perlu lagi hilir mudik. Sebab, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Batu sudah memberlakukan sistem berbasis online.

Kemudahan itu berlaku dalam pengurusan mengurus administrasi kependudukan seperti akta kelahiran, KTP atau Kartu Keluarga. Warga cukup mengakses secara online di laman batukota.go.id/dispendukcapil.

Kepala Dispendukcapil Kota Batu, Maulidiono, mengatakan, kebijakan ini sangat efisien, sebab warga bisa menghemat waktu dan tenaga lantaran tak harus bolak-balik atau bahkan antre panjang di kantor Dispendukcapil. Hanya perlu mengirim berkas persyaratan secara online melalui email dari ponsel pintar atau layar komputer, berkas sudah bisa diproses.

“Mekanismenya masyarakat hanya mengisi data sesuai keperluan permohonan, contohnya mengunggah foto surat keterangan kelahiran atau surat nikah,” urai Maulidiono.

Setelah semua persyaratan dikirim, lanjut dia, petugas akan memverifikasi berkas sesuai pengajuan. “Kalau sudah lengkap (berkas persyaratan), kami proses jadi hanya beberapa jam dan langsung dapat diambil,” sambung dia.

Ditargetkan, pemrosesan berkas kependudukan bisa rampung dalam jangka sehari saja. “Tentunya, dengan ketentuan persyaratan lengkap semua. Gratis,” imbuhnya.


Reporter: Aziz Ramadani
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yunus Zakaria

Balai Bahasa Jatim: Media Massa Garda Terdepan Penggunaan Bahasa Indonesia

Suasana Kepala Balai Bahasa Jawa Timur bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Batu saat mengajak rekan media dalam Koordinasi Pengawasan dan Pengendalian Penggunaan Bahasa Media di Kota Batu, di Command Center Balai Kota Among Tani, Selasa (2/7).
Suasana Kepala Balai Bahasa Jawa Timur bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Batu saat mengajak rekan media dalam Koordinasi Pengawasan dan Pengendalian Penggunaan Bahasa Media di Kota Batu, di Command Center Balai Kota Among Tani, Selasa (2/7).

MALANGVOICE – Balai Bahasa Jawa Timur menjadikan insan pers sebagai sasaran dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebab, kata yang tercantum dalam kalimat suatu berita yang salah, bisa jadi benar karena digunakan berkali-kali.

’Insan media massa jadi sasaran kami karena media massa itu garda terdepan penggunaan bahasa dan mempunyai intensitas berbahasa yang sangat tinggi,’ ujar Kepala Balai Bahasa Jawa Timur, Mustakim dalam Koordinasi Pengawasan dan Pengendalian Penggunaan Bahasa Media di Kota Batu, di Command Center Balai Kota Among Tani, Selasa (2/7).

Mustakim mencontohkan kata sukses. Saat ini media massa menerapkan dua ragam kata berbeda. Satu kata menyukseskan dan lainnya kata mensukseskan.

’’Kalau dalam kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, itu menyukseskan. Tapi karena media massa berkali-kali memakai kata mensukseskan, ini menjadi sebuah pembenaran di masyarakat,’’ imbuhnya.

Karena itu, Balai Bahasa Jawa Timur merasa perlu menyosialisasikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sehingga adanya koordinasi tersebut agar para awak media mampu meningkatkan pemahaman penggunaan bahasa yang baik dan benar.(Hmz/Aka)

Dinosaurus Jatim Park 3 Terbakar

Dinosaurus Jatim Park 3 terbakar. (istimewa)
Dinosaurus Jatim Park 3 terbakar. (istimewa)

MALANGVOICE – Jatim Park 3 dihebohkan salah satu dinosaurusnya yang terbakar, Selasa siang (30/1). Koleksi dinosaurus jenis leher panjang itu terbakar diduga akibat percikan api pengerjaan pengelasan.

Hingga berita ini ditayangkan, Polres Batu tengah melakukan identifikasi TKP (tempat kejadian perkara). Polisi menyelidiki bagaimana penyebab pasti peristiwa yang menimpa destinasi wisata yang baru buka November 2017 tersebut.

Marketing and Public Relation Manager Jatim Park Group, Titik S Ariyanto, mengatakan, pihaknya mendapatkan laporan sekitar pukul 12.00 WIB. Diduga kuat kebakaran disebabkan pengerjaan pengelasan pada patung dinosaurus dikenal dengan nama Brachiosaurus tersebut.

Gallery link=”file” size=”full” td_select_gallery_slide=”slide” ids=”103592,103589″

“Ada orang ngelas, percikannnya kena angin kemudian kena ke dino tersebut. Memang mudah terbakar karena berbahan spons,” kata Titik kepada MVoice.

Petugasnya, lanjut Titik, langsung memadamkan menggunakan Apar. Namun, hal itu sedikit sulit dilakukan karena jangkauannya yang terbatas dan api cepat merembat. Yang terselamatkan hanya bagian leher sampai kepala saja. Sisanya hangus terbakar.

“Cuaca saat itu terik panas dan angin kencang. Tapi mesinya masih berfungsi,” sambung dia.

Titik menambahkan, dari peristiwa itu tidak ada korban jiwa, baik pekerja maupun pengunjung. Sebab, dinosaurus merupakan aksesoris yang berada di luar zona Dino Action.

“Dino Action masih on progress pengerjaannya. Dibuka untuk umum perkiraan Maret. Jadi tidak ada pengunjung juga di lokasi,” urainya.

Ditaksir kerugian yang dialami akibat peristiwa ini sebesar Rp 10 juta. Pihak manajemen, menurutnya, akan melakukan evaluasi begitu mendapatkan hasil penyelidikan polisi.

“Tentu jadi evaluasi dan antisipasi agar pekerja lebih waspada lagi. Kami tidak ingin kejadian terulang,” tutupnya.(Der/Aka)