KPK “Obok-Obok” Kantor Bupati Malang

Suasana pendopo Agung, jalan Agus Salim Kota Malang. (Toski D)

MALANGVOICE – Anggota Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) melakukan penggeledahan di ruang kerja Bupati Malang dan kantor Badan Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah (BPKAD) Kabupaten Malang, Senin (8/10).

Aksi Anggota KPK ini dimulai setelah melakukan koordinasi dengan Polres Malang Kota pada sekitar pukul 10.00 WIB.

Berdasarkan informasi yang beredar, penggeledahan dilakukan berkaitan dengan sejumlah kasus Dana Alokasi Khusus (DAK) 2015 lalu. Penggeledahan dilakukan mulai pukul 17.00 WIB.

Anggota Satpol-PP Kabupaten Malang, yang enggan disebutkan namanya mengatakan, KPK datang bersama rombongannya langsung masuk dan melakukan penggeledahan.

“Mohon maaf, sementara gak boleh masuk dulu,” katanya.

Hingga kini, para penyidik KPK belum keluar dari areal Pendopo Agung, Jalan Agus Salim Kota Malang. Hampir tiga jam penggeledahan masih belum rampung.

Anggota KPK dikabarkan masih melakukan penggeledahan di ruang Bupati Malang Dr. H Rendra Kresna dan ruang kerja Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Malang, Willem Petrus Salamena. (Hmz/Ulm)

Kendaraan dan Penumpang Bukan Asal Malang Siap-Siap Disuruh Balik Kanan

Kendaraan luar kota mendapat penanganan dari petugas posko check point di Arjosari. (istimewa)
Kendaraan luar kota mendapat penanganan dari petugas posko check point di Arjosari. (istimewa)

MALANGVOICE – Antisipasi mudik pada lebaran tahun ini dan penyebaran Covid-19, Satlantas Polresta Malang Kota memberlakukan penyekatan di exit tol Madyopuro. Total sudah ada belasan kendaraan dari luar Malang yang disuruh balik kanan.

Kasat Lantas Polresta Malang Kota Kompol Priyanto, mengatakan, petugas yang bertugas di posko check point akan memeriksa asal-usul penumpang dan kendaraan yang melintasi kawasan tersebut.

“Kendaraan dari luar daerah atau luar provinsi dan juga yang memiliki KTP luar Malang akan kami minta untuk kembali,” katanya.

Pemberlakuan protokol pencegahan penyebaran Covid-19 pun juga dilakukan. Petugas yang dilengkapi APD wajib mengukur suhu tubuh pengemudi dan penumpang yang akan masuk ke Malang. Apabila ditemukan gejala sakit, petugas segera merekomendasikan perawatan ke Puskesmas atau rumah sakit.

Hal serupa juga dilakukan di posko check point utara kawasan depan Perum Graha Kencana. Semua kendaraan yang masuk wajib dicek petugas.

Priyanto berharap masyarakat mampu menahan diri tidak mudik agar Covid-19 tidak semakin menyebar. Masyarakat juga diimbau untuk tetap berada di rumah demi keselamatan bersama.

“Tujuannya agar wabah Covid-19 ini tidak meluas ke banyak daerah dan penanganannya bisa cepat selesai,” tandasnya.(Der/Aka)

Dobel L Itu Obat Parkinson, Kok Dikonsumsi Sembarangan?

AKBP I Made Arjana (Tika)

MALANGVOICE – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Malang, AKBP I Made Arjana, menjelaskan, double L alias pil koplo selama ini sudah disalahgunakan, hingga masuk sebagai satu jenis obat terlarang.

Padahal penggunaan asli obat ini untuk mengobati penderita penyakit parkinson.

Parkinson merupakan salah satu penyakit syaraf yang menyebabkan penderitanya mengalami tremor atau gerakan tak terkendali pada tangan.

“Dobel L masuk dalam daftar obat G atau obat keras. Penggunaannya harus diawasi secara ketat. Bahkan untuk belinya harus dengan resep dokter,” terang Made kepada MVoice, beberapa menit lalu.

Made menjelaskan, dampak Dobel L jika dikonsumsi secara sembarangan dapat memengaruhi susunan saraf penting dalam tubuh dan berdampak halusinasi.

“Efek sampingnya lagi juga mengakibatkan depresi dan perasaan menekan. Padahal bahaya, kok bisa disalahkan gunakan orang yang tak bertanggung jawab,” kata Made heran.

Diakuisisi PO Bagong, Puspa Indah Tinggal Nama

Ratusan karyawan Puspa Indah saat meminta uang konpensasi terhadap perusahaan.(miski)
Ratusan karyawan Puspa Indah saat meminta uang konpensasi terhadap perusahaan.(miski)

MALANGVOICE – PO Bagong resmi mengakuisisi bus Puspa Indah. Puspa Indah melayani trayek Malang-Jombang, Malang-Kediri, dan Malang-Tuban.

Semula, garasi atau tempat parkir kendaraan bus Puspa Indah di daerah Dinoyo atau disamping depan Unisma. Setelah dibeli HM Anton yang tak lain Wali Kota Malang, Puspa Indah pindah ke Jalan Ir Soekarno di Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Ada 60 an lebih armada bus milik Puspa Indah. Satu tahun terakhir hanya 40 an bus yang beroperasi. Hal itu lantaran kehadiran kompetitor, PO Bagong yang beroperasi di jalur sama.

Secara kualitas, Puspa Indah kalah dengan bus Bagong. Selain armadanya baru semua, juga dilengkapi AC. Sedangkan, armada Puspa Indah kendaraan lama non AC, sehingga banyak penumpang beralih menggunakan bus Bagong.

“Sebelumnya, pemasukan ke perusahaan dan karyawan lebih dari cukup. Namun, semenjak ada kompetitor, pemasukan turun drastis,” kata Koordinator karyawan Puspa Indah, Yoyok Sugianto, Rabu (18/1).

Jumlah sopir yang aktif sampai sekarang ada 74 orang, kondektur 76 orang dan 10 orang kernek.

Mereka lantas meminta uang kompensasi ke pemilik Puspa Indah, masing-masing karyawan menginginkan Rp10 juta. Meliputi uang pesangon dan jaminan.

Namun, pemilik menawar setiap karyawan hanya mampu diberi Rp2 juta. Jumlah tersebut dinilai terlalu kecil, mengingat pengabdian dan dedikasi karyawan selama ini.

“Untuk kesehatan ada dari perusahaan. Asuransi jiwa dan lainnya tidak ada, itu kesalahan kita. Apalagi belum ikut serikat pekerja,” lanjut Yoyok.

Baca juga: Karyawan Puspa Indah Tagih Uang Pesangon


Baca juga: Karyawan Puspa Indah Minta Konpensasi Rp10 Tiap orang

Ia tidak tahu pasti tahun berapa Puspa Indah mulai beroperasi. Diperkirakan tahun 1980 an Puspa Indah milik Geovani Hartono ini dijalankan.

“Tahun 1981 sudah ada teman-teman yang kerja, yang jelas karyawan di sini semua bekerja lebih 25 tahun,” jelasnya.

Selepas dari berhenti sebagai kondektur, Yoyok memilih mencari kerja lain. Ia enggan masuk dalam bagian PO Bagong.

“Kalau saya, lebih baik kerja lain. Kalau teman-teman mau gabung ya silahkan. Itu hak mereka, kami di sini hanya berjuang supaya dapat kompensasi dari perusahaan lama,” harap dia.

Hal senada dikemukakan Ali basit. Ia belum memikirkan akan bekerja apa selepas berhenti sebagai sopir.

“Anak-anak saya sudah pada berkeluarga. Mungkin saya di rumah sambil kerja yang ringan. Anak-anak pasti melarang jika saya mencari kerja lagi,” ungkapnya.

Sementara, pemilik PO Puspa Indah enggan dikonfirmasi perihal penjualan perusahaannya. Namun, saat mediasi dengan perwakilan karyawan, perusahaan merugi karena pemasukan lebih kecil daripada uang yang dikeluarkan untuk operasional dan gaji.

“Biaya ganti ban, spare part cukup besar. Sedangkan pemasukan terus turun, alasan perusahaan dijual,” ungkap salah satu pimpinan perusahaan.

Dikonfirmasi terpisah, Pemilik PO Bagong, Hary Susilo, mengaku, tertarik membeli PO Puspa Indah lantaran pemiliknya memilih pensiun.

Hary menepis apabila akuisisi ini dilaukan karena Puspa Indah bangkrut.

“Pak Hartono sudah tua, apalagi tidak ada yang meneruskan usahanya. Makanya kami tertarik, semata-mata menyelematkan perusahaan mitra,” kata dia kepada MVoice.

Hary tidak memberitahu pasti berapa biaya yang dikeluarkan untuk mengakuisisi Puspa Indah.

Nantinya, bus eks Puspa Indah akan menggunakan nama lain di bawah perusahaan baru.

“Masih kami rahasiakan, tapi trayeknya tetap seperti yang lama,” ungkap dia.

Disinggung soal nasib karyawan Puspa Indah, Hary mengaku bukan tanggung jawabnya. Kendati demikian, ia akan memprioritaskan karyawan eks Puspa Indah nantinya.

“Jika ikut mendaftar, kami prioritaskan mereka. Sebisa mungkin karyawan Puspa Indah bekerja dbagi kami,” harap dia.

Dengan tambahan armada ini, tambah Hary, pelayanan bagi masyarakat akan lebih maksimal. Ia pun mengajak masyarakat agar senantiasa memilih kendaraan umum.

“Kami terus berbenah, untuk kenyamanan penumpang. Salah satunya ada fasilitas AC,” pungkas dia.

New Normal Malang Raya Bisa Batal, Ini Alasannya

Wali Kota Malang Sutiaji. (Humas Pemkot Malang)
Wali Kota Malang Sutiaji. (Humas Pemkot Malang)

MALANGVOICE – Skema transisi new normal bisa saja batal diterapkan Pemda Malang Raya, khususnya Kota Malang. Hal itu terjadi apabila masyarakat tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan pencegahan COVID-19.

Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mematok masa adaptasi atau transisi new normal selama 7 (tujuh) hari dan akan dilakukan penilaian atau evaluasi. Namun, menurutnya, apabila tetap saja banyak yang acuh, bersikap mengabaikan dan tidak mau tahu, yang sederhana seperti tidak menggunakan masker. Maka bisa saja semua itu (new normal) dibatalkan.

“Jadi, saya tegaskan ini bukan melonggarkan. Ini justru makin diperketat berkaitan dengan protokol COVID-19. Yang jadi “hope”, harapan kita bersama adalah kita mulai berproses untuk kembali memutar roda ekonomi dan aktivitas sehari – hari secara normal,” jelasnya, Kamis (28/5).

Ia melanjutkan, agar harapan new normal menjadi kenyataan yang baik dan produktif, bergantung pada kedisiplinan masyarakat. Dicontohkannya, disiplin menggunakan masker, disiplin untuk mengambil jarak (physical distancing) dalam beraktivitas, disiplin mencuci tangan dengan sabun, disiplin beraktivitas olahraga dan berjemur dan setiap tempat usaha, tempat kerja, bisnis dan perdagangan melengkapi dengan standar protokol COVID-19.

“Ini lah saatnya menunjukkan antara keinginan dengan komitmen kedisiplinan dapat bergerak seiringan. Karena selama ini kami terus mendengarkan keluh kesah warga karena tidak dapat berusaha, pendapatan yang terus menurun serta yang lainnya karena tidak dapat beraktivitas,” sambung politisi Demokrat ini.

Wali Kota Sutiaji menegaskan kembali, jika masyarakat menginginkan kembali beraktivitas normal, maka penting harus diimbangi dengan kepatuhan dan kedisiplinan tentang protokol kesehatan tersebut.

“Aspek monitoring dan operasi penindakan di lapangan juga akan tetap dilakukan. Karena itu juga akan jadi tolok ukur sampai sejauh mana kesadaran masyarakat telah terbangun dan jadi habbit (kebiasaan),” pungkasnya.

Sekadar informasi, Menteri Kesehatan (Menkes) telah mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK. 01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi. Memberikan panduan saat kembali bekerja pasca Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), antara lain :
1. Bagi Tempat Kerja
a. Pihak manajemen/Tim Penanganan COVID-19 di tempat kerja selalu memperhatikan informasi terkini serta himbauan dan instruksi Pemerintah Pusat dan Daerah terkait COVID-19 di wilayahnya, serta memperbaharui kebijakan dan prosedur terkait COVID-19 di tempat kerja sesuai dengan perkembangan.
b. Mewajibkan semua pekerja menggunakan masker selama di tempat kerja, selama perjalanan dari dan ke tempat kerja serta setiap keluar rumah.
c. Larangan masuk kerja bagi pekerja, tamu/pengunjung yang memiliki gejala demam/nyeri tenggorokan/batuk/pilek/sesak nafas. Berikan kelonggaran aturan perusahaan tentang kewajiban menunjukkan surat keterangan sakit.
d. Jika pekerja harus menjalankan karantina/isolasi mandiri agar hak-haknya tetap diberikan.
e. Menyediakan area/ruangan tersendiri untuk observasi pekerja yang ditemukan gejala saat dilakukan skrining.
f. Pada kondisi tertentu jika diperlukan, tempat kerja yang memiliki sumber daya dapat memfasilitasi tempat karantina/isolasi mandiri.

Menkes juga mengeluarkan SE Nomor : HK.02.01/MENKES/335/2020 tentang Protokol Pencegahan Penularan Covid 19 di Tempat Kerja Sektor Jasa dan Perdagangan (Area Publik) dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha, dengan poin antara lain :
Bagi Pengurus atau Pengelola Tempat Kerja/Pelaku Usaha pada Sektor Jasa dan Perdagangan (Area Publik) untuk :
a. Melakukan pembersihan dan disinfeksi secara berkala di area kerja dan area publik (mendisinfeksi fasilitas umum yang sering disentuh publik setiap 4 jam sekali).
b. Menyediakan fasilitas cuci tangan yang memadai dan mudah diakses oleh pekerja dan konsumen/pelaku usaha.
c. Pastikan pekerja memahami perlindungan diri dari penularan COVID-19 dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
d. Melakukan pengecekan suhu badan bagi seluruh pekerja sebelum mulai bekerja dan konsumen/pelaku usaha di pintu masuk. Jika ditemukan pekerja dengan suhu >37,30C (2 kali pemeriksaan dengan jarak 5 menit), tidak diperkenankan masuk dan diminta untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.
e. Mewajibkan pekerja dan pengunjung menggunakan masker.
f. Memasang media informasi untuk mengingatkan pekerja, pelaku usaha,pelanggan/konsumen dan pengunjung agar mengikuti ketentuan pembatasan jarak fisik dan mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir/handsanitizer dan menggunakan masker
g. Melakukan pembatasan jarak fisik minimal 1 meter:

1) Memberikan tanda khusus yang ditempatkan di lantai area padat pekerja seperti ruang ganti, lift, dan area lain sebagai pembatas jarak antar pekerja.
2) Pengaturan jumlah pekerja yang masuk agar memudahkan penerapan menjaga jarak.
3) Pengaturan meja kerja, tempat duduk dengan jarak minimal 1 meter.

h. Melakukan upaya untuk meminimalkan kontak dengan pelanggan:
1) Menggunakan pembatas/partisi (misalnya flexy glass) di meja atau counter sebagai perlindungan tambahan untuk pekerja (kasir, customer service dan lain-lain).
2) Mendorong penggunaan metode pembayaran non tunai (tanpa kontak dan tanpa alat bersama).

i. Mencegah kerumunan pelanggan, dapat dilakukan dengan cara:
1) Mengontrol jumlah pelaku usaha/pelanggan yang dapat masuk kesarana ritel untuk membatasi akses dan menghindari kerumunan.
2) Menerapkan sistem antrian di pintu masuk dan menjaga jarak minimal 1 meter.
3) Memberikan tanda di lantai untuk memfasilitasi kepatuhan jarak fisik, khususnya di daerah yang paling ramai, seperti kasir dan customer service.
4) Menerima pesanan secara daring atau melalui telepon untuk meminimalkan pertemuan langsung dengan pelanggan. Jika memungkinkan, dapat menyediakan layanan pesan antar (delivery services) atau dibawa pulang secara langsung (take away).
5) Menetapkan jam layanan, sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan pemerintah daerah setempat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.(der)

Satu Suspect Corona di Kabupaten Malang Meninggal Dunia

Kadinkes Pemkab Malang, Arbani Mukti Wibowo. (Istimewa).
Kadinkes Pemkab Malang, Arbani Mukti Wibowo. (Istimewa).

MALANGVOICE – Satu dari tiga orang di Kabupaten Malang terindikasi terpapar (Suspect) virus corona atau Covid-19, telah meninggal dunia.

“Benar, dari laporan tim kami dilapangan, satu orang masuk suspect Corona adalah warga Dau, dan telah meninggal dunia. Sedangkan dua orang lainnya warga Singosari. Dua orang itu, saat ini masih dirawat disebuah rumah sakit di Kota Malang,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, Arbani Mukti Wibowo, saat ditemui awak media di sela-sela kegiatan Rakor Percepatan Penanganan virus Corona, di RSUD Kanjuruhan, Senin (16/3).

Menurut Arbani, untuk warga Dau yang meninggal setelah dinyatakan Suspect COVID-19 tersebut, penyebab utamanya karena punya riwayat sakit lain yang sudah kronis.

“Satu orang yang meninggal dunia ini, dari Jogja. Itu ada mertuanya kalau nggak salah, itu habis seminar di Jogja, yang bersangkutan juga punya penyakit bawaan, kemudian pulang ke Malang. Kemudian yang bersangkutan sakit sesak nafas, dirujuk ke RSSA dan diambil sample spesimennya, kemudian saat dalam proses pemeriksaan di Jakarta, kemudian yang bersangkutan meninggal dunia, tapi bukan karena virus Corona nya. Pada saat sudah meninggal, hasil spesimennya keluar, dan yang bersangkutan dinyatakan negatif,” jelasnya.

Akan tetapi, lanjut Arbani, usai orang tersebut meninggal, ternyata penyakitnya menular kepada sang menantunya.

“Tapi di sisi lain menular kepada anak, menantunya. Profesinya kami tidak tahu, tapi yang jelas itu warga Dau. Memang satu keluarga disitu,” tegasnya.

Sedangkan, tambah Arbani, untuk wilayah Kabupaten Malang, secara keseluruhan, sementara ini jumlah orang dalam pantauan (ODP) Covid-19 sebanyak 90 orang. Sedang 2 orang warga Kabupaten Malang, masuk fase pasien dengan pemantauan (PDP) Covid-19.

“Kemarin sempat ramai, jika ada warga Donomulyo yang terpapar COVID-19, itu tidak benar dan tidak terpapar sama sekali. Saat ini sudah sehat dan sudah masuk karantina. Memang benar majikannya di Taiwan terkena Corona. Tapi yang bersangkutan dinyatakan sehat,” pungkasnya.(Hmz/Aka)

Seorang Pengguna Jalan Dikeroyok Oknum Aremania

Postingan warga atas pengendara jalan yang dikeroyok oknum Aremania dan Korban pengeroyokan oknum Aremania, Wahyu Widayanto, usai mendapat perawatan medis di Rumah Sakit Teja Husada.(ist)

MALANGVOICE – Perilaku tidak terpuji dilakukan Aremania yang ikut serta napak tilas Arema, Minggu (19/3). Seorang pengendara sepeda motor terluka setelah dikeroyok oknum Aremania.

Korban atas nama Wahyu Widayanto warga Kelurahan Ngaglik, Kota Batu. Wahyu menderita luka cukup parah dibagian wajahnya. Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Teja Husada, Kepanjen, sebelum dibawa pulang.

Teman korban, Sugik Fuad, menceritakan, semula ia bersama korban dua teman lain habis menghadiri ulang tahun Malang Rider King Community (MRKC) di Stadion Kanjuruhan. Sesampainya di Jalan Panglima Sudirman, Kepanjen, atau pas di depan mini market, korban berhenti dan memilih menepi setelah iring-iringan Aremania melaju dari arah Malang.

Oknum Aremania yang mengendarai sepeda motor menanyakan maksud korban yang melihat iring-iringan.

“Opo” tanya oknum Aremania itu. Sama korban lantas dijawab “Tidak ada apa-apa mas, kita sama-sama Arema, saya orang Batu,” kata Sugik menirukan perkataan temannya.

Kemudian korban dipukul oleh oknum tersebut beserta teman-temannya. Sugik sempat berusaha melerai, namun, ada teriakan ‘ini Bonek’ sehingga Aremania di atas mobil turun dan ikut memukuli dirinya dan korban.

“Saya tidak apa-apa, teman saya yang lukanya cukup parah. Banyak tadi yang ikut mukul. Teman saya bahkan diseret beberapa meter, sepedanya juga dirusak,” ungkap dia.

Kejadian tersebut sebenarnya diketahui warga sekitar, tapi tidak ada satupun yang turut melerai.

“Setelah dikeroyok, baru kami dibantu warga. Setelah itu, baru kami ke rumah sakit terdekat,” jelas dia.

Ia bersama temannya melaporkan kejadian tersebut ke Polres Malang.

Sugik berharap kejadian ini dapat diproses secara hukum. Agar ada efek jera atas perbuatan oknum Aremania.

“Teman yang lain masih di Polres. Korban sudah dibawa pulang, digonceng pakai sepeda motor,” akunya di Rumah Sakit Teja Husada.

Pengeroyokan itu juga diunggah di media sosial Facebook.

Disuruh Bayar Rp 15 Ribu, Penumpang Angkot Lapor Polisi

Panit Reskrim Polsek Lowokwaru, Iptu Didik Arifianto. (deny)
Panit Reskrim Polsek Lowokwaru, Iptu Didik Arifianto. (deny)

MALANGVOICE – Baru sehari beroperasi usai mogok jalan, angkot konvensional mendapat pengaduan dari masyarakat.

Seorang pria berinisial SW, mengadukan sopir angkot ADL yang berperilaku seenaknya ke Polsek Lowokwaru. Betapa tidak, ia harus membayar Rp 15 ribu dalam sekali jalan.

Panit Reskrim Polsek Lowokwaru, Iptu Didik Arifianto, menceritakan kejadian itu. SW awalnya menaiki angkot jurusan ADL dari Arjosari dan duduk di samping sopir. Saat di Jalan A Yani, ada satu penumpang yang turun dan hendak membayar.

Karena uang yang diberikan Rp 50 ribu, sopir bilang tak punya kembalian dan SW menawarkan kebaikan dengan membayari penumpang itu.

“Pelapor bilang juga kalau sopir itu tidak berjalan sesuai jalur dan berputar arah. Padahal pelapor ingin turun di Jalan Veteran,” katanya.

SW akhirnya mengalah dan turun di Jalan Sumbersari tepatnya di depan UIN Malang. Saat hendak membayar pelapor kaget karena ditarik harga Rp 15 ribu per orang sehingga ia merogoh kocek Rp 30 ribu.

Menindak lanjuti hal itu, polisi akan mengusut tuntas. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan ketua jalur dan Dishub Kota Malang.

“Bisa jadi ada pemerasan. Sementara ini sifatnya masih pengaduan karena masih diselidiki apa ada unsur pidana atau tidak,” tegasnya.

15 Wisatawan Terseret Ombak Pantai Malang Selatan, Dua Sempat Kritis

Petugas saat mengevakuasi korban. (Istimewa/PB PMI Kabupaten Malang).
Petugas saat mengevakuasi korban. (Istimewa/PB PMI Kabupaten Malang).

MALANGVOICE – Sebanyak 15 wisatawan diterjang derasnya ombak pantai Balekambang, Bantur, Kabupaten Malang, Sabtu (8/2).

Kapolsek Bantur AKP Nuryono mengatakan, kejadian terseretnya belasan pengunjung pantai Balekambang ini terjadi sekitar pukul 07.00 WIB, tadi pagi.

”Dalam kejadian tersebut, 13 orang berhasil menyelamatkan diri, dua orang lainnya sempat dinyatakan hilang terseret arus,” ungkapnya.

Kedua wisatawan tersebut, lanjut Nuryono, diketahui bernama Hasan warga Balikpapan, Kalimantan Timur Dan Kiki warga asli Jember.

“Kedua korban datang di Pantai Balekambang dengan 20 temannya. Rombongan mahasiswa dari Kediri tersebut tiba di pantai Balekambang pada Sabtu (8/2) dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB, dengan mengendarai 3 mobil,” jelasnya.

Setelah itu, tambah Nuryano, sekitar pukul 06.30 WIb, 15 orang memilih untuk bermain air di bibir pantai. Nahas, tidak berselang lama kemudian ombak tinggi menerjang 15 orang mahasiswa tersebut.

“Setelah terjangan ombak itu, mereka baru sadar jika 2 orang temannya hilang, mereka akhirnya melaporkan ke petugas penjaga pantai sebelum akhirnya dilanjutkan ke kepolisian,” terangnya.

Sementara itu, Kasubsi PB PMI Kabupaten Malang, Mudji Utomo mengatakan, Petugas gabungan dari penjaga pantai, Muspika Kecamatan Bantur, petugas perhutani, PMI (Palang Merah Indonesia) Kabupaten Malang, Polsek Bantur, tim SAR, dan dibantu pengunjung serta warga setempat berupaya mencari keberadaan korban yang hilang, dan berhasil menemukan dua orang tersebut, meski dalam keadaan sempat kritis

“Pencarian hingga melibatkan satu unit perahu speed milik nelayan Kondang Merak dikerahkan. Selang waktu sekitar setengah jam kemudian, kedua korban ditemukan tidak jauh dari lokasi korban terseret ombak. Yakni di koordinat S 8°40′ 39″ E112°53’95”,” terang pria yang akrab disapa Mbah Tomo.

Setelah ditemukan, lanjut Mbah Tomo, kedua korban tersebut langsung diberi pertolongan pertama oleh petugas. Namun, untuk memastikan kondisi korban sempat dibawa ke Puskesmas Bantur, dan dilarikan ke RSSA (Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang) karena dalam kondisi kritis.

“Saat ini kondisi kedua korban berangsur mulai membaik. Kasusnya saat ini masih ditangani Polairud Polres Malang,” pungkasnya.(Der/Aka)

Dinkes Sarankan Masyarakat Kurangi Konsumsi Nasi

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Asih Tri Rachmi Nuswantari. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Berdasarkan hasil konsultasi dan cek kesehatan gratis yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang beberapa waktu lalu, ternyata kadar gula dan tekanan darah masyarakat Kota Malang cenderung tinggi. Hal itu dikarenakan pola makan tidak sehat dan tidak seimbang.

Menurut Kepala Dinkes Kota Malang, Dr dr Asih Tri Rachmi Nuswantari MM, selama ini nasi selalu jadi dominasi dalam asupan makanan sehari-hari. Pagi nasi, siang nasi, malam pun masih nasi. Padahal, Rachmi menyebut kandungan karbohidrat nasi sangatlah tinggi. Makan banyak nasi tidak dibenarkan.

“Makan nasi terlalu banyak itu tidak baik, karena malah merugikan tubuh. Karbohidrat itu diubah menjadi trigliserida, lemak jahat,” paparnya saat dihubungi awak media.

Asih menyarankan masyarakat mulai rajin makan sayur lebih banyak. Bukan hanya orang dewasa saja, bayi dan anak-anak juga harus terbiasa makan sayur. Selain sayur ada beberapa pilihan makanan yang bisa menggantikan nasi.

Oetmal misalnya, adalah salah satu jenis gandum yang dapat membantu mengurangi lemak dan kolesterol. Oatmeal bisa dikobinasikan dengan berbagai macam makanan dan buah seperti pisang atau susu. Oatmeal juga bisa membuat kenyang lebih lama.

Selain itu bisa dicoba kentang, yang tidak mengandung banyak karbohidrat. Di dalamnya terdapat pati, vitamin E, vitamin K, vitamin B, vitamin C, zat besi, magnesium dan seng. Rutin mengonsumsi kentang bisa meningkatkan fungsi otak, menutrisi kulit, dan menurunkan tekanan darah. Pengganti lainnya adalah ubi jalar. Ubi jalar memiliki rendah lemak dan kalori. Mengonsumsi ubi jalar dapat melancarkan pencernan dan meningkatkan stamina. (Der/Ulm)