Apa Kabar Kasus Korupsi di Perguruan Tinggi Malang?

korupsi (anja)
korupsi (anja)

MALANGVOICE – Dalam 5 tahun terakhir, ditemukan beberapa kasus korupsi yang berhasil terpantau dan melibatkan civitas akademika dari perguruan tinggi swasta maupun negeri. Hingga 2016, beberapa kasus korupsi yang merugikan negara miliaran rupiah itu mangkrak belum ada kejelasan

1. Korupsi Pengadaan Lahan UIN

Dugaan kasus korupsi ini sudah mencuat ke permukaan sejak tahun 2008. Namun masih menjadi obrolan hangat saat ini.

Mantan Rektor UIN Malang, Imam Suprayogo ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan lahan kampus II UIN Maliki. Dalam kasus ini diperkirakan ada kerugian uang negara sebesar Rp 6,8 miliar.

Kasus korupsi itu bermula dari rencana membangun kampus II di Desa Tlekung dan Desa Junrejo, Kota Batu. Pihak kampus mendapat dana dari pemerintah pusat sebesar Rp 12 miliar pada tahun anggaran 2008 untuk pengadaan lahan seluas 11 hektare.

Hasil penyelidikan Kejari Malang, terdapat mark up harga hingga penggelapan dana pembebasan lahan. Penyelidikan juga menyebutkan ada aliran uang ke rekening sejumlah pihak.

Empat terdakwa dalam kasus yang sama, sudah divonis di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yakni, Yunus dan Samsul Huda (divonis terlebih dahulu), DR. Jamalul Lail selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPKm) dan Muslih Heri selaku anggota Panitia Pengadaan, divonis pada, Senin 24 Nopember 2014.

Tetapi, hingga sekarang, status Imam Suprayogo tidak ada kejelasan.

2. Korupsi Dana Hibah Unikama

Kasus ini bermula ketika Unikama mendapat dana hibah Dikti tahun 2008 sebesar Rp 3 miliar. Dana itu dengan rincian, sebesar Rp 2,3 miliar digunakan untuk pembangunan gedung serbaguna multikultural.

Sedangkan Rp 700 juta untuk pengembangan SDM dan administrasi. Tetapi, pada kenyataannya, gedung itu sudah jadi jauh sebelum proposal diajukan. Oleh karena itu, timbul dugaan penyelewengan dana hibah dan menimbulkan kerugian negara.

Ada 9 nama pejabat yang diduga memakai dana hibah itu. Empat orang yang sebelumnya sudah ditetapkan menjadi tersangka di antaranya, ada Sasongko yang menerima Rp 157 juta, Fifa yang diduga menerima uang Rp 2,5 juta saat menjadi bendahara, kemudian pihak ketiga yaitu PT Andriani Putri Karend yang mendapat fee sebesar Rp 11 juta dan Parjito yang menerima sebesar Rp 4 juta.

Saat ini, empat orang itu sudah ada yang sudah divonis dan banding, ada yang masih berstatus tahanan. Namun sudah ditetapkan sebagai tersangka.

3. Korupsi Dana Laboratorium FMIPA UM

Kasus dugaan korupsi proyek pengadaan alat laboratorium F-MIPA (FAkultas Matematika dan IPA) di Universitas Negeri Malang (UM) disidik Kejati Jatim sejak Januari lalu. Proyek ini dibiayai dari APBN 2009 sebesar Rp 44 miliar. Menjadi masalah karena terjadi mark-up pada realisasinya.

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jatim telah menyerahkan laporan hasil audit kerugian negara kasus UM ke Kejati. Berdasarkan hasil audit BPKP, kerugian negara kasus UM sebesar Rp 14,9 miliar.

Belasan miliar kerugian tersebut diduga kuat hasil dari penggelembungan harga pokok satuan (HPS) barang dari total dana proyek Rp 44 miliar yang berasal dari APBN 2009.

Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Surabaya menjatuhkan vonis bersalah terhadap tiga dosen dalam kasus ini. Keputusan itu diketok dalam sidang 2013 lalu.

Ketiga terpidana itu adalah pejabat pembuat komitmen Universitas Negeri Malang dalam pengadaan alat laboratorium di FMIPA, Handoyo; ketua panitia, Abdullah Fuad; dan sekretaris panitia, Sutoyo. Ketiganya dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Pemberantasan korupsi merupakan gerakan nasional yang harus diupayakan dengan serius oleh lembaga penegak hukum dan Kejaksaan Negeri mempunyai peran penting di dalamnya.

Oleh karena itu, kejaksaan Negeri Malang harus upaya pemberantasan korupsi sesuai dengan mandatnya. Jika tidak, maka sama halnya Kejaksaan Negeri Malang menjadi bagian permasalahan bangsa. ,

Kota Batu Krisis Pohon, 250 Pohon Ditebang Selama Tahun 2016

Petugas BPBD menebang pohon angsana yang dinilai rawan tumbang di Jalan Pattimura.(miski)
Petugas BPBD menebang pohon angsana yang dinilai rawan tumbang di Jalan Pattimura.(miski)

MALANGVOICE – Penebangan pohon di sempadan jalan selama 2016 di Kota Batu cukup tinggi. BPBD telah menebang 250 pohon. Menyebar di beberapa jalan, seperti Jalan Panglima Sudirman, Diponegoro, Pattimura, Ir Soekarno, Dewi Sartika dan Sultan Agung.

Penebangan dalam upaya mengantisipasi pohon tumbang, mengingat pohon angsana tertanam di sempadan jalan utama di Kota Batu banyak yang rapuh dan mati. Belum ada data pasti berapa pohon di sempadan jalan yang masuk kategori membahayakan.

Sama halnya dengan faktor penyebab pohon mati dan layak ditebang. Spekulasi petugas kebanyakan karena disebabkan penyakit, tapi tidak sedikit yang mati disengaja oleh oknum. BPBD tidak memiliki tim ahli untuk mengidentifikasi penyebab pasti pohon.

Sebelum penebangan, terlebih dahulu ada tim survei yang diterjunkan. Baik dari BPBD, Kantor Lingkungan Hidup dan Bina Marga Provinsi (apabila masuk jalan provinsi).

“Prioritas penanggulangan bencana adalah manusianya dulu,” kata Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik, Ach Rochim.

Rajinnya petugas BPBD menebang pohon tidak diiringi dengan penghijauan atau penanaman kembali. Tak heran banyak masyarakat mengeluhkan Kota Batu tidak sedingin beberapa tahun lalu. Ditambah tingginya bencana banjir sepanjang tahun, kurangnya daerah resapan dan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Hal tersebut diakui Rochim, pihaknya bisa saja melakukan rehabilitasi ulang. Namun, sesuai tugas pokok dan fungsi, KLH yang lebih berwenang. Bahkan, pihaknya mengusulkan semua SKPD bersama-sama menanam ulang.

Usulan lain, sempadan jalan ditata lebih baik. Tidak sekadar ditanam pohon angsana dan jenis lainnya. Tujuannya, mendukung Kota Batu sebagai kota wisata.

“Secara estetika, lebih bagus, indah dan nyaman dilihat sepanjang jalan, tapi tidak sampai berkurang kawasan hijaunya,” usulnya.

Satu Tahun, Dua Pesawat Militer Jatuh di Malang

Jenazah korban C-130 Hercules A1334 saat tiba di Skadron Udara 32, beberapa waktu lalu (Tika)
Jenazah korban C-130 Hercules A1334 saat tiba di Skadron Udara 32, beberapa waktu lalu (Tika)

MALANGVOICE – Bisa dikatakan, 2016 menjadi tahun yang kelam bagi dunia penerbangan di Lanud Abdulrahman Saleh.

Pasalnya, dua pesawat militer dari Lanud mengalami kecelakaan yang menyebabkan total korban meninggal sebanyak 17 orang.

Kejadian memilukan pertama tanggal 10 Februari 2016 pukul 10.09. Saat itu pesawat Super Tucano TT 3108 yang diterbangkan oleh Mayor (Pnb) Ivy Safatillah dan kopilot, Serma Syaiful Arief Rahman melakukan flight test.

Pesawat jatuh di perumahan padat penduduk, Jalan LA Sucipto gang XII. Menimpa salah satu rumah yang mengakibatkan pemiliknya, Erma Wahyuningtyas (47) dan penghuni kos, Nurcholis (27) serta meluluh lantakkan rumah itu.

Pesawat jatuh dengan posisi vertikal dan menghujam tanah. Tubuh pilot terlontar beberapa kilometer dari Tucano dan ditemukan di areal persawahan di Singosari. Sementara tubuh Serma Syaiful di dalam kockpit pesawat.

Pesawat tempur taktis produksi Embraer Defence and Security Brazil ini melakukan tes terbang setelah menjalani perawatan rutin 300 jam terbang.

Pesawat lepas landas dari landasan pacu pukul 09.25. Pukul 09.59 menara kontrol kehilangan komunikasi dengan pesawat. Diperkirakan, Tucano jatuh 10 menit setelah kehilangan komunikasi.

Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal Agus Supriatna waktu itu menjelaskan, tes terbang dilaksanakan di ketinggian 25 ribu kaki untuk mencari kecepatan point 56 match number.

Kemudian, turun di ketinggian 15 ribu kaki, pilot berkomunikasi dengan menara kontrol mengenai performance pesawat.

Kejadian kedua, penghujung tahun, pesawat C-130 Hercules A1334 yang terbang ke Wamena jatuh pada Minggu (18/12).

Pesawat ini diterbangkan oleh Mayor (Pnb) Marlon Ardilles Kawer beserta dengan 11 kru lainnya dan seorang penumpang atas nama Kapten (Lek) Rino.

Pesawat yang tengah menjalani misi navigasi exercise ini hilang kontak pada pukul 06.09 WIT. Sebelum hilang kontak, alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang didapatkan dengan mekanisme hibah dari Royal Australian Air Force (RAAF) ini tower inside (terlihat secara manual) akan landing di Runway 33 pada pukul 06.08.

Naas, satu menit kemudian hilang kontak. Dikabarkan menabrak Gunung Tugima. Kejadian ini menewaskan semua kru dan penumpang.

Komandan Lanud Abdulrahman Saleh, Marsma TNI Julexi Tambayong menjelaskan, dia sudah memiliki program unggulan untuk mencegah kecelakaan terbang.

“Saya memiliki program zero accident. Kita tingkatkan semua performance baik sumber daya manusia (SDM) atau peralatannya,” kata dia saat ditemui di Lanud ketika pelaksanaan upacara passing in and out bersama mantan Danlanud, Marsma TNI Djoko Senoputro, belum lama ini.

98 Bencana Terjadi di Kota Batu, Didominasi Tanah Longsor

Bagan bencana yang terjadi di Kota Batu dalam satu tahun. Data belum termasuk di bulan Desember.(Miski)
Bagan bencana yang terjadi di Kota Batu dalam satu tahun. Data belum termasuk di bulan Desember.(Miski)

MALANGVOICE – Tahun 2016 menjadi amat sulit bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Batu. Petugas disibukkan dengan maraknya bencana yang terjadi. Sebanyak 98 bencana selama satu tahun. Naik 300 persen dari 2015 atau ada 30 kejadian.

Bencana tanah longsor paling sering, yakni 53 kali kejadian. Diikuti banjir 10 kali, angin kencang 5 kali, dan tanah ambles 3 kali, serta 6 kali musibah. Dua orang meninggal dunia (karena musibah bukan bencana) dan satu orang luka parah, dan luka ringan. Kerugian tercatat mencapai Rp3 miliar selama setahun.

Tingginya bencana longsor dan banjir tidak terlepas dari cuaca ekstrem atau fenomena La Nina yang terjadi di 2016. Sebaliknya, 2015 terjadi fenomena El Nino.

Bencana longsor terparah mengakibatkan jalan penghubung antar Dusun Jantur-Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Selasa (15/11) dan putus total pada Rabu (16/12) pagi. Akibat derasnya hujan yang berlangsung lima jam. Kerugian ditaksir sekitar Rp200 juta, sehingga warga Dusun Brau menggunakan jalan lain untuk aktivitas setiap hari.

Bencana longsor memutus total jalan Dusun Jantur-Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kota Batu.(Miski)
Bencana longsor memutus total jalan Dusun Jantur-Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kota Batu.(Miski)

Selanjutnya, jalan penghubung Payung, Songgoriti-Pujon kerap lumpuh setelah diterjang bencana longsor. Terhitung lebih tiga kali longsor terjadi sepanjang jalan utama ini. BPBD kemudian menetapkan kawasan Payung salah satu daerah rawan longsor.

Bencana bahkan terjadi dalam waktu bersamaan. Tepatnya pada Kamis (27/10). Lima kejadian bencana berlangsung bersamaan usai hujan deras disertai angin menghantam Kota Batu.

Meliputi, pohon dan tiang lampu roboh diterjang angin, air dari drainase meluap dan menggenangi 4 rumah warga, satu mobil dinas SKPD bagian kaca depan rusak setelah kejatuahan genting bangunan, dan puting beliung mengakibatkan ruang kelas MI Darul Hikam, Desa Torongrejo dan empat rumah warga Desa Pesanggrahan rusak.

Bencana longsor mengakibatkan rumah warga di Desa Gunungsari rusak parah. (Dokumen/Miski)
Bencana longsor mengakibatkan rumah warga di Desa Gunungsari rusak parah. (Dokumen/Miski)

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik, Ach Rochim, mengakui tahun ini amat menyibukkan. Tidak dipungkiri bencana setiap tahun pasti terjadi, namun untuk meminimalisir korban jiwa pihaknya memiliki beberapa strategi menyambut tahun 2017.

“Pencegahan dan kesiapsiagaan. Optimalkan pengurangan risiko dan mitigasi bencana,” kata dia saat berbicang dengan Mvoice.

Keterlibatan masyarakat dinilai sangat penting dalam kesiapsiagaan dan mengurangi risiko bencana. Pengetahuan akan bencana dan langkah-langkahnya patut disebarluaskan. Edukasi bencana juga telah dilakukan ke sekolah-sekolah.

“Bencana tidak bisa ditolak, tapi pengurangan risiko dapat dilakukan. Setidaknya, saat bencana terjadi, warga bisa melakukan langkah-langkah tepat,” jelasnya.

Libur Panjang, Truk Dilarang Masuk Kota Malang

Kemacetan jadi suasana sehari-hari di Malang ketika libur panjang.
Kemacetan jadi suasana sehari-hari di Malang ketika libur panjang.

MALANGVOICE – Kendaraan angkutan barang berupa truk besar dilarang masuk Kota Malang. Kebijakan ini diberlakukan untuk mengantisipasi kemacetan selama libur panjang Natal dan tahun baru.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, Kusnadi, menyebut, peraturan itu sudah diberlakukan sejak H-7 Natal. “Berlaku sampai H+7 setelah tahun baru 2017 nanti. Seharian penuh, untuk mengurangi kemacetan. Nanti kami alihkan ke Jalan Tenaga, bisa bongkar muat di sana,” ungkap Kusnadi.

Dikatakannya, aturan ini berlaku sepanjang
hari bagi kendaraan besar, kecuali truk yang membawa kebutuhan pokok masyarakat. Kusnadi menegaskan, petugas Dishub bersiaga untuk mengawal kebijakan ini.

Jika ditemukan truk yang nekat masuk ke Kota Malang, petugas segan memberhentikan. “Kami akan meminta agar dilakukan bongkar muat,” katanya.

Mantan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi ini mengaku sudah ada sosialisasi kepada para pengusaha angkutan barang. Dia mengklaim, secara umum para pengusaha amat memahami dan mendukung.

“Karena saat macet, mereka kan juga merugi. Jadi kebijakan ini cukup baik untuk semua pihak. Saya juga berharap agar masyarakat mematuhi aturan lalu lintas dan menghormati pengendara lain, mudah-mudahan tidak ada kecelakaan selama libur panjang ini,” tandasnya.

Urai Kemacetan di Kota Malang, Puluhan Personel Dishub Dikerahkan

Kemacetan jadi suasana sehari-hari di Malang ketika libur panjang.
Kemacetan jadi suasana sehari-hari di Malang ketika libur panjang.

MALANGVOICE – Kemacetan di Kota Malang sudah jadi suasana sehari-hari ketika momen libur panjang. Kondisi ini juga berpotensi terjadi selama libur perayaan Natal dan tahun baru akhir 2016 ini.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, Kusnadi, sudah melihat adanya ancaman itu. “Bagi kami hal semacam ini (macet) sudah biasa. Rutin saja, karena Kota Malang sudah sering mengalami dan mengantisipasi lonjakan arus kendaraan yang
masuk saat libur panjang tiba,” paparnya.

Menurutnya, rutinitas itu merupakan tanggung jawab semua pihak. Karena itu, Dishub sudah berkoordinasi, terutana dengan Satlantas Polres Malang Kota untuk mengatasi macet.

Dia menyebut, sedikitnya 60 personel Dishub dikerahkan di sejumlah titik rawan kemacetan serta pintu keluar-masuk Kota Malang. “Kami membantu kepolisian mengatur arus lalu lintas,” tuturnya.

Mantan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi itu menambahkan, para petugas Dishub diprioritaskan pada titik-titik tertentu. Ada enam titik yang menurut Kusnadi perlu mendapat perhatian lebih, mengingat pengalaman tahun-tahun sebelumnya selalu mengalami kepadatan.

“Ada di gerbang masuk kota Malang di daerah Arjosari, di pusat keramaian seperti Pasar Besar, Perempatan Kayutangan, Jalan Borobudur, Jalan Soekarno-Hatta, dan Pertigaan Dinoyo,” pungkasnya.

Ini Lho, Solusi Macet di Kota Malang Menurut Pakar

Agus Dwi menunjukkan konsep ring road. (Anja)
Agus Dwi menunjukkan konsep ring road. (Anja)

MALANGVOICE – Memacetan yang sering terjadi beberapa titik sangat meresahkan warga Malang Raya. Membludaknya volume arus kendaraan yang tak diimbangi dengan kapasitas infrastruktur jalan adalah penyebab utama kemacetan.

Demikian, menurut pakar perencanaan wilayah kota bidang transportasi Dr Ir Agus Dwi Wicaksono lic rer reg, kemacetan bisa diselesaikan.

Menurutnya, sejak awal, penataan struktur Kota Malang terutama akses jalan masih tergolong kurang. Itulah kenapa, menurut dia, perlu dilakukan restrukturisasi kota dengan membangun jalan-jalan baru yang bisa menghubungkan wilayah-wilayah tertentu ke pusat kota.

Menurutnya, konsep ring road (jalan lingkar) bisa diimplementasikan di Kota Malang. Dengan adanya ring road kepadatan kendaraan di pusat kota bisa dikurangi, terutama kepadatan akibat para pengendara / pelintas antar kota.

Dengan adanya Ring Road para pelintas antar kota tadi tidak perlu melewati pusat kota tapi hanya melewati pinggiran kota. Atau pelintas dalam kota juga tidak harus melewati jalan utama, namun bisa memilih jalur lain . Sehingga kemacetan di pusat kota bisa berkurang.

“Jogja adalah contoh bagus pemanfaatan ring road,” katanya.

Selain itu, arus kepadatan lalu lintas bisa dikurangi dengan menekan kebutuhan penggunaan mobil pribadi. Salah satu caranya adalah memperbaiki pelayanan angkutan umum dan aksesnya.

“Malah bukan angkutan umum lagi, tapi harusnya angkutan massal. Buatlah masyarakat menemui pilihan bagus ketika naik angkutan umum, lebih nyaman, murah dan fleksible,” tukas pria lulusan salah satu universitas di Jerman ini.

Mengapa Malang Macet? Ini Komentar Pakar Transportasi…

Agus Dwi Wicaksono (anja)
Agus Dwi Wicaksono (anja)

MALANGVOICE – Kemacetan disebabkan kurangnya infrastruktur? Atau indisipliner pengguna jalan? Atau kekurangan transportasi umum yang nyaman dan efektif?

Jika membahas soal macet di Kota Malang, maka ada dua faktor utama yang harus diperhatikan. Menurut pakar perencanaan wilayah kota bidang transportasi, Dr Ir Agus Dwi Wicaksono, kemacetan disebabkan dua hal pokok, yaitu volume dan kapasitas.

Faktor volume berkaitan dengan arus kendaraan. Setiap tahun, pertumbuhan kendaraan seperti mobil dan sepeda motor lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan jalan yang tersedia. Menurutnya, masyarakat cenderung memilih kendaraan pribadi karena lebih fleksible, cepat dan nyaman.

“Transportasi umum dianggap kurang memberikan kenyaman, tidak fleksible juga. Maka pantas saja kalau masyarakat beralih ke kendaraan pribadi,” paparnya saat ditemui MVoice di kantornya.

Selain itu pada jalan-jalan tertentu seperti Soekarno Hatta, contohnya, sering macet karena banyaknya arus. Arus dibedakan menjadi dua macam, arus lokal dan arus menerus. Arus lokal artinya kendaran yang lewat di jalan itu memang memiliki tujuan di suatu tempat disekitar jalan itu. Sedang arus menerus, adalah kendaraan yang lewat ke suatu tempat namun harus melewati Suhat terlebih dahulu. Misal, dari pasar Blimbing ke Dieng, atau dari pasar Blimbing ke Dinoyo, mau tidak mau, jalan Suhat adalah jalur tercepat.

“Nah, masalahnya adalah arus yang paling banyak lewat di sekitar jalan Suhat adalah arus menerus alias yang sekedar lewat saja. Semua kendaraan dari berbagai wilayah menumpuk disitu, ibarat pembulu darah, kendaraan itu seperti sel kolestrol menyumbat yang lain,” tambahnya lagi.

Ia melanjutkan, penataan dan struktur kota Malang memang bermasalah sejak awal. Jalan alternatif kurang, sehingga banyak terjadi penumpukan kendaraan di ruas-ruas jalan tertentu.

Selanjutnya dijelaskan, faktor kapasitas berkaitan dengan ruas dan lebar jalan. Dibuat selebar apapun jalan di Kota Malang, kapasitas jalan tetap saja akan berkurang ketika ada kendaraan yang berhenti sembarangan, mobil parkir di pinggir jalan sembarangan, motor belok masuk ke gang, belum lagi PKL yang semakin menjamur, wisata kuliner dimana-mana sehingga parkiran motor meluber ke badan jalan dan sebagainya. Hal demikian membuat jalan yang seharusnya lancar menjadi macet.

“Jika ingin macet diselesaikan, maka dua faktor itu harus ditangani. Percuma ketika pemerintah melebarkan jalan, tapi tidak diimbangi dengan pengendalian arus. Ya ujung-ujungnya masih macet. Sekarang masih segini macetnya, entah 5-10 tahun lagi, kalau tidak tangani, bisa seperti Jakarta,” tandasnya

Jalan Tembus Sukorejo-Batu Dinilai Maksimal Atasi Macet

Volume kendaraan di pusat Kota Batu mengalami peningkatan saat libur Natal dan Tahun Baru setiap tahunnya.(miski)
Volume kendaraan di pusat Kota Batu mengalami peningkatan saat libur Natal dan Tahun Baru setiap tahunnya.(miski)

MALANGVOICE – Pemerintah Kota Batu menaruh harapan besar adanya pembangunan jalan tembus Sukorejo, Kabupaten Pasuruan-Kota Batu di tahun 2017. Jalan tembus itu disinyalir dapat mengurai kemacetan yang terjadi di Kota Batu beberapa tahun belakangan.

Program pembangunan tersebut digagas Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pemprov menyiapkan anggaran Rp500 miliar-Rp600 miliar. Rencananya, pembangunan jalan sepanjang 43 km yang melintas di tiga kabupaten/kota ini dilakukan secara bertahap. Sebanyak 2,8 km di antaranya berada di wilayah Kota Batu.

“Jalan by pass, bukan jalan tol, sehingga kendaraan apapun bisa melintas. Lebar jalan sekitar 25 meter, lebih besar dari jalan Pasuruan-Malang saat ini,” kata Kepala Dinas PU Bina Marga, Kota Batu, Arif Assiddiq, saat berbincang dengan Mvoice.

Untuk kelancaran proyek ini dibutuhkan lahan mencapai 11 hektar. Pemkot Batu baru mengalokasikan Rp10 miliar di tahun 2017 dari perkiraan kebutuhan mencapai Rp50 miliar.

“Rapat terakhir dengan PU Bina Marga Provinsi, Bina Marga Pasuruan dan Kabupaten Malang, ada sedikit perubahan jalur. Pertimbangannya, karena kontur tanah dan medan, sehingga bisa menelan biaya besar apabila tetap mengacu rencana awal,” ungkapnya.

Baca juga: Libur Natal dan Tahun Baru, Siap-siap Terjebak Macet di Kota Batu!

Baca juga: Tidak Cukup Sekadar Jalur Alternatif Atasi Kemacetan di Batu

Namun Arif belum menjelaskan secara detail perubahan jalur yang dimaksud.”Nanti jalan tersebut akan terhubung di sekitar jembatan kali lanang, Pandanrejo,” lanjut dia.

Jalan tembus ini, kata dia, akan mempermudah wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu, sehingga tidak lagi terjebak macet di Purwosari, Lawang, Singosari, dan Karangploso.

Petugas Lantas menunjukkan titik kemacetan melalui Pos Pantau CCTV.(Miski)
Petugas Lantas menunjukkan titik kemacetan melalui Pos Pantau CCTV.(Miski)

Bagi Pemerintah Kabupaten Malang, pembangunan ini dinilai sangat strategis, karena bisa mengembangkan wilayah, khususnya di lereng Gunung Arjuna, Lawang, Singosari dan Karangploso. Kondisi sama diakui Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

Meski begitu, jalan tembus itu baru bisa digunakan tahun 2018. Selain jalan by pass, nantinya akan dibangun trotoar dan drainase.

“Jika proses pembebasan lahan di Kota Batu cepat, pembangunannya bisa tahun depan. Pemprov menyerahkan sepenuhnya pembebasan lahan ke daerah,” ungkap mantan Camat Batu ini.

Kadinas Perhubungan, Siswanto,mengaku, jalan tembus akan memecah konsentrasi kendaraan dari arah Pasuruan-Malang-Batu. Selama ini, jalur utama menuju Malang Raya akses masuknya baru dari Lawang.

Menurutnya, keberadaan jalan ini nantinya dapat mengurangi 70-80 persen jumlah kendaraan yang masuk dari Karangploso-Batu.

“Semua daerah harus duduk bersama mengatasi kemacetan. Bukan hanya kepentingan Kota Batu, tapi Malang Raya,” katanya.

Dishub Siapkan 150 Personel Urai Kemacetan di Kabupaten Malang

Kemacetan di Kabupaten Malang (miski)
Kemacetan di Kabupaten Malang (miski)

MALANGVOICE – Memasuki liburan panjang Natal dan Tahun Baru saat ini, sudah bisa dipastikan terjadi kemacetan di berbagai titik di wilayah Malang Raya.

Menurut Kepala Pengendalian dan Operasional (Dalops) Dinas Perhubungan (Dishub), Mulyo Setiono menjelaskan ada beberapa titik kemacetan yang harus diwaspadai.

Diantaranya Lawang, Singosari dan pertigaan Karanglo. Pasalnya tiga titik ini menjadi pintu masuk pendatang yang ingin berkunjung ke Kota Malang dan Batu.

“Pengunjung kan lewat sana, kendaraan lebih banyak menumpuk di titik tersebut. Namun nanti akan terurai karena tujuannya kebanyakan ke Kota Malang dan Batu,” kata dia kepada MVoice.

Laki-laki yang biasa disapa Mul ini menjelaskan, pihak Dishub sudah menyiapkan 105 untuk mengurangi kemacetan.

Ratusan personel ini nantinya bergabung bersama dengan anggota dari Polres Malang.

“105 personel itu antisipasi untuk kemacetan lalu lintas Natal dan Tahun Baru,” kata dia.

Para personel itu disebar di lima pos yang sudah ditentukan. Masing-masing ditempatkan di Lawang, Singosari, Wendit, Pasar Kepanjen serta satu pos pelayanan di simpang tiga Karanglo.

Komunitas