Wow! Mahasiswa Mekatronika Poltekom Pamer Karya

Karya Mahasiswa (anja)

MALANGVOICE – Kemarin, 35 inovasi teknologi mahasiswa Politeknik Kota Malang (Poltekom) dipamerkan sebagai salah satu tugas akhir mata kuliah jurusan Mekatronika.

Dosen Mekatronika, Aditya Kurniawan, mengatakan, hal itu memang sudah menjadi kegiatan tiap tahun. Siswa dituntut untuk menciptakan alat-alat baru yang inovatif dan berguna bagi masyarakat.

Kamera (anja)
Kamera (anja)

35 temuan itu terbagi ke beberapa seperti Solar cell, modul pembelajaran, mesin tepat guna, elektrik dan pemograman, robotika, dan refreshing engineering.

Aditya sangat salut dengan hasil kreatifitas mahasiswanya.

“Ini ada yang bisa membuat alat kamera rotasi otomatis dan alat mengeraman telur otomatis. Ada juga lampu solar dan beberapa penemuan teknologi industri,” kata Aditya kepada MVoice.

Pengeram telur otomatis (anja)
Pengeram telur otomatis (anja)

Terpisah, Direktur Poltekom, Isnandar, sangat mengapresiasi temuan karya mahasiswanya. Ia berharap, mahasiswa bisa melakukan survey sebelum mengerjakan suatu penemuan sehingga selanjutnya ide itu benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat karena itu merupakan ciri khusus perguruan vokasi.

“Menurut Kemenristek Dikti perguruan tinggi vokasi harus berbeda dan punya ciri khusus, salah satunya adalah merancang dan mengembngkan inovasi dan komersiliasi hasil-hasil riset dan development produk penelitian,” katanya.

Ia juga berharap, mahasiswa lintas bidang bisa bersinergi membentuk kekuatan hebat untuk mengembangkan potensi agropolitan di desa-desa atau wilayah binaan.

“Itulah spirit kita sebagai perguruan tinggi dengan motto innovative teaching industry untuk mencapai cita-cita perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing,” tandasnya.

Teknologi Pro-Lingkungan, Komitmen UMM Wujudkan Pembangunan Berkelanjutan

seminar dihadiri pakar teknik dan lingkungan. (Istimewa)

MALANGVOICE – Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkomitmen mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi, namun juga pilar sosial dan lingkungan. Hal itu terungkap pada Seminar Nasional Teknologi dan Rekayasa (SENTRA) 2017, Kamis (9/11), di UMM.

Seminar ini dihadiri oleh 145 pemakalah yang terdiri dari para dosen, peneliti dan para mahasiswa program sarjana dan pascasarjana dari berbagai universitas dan lembaga. Dekan Fakultas Teknik UMM Dr Ahmad Mubin MT menilai, pembangunan berkelanjutan telah menjadi tuntutan bersama.

“Jika pembangunan nasional hanya difokuskan pada aspek ekonomi, maka akan terjadi kehancuran di muka bumi ini, oleh karena itu harus diubah konsepnya menjadi sustainable development,” ujarnya.

Ahmad menegaskan agar generasi sekarang tidak serakah dengan menghabiskan semua sumber daya untuk memenuhi kebutuhan, juga harus memikirkan untuk generasi yang akan datang dimulai dari input-proses-output dalam pembangunan nasional.

Dosen Fakultas Teknik UMM Dr Iis Siti Aisyah, selaku ketua pelaksana mengungkapkan, seminar ini dapat menjalin sinergi dan membangun kolaborasi penelitian di masa yang akan datang.

“Sentra ini pula diharapkan dapat menyumbangkan manfaat yang besar dan mampu mewujudkan atmosfer serta budaya riset yang baik, berkelanjutan dan berkualitas sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi rekayasa,” ujar Lis disela-sela acara.

Kehadiran teknologi ramah lingkungan dalam pengembangan industri nasional, ungkap Iis Siti Aisyah merupakan sebuah keharusan yang memerlukan dorongan dari berbagai pihak termasuk akademisi, praktisi, pelaku industri serta peneliti.

Seminar nasional ini dibuka oleh Prof Syamsul Arifin MSi selaku Wakil Rektor I UMM. Hadir pula sebagai keynote speaker Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Noor Arifin Muhammad ST MSIE dan guest speaker Guru Besar University Teknologi Malaysia Prof Ir Dr Mohd Hanim Osman.(Der/Yei)

UM Raih Peringkat IV Dalam Pemeringkatan Keterbukaan Informasi Publik

Wakil rektor saat serah terima sertifikat. (Istimewa)

MALANGVOICE – Universitas Negeri Malang (UM) berhasil meraih peringkat ke IV kategori Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dalam Pemeringkatan Keterbukaan Informasi Publik (KIP) Tahun 2017, di Istana Wakil Presiden, Kamis (20/12).

Tahun 2016 lalu, UM menduduki peringkat ke VII. Berkat kerja keras semua pihak dan dukungan penuh dari pimpinan, UM berhasil naik tiga tingkat. UM berhasil bertengger diperingkat IV dengan nilai 78,25 (cukup informatif).

Ketua KIP, Tulus Subarjono saat mengumumkan hasil pemeringkatan menyampaikan terima kasih kepada Jusuf Kalla, yang berkenan kembali menyerahkan secara langsung penganugerahan KIP kepada badan publik yang menunjukkan komitmennya dalam melaksanakan keterbukaan informasi di badan publiknya.

“Untuk menjamin adanya standar layanan informasi demi terlaksananya keterbukaan informasi publik di indonesia maka komisi informasi baik dipusat dan provinsi setiap tahunnya melakukan monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan peraturan komisi informasi no 1 tahun 2010,” kata dia.

Menurut Jusuf Kalla, keterbukaan informasi di era digital menjadi sangat penting agar masyarakat dapat ikut berpartisipasi menyebarluaskan informasi yang positif dan menangkal berita bohong.

“Sedikit saja informasi salah akan menjadi masalah besar yang berkelanjutan. Saya menyampaikan apresiasi sedalam-dalamnya kepada badan publik yang telah menunjukkan prestasinya dan membuktikan diri menjadi institusi yang informatif dalam keterbukaan informasi,” pungkasnya.

Adapun hasil pemeringkatan KIP tahun 2017 kategori PTN adalah sebagai berikut. Peringkat 1 diraih oleh Universitas Brawijaya, peringkat 2 diraih Universitas Indonesia, peringkat 3 diraih Institut Pertanian Bogor, peringkat 4 diraih Universitas Negeri Malang, peringkat 5 diraih Universitas Padjajaran, peringkat 6 diraih Universitas Gajah Maxa, peringkat 7 diraih Universitas Lambung Mangkurat, peringkat 8 diraih Universitas Negeri Yogjayakarta, peringkat 9 diraih Institut Teknik Bandung, dan peringkat 10 diraih Universitas Sriwijaya.(Der/Yei)

UIN Malik Ibrahim Malang Raih Akreditasi A BAN-PT

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim, Abdul Haris. (Lisdya)

MALANGVOICE – Universitas Islam Negeri Maulana (UIN) Malik Ibrahim Malang berhasil raih akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

Sesuai dengan SK BAN-PT bernomor 166/SK/BAN-PT/Akred/PT/IV/2019, akreditasi tersebut berlaku selama lima tahun, sejak ditetapkannya.

“Akeakreditasi institusi ini karena kerja keras semua civitas kampus. Kami mendapatkan skor 366,” ujar Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim, Abdul Haris, Kamis (11/4).

Dengan diraihnya akreditasi A ini, kedepan pihaknya akan terus meningkatkan kualitas, baik akademik maupun penelitian.

“Maka semua harus ditingkatkan lebih,” tegasnya.

Haris menguntungkan, UIN Malang akan meningkatkan kualitas mulai dari tata kelola, Tri Dharma Perguruan Tinggi, fasilitas, jurnal, percepatan guru besar, dan lain-lain.

“Itu semuanya harus dikelola dengan sebaik-baiknya,” paparnya.

Dari 39 prodi di UIN Malang, sekitar 50 persen telah terakreditasi A. Sedangkan untuk guru besar di UIN Malang kini berjumlah 10.

Lebih lanjut, Haris mengatakan, pada tahun ini, guru besar akan ditambah minimal tiga orang. Nantinya di tahun 2021, UIN Malang mentargetkan guru besar berjumlah 20.

“Hingga 2021 mudah-mudahan di atas 20,” tandasnya.(Der/Aka)

SLBN Kota Batu Butuh Perlengkapan Alat Musik

Kepala Sekolah Luar Biasa Negeri Kota Batu, Siti Muawanah Mariyam, saat di ruang kelas bersama siswa.(miski)
Kepala Sekolah Luar Biasa Negeri Kota Batu, Siti Muawanah Mariyam, saat di ruang kelas bersama siswa.(miski)

MALANGVOICE – Sekolah Luar Biasa Negeri Kota Batu memiliki 82 siswa. Terdiri dari TK, SD, SMP dan SMA.

SLBN yang terletak di Jalan Banaran, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji Kota Batu ini masih serba kekurangan.

Di antaranya membutuhkan alat musik. Pasalnya, setiap kali mengikuti even dan tampil, selama ini masih sewa alat musik.

“Anak-anak di sini juga bisa bermain musik, tapi alatnya belum tersedia,” kata Kasek SLBN, Siti Muawanah Mariyam, Kamis (19/1).

Selain belum memiliki alat musik, ruang kelas yang ada saat ini dirasa kurang. Baru 7 kelas yang digunakan di sekolah.

Sama halnya dengan tenaga pendidik, saat ini baru tersedia 9 orang, dua Tata Usaha dan satu orang sopir antat jemput siswa.

“Standarnya minimal 1:5, baik ruang kelas maupun tenaga pendidik. Selama ini, satu ruang kelas masih ada 9 sampai 12 siswa. Untuk menyiasatinya dibagi pagi-siang,” jelasnya.

Pihaknya pun berharap ada perhatian lebih dari pemerintah kota.

“Karena masih baru, wajar jika kondisinya masih banyak kekurangan,” papar dia.

Dapat Kunjungan Nakhonsawan School Thailand, Pemkot Malang Beber Program Unggulan

Kunjungan studi guru dan siswa Nakhonsawan School Thailand di Kota Malang. (Istimewa)
Kunjungan studi guru dan siswa Nakhonsawan School Thailand di Kota Malang. (Istimewa)

MALANGVOICE – Guru dan diswa Nakhonsawan School Thailand menggelar kunjungan studi banding ke Kota Malang. Rombongan yang berjumlah sekitar 20 orang ini sempat disambut pejabat Pemkot Malang di Ruang Sidang Staf Ahli Balai Kota Malang, Selasa (20/3).

Drs Supriyadi M Pd selaku Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Pemkot Malang sempat menerima langsung para tamu dari negeri seberang ini. Dalam kesempatan itu, dia membeberkan sejumlah program unggulan.

Dia menegaskan, bidang pendidikan merupakan prioritas utama dalam gerak pembangunan Kota Malang. Dia menambahkan, Pemkot Malang juga mengembangkan jenis dan fasilitas pendidikan yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan sesuai Undang – Undang Nomor 20 tahun 2003.

“Kami menerapkan pengembangan berbagai program unggulan di antaranya penerimaan peserta didik baru dengan sistem online dan rayonisasi. Selain itu juga ada pengembangan pendidikan vokasi, inklusi dan sekolah model,” imbuh Supriyadi.

Dikatakan pula, Pemkot Malang membebaskan biaya sekolah bagi siswa SD dan SMP serta menyediakan bus sekolah gratis. Ini merupakan wujud tanggung jawab sosial dari pihak swasta dalam rangka turut serta memperhatikan pendidikan.

Sejalan dengan itu, Pemkot Malang juga telah mendapatkan banyak penghargaan dari pemerintah pusat. Di antaranya, penghargaan di bidang UKS, Adiwiyata, Perpustakaan Sekolah, Guru Berprestasi,dan berbagai prestasi akademik baik tingkat nasional maupun internasional.

“Selain sebagai wahana untuk menambah pengetahuan dan mempelajari adat istiadat dari masing-masing negara, harapannya moment ini dapat memperkuat jalinan persaudaraan,” tutupnya mengakhiri pertemuan.(Coi/Aka)

Dindik Prioritaskan Perbaikan Sekolah Rusak Berat

Kepala Dinas Pendidikan, Zubaidah
Kepala Dinas Pendidikan, Zubaidah

MALANGVOICE – Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Malang tahun ini masih fokus membenahi sejumlah bangunan sekolah yang rusak. Kepala Dindik, Zubaidah, mengatakan, revitalisasi gedung akan diprioritaskan untuk kategori rusak berat.

“Jadi sebenarnya mekanismenya bergantian, ada skala prioritas, gedung sekolah yang rusak berat yang didahulukan,” kata Zubaidah, beberapa menit lalu.

Ia menambahkan, sekolah yang merasa gedungnya rusak berat bisa mengajukan usulan kepada Dindik untuk diperbaiki. “Selanjutnya akan kami survei dulu, apakah masuk kerusakan berat, sedang atau ringan,” tuturnya.

Jika masuk kategori rusak berat, segera dilakukan perencanaan oleh tim ahli, selanjutnya diajukan lelang. “Baru nanti kami akan kucurkan anggaran, jika sudah berhasil dilelang,” tandasnya.

Bagaimana dengan sekolah swasta? Mantan Kepala Dinas Sosial itu menjelaskan, pihaknya juga memperhatikan kerusakannya, namun volume perbaikannya berbeda dengan negeri.

“Apalagi saat ini ada aturan baru, sekolah swasta harus memiliki badan hukum untuk ajukan perbaikan, karena kalau itu tidak ada Dindik tak bisa membantu,” pungkasnya.

Presma BEM UMM: Mahasiswa Jangan Hanya Mengejar IP Kumulatif

Presma BEM UMM
Presma BEM UMM

MALANGVOICE-Presiden Mahasiswa (Presma) Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (BEM UMM) terpilih, Fais Mirwan Hamid, berpandangan, dunia kampus kini dipandang hanya sebagai tempat mahasiswa menunjukkan strata sosial dengan berjuang kerja keras meraih nilai terbaik (indeks prestasi kumulatif), dan gelar sarjana. Padahal substansinya mahasiswa harus mampu mengkontekstualisasikan Ilmu yang didapatkan untuk lingkungan sekitar.

Menurut Fais, sebagai agen perubahan, mahasiswa  harus mampu secara kritis merespon kompleksitas persoalan bangsa, diantaranya meningkatnya kemiskinan, pengangguran yang bertambah, korupsi, dan banyak lagi. Di lain sisi, persoalan itu tiap hari menjadi konsumsi publik.

“Gerakan mahasiswa harus mampu merespon dan melakukan langkah nyata dengan mengkaji kompleksitas persoalan itu. Dengan demikian elemen mahasiswa sebagai penarik gerbong perubahan, baik skala lokal, nasional, bahkan internasional, adalah keniscayaan,” tegas Fais dalam keterangan pers di Malang, Senin (22/8).

Menyikapi kompleksitas persoalan di atas, yang ingin diwujudkan Fais adalah menjadikan BEM UMM yang responsif, aspiratif, dan solutif, dengan semangat dedikasi yang tinggi, bersinergi lintas stakeholders demi mewujudkan cita-cita ideal masyarakat berdaulat untuk kemandirian Indonesia.

Langkah nyata untuk mewujudkan visi itu, Fais bersama Kabinet Hebat sudah menyiapkan agenda strategis BEM, antara lain pelatihan-pelatihan, baik kepemimpinan, dunia jurnalistik, kewirausahaan, job fair, PKM, seminar, pengabdian masyarakat, penelitian, berjejaring dengan mahasiswa asing, dan ikut andil dalam mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.

“Langkah ini tentunya untuk memfasilitasi aspirasi mahasiswa agar lebih sadar akan tanggung jawab seorang mahasiswa yang memiliki tanggung jawab sosial, sebagai bentuk terjemahan dari visi BEM UMM 2016, Kabinet Hebat,” tutur mahasiswa Kesejahteraan Sosial FISIP UMM itu.

Fais juga berharap, program kerja yang telah dirancang Kabinet Hebat akan mampu diwujudkan jika ada kerja sama tim yang baik, kerja sama dengan lintas stakeholders yang saling menguntungkan.

“Sinergi itu tentunya dapat mendorong perubahan dalam ruang akademik, masyarakat, dan negara Indonesia,” pungkas Fais.

Jika tidak ada perubahan, Rektor UMM akan melantik kepengurusan BEM UMM pada 29 Agustus mendatang, di kampus UMM.

Sihab: Pembagian Golongan UKT UB Sudah Proposional

Wakil Rektor II Universitas Brawijaya, Sihab
Wakil Rektor II Universitas Brawijaya, Sihab (Anja)

MALANGVOICE – Mahasiswa yang tergabung dalam Komite Pendidikan Universitas Brawijaya (UB), dalam orasinya mengatakan, pembagian golongan di UKT (Uang Kuliah Tunggal) UB tidak proporsional.

Dari data tahun 2014, kuota untuk golongan 1 dan 2 (golongan terendah di UKT) hanya berkisar 4% dan 12% pada jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Artinya terjadi kurva naik pada golongan untuk biaya kuliah murah tidak sebanding dengan golongan 3-6 yang rata-rata berkisar 20%-30%.

Namun pernyataan itu ditangkis Wakil Rektor II, Dr Sihabudin SH MH. Menurutnya, kuota itu sudah benar-benar disesuaikan dengan kondisi mahasiswa. Misalnya pada golongan 1.

“Lha kalau yang mendaftar tidak ada yang miskin masak harus distatuskan miskin. Selama ini kita masih memenuhi kok dari yang diberikan pemerintah. Memang fakultas tertentu tidak terpenuhi, misal di jurusan kedokteran itu tidak ada yang golongan satu, tapi apa ya harus dipaksa? Kan tidak,” tandasnya.

Ia menambahkan, kalaupun ada mahasiswa yang minta kebabasan UKT karena alasan tidak mampu, kampus akan mengabulkan.

“Ada mahasiswa dari kedokteran gigi itu minta kebebasan UKT karena tidak mampu. Nah dalam kondisi seperti itu ya kami bebaskan, karena dia sudah semster 7, tapi disuruh ibunya keluar. Akhirnya dia mengajukan dibebaskan dan kita penuhi. Jadi, proporsi itu disesuaikan keadaan,” katanya lagi.

Ia juga mengingatkan, kampus selalu menjalankan bisnis nirlaba, yang artinya, keuntungan yang didapatkan selalu digunakan lagi untuk kepentingan kampus atau institusi itu sendiri. Selain itu, tahun 2017, diperkirakan infrastruktur UB akan diselesaikan, sehingga UKT diharapkan bisa menurun.

UMM Lepas 20 Mahasiswa Asal Tiongkok dan 1 Dosen Spanyol

Pelepasan Mahasiswa (ist)
Pelepasan Mahasiswa (ist)

MALANGVOICE – 20 mahasiswa asal Tiongkok, yaitu dari Tongren University, baru saja menyelesaikan masa studinya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama satu semester melalui program kredit transfer. Melepas para mahasiswa yang akan kembali ke negara asalnya itu, UMM menggelar seremonial perpisahan, Farewell for Academic Exchange, Sabtu (14/1) di Ruang Sidang Senat (RSS) UMM.

Selain 20 mahasiswa Tiongkok itu, gelaran tersebut sekaligus melepas 1 dosen dari Universidad de Murcia Spain, Juan Antonio yang mengajar di UMM melaluui program pertukaran Erasmus+. Sebaliknya, UMM melalui International Relations Office (IRO) juga telah mengirimkan staff-nya Very Kurnia Aditama dan Lailatul Rif’ah untuk mengikuti program yang sama di University of Crete, Yunani. Beberapa dosen dan staf UMM juga akan menyusul ke Eropa melalui program serupa.

Kuliah selama satu semester meninggalkan kesan mendalam bagi ke-20 mahasiswa Tiongkok. Seperti diungkapkan salah satu peserta exchange, Rooster Jie. Menurutnya, keramahan dari mahasiswa dan dosen membuatnya betah belajar di UMM.

“Selain itu, saya juga suka dengan keindahan danau yang dimiliki UMM. Meskipun di Universitas Tongren juga ada danau, tapi tidak seindah danau UMM, apalagi ada air mancurnya,” kata pria yang akrab dipanggil Jie ini.

Senada dengang Jie, dose asal Spanyol, Juan Antonio mengaku sedih harus meninggalkan UMM. baginya pengalaman tersebut begitu membekas di hatinya.

Kegiatan pelepasan di RSS (ist)
Kegiatan pelepasan di RSS (ist)

“Hari ini merupakan hari yang membuat sedih bagi saya karena saya harus meninggalkan negara yang sangat indah, orang-orang yang ramah, dan kampus yang sangat bagus ini,” aku Juan.

Di sisi lain, Juan mengaku sangat senang dapat berada di UMM karena merasa berada di rumah sendiri.

“Perlu kalian tahu, bahwa kalian semua akan selalu menjadi bagian dari hati saya. Kalian semua selalu memberikan pengetahuan kalian. Dan yang terpenting, saya sangat berterimakasih. I Love UMM,” seru Juan menutup pidatonya.

Sementara itu, Wakil Rektor I Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si berharap, kerjasama yang selama ini telah dibangun dengan Tiongkok, baik melalui program pertukaran pelajar maupun program-program akademik, salah satunya kursus bahasa Mandarin yang tengah berjalan di China Corner di perpustakaan UMM, dapat berlanjut.

Acara ditutup dengan gelaran seni yang dipersembahkan 20 mahasiswa asal Tiongkok. Lewat pakaian tradisional khas Negeri Tirai Bambu itu menampilkan Bamboo Dance yang merupakan tarian tradisional suku Zhuang di Tiongkok yang hampir serupa dengan tarian Suku Dayak di Kalimantan. Syamsul Arifin beserta Juan Hugo juga ikut memeriahkan dengan turut menari bersama mahasisa Tiongkok tersebut.

Komunitas