Jalan Menyelamatkan Tradisi Bangsa

Abdurrasid, saat bercerita di depan toko alat seni Bantengan. (fathul/malangvoice)

MALANGVOICE – Jika yang lain peduli tradisi karena maksud tertentu, maka berbeda dengan Abdurrasid. Ia sangat peduli terhadap tradisi dan seni karena panggilan hati.

Ia menjadikan dagangan benda seni, khususnya Bantengan, sebagai sumber hidup. Dengan demikian, ia akan terus menerus bisa menjaga kesenian tradisionil meski yang lain mundur.

“Saya prihatin karena banyak seniman yang ingin mencari alat bantengan tapi tidak dapat. Nah di sini saya jual semuanya,” kata mantan pemain ludruk ini kepada MVoice, Sabtu (22/8).

BNN Kota Malang

Toko alat seni yang berada di Jalan Teratai, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota ini berdiri sejak tahun 1974 dan menyediakan berbagai macam keperluan seni Bantengan.

Seperti kuda lumping, topeng banteng, termasuk gongseng. Bukan itu saja, Abdurrasid juga menjual berbagai alat Bantengan yang dapat digunakan mainan untuk anak-anak.

Dengan berbagai macam alat yang disediakannya itu, pembeli bisa datang dari seluruh penjuru Jawa Timur. Namun kebanyakan adalah kelompok seni dari Batu, Malang, dan Pasuruan.

Meskipun tidak setiap hari laku, lelaki yang sudah tidak ingat tahun lahirnya ini tetap menjual peralatan dengan harga lumayan murah, yakni mulai Rp 5000 hingga paling mahal Rp 450 ribu.

“Saya tidak buat sendiri karena alat-alat ini buatan Nganjuk, Kediri, dan Malang sini juga. Kita juga sediakan mainan anak-anak karena mereka kurang mengenal budayanya sendiri,” sambung atlit Pencak Silat ini.

Dengan niat menjaga tradisi hingga ke anak-anak, Abdurrasid akhirnya memajang Bantengan mainan di bagian paling depan tokonya. Ia berhadap anak-anak yang lewat di depan tokonya bisa tertarik.

Ia sendiri miris dengan acara-acara anak di televisi yang tidak mengenalkan budaya bangsa sama sekali. Bahkan, lebih sering televisi yang ditonton anak-anak tidak mendidik.

“Mau bagaimana lagi, yang penting niat saya baik, berjualan sambil kenalkan budaya. Kalau televisi ya uang saja yang dikejar,” tutup lelaki berisia 70-an ini.-