MALANGVOICE – Harga plastik di Kota Malang melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan paling terasa terjadi pada kantong kresek yang bahkan menembus hingga 50 persen, memicu keresahan di kalangan pedagang.
Salah satu pedagang di Pasar Bunul, Harli, mengungkapkan lonjakan harga yang cukup drastis. Kantong kresek yang sebelumnya dijual Rp26 ribu kini melonjak menjadi Rp45 ribu.
“Kenaikan harganya ngeri sekali,” ujar Harli, Minggu (5/4).
Tak hanya kresek, sejumlah jenis plastik lain juga ikut merangkak naik. Kondisi ini membuat pedagang serba salah, lantaran harga dari distributor sudah lebih dulu tinggi. Bahkan, beberapa pedagang terpaksa membatalkan pemesanan karena harga yang dinilai sudah tak masuk akal.
“Beberapa hari lalu kami terpaksa cancel order kemasan plastik karena harganya sudah naik terlalu tinggi,” katanya.
Harli menjelaskan, tren kenaikan ini sebenarnya sudah terasa sejak dua minggu sebelum Lebaran. Namun, kenaikannya tidak berlangsung bertahap, melainkan langsung melonjak dalam waktu singkat.
Di sisi lain, ia menyebut masih ada anggapan dari konsumen bahwa kenaikan harga ini dipicu momen Lebaran. Padahal, menurutnya, harga di tingkat kulakan sudah lebih dulu melambung.
“Bahkan sampai sekarang harganya masih belum stabil dan kemungkinan masih bisa naik lagi,” jelasnya.
Ia menduga, lonjakan harga plastik berkaitan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Dampaknya, jalur distribusi bahan baku ikut terganggu.
“Informasinya karena konflik itu, Selat Hormuz sempat ditutup sehingga banyak kapal tidak bisa melintas. Sementara bahan baku biji plastik masih impor,” terangnya.
Situasi ini membuat pedagang harus memutar strategi agar tetap bertahan. Harli memilih tidak menambah stok baru dan hanya mengandalkan barang yang masih tersedia. Beberapa jenis kemasan bahkan sudah mulai kosong di lapaknya.
“Kami jual stok yang ada saja. Untuk barang seperti wadah thinwall sudah kosong dan belum berani kulakan karena risikonya tinggi,” tegasnya.
Untuk mengantisipasi keluhan pelanggan, Harli juga aktif memberikan penjelasan kepada konsumen terkait kondisi tersebut. Ia berharap, langkah itu bisa membantu konsumen memahami situasi dan tidak kaget dengan kenaikan harga.
“Kami harus sosialisasi ke pelanggan, terutama yang rutin beli. Biar mereka paham kenapa harganya naik,” tandasnya.(der)