Gus Ipul – Puti Menang di Kabupaten Malang

Saifullah Yusuf. (deny rahmawan)
Saifullah Yusuf. (deny rahmawan)
Article top ad

MALANGVOICE – Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur nomor urur 2, Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno, menang dalam perolehan suara di Kabupaten Malang, hal ini disampaikan Komisioner KPU Kabupaten Malang, Abdul Holik, Kamis (28/6).

Pria yang akrab disapa Gus Holik ini menyampaikan, berdasar dari mekanisme hitung cepat suara yang dilakukan oleh KPU Kab Malang sampai Kamis (28/6) jumlah suara yang sudah masuk sekitar 96,41 persen.

“Saat ini yang sudah masuk baru 96,41 persen dengan perolehan suara 1.196.430. ini masih sementara, belum jumlah suara semuanya,” katanya.

Berdasarkan peroleh suara sementara KPU Kabupaten Malang, Gus Ipul mengungguli pasangan Khofifah – Emil Dardak dalam pertarungan merebutkan jabatan orang nomor 1 di Jawa Timur.

“Paslon nomor urut 2 mendapat perolehan suara 613.805 atau 51, 33 persen, sedangkan paslon nomor urut 1 mendapat suara 582.030 atau 48,67 persen,” bebernya.

Perlu diketahui, keunggulan suara Paslon Saifullah Yusuf – Putih Guntur Soekarno, tidak hanya unggul di Kabupaten Malang saja, tapi juga unggul di Kota Batu, karena paslon nomor 2 memperoleh 50,89 persen, dan paslon nomor 1 memperoleh 49,11 persen. Sehingga keunggulan suara Gus Ipul di Kota Batu sangat tipis sekali yakni hanya selisih suara 1,7 persen. Namun di Kota Malang, Paslon Nomor 1 unggul dengan memperoleh suara sebesar 52,7 persen, dan Gus Ipul memperoleh 47,3 persen atau selisih suara 5 persen.

Untuk suara yang tidak sah berdasarkan dari suara yang sudah masuk ke KPU Kabupaten Malang mencapai 33.141 surat suara. Sedangkan data kehadiran penguna hak suara berjumlah 1.228.970. Melihat data tersebut tidak bisa dipungkiri jika angka golput terbilang tinggi, menurut Holik, hal tersebut disebabkan beberapa faktor.

“Banyak pemilih yang sedang berkerja di luar kota, kemudian banyak diantara para TKI/TKW yang masuk dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap-red). Hal itu yang kami nilai mempengaruhi kenapa angka partisipasi masyarakat rendah jika mengacu dalam jumlah DPT,” pungkasnya.(Der/Aka)