FSI Melebar ke Malang Selatan, Donatur dari Libya

Komunitas FSI. (istimewa)
Article top ad

MALANGVOICE – Gerakan sosial Food Sharing Indonesia (FSI) yang digagas oleh dua perempuan muda, Shella Sabillah Alamri dan Dian Ayu Antika Hapsari semakin melebar.

Sebagai informasi, FSI merupakan gerakan sosial dengan beberapa kegiatan yang bertujuan untuk membantu sesama. Salah satunya adalah berbagi nasi kotak setiap Jumat kepada dhuafa, fakir miskin dan orang membutuhkan lainnya.

FSI yang usianya belum genap satu bulan ini menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Jumat (4/9), lokasi penyebaran nasi kotak tidak hanya di Kota Malang saja. Namun sampai ke Kepanjen dan Gondanglegi, Kabupaten Malang.

Salah satu founder FSI, Dian Ayu Antika Hapsari atau yang akrab disapa Tika menyebutkan, nasi kotak donasi dari para donatur dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan di sekitar Jalan Trunojoyo, Kepanjen hingga ke Pasar Gondanglegi. Kali ini FSI tidak bergerak sendiri. Melainkan dibantu seorang volunteer dari Yayasan Galeri Kreatif, Muzeki.

“Kami menyisir jalan-jalan. Melihat bapak tua tukang becak, pemulung, gelandangan atau orang gila kami beri nasi kotak. Alhamdulillah mereka senang bahkan ada yang langsung dimakan,” kata Tika.

Bahkan, lanjut perempuan yang juga berprofesi sebagai MC ini perkembangan menggembirakan juga bukan hanya dari wilayah jangkauan mereka yang semakin luas. Melainkan donatur yang antusias dengan gerakan sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekunder orang-orang yang membutukan itu.

Bahkan donaturnya ada yang dari Australia dan Libya. Pekan ini, salah seorang teman Tika asal Libya, Ali Matuq berkontribusi dengan memberikan donasi puluhan nasi kotak. Total ada 45 nasi kotak hasil donasi yang sudah didistribusikan hari ini.

“Jadi teman saya ini sudah tinggal di Indonesia sejak 2015. Dia ambil program magister dan doktoral bidang hukum syariah di universitas negeri yang ada di Jawa Timur. Matuq antusias join sejak minggu lalu. Dia masak sendiri masakannya pagi-pagi tadi, dia packing dan kerjakan semua sendiri. Pagi-pagi pukul 06.00 dikirimkan ke tempat saya, masyallah,” beber Tika.

Sementara itu, founder lain, Shella menjelaskan, donatur juga berasal dari Australia. Donatur dari Australia biasanya bukan hanya sedekah untuk berbagi nasi. Namun juga untuk anak yatim. Bahkan yang membuat Shella kaget, haru dan bahagia adalah ada salah satu donatur dari Australia yang mengamanahkan uang sebesar Rp 5 juta kepada FSI.

“Alhamdulillah donasi dari Australia cukup banyak. Baru-baru ini saya kaget setelah Tika menginformasikan ada orang yang donasi Rp 5 juta. Amanahnya, dibagikan kepada anak yatim dan alhamdulillah sudah kami sampaikan,” tegas alumnus Universitas Muhammadiyah Malang ini. (Der)