MALANGVOICE– Alun-Alun Kota Batu yang harusnya menjadi ruang publik yang nyaman bagi masyarakat, kini makin sesak tercekik dikepung kendaraan roda dua maupun roda empat. Jantung kota ini dihadapkan pada dua wajah yang berseteru. Antara ruang hidup komunal yang mendambakan sisi estetika dan kenyamanan. Di sisi lain, harapan itu beradu dengan pemandangan semrawutnya penataan parkir yang menjadi kondisi riil di lapangan saat ini.
Amburadulnya penataan parkir menjungkirbalikkan etalase kota wisata yang seharusnya mengedepankan sisi estetika. Persoalan di Alun-Alun Batu bukanlah soal estetika semata, melainkan juga tragedi ekonomi yang berulang. Data menunjukkan kebocoran yang sistemik. Di tengah membanjirnya wisatawan, terutama saat puncak liburan, retribusi parkir yang masuk ke kas daerah tidak mengalami peningkatan signifikan.
Anggota Komisi B DPRD Kota Batu, Sujono Djonet menyoroti hal ini sebagai bukti bahwa kebijakan pemerintah masih begitu lemah yang ujungnya menimbulkan kebocoran retribusi. Ia menyebut adanya pengawasan yang minim oleh Dishub Batu, mengakibatkan otoritas pengelolaan parkir tidak berjalan maksimal. Bahkan dirinya meyakini terjadinya pembiaran yang menjadi biang kerok terjadinya kebocoran kas daerah dari tahun ke tahun.
Copot Kabel Telkom, Pemkot Malang Target Agustus Kayutangan Heritage Bebas Kabel
“Pertanyaanya, ini alun-alun atau lapangan parkir? Kalau ini kantong parkir, mengapa pendapatan daerah dari retribusi di kawasan vital ini justru tercecer, jauh dari potensi sesungguhnya?” ujar Djonet.
Djonet memandang, sebagai pusat keramaian yang ikonik, keberadaan lahan parkir yang mengelilinginya jelas merusak estetika tata kota dan kenyamanan wisatawan. Baginya, filosofi awal dibangunnya alun-alun sebagai etalase potensi lokal Kota Batu, mulai apel, bunga mawar, sapi perah. Namun kini telah kabur, karena justru jauh dari harapan awal. Malah makin kesini jantung kota ini terkesan amburadul dalam segi penataan.
“Alun-alun ini adalah wajah kota. Namanya wajah itu harus cantik, tidak boleh ada kesan ‘rembes’ atau tidak ramah. Kalau saya lihat, area parkir ini sudah menjadi seperti bagian dari taman. Ini sangat tidak indah. Padahal kita ke Kota Batu itu ingin sejauh mata memandang itu indah, sejuk seperti udaranya,” ujar politisi NasDem ini.
Djonet khawatir, kesemrawutan ini berpotensi menggeser identitas komposisi ruang kota yang ideal menjadi timpang. Ruang terbuka hijau yang seharusnya menjadi daya tarik esensial perlahan-lahan ditelan oleh kebutuhan pragmatis parkir. Karena itu, dirinya mendorong Pemkot Batu di bawah kepemimpinan Wali Kota Nurochman dan Wakil Wali Kota Heli Suyanto membuat gebrakan konkret. Inspirasi diambil dari kesuksesan penataan parkir di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, yang berhasil membersihkan bahu jalan dari parkir liar.
Meski menyadari adanya potensi gesekan, termasuk dengan pelaku usaha dan juru parkir, ia menegaskan bahwa semangat utama dari wacana ini adalah penataan demi kepentingan bersama. Sudah saatnya, ujar dia, Wali Kota yang baru membuat gebrakan. Ia mendesak pemerintah kota melalui dinas teknis untuk segera melakukan kajian mendalam agar wisatawan bisa parkir dengan nyaman tanpa merusak estetika.
“Kalau tidak ada inovasi, tinggal tunggu tanggal mainnya saja kita akan disalip oleh daerah lain. Kami di Dewan sangat mendukung (perubahan) ini sebagai daya dobrak untuk pembenahan tata kota Batu,” imbuh Djonet.
Politisi Nasdem tersebut menerangkan jika dengan adanya kawasan parkir terpadu dapat mempunyai manfaat jangka panjang yang strategis. Utamanya dalam mencegah kebocoran pemasukan retribusi parkir. Selain itu, pengunjung juga tak perlu was-was soal keamanan kendaraannya.
”Tidak ada lagi yang namanya getok parkir, karena tempatnya sudah disediakan dengan sistem yang transparan. Selain itu juga kualitas pariwisata kita saya yakin juga akan semakin baik,” ungkapnya.
Ia mendukung rencana strategis Wali Kota yang juga mewacanakan pemindahan kabel ke tanah atau ducting di kawasan Alun-alun. Ia juga menyarankan nantinya di seluruh jalan penghubung ke Alun-alun dikembalikan menjadi area resapan tanpa aspal.
”Nantinya, kita juga ingin kawasan ini dimekarkan menjadi pusat wisata terintegrasi. Jalan-jalan di sekitarnya harus menjadi daerah resapan agar tidak ada lagi banjir di tengah kota. Ini adalah tuntutan yang rasional bagi kota wisata seperti kita, soal mewujudkan taman kota yang ramah lingkungan,” tandasnya.
Dukungan yang sama juga datang dari Ketua MPC Pemuda Pancasila Kota Batu Endro Wahyu Wijoyono yang menegaskan bahwa penataan Alun-alun Kota Batu sudah mendesak. Ia sepakat bahwa ikon pusat wisata tersebut sudah seharusnya bersih dari kepungan kendaraan parkir.
“Alun-alun adalah wajah Kota Batu. Tapi saat ini, wajah itu tertutup oleh deretan motor dan mobil yang parkir di sembarang tempat. Estetikanya hilang, yang ada justru kesan kumuh dan macet,” ujar Abah Endro, sapaan akrabnya.
Ia menambahkan bahwa kapasitas parkir yang ada saat ini sudah tidak mampu menampung volume kendaraan, terutama saat akhir pekan atau musim libur panjang. Hal ini tidak hanya mengganggu pemandangan, tapi juga menghambat aksesibilitas pejalan kaki dan arus lalu lintas di jantung kota.
Endro juga sepakat bakal mendorong Pemkot Batu segera merencanakan pembangunan Gedung Parkir Terpadu. Inspirasi ini merujuk pada keberhasilan pembangunan kantong parkir di kawasan Kayutangan Heritage di eks-Gedung DLH/Malang Plaza area yang berhasil memindahkan kendaraan dari bahu jalan ke dalam satu gedung khusus.
“Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan parkir di pinggir jalan. Solusinya adalah membangun gedung parkir vertikal yang representatif, mirip seperti yang dilakukan di Kayutangan Heritage, Malang. Dengan begitu, area sekitar Alun-Alun bisa steril dari kendaraan,” tegasnya.(der)