Enam Mahasiswa UM Terperangkap di China Akibat Coronavirus

Direktur Kantor Hubungan Internasional UM Evi Eliyanah. (Istimewa)
Direktur Kantor Hubungan Internasional UM Evi Eliyanah. (Istimewa)

MALANGVOICE – Enam mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) terpaksa harus berada di dalam asrama di China, hingga wabah Coronavirus berakhir.

“Mereka saat ini hanya berada di dalam asrama, nggak boleh keluar,” ujar Direktur Kantor Hubungan Internasional UM Evi Eliyanah.

Kendati kota Guilin jauh dari kota Wuhan yang diduga menjadi tuan rumah virus ncov ini, Evi menyatakan asrama para mahasiswa dijaga ketat.

BNN Kota Malang

“Sudah ada yang berkoordinasi dengan teman-teman yang ada di Guangxi Normal University, bahwa tiga kali sehari ada inspeksi. Siapapun yang masuk ke asrama harus dicek temperatur badannya untuk mengetahui apakah terinfeksi atau tidak,” terangnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan jika enam mahasiswanya tersebut dalam kondisi aman dan sehat. Sedangkan untuk perguruan tingginya sementara akan di-lockdown atau ditutup.

“Perguruan tingginya sama seperti kampus-kampus di China, semuanya ditutup, nggak ada perkuliahan. Untuk makanan sudah disediakan oleh kampus, dan cateringnya pun dinyatakan aman bebas virus,” ungkapnya.

Pihaknya pun terus berkoordinasi dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud).

Diketahui, enam mahasiswa tersebut sedang menempuh program 3+1 di Guangxi Normal University di Guilin, Republik Rakyat Tiongkok. Mereka berasal dari prodi Pendidikan Bahasa Mandarin, dan sudah berada di China sejak September 2019 kemarin.

Sebelumnya, rencana studi berakhir sampai bulan Juli 2020 nanti. Mereka menjalani program pertukaran pelajar dimana dijadwalkan selama satu tahun lamanya di Guangxi Normal University.

“Tinggal satu semester lagi,” imbuhnya.

Hanya saja masih belum ada kejelasan sampai kapan mahasiswa-mahasiswa tersebut tinggal di China. Berdasarkan informasi dari Atdikbud, sampai saat ini belum ada kebijakan untuk memulangkan mereka.

“Jadi risiko kalau sudah di China lalu bawa ke Indonesia. Kami harus koordinasi dulu dengan pihak KBRI. Karena kalau kami memaksa memulangkan, bisa jadi outbreaknya malah melebar ke sini. Sementara Malaysia sudah terjangkit. Singapore juga sudah ada,” tandasnya.(Der/Aka)