Dongkrak Daya Saing UMKM, Pemkot Batu Gelontorkan Anggaran Rp 3 Miliar

Pelaku UMKM di Kota Batu. (Anja a)
Pelaku UMKM di Kota Batu. (Anja a)

MALANGVOICE – Pada era yang serba modern, persaingan dunia UMKM sangatlah pesat. Guna meningkatkan kualitas dan produktivitas UMKM, Pemerintah Kota Batu menggelontorkan anggaran hingga Rp 3 miliar. Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso, menjelaskan, anggaran itu nantinya akan digunakan untuk pembelian mesin packaging dan dikelola oleh Perusahaan BUMD Kota Batu, Batu Wisata Resource (BWR).

“Jadi selain pariwisata dan pertanian yang menjadi program unggulan Pemkot Batu adalah UMKM. Karena itu Wali Kota akan menganggarkan dana Rp 3 miliar untuk mesin packaging pada tahun 2019. Di mana nantinya mesin itu bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha di Kota Batu meningkatkan nilai jual dan kualitas produknya,” Katanya.

Pengadaan alat packaging ini cukup penting. Tanpa alat packaging, pelaku UMKM kesulitan menembus pasar lebih besar. Hal ini dirasakan sebagai tantangan Kelompok Wanita Tani (KWT) Asri, RW 1 Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu yang merupakan bagian dari Gapoktan Beji Makmur. KWT Asri yang termasuk dalam golongan usaha mikro berdiri sejak tahun 2015.

BNN Kota Malang

Soal produktivitas, KWT yang beranggotakan 25 ibu-ibu ini mampu menghasilkan banyak produk di halaman atau lahan miliki bersama seluas 100 m2 untuk pertanian organik. Serta ruangan sederhana di salah satu anggota untuk produk olahan atau jadi.

Anggota KWT, Rizky Nurfikayati, mengatakan, dari bantuan yang didapatnya, mulai dari dana Rp 20 juta, bibit jamur hingga peralatan panggang mampu dimanfaatkan dan dikelola dengan baik.

“Kelompok kami kini mampu mengahasilkan produk olahan seperti stik sawi, stik kurma tomat (kurmat), keripik jamur, sari jagung, keripik tempe, susu, yogurt hingga yang terbaru adalah pia tempe,” katanya.

Hasil-hasil olahan itu juga kadang dijual lewat stan yang disediakan di dekat pintu masuk Gedung Balai Kota Among Tani. Sehingga dari hasil penjualan, baik pertanian organik dan produk olahan setiap bulannya mampu mencapai Rp 2 juta.

“Kendala kami tidak adanya mesin packaging. Jadi susah untuk menembus pasar yang lebih luas atau masuk ke pusat oleh-oleh Kota Batu. Kami harap segera ada pengadaan mesin packaging, dari pemkot,” kata Rizky.(Hmz/Aka)