Kota Malang Memilih Pemimpin

Diskusi Seru, dari Permasalahan Kota hingga Integritas Pemimpin Diulas

Suasana usai diskusi terkait Pilwali 2018 Kota Malang di Regents Park Hotel. (Muhammad Choirul)
Suasana usai diskusi terkait Pilwali 2018 Kota Malang di Regents Park Hotel. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Tiga pasangan bakal Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang mengikuti diskusi publik ‘Politik untuk Kesejahteraan Rakyat’, Rabu (7/2). Bertempat di Regents Park Hotel, diskusi yang digelar KAHMI Kota Malang ini berlangsung seru.

Beragam tema diulas ketiga pasangan, yaitu M Anton – Syamsul Mahmud, Ya’qud Ananda Gudban – Wanedi, dan Sutiaji – Sofyan Edi Jarwoko. Mereka bergantian memaparkan visi dan misi serta program-progtam sebagai bakal calon kepala daerah.

Tak hanya itu, para pasangan calon juga mengungkapkan curahan hatinya. Salah satunya Nanda, yang mengaku tak memiliki hasrat sama sekali untuk maju sebagai Wali Kota. Namun, karena ia aktif membangun komunikasi dengan masyarakat, dorongan dari beberapa partai politik yang akhirnya meyakinkannya untuk maju.

“Tetapi dengan syarat, saya tidak mau ditinggal sendiri, ayo bareng-bareng noto Malang,” ungkapnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Disampaikannya, alasan mengusung tagline ayo noto Malang karena ia ingin menghidupkan kembali sifat dasar bangsa Indonesia yakni gotong royong. Karena itu, ia mengajak semua elemen masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama membangun Kota Malang.

Lebih lanjut lagi, dia juga memaparkan mengenai permasalahan kemiskinan, pendidikan dan UMKM. Nanda menekankan perlunya regulasi yang jelas untuk menghidupkan UMKM di Kota Malang. Sementara, frame Kota Malang sebagai kota pendidikan harus bisa mewujudkan pendidikan berlevel internasional.

“Hal ini tentu akan menjadi mahal, nantinya sumber daya manusia jebolan Kota Malang akan diperhitungkan, karena tentu saja lulusan-lulusannya berkualitas,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, para peserta Nanda juga sempat mengaku beruntung berstatus sebagai penantang petahana. Dalam hal ini, dia bisa melihat beragam persoalan yang belum diselesaikan pemerintahan saat ini.

“Kita lihat salahnya apa, terus kita perbaiki. Enaknya berkompetisi dengan incumbent,” tutur Nanda sambil melempar senyum pada kedua bakal calon lainnya.

Ditambahkan oleh H Ahmad Wanedi baginya, forum- forum seperti ini tentunya bisa memberikan satu masukan untuk membawa Kota Malang yang guyup. “Saya hanya menyampaikan secara moral. Kebanyakan pemimpin itu kata-katanya baik, maksudnya yang disampaikan baik , tetapi perilakunya tidak. Ini jangan sampai terjadi,” serunya.

Di sisi lain, H Moch Anton merespon pernyataan Nanda atas persoalan pemerintah yang dinilai belum maksimal. Suami Hj Dewi Farida Suryani itu menilai, Nanda juga tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab permasalahan tersebut.

Sebab, menurut Anton, apa-apa yang dibuat selama ini selalu memperoleh persetujuan dari DPRD Kota Malang, dimana Nanda adalah anggota badan anggaran. “Tetapi saya kurang sepakat dengan yang diungkapkan Bu Nanda, selama memimpin pembangunan di Kota Malang selalu mengalami perkembangan positif. Terutama, dalam hal ekonomi, pertumbuhan di Kota Malang ini semakin bagus,” jawabnya.

Sementara, Sutiaji menyampaikan, siapapun yang nantinya terpilih sebagai N1 harus memiliki tiga syarat utama yakni, kompetensi, integritas, dan etika moral. Selain itu, konsep pembangunan juga harus direncanakan dengan matang.

“Dari awal kalau sudah dikonsep dengan baik, dalam pelaksanaan akan mengikuti dan hasilnya bisa dilihat,” tandasnya.(Coi/Aka)