Dinkes Kota Batu Seriusi Penanganan Penderita HIV/AIDS

Kabid Penyuluhan dan Pencegahan (P2) Dinas Kesehatan, Kota Batu dr. Yuni Astuti saat ditemui di ruangannya (Foto: Ayun)

MALANGVOICE – Adanya diskriminasi bagi pengidap penyakit HIV/AIDS di Kota Batu cukup membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu kerepotan dalam identifikasi.

Hal itu dikatakan Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Batu, dr. Sri Rahati, menurutnya persoalan HIV/AIDS memang tidak boleh dianggap penyakit tahunan, dalam hal ini masyarakat diminta agar tidak tanggap mengenai penyakit AIDS pas hanya jatuh di hari peringatannya saja.

“Ya memang penyakit ini merupakan masalah bersama, masyarakat harus tanggap dan peduli setiap saat. Bukan hanya saat ada peringatan saja,” ujarnya saat ditemui MVoice

BNN Kota Malang

Ia juga menambahkan, jika selama ini para penderita yang kerap disebut Odha masih merasa terkucilkan. Diskriminasi yang berlebihan tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Banyak para Odha yang berakhir hidupnya lantaran sudah tak tahan merasa dikucilkan dan membuat mereka putus asa.

Sementara itu, Kabid Penyuluhan dan Pencegahan (P2) Dinas Kesehatan, Kota Batu dr. Yuni Astuti mencatat, dari tahun ketahun Dinkes Kota Batu kerap melakukan screening. Diketahui hasilnya sejak tahun 2016 sebanyak 18 warga Kota Batu positif mengidap HIV, sementara tahun 2017 angka tersebut turun menjadi 16 jiwa. Kemudian di tahun 2018 terdapat 42 warga Batu harus bergantung obat-obatan lantaran mengidap virus HIV/AIDS.

“Semakin banyak warga yang melapor, artinya Populasi penyebaran semakin terdeteksi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Sulitnya pemetaan pengidap AIDS dikarenakan para penderita cenderung tertutup. Yuni tidak menampik jika faktor tersebut mengakibatkan korban sulit ditemukan. Terbaru, salah satu warga Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, meninggal akibat HIV/AIDS pada Kamis (21/3).

Pria berusia 34 tahun itu disembunyikan identitasnya. Hal itu lantaran sempat dikucilkan masyarakat setempat. Selain itu pihak keluarga juga sudah lepas tangan untuk mengurusi keperluan korban. Karena putus asa akhirnya korban enggan mengonsumsi obat sehingga meninggal dunia.

“Saya tidak mau menyebut nama Korban. Yang jelas Odha ini harusnya mendapat dorongan mental yang lebih. Karena sekali saja berhenti meminum obat, virus yang berada di tubuhnya semakin menggerogoti imunnya,” tandasnya.(Der/Aka)