MALANGVOICE– Sektor pariwisata di Kota Batu dirasa muram saat libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Tingkat kunjungan diluar ekspektasi lantaran dipengaruhi lemahnya daya beli masyarakat. Jumlah kunjungan mencapai 674.195 wisatawan pada periode 13 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026.
Gambaran tersebut melenceng dari harapan Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu yang menargetkan 1,1 juta wisatawan pada momen libur akhir tahun. Realisasinya berkisar 61 persen dari target tersebut. Jika dibandingkan dengan periode Nataru tahun sebelumnya, penurunannya tergolong tajam.
Film Horor Alas Roban Siap Tayang Januari 2026, Angkat Kisah Nyata Jalur Angker Jawa Tengah
Pada rentang waktu yang sama di Nataru 2024, Kota Batu mampu menyedot hingga 1.142.767 wisatawan. Artinya, terjadi penurunan hampir 39 persen dalam setahun terakhir. Lesunya kunjungan terlihat jelas pada dua sektor utama. Pertama, objek daya tarik wisata (ODTW) yang hanya dikunjungi 565.436 wisatawan. Kedua, sektor akomodasi hotel dan penginapan yang mencatat 108.192 kunjungan.
Kepala Disparta Kota Batu, Onny Ardianto mengakui, tren penurunan tersebut cukup terlihat. Meski demikian, ia menegaskan bahwa data yang dirilis masih bersifat sementara karena laporan dari pelaku usaha baru masuk sekitar 90,32 persen. Secara kalkulasi harian, merosot cukup signifikan. Tahun lalu rata-rata bisa 20 ribu wisatawan per hari, namun kali ini hanya sekitar 6 ribu orang per hari.
Menurutnya, ada dua faktor utama yang menjadi penyebab melemahnya kunjungan wisata di momen libur panjang kali ini. Faktor pertama adalah kondisi ekonomi nasional yang berdampak pada daya beli masyarakat.
“Banyak masyarakat yang lebih berhati-hati mengatur pengeluaran rumah tangga. Jadi, anggaran liburan juga ikut diketatkan,” jelas Ony.
Faktor kedua tak kalah berpengaruh, yakni kondisi cuaca. Intensitas hujan tinggi dan cuaca ekstrem yang terjadi bertepatan dengan puncak libur Nataru membuat sebagian wisatawan memilih menunda perjalanan.
“Cuaca kurang bersahabat, hujan deras terjadi hampir merata di momen libur. Itu sangat mempengaruhi keputusan wisatawan,” imbuhnya.
Meski angka kunjungan turun, Onny menegaskan Kota Batu masih tetap menjadi destinasi favorit. Sejumlah objek wisata legendaris tercatat tetap ramai, baik oleh wisatawan nusantara maupun mancanegara.
“Destinasi favoritnya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Jawa Timur Park Group, Selecta, hingga desa-desa wisata masih menjadi tujuan utama,” sebutnya.
Pendataan Disparta dilakukan terhadap 91 jasa usaha akomodasi/hotel dan 44 daya tarik wisata (DTW). Namun demikian, data tersebut belum mencakup kunjungan ke sektor kuliner seperti restoran, kafe dan rumah makan. Begitu pula wisatawan yang menginap di homestay dan vila, lantaran belum seluruh paguyuban menyampaikan laporan resmi.
Sementara itu, dari sisi asal wisatawan, mayoritas masih didominasi wisatawan domestik. Terbanyak berasal dari Jawa Timur, disusul DKI Jakarta dan Jawa Barat. Sementara wisatawan mancanegara tercatat berasal dari Malaysia, kemudian Singapura dan Thailand.
Selain merilis data kunjungan, Disparta Kota Batu juga membeberkan hasil survei digital terkait pola belanja wisatawan sepanjang tahun 2025. Survei dilakukan melalui kuesioner WhatsApp Blast kepada 1.000 responden.
Hasilnya, rata-rata pengeluaran wisatawan selama berlibur di Kota Batu mencapai Rp 6,2 juta per kunjungan. Angka tersebut dihitung berdasarkan durasi tinggal rata-rata 2,86 hari.
“Jika dirata-rata, pengeluaran wisatawan berada di kisaran Rp 2,1 juta per orang per hari,” papar Onny.
Pengeluaran tersebut mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari tiket wisata, akomodasi, kuliner, transportasi, hingga belanja oleh-oleh, parkir, toilet berbayar, serta jasa pendukung lainnya.
Menurut Onny, data ini menjadi gambaran konkret kontribusi sektor pariwisata terhadap perputaran ekonomi daerah. Survei digital juga dinilai lebih cepat dan responsif untuk memetakan perilaku wisatawan.
“Ini bisa menjadi dasar bagi kami untuk menyusun kebijakan ke depan, terutama dalam peningkatan kualitas layanan pariwisata,” tandasnya.(der)