Curah Hujan Tinggi, Sejumlah Petani di Kota Batu Keluhkan Rusaknya Tanaman Cabai

Potret cabai di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu yang mengalami kerusakan akibat curah hujan tinggi belakangan ini. (Foto: Ayun)

MALANGVOICE – Curah hujan tinggi yang mulai terjadi sejak Januari hingga April ini mulai membawa dampak kepada sektor pertanian yang ada di Kota Batu. Dalam hal ini, para petani cabai merasa tidak diuntungkan dengan kondisi cuaca dengan curah hujan tinggi.

Seperti yang dirasakan oleh Armanto (40), salah satu petani cabai di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, Kota Batu.

Armanto yang memiliki lahan sekitar 500 meter per segi ini mengaku tanaman cabainya banyak mengalami kerusakan akibat curah hujan yang tinggi belakangan ini. Bahkan menurutnya, kerusakan tanaman cabai mencapai 50 persen.

BNN Kota Malang

Rusaknya tanaman cabai ini terlihat pada fisik cabai yang mulai layu dan terlihat pucat bercampur bintik-bintik hitam.

“Ya, kalau musim hujan seperti ini banyak cabai yang rusak busuk terkena penyakit. Mulai daunnya bule (kekuningan), layu, sampai terkena cacar” keluh Armanto saat diwawancarai di area persawahannya, Rabu (3/4).

Rusaknya cabai tersebut juga menyebabkan harga cabai anjlok sejak bulan januari lalu. Tak tanggung – tanggung, anjloknya harga cabai tersebut hingga mencapai angka Rp 6000 per kilogramnya.

Bahkan ia juga mengatakan untuk sekali panen saat ini hanya mendapatkan sekitar 50 kilogram cabai untuk panen terbanyak sejak Januari lalu. Sedangkan normalnya saat musim panas bisa mendapatkan hasil panen sekitar 90 kilogram.

Sementara itu, untuk pemeliharaan cabai saat musim hujan seperti ini harus dilakukan ekstra. Karena, obat yang disemprotkan untuk menghalau hama penyakit terus luntur karena terkena hujan. Sehingga butuh dana lebih untuk memelihara cabai rawit dikala musim penghujan seperti belakangan ini yang sering mengguyur Kota Batu.

Arman juga mengungkapkan bulan Februari lalu harga jual cabai sendiri mulai merangkak naik di angka Rp 9000 perkilogramnya. Sedangkan bulan maret hingga saat ini sudah di angka Rp 12 ribu perkilogramnya.

“Sempat turun sampai Rp 6000, tapi Februari mulai naik lagi harganya Rp 9000. Dan kalau sekarang sudah Rp 12.000 perkilonya” tandasnya.(Hmz/Aka)