MALANGVOICE– Sektor pertanian di Kota Batu terus dipacu agar naik kelas dan berdaya saing di panggung global. Kolaborasi internasional diperkuat agar menciptakan sistem pertanian adaptif, terintegrasi dan produksi pertanian menembus pangsa pasar luas. Sehingga kolaborasi yang dibangun dapat menjawab tantangan riil yang dihadapi dan difokuskan untuk meningkatkan daya tawar petani agar sejahtera.
Kerja sama internasional dijajaki Pemkot Batu bersama Shimonoseki City University agar impian tersebut bisa terealisasi. Delegasi Shimonoseki City University dipimpin Prof. Izuka. Turut hadir perwakilan SE Assist Co. Ltd Ryuga Nakanishi serta akademisi Universitas Muhammadiyah Malang.
Anggota Komisi A Minta Pemkot Malang Tindak Tegas Konten LGBT Odette
Kedua pihak menggelar pertemuan menyusun strategi teknis dalam menjalankan sinergi inovasi pertanian Kota Batu. Melalui kolaborasi multipihak yang melibatkan pemerintah, mitra luar negeri, akademisi serta pelaku usaha lokal dapat merangsang transfer pengetahuan dan teknologi.
Wali Kota Batu, Nurochman menegaskan, Pemkot Batu sepakat menindaklanjuti pembahasan melalui perumusan kebutuhan detail, pemetaan potensi lahan, serta penyusunan skema kerja yang realistis. Ia menginginkan agar kerja sama yang dijalin bukan hanya wacana di awang-awang, namun harus menghasilkan langkah konkret dan manfaat nyata bagi petani serta perekonomian daerah.
Menurut dia, kerja sama internasional harus menjawab kebutuhan riil di lapangan. Mulai dari kejelasan kebutuhan lahan, kesiapan sumber daya manusia, hingga skema pendanaan dan peluang investasi dari mitra. Pemkot Batu, kata dia, membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya, tetapi tetap dengan perencanaan yang matang dan terukur.
“Kami menyambut baik tawaran kerja sama ini. Namun implementasinya harus jelas, terukur, dan dikerjakan bersama agar benar-benar memberikan dampak bagi kesejahteraan petani dan kemajuan sektor pertanian Kota Batu,” ujar Nurochman.
Dalam paparannya, pihak kampus Jepang menawarkan tiga proyek utama untuk mendorong transformasi pertanian Batu. Pertama, penyusunan Kajian Visi Pertanian 2050. Dokumen ini akan menjadi peta jalan jangka panjang arah pengembangan pertanian Kota Batu, menyesuaikan dinamika pasar, perubahan iklim dan tren konsumsi global.
Kedua, penguatan kelembagaan pertanian. Fokusnya membangun sistem yang lebih solid dari hulu hingga hilir, termasuk manajemen produksi, distribusi, hingga pemasaran berbasis data. Ketiga, pengembangan budidaya salmon dan stroberi premium Jepang dengan pendekatan industrialisasi agroindustri berbasis pasar (marketing-driven).
Model ini dinilai selaras dengan karakter Kota Batu sebagai kota wisata. Data kunjungan wisatawan akan menjadi salah satu variabel utama dalam menentukan skala produksi, sehingga hasil pertanian terserap optimal dan memiliki nilai tambah.
“Secara finansial, program tersebut menargetkan nilai pasar hingga Rp300 miliar pada 2050. Untuk tahap awal, dibutuhkan investasi sekitar Rp13 miliar dalam tiga tahun pertama. Skema implementasi dirancang melalui lima pilar COOSAE,” papar Cak Nur.
Lima pilar itu mencakup penjualan dan pembelian bersama guna memperkuat posisi tawar petani, dukungan produksi berbasis data dengan sistem QR code ‘Batu Quality’, pengolahan produk bernilai tambah, hingga kemitraan keuangan dan asuransi untuk meminimalkan risiko usaha tani.
Konsep QR code Batu Quality misalnya, dirancang untuk menjamin transparansi dan ketertelusuran produk. Konsumen dapat mengetahui asal produk, standar budidaya, hingga kualitasnya. Dengan begitu, branding pertanian Batu tidak hanya mengandalkan nama besar, tetapi juga sistem yang terukur.
Cak Nur menilai tawaran tersebut sejalan dengan visi penguatan sektor pertanian sebagai penopang ekonomi daerah. Terlebih, Kota Batu selama ini dikenal sebagai sentra hortikultura dan destinasi wisata berbasis alam.
“Kami ingin pertanian Kota Batu naik kelas. Tidak hanya kuat di produksi, tetapi juga di pengolahan, pemasaran dan sistem pendukungnya. Kalau semua terintegrasi, kesejahteraan petani bisa meningkat,” ujarnya.(der)