Toleransi Lintas Iman Menguat di Harlah 1 Abad NU Kota Malang

MALANGVOICE- Peringatan Hari Lahir (Harlah) 1 Abad Nahdlatul Ulama yang digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang, Sabtu–Minggu (7–8 Februari), menjadi momentum bersejarah sekaligus potret indah toleransi antarumat beragama. Kegiatan akbar ini diikuti sekitar 100 ribu Nahdliyin dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Kota Malang kembali menegaskan diri sebagai ruang bersama yang damai dan inklusif. Suasana kebersamaan dan persaudaraan lintas iman terasa kuat selama rangkaian kegiatan berlangsung. Sejumlah gereja di sekitar Stadion Gajayana menunjukkan dukungan nyata dengan membuka area gereja sebagai tempat singgah jemaah, menyediakan makanan dan minuman, hingga menyesuaikan jadwal ibadah mingguan.

Persiapan Harlah 1 Abad NU, Wali Kota Malang Pertimbangkan Gereja untuk Transit Jemaah

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyampaikan apresiasi atas dukungan gereja-gereja di sekitar lokasi kegiatan yang dinilainya sangat membantu kelancaran pelaksanaan Harlah 1 Abad NU.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada beberapa gereja yang telah menyiapkan tempat istirahat, toilet, tempat wudu, tempat salat, serta makanan dan minuman bagi para jemaah,” ujar Wahyu usai meninjau sejumlah gereja, Jumat (6/2).

Menurut Wahyu, keberadaan gereja-gereja yang berdekatan dengan Stadion Gajayana sangat strategis, terutama untuk mengantisipasi keterbatasan kapasitas stadion serta penutupan sejumlah ruas jalan selama acara berlangsung.

“Kurang lebih ada tujuh sampai delapan gereja yang membantu. Ini sangat meringankan kami dalam penyelenggaraan kegiatan,” katanya.

Ia menegaskan, dukungan lintas iman tersebut merupakan wujud toleransi yang patut dibanggakan. “Ini adalah model toleransi antarumat beragama di Kota Malang. Pelaksanaan Harlah 1 Abad NU berjalan baik, semua saling mendukung dan mengapresiasi,” pungkasnya.

Dukungan serupa disampaikan Romo Kepala Paroki Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, R.D. Petrus Prihatin. Ia menyebut Gereja Ijen memberikan dukungan penuh dengan meniadakan sejumlah jadwal Misa pada Sabtu sore dan Minggu pagi agar area gereja dapat dimanfaatkan sebagai tempat transit dan istirahat jemaah.

“Kami meniadakan beberapa jadwal Misa agar lokasi gereja dan sekitarnya bisa digunakan untuk transit para jemaah yang mengikuti Harlah NU. Gereja juga menyiapkan minum bagi para jemaah sebagai bentuk dukungan dan toleransi kami,” ujar Romo Petrus.

Ia menegaskan langkah tersebut merupakan wujud penghormatan kepada umat Islam yang tengah merayakan satu abad Nahdlatul Ulama. Pihak paroki juga membuka gerbang gereja dan menyediakan area beratap untuk tempat istirahat. Kebijakan ini, kata dia, diterima umat paroki dengan baik.

“Kami sungguh mendukung dan menghormati saudara-saudara kami yang merayakan Harlah satu abad NU. Semoga kegiatan ini berjalan lancar, tertib, dan membawa kebaikan ke depan,” tambahnya.

Semangat toleransi juga ditunjukkan Gereja HKBP Malang di Jalan Bromo. Pendeta HKBP Malang, Pdt. Melva Sitompul, mengatakan pihaknya menyediakan sekitar 250 paket snack berupa roti dan air mineral bagi jemaah NU yang datang ke Malang.

“Gereja kami juga terbuka untuk tempat istirahat dan menyediakan area parkir bagi para peserta,” jelasnya.

Selain itu, Gereja HKBP Malang turut menyesuaikan jadwal ibadah Minggu. Dari semula lima kali kebaktian, dikurangi menjadi dua kali kebaktian pada Minggu sore sebagai bentuk penghormatan dan partisipasi dalam perayaan 100 tahun NU.

“Jemaat kami mengapresiasi keputusan ini dan memahami bahwa toleransi adalah nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat. Semoga perayaan ini berlangsung dengan sukacita dan kerukunan antarumat beragama semakin nyata di Kota Malang,” pungkas Pdt. Melva.(der)

Berita Terkini

Arikel Terkait