Peristiwa Bencana Meningkat Sepanjang Tahun 2025

MALANGVOICE– BPBD Kota Batu melaporkan sebanyak 209 peristiwa bencana sepanjang tahun 2025. Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan peristiwa bencana yang tercatat sebanyak 122 kejadian pada tahun 2024. Kecamatan Bumiaji menjadi lokasi yang kerap ditimpa bencana sebanyak 99 kejadian. Mengingat topografi wilayahnya berada di lintasan perbukitan berkontur miring.

Sehingga Kecamatan Bumiaji rawan dilanda bencana tanah longsor. Bencana longsor juga menempati posisi puncak dari rentetan bencana yang terjadi di Kota Batu. Tercatat ada sebanyak 127 bencana longsor sepanjang tahun 2025, meningkat tajam dibandingkan 2024 tercatat sebanyak 56 kejadian. Bencana angin kencang menempati urutan kedua, sebanyak 46 kejadian, sedangkan pada 2024 tercatat 28 kejadian.

“Disusul banjir sebanyak 25 kejadian, kebakaran bangunan 10 peristiwa, serta kebakaran hutan dan lahan satu kejadian,” ungkap Plt Kepala BPBD Kota Batu, Suwoko.

Ia menjelaskan, tingginya angka kejadian di Kecamatan Bumiaji dipengaruhi faktor geografis. Wilayah tersebut memiliki banyak kawasan perbukitan dengan kontur tanah miring dan struktur tanah yang mudah bergerak saat jenuh air. Selanjutnya di Kecamatan Batu sebanyak 78 kejadian, serta Kecamatan Junrejo dengan 32 kejadian.

“Sejak awal November, intensitas hujan melonjak cukup tajam. Dalam beberapa kejadian, material tanah dan batu sempat menutup akses warga. Di sejumlah titik juga muncul retakan tanah yang menjadi alarm alami bagi warga di kawasan lereng,” paparnya.

Dari rangkaian bencana sepanjang 2025, tercatat satu orang mengalami luka, 281 warga terdampak, dan 24 orang terpaksa mengungsi. Meski demikian, Suwoko memastikan tidak ada korban jiwa.

“Bencana dalam setahun kemarin tidak sampai ada yang meninggal dunia,” katanya.

Selain korban, bencana juga menimbulkan kerusakan fisik yang cukup luas. Data BPBD mencatat 24 rumah mengalami rusak ringan, 16 rumah rusak sedang, dan 19 rumah rusak berat. Sebanyak 19 rumah juga terendam banjir. Dampak sosial ekonomi turut dirasakan, dengan satu hektare sawah terdampak, 0,175 hektare lahan rusak, serta sembilan kios ikut terdampak.

Pada sektor pelayanan dasar, lima fasilitas pendidikan mengalami kerusakan. Sementara pada prasarana vital, tercatat empat jaringan air bersih rusak, 11 jaringan listrik dan lampu penerangan terganggu, lima jaringan telekomunikasi terdampak, 0,003 kilometer jalan rusak, serta satu jembatan mengalami kerusakan.

Sebagai langkah penanganan, BPBD Kota Batu terus mengintensifkan mitigasi bencana berbasis masyarakat. Upaya tersebut meliputi pelatihan relawan, pemetaan daerah rawan bencana, hingga pemasangan sistem peringatan dini di desa-desa kawasan lereng.

“Kami minta warga tetap waspada. Jika muncul retakan tanah, pohon mulai miring, atau air keruh mengalir deras dari lereng, segera laporkan,” tegas Suwoko.

Kondisi ini membuat masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terlebih pada 2026 yang diprediksi masih diwarnai cuaca ekstrem. Hal tersebut didasarkan pada pengamatan BMKG yang memproyeksikan curah hujan bakal mengalami peningkatan dampak fenomena La Nina.

“Ini adalah pengingat bahwa kita hidup di wilayah yang berisiko. Kewaspadaan tidak bisa ditawar. Mengacu pada kondisi cuaca dan iklim, kami canangkan Batu Sae Tanggap Bencana,” ujar Wali Kota Batu, Nurochman.

Ia menyatakan pemerintah daerah terus memperkuat kesiapsiagaan, baik dari sisi struktural maupun nonstruktural. Pemkot juga menekankan pentingnya kesiapan mental dan kapasitas warga melalui pelatihan relawan, simulasi tanggap darurat, serta program sekolah aman bencana.

“Penanganan bencana harus bergeser dari reaktif menjadi preventif. Kesiapsiagaan dan kolaborasi adalah kunci,” ujar Cak Nur.

Cak Nur menyampaikan lima arahan strategis sebagai peta jalan penanggulangan bencana. Diantaranya memperkuat sinergi pentahelix. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dunia usaha, akademisi dan media harus diperkuat untuk menyiapkan sumber daya siaga bencana. Kedua, membangun kesadaran masyarakat melaluo osialisasi, pelatihan dan simulasi bencana harus digencarkan untuk meningkatkan kapasitas warga sebagai garda terdepan.

Ketiga, menyatukan persepsi dan perencanaan. Perencanaan pengurangan risiko bencana harus kompak dan terintegrasi lintas sektor. Kemudian memperluas komunikasi ke level terbawah, informasi kesiapsiagaan harus sampai hingga tingkat desa dan kelurahan agar tidak ada yang terlewat.

“Kelima, mengaktifkan posko dan sistem peringatan dini. Posko siaga dan sistem peringatan dini di wilayah rawan bencana harus diaktifkan dan dipantau 24 jam,” tegasnya.

Pemkot Batu tidak ingin hanya berwacana. Sejumlah langkah mitigasi konkret telah dijalankan. Upaya membangun budaya sadar bencana juga digelorakan melalui pelatihan relawan, satuan pendidikan aman bencana dan simulasi tanggap darurat berbasis data.

Hasil dari kerja kolaboratif ini mulai terlihat. Berkat sinergi dengan Forkopimda, ormas, dunia usaha dan masyarakat, indeks risiko bencana Kota Batu berhasil ditekan dari 81,0 pada 2023 menjadi 75,21 di 2024.

“Penanganan bencana tidak boleh lagi bersifat reaktif, tetapi harus berubah menjadi preventif. Kesiapsiagaan dan kesadaran diri adalah kunci agar kita mampu meminimalkan dampak dan korban bila bencana datang,” tuturnya.(der)

Berita Terkini

Arikel Terkait