Terpana, Mahasiswa Lincoln University Sebut Kampoeng 3G ‘Fashionable’

0
18
Kunjungan mahasiswa Lincoln University, Selandia Baru, di Kampoeng 3G.
Kunjungan mahasiswa Lincoln University, Selandia Baru, di Kampoeng 3G.

MALANGVOICE – Sebanyak 30 mahasiswa Lincoln University, Selandia Baru, mengunjungi Kampoeng Glintung Go Green (3G), Selasa (8/11). Kedatangan mereka tidak terlepas dari prestasi kampung yang sedang booming ini.

kampung3g2

Nama Kampoeng 3G yang mendunia, membuat bule dari berbagai negara penasaran melihat langsung. Kunjungan kali ini terlaksana melalui program International Summer School Exchange yang dicanangkan perguruan tinggi tersebut.

Rombongan terdiri dari mahasiswa asal berbagai belahan dunia, seperti India, Jepang, Australia, dan sejumlah negeri Afrika. Koordinator rombongan, Dr Ramzi Addison, menilai, Kampoeng 3G amat representatif dengan Indonesia.

Pendapat senada disampaikan Genevieve, mahasiswi dari Program Studi Pertanian Lincoln University. Putri petani di negeri asalnya itu terkesima dengan ide warga terkait vertical garden dan kreativitas tanam lainnya.

kampung3g5

“Tanaman di Kampoeng 3G ditata sedemikian ruma hingga sangat ‘fashionable’. Saya akan mencoba hal seperti ini di desa saya,” kata gadis manis itu.

Sementara itu, salah seorang warga Kampoeng 3G, Nandaka Bimantara, mengatakan, kunjungan tamunya kali ini amat tepat sasaran. Itu terbukti dari kesan dan pesan rombongan yang menunjukkan kekaguman pada sistem pengelolaan lingkungan.

“Artinya, tempat ini sesuai situasi dan kondisi yang representatif dengan perkampungan di Indonesia. Bahkan ada beberapa aspek, seperti daur ulang sampah, yang menurut mereka di sini lebih baik dari pada Selandia Baru,” ungkapnya.

kampung3g6

Ketua RW 23, Bambang Irianto, menambahkan, keberhasilan yang diapresiasi ini semakin membuktikan peran penting kesadaran masyarakat dalam membangun kampung.

“Mereka kagum pada program-program yang sudah berhasil menciptakan perilaku cinta lingkungan secara natural di tiap individu. Mereka salut, karena mereka paham betapa sulitnya mengubah perilaku masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia,” pungkasnya.