Teguh Santosa: Anak Berkebutuhan Khusus Juga Generasi Penerus Bangsa

0
101
Teguh Santosa: Anak Berkebutuhan Khusus Juga Generasi Penerus Bangsa
Teguh Santosa: Anak Berkebutuhan Khusus Juga Generasi Penerus Bangsa

 

MALANGVOICE-Pemerintah, baik pusat maupun daerah, sudah sepantasnya memberi perhatian khusus pada fenomena anak berkebutuhan khusus (ABK) yang diperkirakan terus naik jumlahnya. Asumsi PBB menyebutkan, 10 persen anak usia sekolah di setiap negara adalah anak dengan kebutuhan khusus, maka di Indonesia, tak kurang dari 4,2 juta anak memiliki kebutuhan khusus dengan berbagai kategori.

Di Indonesia, Hari Anak dirayakan setiap 23 Juli, sementara Hari Anak Internasional dirayakan setiap 1 Juni. Selain itu juga ada Hari Anak Universal setiap 20 November.

“Anak-anak berkebutuhan khusus juga bagian dari generasi penerus bangsa. Kita harus memberikan perhatian ekstra serius kepada mereka, tak cukup sekadar seremoni dan perayaan-perayaan,” tutur bakal calon Gubernur DKI Jakarta, Teguh Santosa, pada pesan Hari Anak Indonesia yang dikirimkan ke media massa, beberapa menit lalu.

Teguh yang juga Ketua Bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, itu mengatakan, sejak beberapa periode lalu, sepintas pemerintah terlihat sudah memiliki perhatian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Misalnya dengan ikut merayakan Hari Penyandang Cacat pada 3 Desember, dan Hari Kepedulian Autisme pada 2 April.

Program pendidikan sekolah inklusi yang memberi kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus bersekolah di sekolah umum juga sudah dikenal di sejumlah kota di Indonesia.

“Tetapi, sepengamatan saya, itu saja tak cukup. Harus ada upaya massif dalam waktu singkat untuk menciptakan gelombang besar kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus, melibatkan banyak stake holder. Pemerintah harus jadi motor gerakan massif itu. Jakarta sebagai ibukota negara dituntut menjadi model dari gerakan ini,” kata Wakil Rektor Universitas Bung Karno (UBK) ini.

Dia menambahkan, masih ada fenomena tidak bagus, dimana kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus hanya muncul signifikan di kalangan keluarga yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Sementara masyarakat yang tidak memiliki anak berkebutuhan khusus terlihat kurang peka dalam menyikapi isu ini.

Di sisi lain, Teguh juga mengatakan, masih ada keluarga dengan anak berkebutuhan khusus yang enggan dan terkesan menutup-nutupi kondisi anaknya karena alasan malu dan sebagainya.

Sebagai orangtua dengan anak berkebutuhan khusus, Teguh dapat memahami betapa sulit mereka berjuang dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, masih banyak masyarakat awam yang karena tidak atau kurang paham, seringkali bertindak tidak tepat saat berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus.

Teguh memiliki tiga anak. Anak keduanya, Timur Muhammad Santosa, memiliki gejala Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) kategori high function. Timur yang kini duduk di kelas empat SD, secara umum dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan tergolong cerdas di sekolahnya. Walau begitu, sebagai penyandang ADHD, Timur sulit dipahami lingkungan di luar keluarganya.

“Saya mengalami sendiri baru-baru ini, seorang supir taksi berkata-kata keras dan kasar kepada anak saya, hanya karena dia tidak memahami bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anak seperti Timur,” katanya lagi.

Menurut Teguh, berbagai hal yang harus dilakukan pemerintah Jakarta, antara lain mendirikan pusat-pusat informasi dan krisis untuk membantu masyarakat luas memahami fenomena anak-anak berkebutuhan khusus. Juga menyediakan fasilitas umum dan fasilitas sosial yang memudahkan ABK, termasuk merekrut dan membina relawan dalam kampanye kepedulian terhadap ABK.