Sipafa, Teknologi Komputer bagi Penyandang Cacat Tanpa Tangan

0
533
Simulasi alat (ist)

MALANGVOICE – Di zaman modern ini komputer menjadi kebutuhan mendasar bagi semua orang. Komputer dapat dioperasikan dengan mudah oleh banyak orang. Namun tidak begitu dengan saudara – saudara kita penyandang cacat/difabel yang tidak memiliki tangan.

Pengoperasian komputer yang banyak menggunakan tangan menjadi kendali tersendiri bagi mereka. Menurut data dari International Labour Organization (ILO), sekitar 15% penduduk dunia adalah difabel. Sekitar 785 juta jiwa diantaranya berada pada usia produktif namun mayoritas tidak bekerja. Itu menyebabkan difabel lebih rentan miskin.

Alat dipresentasikan di Jogja (ist)
Alat dipresentasikan di Jogja (ist)

Melihat permasalahan itu, lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) di bawah bimbingan Gembong Edhi Setyawan ST MT berinovasi membuat sebuah sistem komputer, membantu penyandang difabel yang tidak memiliki tangan, agar mampu mengoperasikan komputer dengan mudah dan nyaman.

Teknologi tersebut diberi nama Sipafa (Sistem Perangkat Komputer untuk Difabel) yang tidak mempunyai tangan dengan mengimplementasikan sensor Gyroscope. Tim pembuat Sipafa terdiri atas empat mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) yaitu Harry Mulya (Teknik Komputer/2013), Ihsannurahim (Teknik Komputer/2013), Novia Ulfa Nuraini (Teknik Komputer/2013), Moch Wahyu Imam Santosa (Informatika 2014) dan satu mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) yaitu Ragilda Rachma (Pendidikan Dokter 2014).

Moch Wahyu menjelaskan, Sipafa terdiri atas tiga bagian yaitu (1) alat untuk dipasang di kepala pengguna, (2) alat untuk dipasang di badan pengguna dan (3) sejenis pedal untk dioperasikan pengguna dengan menggunakan kaki.

Alat yang dipasang dikepala dilengkapi layar yang berfungsi merespon segala aktifitas yang terjadi pada komputer layaknya layar pada komputer biasa. Kemudian pada alat untuk kepala itu juga ditanamkan sensor gyroscope yang berfungsi merekam tiap pergerakan kepala pengguna, yang kemudian diolah sedemikian rupa sehingga dapat dipahami alat sebagai perintah untuk menggerakkan kursor pada layar. Berat alat dibagian kepala tersebut tidak lebih dari 700 gram.

“Pada bagian kepala selain layar kita tanamkan juga sensor gyroscope yang berfungsi membaca pergerakan pada sumbu X, Y, Z atau Yaw, Pitch, Roll. Sipafa sendiri hanya membutuhkan pergerakan pada sumbu X dan Y saja. hasil data dari gyroscope kemudian ditransmisikan melalui wireless ke dalam bagian processing yang pada akhirnya dapat menggerakan kursor seperti fungsi mouse pada komputer umumnya,” jelas Moch. Wahyu.

Cara kerja alat (ist)
Cara kerja alat (ist)

Bagian kedua pada teknologi Sipafa adalah bagian yang dipasang pada tubuh pengguna. Bagian ini berisi Rasberry pi yaitu sebuah mini personal computer (mini PC) serta baterai yang dapat di isi ulang. Mini PC inilah yang berfungsi memproses setiap pergerakan yang terjadi pada bagian alat di kepala.

Batterai yang digunakan adalah lithium polymer 3 cell dengan kapasitas 2200mAh mampu menghidupkan Sipafa hingga tiga jam pemakaian.

Sementara itu bagian terakhir adalah bagian alat yang dioperasikan dengan kaki. Bagian alat ketiga ini berfungsi sebagai pengganti klik kanan maupun klik kiri layaknya fungsi mouse pada komputer biasa. Ketiga bagian alat tersebut saling terhubung satu sama lain dalam pengoperasiannya.

Penghubung yang digunakan pada SIPAFA adalah sistem wireless yang tidak membutuhkan kabel penghubung antar alat, sehingga pengguna dapat menggunakan alat dengan nyaman tanpa terganggu pergerakannya oleh rangkaian kabel.

Hasil karya mahasiswa UB ini daam pengembangannya mendapat dukungan dana dari Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2015 yang pendanaannya turun pada 2016. Sipafa juga diakui pernah mendapatkan penghargaan sebagai juara ke-3 pada kompetisi UNY-National Innovation Technology (Unitech) 2016 di Yogyakarta 13 – 14 Mei 2016 lalu.

Sipafa yang terus dikembangkan penggunaannya tersebut juga dalam pengurusan ijin kerjasamanya untuk dapat dimanfaatkan oleh penyandang difabel tanpa tangan yang tergabung dalam Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya (PSLD UB).

Tidak hanya itu, Novia Ulfa salah satu anggota tim Sipafa juga mengungkapkan bahwa kedepannya untuk mempermudah pengguna, Sipafa akan dibuat memiliki teknologi untuk mengenali suara pengguna dan mengolahnya menjadi tulisan.

Dengan demikian pengguna tidak perlu susah payah lagi mengetik. Dalam versi saat ini pengguna dapat mengetik tulisan pada layar dengan memilih satu per satu huruf pada virtual keyboard yang ditampilkan, kemudian merangkainya hingga menjadi kata dan kalimat.

“Harapannya, ke depan Sipafa bisa benar-benar digunakan dan dimanfaatkan oleh penyandang difabel yang memang membutuhkan,” ungkap Novia Ulfa Nuraini.