Mahasiswa UB Ini Ubah Alga dan Limbah Tahu Jadi Makanan Bergizi

0
499
Nano Healthy Powder (ist)

MALANGVOICE – Melihat luasnya garis pantai dan sumber daya perairan Indonesia yang sangat berpotensi, empat mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Ahfad Ulfa (THP 2012), Dini N.(THP 2012), Galuh Aulia (THP 2013) dan Olivia Dirga (THP 2013) memanfatkan alga menjadi bahan pangan tinggi protein.

Innovasi yang mereka dinamai Nanno Healty Powder merupakan sebuah produk suplemen bubuk berasal dari mikroalga Nannochloropsis sp dengan kandungan protein (52,11%), karbohidrat (16%), lemak (27,64%), dan klorofil (0,89%).

Tim yang diketuai Ulfa ini melakukan inovasi produksi melalui peningkatan nutrisi pertumbuhan alga Nannochloropsis sp dengan penambahan limbah cair tahu.

“Melimpahnya limbah cair tahu yang tidak termanfaatkan menjadi latar belakang kami membuat produk ini. Padahal berdasarkan uji laboratorium, masih banyak terdapat kandungan nutrisi pada limbah itu,” jelas Ulfa.

Dia menjelaskan, beberapa zat penting yang terkadung dalam limbah tahu diantaranya adalah ammonium, fosfat dan nitrat. Biasanya limbah tahu ini dibuang begitu saja oleh para produsen tahu karena baunya yang cukup menyengat.

“Berdasar penelitian yang telah kami lakukan sejak Februari 2016 lalu, microalga yang telah mendapat penambahan limbah tahu akan meningkat jumlah selnya. Dengan demikian, tentu saja kandungan nutrisinya juga akan meningkat. Jadi proses produksi akan lebih efisien,” tuturnya menjelaskan.

Hasil produksi microalga Nannochloropsis sp dengan penambahan limbah tahu inilah yang kemudian akan diproses lebih lanjut dengan teknologi nanno untuk diolah menjadi suplemen kesehatan yang berguna bagi manusia.

Kandungan nutrisi terbesar dalam Nannochloropsis sp adalah protein sehingga, menurut tim bimbingan Agustin Krisna Wardani STP MSi PhD ini, produk Nanno Healthy sangat berpotensi sebagai sumber protein masa depan bagi kebutuhan hidup manusia.

“Berdasarkan uji laboratorium, kandungan protein alga lebih tinggi dibandingan hewan dan tumbuhan. Selain itu, berbeda dengan protein yang bersumber dari flora fauna, Nanno Healthy ini dapat diproduksi kapanpun, tanpa bergantung pada iklim, musim, maupun cuaca,” jelas Agustin.

Karena diproduksi menggunakan limbah, tentu harganya relatif lebih murah. Menurutnya, proyek ini bertujuan bagi kelestarian lingkungan karena bertujuan mengurangi polusi sungai dan udara.

“Salah satu keunggulan lain Nanno Healty powder adalah dapat dikonsumsi sebagai sumber protein dalam pembuatan sumplemen atau ditambahkan dalam berbagai bahan pangan bagi vegetarian,” pungkas dia.