Ini Dia Aplikasi Edukasi Belajar Bahasa Isyarat Indonesia Karya Mahasiswa Filkom

0
490
Presentasi aplikasi (ist)
Presentasi aplikasi (ist)

MALANGVOICE – Upaya memberikan kesetaraan hak khususnya dalam pendidikan mulai menjadi perhatian tersendiri di Indonesia. Beberapa perguruan tinggi negeri (PTN) bahkan telah merevisi persyaratan masuk bagi penyandang disabilitas pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Universitas Brawijaya (UB) sendiri mulai membuka jalur seleksi calon mahasiswa berkebutuhan khusus atau difabel sejak tahun 2012 dengan nama Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD).

Dengan kebijakan tersebut penyandang difabel mempunyai kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi layaknya mahasiswa yang masuk dari jalur regular.

Bercampurnya mahasiswa dari program regular dengan mahasiswa difabel menimbulkan suatu kebutuhan akan Bahasa yang dapat saling dimengerti kedua belah pihak. Hal ini dirasakan Bambang Cahyo Soetrisno mahasiswa Informatika angkatan 2012 Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB).

Bambang yang juga kebetulan terpilih menjadi ketua kelas mengaku sering harus berinteraksi dengan rekannya yang menyandang tuna rungu. Dirinya kemudian mulai mempelajari Bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) untuk mempermudah berkomunikasi dengan rekannya yang menyandang difabel.

Dari pengalamannya tersebut kemudian Bambang terdorong untuk membuat Aplikasi Edukasi Belajar Bahasa Isyarat Indonesia. Aplikasi yang dibuat untuk dioperasikan pada perangkat android ini terdiri atas beberapa fitur, yaitu: fitur pencarian suara, pencarian teks dan fitur daftar kosa kata dasar.

Setiap fitur dibuat dengan tujuan untuk membantu pengguna mencari kata yang ingin dipelajari Bahasa isyaratnya, hanya saja setiap fitur menyuguhkan metode pencarian yang berbeda.

Pada fitur pencarian suara pengguna tinggal mengucapkan kata yang ingin dicari dengan mendekat pada microphone, maka kemudian akan muncul kata yang diinginkan beserta video cara memperagakan Bahasa isyaratnya.

Pada fitur pencarian teks pengguna aplikasi tinggal mengetikkan kata yang dicari dan tekan tombol cari maka akan keluar kata yang diinginkan beserta video peragaan Bahasa isyaratnya.

Sementara pada fitur daftar kosa kata pengguna aplikasi tinggal memilih kata yang diinginkan dari daftar yang ada untuk memunculkan video peragaan Bahasa isyaratnya.

Tampilan aplikasi (ist)
Tampilan aplikasi (ist)

“Sebetulnya dari hasil survei pada teman-teman difabel, saya sudah mendapatkan daftar 400 kata yang menurut mereka biasa atau sering digunakan sehari-hari. Tapi karena sekarang saya juga masih harus mengerjakan skripsi, jadi baru 200 kata yang sudah dibuat videonya dan bisa diakses diaplikasi,” jelas Bambang dalam rilis yang diterima MVoice.

Untuk membuat aplikasi ini Bambang mengaku mendapat banyak support dari teman-temannya. Salah satunya Marquel Dwi Putranto, mahasiswa Filkom UB penyandang tuna rungu yang menjadi model untuk video peragaan Bahasa isyarat pada aplikasi Edukasi Belajar Bisindo.

Dengan bantuan rekan-rekannya tersebut Bambang mengaku tidak menemukan masalah yang berarti dalam pengembangan aplikasi.

“Teman-teman saat dimintai bantuan langsung merespon positif. Jadi tidak ada kesulitan,” ungkapnya.

Disampaikan Bambang, hingga saat ini Aplikasi Edukasi Belajar Bisindo belum dilaunching di Google store karena masih akan dikembangkan lebih lanjut. Tidak hanya penambahan daftar kata yang diagendakan dalam pengembangan aplikasi, tetapi juga perbaikan kualitas video peraga serta perbaikan sistem untuk kenyamanan pengguna.

Video bahasa isyarat (ist)
Video bahasa isyarat (ist)

Aplikasi ini juga telah diakui keunggulannya dengan dinobatkan sebagai juara 2 dalam ajang Hackathon Indonesia Android Kejar 2016 yang diselenggarakan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta pada 25 – 26 Mei 2016.

Hackathon Indonesia Android Kejar adalah sebuah kegiatan yang ditujukan khusus bagi para pengembang aplikasi di Indonesia dengan dukungan Google Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Bukalapak.

Dari 2.500 partisipan hanya lima aplikasi terbaik yang terpilih sebagai juara. Ajang tersebut juga menghadirkan juri yang kompeten yaitu Ananto Kusuma Seta (Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk Inovasi dan Daya Saing), Andrew Kurniadi (Google Developer Expert, Android), Sanny Gaddafi (Google Developer Expert, Product Strategy), Sigit Adinugroho (Freelance UX Designer) dan Hasanul Hakim (Kepala Aplikasi Mobile Bukalapak).