Ekspedisi Indonesia Raya (13); Momok Itu Bernama El Viento Blanco…

0
129

MALANGVOICE-Cuaca di puncak gunung Aconcagua sulit diprediksi siapapun, karena dapat berubah secara ekstrem dalam waktu singkat. Itu yang sering menjadi kendala dalam pendakian Aconcagua.

AconaguaTim Ekspedisi Indonesia Raya yang diperkuat pendaki tunadaksa Sabar Gorky dan anggota TNI yang terdiri dari lima anggota Korps Marinir serta dua pecinta alam dan seorang wartawan RMOL, dalam beberapa hari terakhir berupaya melalui cuaca dingin dan badai berbahaya yang sering dijuluki El Viento Blanco.

“Sudah beberapa hari ini kecepatan angin mencapai 30 knot dan suhu minus 25 derajat di malam hari,” jelas Dansatgas Pendakian Letkol Marinir Rivelson Saragih.

Para pendaki Ekspedisi Indonesia Raya telah beberapa kali mengalami serangan badai dalam upaya summit attack ke ketinggian 6,962 mdpl. Dengan semangat juang yang tak kenal lelah, para pendaki terus berupaya melangkahkan kaki demi mengibarkan merah putih di puncak tertinggi kedua di dunia itu.

Upaya menembus badai pun terpaksa harus terhenti di titik 6.600 mdpl, mengingat situasi tidak memungkinkan lagi untuk menembus badai hebat. Di saat bersamaan jarak pandang menjadi sangat terbatas, ditambah tiupan angin kuat yang dapat menghempaskan para pendaki.

“Bagaimanapun juga, keselamatan adalah hal utama dan di atas segala-galanya,” jelas Promotor Ekspedisi Teguh Santosa yang sudah dua hari memantau pendakian dari Mendoza, Argentina. Bersama Manajer Ekspedisi, Dar Edi Yoga. Teguh bahkan menyempatkan diri memantau Aconcagua dari ketinggian 2.950 mdpl.

Aconagua3Masih menurut Teguh, para pendaki telah melakukan upaya maksimal dengan mempertaruhkan nyawa.

Angin kencang yang dapat mencapai 90 km/jam bertiup bersamaan dengan kabut, ditambah hujan salju, merupakan gambaran sederhana dari badai berbahaya ini.

El Viento Blanco ini juga yang diduga menjadi penyebab meninggalnya salah satu pendaki berpengalaman dari Indonesia yaitu (Alm) Norman Edwin dan rekannya (Alm) Didiek Samsu pada saat melakukan ekspedisi di Aconcagua pada 1992.

“Kemarin ada dua pendaki dari negara lain yang harus dievakuasi karena mengalami pembusukan pada ruas jari di tangan, akibat tidak memakai pelindung standar pendakian. Bahkan banyak juga pendaki yang harus dievakusai dari ketinggian 5.400 mdpl,” jelas Teguh Santosa.

Kendati upaya mencapai puncak Aconcagua dalam kesempatan kali ini tertunda, namun semangat anggota Tim Ekspedisi Indonesia Raya tidak surut. Ekspedisi akan kembali ke Aconcagua di musim pendakian mendatang, akhir tahun. Pendakian Aconcagua di musim mendatang akan dilakukan satu paket dengan pendakian Gunung Vinson di Antartika.

Pada Agustus 2016, Ekspedisi Indonesia Raya dijadwalkan mendaki Gunung Denali di Alaska.