Wisatawan Melonjak, Siapkan Strategi Kurangi Timbulan Sampah di Momen Libur Lebaran

MALANGVOICE– Kemacetan panjang yang mengular di jalur menuju Kota Batu saat Lebaran mungkin sudah menjadi pemandangan yang akrab. Namun, di balik hiruk-pikuk kendaraan dan deru antusiasme wisatawan, ada persoalan lain yang tak kalah pelik menanti yakni gunungan sampah yang mengintai setiap sudut kota.

Tahun ini, ancaman itu terasa lebih nyata. Pemkot Batu memproyeksikan lonjakan drastis kunjungan wisatawan hingga angka 1,32 juta orang pada musim Lebaran 2026. Angka ini melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat hanya sekitar satu juta wisatawan. Jika tak dikelola dengan cermat, otomatis akan dibayangi banjir sampah yang diperkirakan mencapai 125 ton per hari.

Menyadari bahwa persoalan ini tak bisa sekadar diatasi dengan menambah petugas kebersihan di lapangan, Pemkot Batu bergerak lebih awal. Sebuah strategi terstruktur pun diterbitkan melalui Surat Edaran bernomor 658.1/498 /35.79.410/2026 yang diteken langsung oleh Wali Kota Batu. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari imbauan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup tentang pengendalian sampah di momen Idulfitri.

Inti dari strategi ini bukan sekadar membersihkan, melainkan mengurai dari hulu melalui seruan mengubah perilaku. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni, menjelaskan bahwa puncak permasalahan justru lahir dari kebiasaan masyarakat yang sangat bergantung pada barang sekali pakai.

“Timbulan sampah terjadi apabila dalam berbagai aktivitas masyarakat menggunakan barang dan kemasan yang sifatnya sekali pakai dan tidak dapat didaur ulang,” urai Dian.

Ia mengajak masyarakat untuk mulai membiasakan diri menggunakan perlengkapan yang bisa dipakai berulang. Partisipasi publik adalah kunci utama dalam mereduksi volume sampah. Pemerintah daerah tak tinggal diam. Dalam edaran tersebut, cakupan gerakan “Minim Sampah” ini dirancang menyentuh berbagai aspek, mulai dari perjalanan mudik hingga perayaan Lebaran itu sendiri.

“Perlu kiranya menggunakan barang dan perlengkapan yang dapat digunakan kembali pada acara yang sama di waktu yang akan datang,” tegasnya,

Para pelaku usaha, pengelola destinasi wisata, hingga jajaran pemangku desa dan kelurahan dilibatkan aktif untuk mengawasi dan memfasilitasi penanganan sampah. Untuk mengantisipasi titik-titik rawan, pemerintah mewajibkan tersedianya fasilitas penampung sampah terpilah di lokasi-lokasi strategis seperti destinasi wisata, SPBU, rumah makan, hingga rest area. Fokus utama pemilahan diarahkan pada sampah sisa makanan, kemasan plastik, dan masker, yang diperkirakan akan mendominasi timbulan sampah.

Fasilitas pengolahan seperti TPS3R, pusat daur ulang, dan rumah kompos pun diinstruksikan untuk diaktifkan. Imbauan ini juga menyasar tradisi khas Lebaran. Dalam poin “Lebaran Minim Sampah”, masyarakat didorong untuk mulai meninggalkan kemasan styrofoam dan plastik sekali pakai dalam hantaran Lebaran. Sebagai gantinya, penggunaan kotak makanan, kantong kain yang bisa dicuci ulang, hingga wadah yang tahan lama sangat dianjurkan.

Tak hanya itu, kebijakan ini juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam berbelanja. Membeli makanan dengan jumlah yang tepat, memilih bahan yang tahan lama, serta menjaga kebersihan dan kesehatan makanan dengan penyimpanan yang baik menjadi langkah-langkah kecil yang diyakini bisa memberi dampak besar.

Dengan serangkaian langkah preventif ini, Kota Batu berharap tak hanya mampu menyapu bersih sampah setelah puncak kunjungan, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa kenyamanan berwisata dan bermudik harus sejalan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan.

“Sebab, di tengah euforia kemenangan Lebaran, kota yang bersih adalah bentuk kenyamanan yang paling hakiki bagi para pemudik maupun wisatawan serta penduduk lokal,” pungkasnya.(der)

Berita Terkini

Arikel Terkait