Waduh, Ubanan Bisa Jadi Pertanda Sakit Jantung

Pria beruban bisa jadi sakit jantung. (Abiummi.com)

MALANGVOICE – Tumbuhnya uban tidak hanya menunjukkan usia yang semakin menua. Sebuah penelitian baru memperingatkan, pria dengan rambut lebih abu-abu atau uban, terlepas dari berapa usianya, berada pada peningkatan risiko penyakit jantung.

“Temuan kami menunjukkan bahwa, terlepas dari usia, rambut beruban bisa menjadi tanda peringatan dari peningkatan risiko kardiovaskular,” kata Irini Samuel, seorang ahli jantung di Universitas Kairo, Mesir, yang dikutip MVoice dari Boldsky, Kamis (12/4).

Aterosklerosis membangun materi lemak di dalam arteri, dan rambut beruban berbagi mekanisme yang sama seperti perbaikan gangguan DNA, stres oksidatif, inflamasi, perubahan hormonal dan penuaan sel fungsional.

BNN Kota Malang

“Aterosklerosis dan rambut beruban terjadi melalui jalur biologis yang sama dan kedua kejadian ini meningkat seiring bertambahnya usia,” tambah Samuel.

Para peneliti menilai prevalensi uban pada pasien dengan penyakit arteri koroner, biasanya disebabkan oleh aterosklerosis dan apakah itu penanda risiko penyakit. Jumlah rambut beruban dinilai menggunakan skor satu rambut uban mengacu rambut hitam murni, dua untuk lebih hitam dari putih, tiga sampai hitam sama putih, empat sampai lebih putih daripada hitam, dan lima menjadi putih.

Data dikumpulkan pada faktor-faktor risiko kardiovaskular, seperti hipertensi, diabetes, merokok, dislipidemia dan riwayat keluarga penyakit arteri koroner. Para peneliti menemukan, rambut beruban skor 3 atau lebih dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit arteri koroner terkait usia.

Pasien dengan penyakit arteri koroner memiliki statistik rambut putih skor yang lebih tinggi, dan kalsifikasi arteri koroner lebih tinggi dibandingkan mereka yang tanpa penyakit arteri koroner. Sebuah studi yang lebih besar termasuk laki-laki dan perempuan diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan antara rambut beruban dan penyakit kardiovaskular pada pasien tanpa faktor risiko kardiovaskular.

“Penelitian lebih lanjut diperlukan, dalam koordinasi dengan ahli kulit, untuk mempelajari lebih lanjut tentang faktor lingkungan penyebab genetik,” pungkasnya. (Der/Ery)