Uji Mental, 16 Dalang Cilik Maraton Wayangan di DKM

Dalang cilik Sulthan Adi Nugroho menjadi penampil pertama parade dalang, pengrawit dan sinden cilik di DKM Jalan Majapahit, Sabtu (13/10). (Aziz Ramadani/MVoice)
Dalang cilik Sulthan Adi Nugroho menjadi penampil pertama parade dalang, pengrawit dan sinden cilik di DKM Jalan Majapahit, Sabtu (13/10). (Aziz Ramadani/MVoice)

MALANGVOICE – Sebanyak 16 dalang cilik gelar pertunjukan wayang kulit di Joglo Dewan Kesenian Malang (DKM) Jalan Majapahit, Sabtu (13/10). Mereka yang tergabung dalam Sanggar Taruna Krida Rasa unjuk kebolehan mendalang secara maraton (bergantian).

Ketua Panitia Parade, Iwan Budi Susanto mengatakan, agenda ini rutin dilakukan setahun sekali. Tujuannya untuk melatih keberanian. Khususnya sejumlah delapan pra dalang atau siswa. Selain belasan dalang, kegiatan ini juga melibatkan pengrawit (pemain musik) dan sinden cilik. Total yang terlibat dalam kegiatan ini sekitar 34 peserta.

“Ini untuk melatih dan mengukur keberanian pra dalang. Intinya mereka semua masih proses belajar,” kata Iwan ditemui MVoice di sela-sela acara.

BNN Kota Malang

Dimaksud melatih keberanian, lanjut Iwan, karena dalam pagelaran ini para dalang ditonton oleh masyarakat umum. Mekanismenya, setiap dalang menampilkan cuplikan lakon bergiliran. Setiap penampilan sekitar 30 menit sampai 60 menit.

“Tidak hanya dalang yang diasah keberaniannya. Melainkan semua unsur pertunjukan wayang, mulai pengrawit dan sinden,” sambung dia.

Belajar yang dimaksud juga tidak hanya tentang keterampilan. Mereka juga dituntut memahami hal -hal detail guna mendukung pertunjukan. Dicontohkannya bagaimana menata pelepah pohon pisang.

“Karena tujuan dari Pembina Sanggar Mbah Warno tidak hanya ingin melahirkan dalang profesional. Minimal ada generasi muda yang memahami akar budayanya. Mereka ibaratnya benteng kebudayaan,” tutup Iwan.

Sementara itu, dalang cilik penampil pertama Sulthan Adi Nugroho (8) menuturkan baru setahun ini belajar di Sanggar Taruna Krida Rasa (Takir). Penampilan di muka umum juga baru dilakoninya pertama kali ini. Namun, siswa kelas 3 SDN Kauman 01 ini mengaku sama sekali tidak demam panggung. Meskipun dalam penampilannya tidak lebih dari 30 menit itu dia masih tampak membaca naskah lakon pewayangan.

“Biasa saja saya tidak grogi,” ujarnya.(Hmz/Aka<)/strong>