Tinjau Langsung Suhat, Wagub Emil Temukan Beberapa Kendala Penyebab Banjir

MALANGVOICE- Wagub Jatim, Emil Elistiano Dardak, meninjau lokasi Jalan Soekarno-Hatta yang beberapa waktu lalu viral karena banjir. Padahal, proyek drainase yang digarap Pemprov Jatim itu baru saja kelar.

Didampingi Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, Wagub melihat sejumlah titik yang menjadi penyebab genangan air ketika hujan.

Peninjauan ini menjadi bagian dari langkah cepat Pemprov Jawa Timur bersma Pemkot Malang untuk menangani problem banjir di wialayh tersebut. Kolaborasi ini diharapkan mampu meminimalkan potensi banjir di kawasan Soekarno Hatta serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi intensitas hujan tinggi di Kota Malang.

Kota Malang Raih Sertifikat Menuju Kota Bersih, Peringkat 7 Nasional

Emil mendorong optimalisasi saluran air yang selama ini diharapkan mampu mencegah genangan di kawasan Jalan Soekarno Hatta.

“Saluran ini kita jadikan tumpuan harapan agar Jalan Soehat tidak banjir. Namun demikian saya dapat informasi masih ada banjir yang terjadi, sehingga kita cek satu per satu titik permasalahannya,” ujar Emil.

Dari hasil peninjauan tersebut, Emil membeberkan empat poin utama yang menjadi fokus penanganan. Poin pertama adalah penanganan sampah yang menyumbat saluran air. Pembersihan saluran kini dilakukan secara kolektif oleh tim Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama tim dari Pemerintah Kota Malang. Emil menjelaskan bahwa modifikasi telah dilakukan pada bagian penyaring sampah agar air tetap dapat mengalir meskipun sampah berukuran besar tertahan, seperti bongkahan kayu, ban, hingga bantal.

“Sampah-sambah ukuran besar ini tetap akan tertahan, tapi yang kecil masih bisa mengalir sehingga air tidak kemudian meluap ke jalan. Karena kalau semua tertahan bisa seperti tembok sampah,” jelasnya.

Selain ituz, Emil juga menyoroti adalah pembersihan sedimen trap atau perangkap sedimen yang sebelumnya masih menyisakan material pengerjaan.

“Sedimen trap ini kita akui kemarin waktu pengerjaan materialnya belum bersih. Jadi yang tertinggal di dalam itu sisa material aspal yang dipakai untuk menutup. Sekarang teman-teman bekerja membersihkan dan kita lihat alirannya sudah lebih lancar,” ungkap Emil.

Selanjutnya, Emil juga menyinggung penataan trotoar di kawasan tersebut. Wagub menegaskan bahwa pekerjaan yang terlihat saat ini sebenarnya merupakan proyek saluran yang masih dalam proses.

“Ini pekerjaan saluran tahun 2025, bukan trotoar yang sudah jadi. Tahun 2026 kita memang akan memperbaiki bagian atasnya, termasuk aspek estetika dan kenyamanan,” katanya.

Terakhir berkaitan dengan pengelolaan pintu air yang berada kawasan tersebut. Emil menegaskan bahwa secara prinsip pintu air tersebut seharusnya dalam kondisi tertutup saat terjadi hujan besar agar air dapat ditampung oleh saluran utama.

“Kalau pintu ini terbuka saat air besar, larinya ke sungai di daerah Ciliwung dan Kedawung yang kemarin banjir. Tapi kalau ditutup, saluran ini masih bisa menampung,” jelasnya.

Emil juga menegaskan bahwa keputusan untuk menutup pintu air saat banjir merupakan langkah yang diambil demi kepentingan masyarakat yang lebih luas. Berdasarkan informasi ada beberapa warga yang tidak berkenan pintu air dituup dengan alasan wilayah mereka berisiko kebajiran. Namun secara tegas, emil menginstruksikan agar dilakukan kebijakan buka tutup pintu air dengan mempertimbangkan risiko dan dampak terkecil.

“Kepentingan umum harus di atas kepentingan pribadi atau golongan. Prinsipnya pintu ini diutamakan tertutup supaya bajir tidak terjadi di wilayah yang lebih luas dan berdampak pada lebih banyak warga,” tegas Emil.

Sementara itu, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat menyampaikan apresiasinya atas perhatian dan dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menangani persoalan banjir di Kota Malang.

“Saya terima kasih atas atensi Pak Wakil Gubernur datang langsung ke Kota Malang melihat situasi banjir beberapa waktu lalu. Kami memang sedang menginventarisasi permasalahan apa saja yang menjadi penyebab banjir,” ujar Wahyu.

Wahyu menjelaskan bahwa beberapa penyebab utama genangan air telah berhasil diidentifikasi, di antaranya sampah yang menghambat aliran air serta pengaturan pintu air yang belum optimal.

“Salah satu penyebabnya berkait dengan sampah yang menghambat saluran air. Kemudian juga berkait dengan buka-tutup pintu air yang kemarin terbuka sehingga air tidak masuk ke saluran dan akhirnya meluap ke bawah,” jelasnya.

Menurut Wahyu, langkah penanganan sudah disepakati bersama. Salah satunya adalah memastikan pintu air ditutup saat terjadi banjir agar aliran air masuk ke saluran yang telah disiapkan.

“Apabila terjadi banjir, pintu air akan kita tutup agar saluran yang sudah disiapkan bisa berfungsi optimal. Kami juga masih memiliki beberapa pekerjaan rumah yang akan segera kita selesaikan bersama,” pungkasnya.(der)

Berita Terkini

Arikel Terkait