Terdengar Suara ”Awas”, Bongkahan Batu pun Menghantam Dania

illustrasi (ft. istimewa)

MALANGVOICE – Musibah yang dialami Dania Agustina Rahman (19) warga Sukabumi, Jawa Barat, dan M Randika (20) asal Deli Serdang, datang begitu mendadak. Tidak ada tanda-tanda jika pendakian ke Puncak Mahameru akan dihadang oleh musibah.

Yoga Aditya, adik M Randika korban patah kaki, menceritakan perjalanan mereka sebelum mengalami musibah yang mewaskan Dania Agustina Rahman.

Diceritakan, bahwa rombongan beranggotakan 16 orang. Senin (10/8) rombongan ini tiba di Ranu Pane. Sejenak istirahat di Ranu Pane, rombongan melanjutkan perjalanan dan bermalam di Ranu Kumbolo.

BNN Kota Malang

”Baru Rabu pagi kami berangkat, sampai Kalimati pukul 00:00 WIB lanjut ke puncak,” cerita Yoga saat mendampingi kakaknya, M Randika dirawat di IGD RS dr Saiful Anwar Malang.

Awalnya perjalanan menuju puncak tertinggi di Jawa Timur itu biasa saja. Namun, di tengah perjalanan atau sekitar 200 meter sebelum puncak, terdengar suara dari pendaki bahwa ada longsoran bongkahan batu. ”Awas batu, awas sebelah, besar,” kata Yoga menirukan suara pendaki yang ia dengar.

Saat itu Randika, Dania, dan Yoga dalam satu baris. Melihat ada bongkahan batu dari atas, mereka menghindar ke sebelah kanan. Batu yang menggelinding itu menghantam batu lain. Naas, pecahan batu sebesar kepala orang dewasa itu malah mengarah ke mereka.

Randika yang berada di atas Dania sempat menghindar. Meski demikian, batu itu menghantam kaki kanan Randika hingga patah. Sedangkan Dania tidak sempat menghindar. Bongkahan batu menghantam bagian wajah Dania. Nyawa Dania pun tak tertolong.

Rombongan akhirnya tidak melanjutkan ke puncak Semeru. Yoga dan teman pendaki lainnya mengevakuasi korban dengan alat seadanya.

Ketua rombongan, Hendri dan teman-temannya mengevakuasi korban ke bawa dengan tandu. ”Tongkat kami beri kain dan tali untuk membopong Randika, sementara Dania kami bawa menggunakan sleeping bed,” cerita Yoga.

Kedua korban dibawa turun ke Kalimati dan sampai sekitar pukul 10:00 WIB. Di sana mereka menunggu tim evakuasi datang. “Keadaan di sana waktu itu ramai, ada sekitar 200 orang,” jelasnya.
Tim evakuasi yang ditunggu akhirnya tiba pukul 14:00 WIB dan langsung dibawa ke Pos Ranu Pane untuk mendapatkan pertolongan. “Dari Ranu Pane sudah ditunggu banyak mobil ambulance, saya dan mas langsung naik,” kata Yoga.

Randika dan Yoga tiba di RSSA Kota Malang Rabu (12/8 malam sekitar pukul 22:00 WIB. Sedangkan mayat Dania dibawa ke RSU Lumajang.-