Lewat Buku, Prof Antariksa Getol Lestarikan Bangunan Kuno nan Bersejarah

Prof Antariksa menunjukkan buku-buku karyanya. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Demi melestarikan bangunan kuno dan bersejarah, Guru besar Arsitektur Universitas Brawijaya (UB) Malang, Prof Ir Antariksa Sudikno, pun rajin menulis buku. Buku ke-tiganya yang berjudul ‘Teori dan Metode Pelestarian Arsitektur dan Lingkungan Binaan’, diperuntukkan bagi para akademisi sebagai pegangan dan kajian pelestarian bangunan kuno dan bersejarah.

Ketua Program Magister Arsitektur Lingkungan Binaan itu mengatakan sesuai undang-undang cagar budaya, bangunan yang bisa dilestarikan adalah bangunan usia di atas 50 tahun, memiliki nilai kelimuan dan pengetahuan, serta asli dan tidak mengalami perubahan.

“Baru kemudian dikaji menggunakan pertimbangan lain seperti yang tercantum pada buku ini,” katanya saat ditemui MVoice.

Dia menambahkan, buku tersebut mencantumkan 8 pendahuluan hasil penelitian Antariksa bersama mahasiswa bimbingannya mengenai bangunan cagar budaya di beberapa daerah di Indonesia. Antara lain di Bogor, Surabaya, Padang, dan Kota Malang.

“Bangunan lama itu coba dibuka fisik dan dinilai karakternya untuk menentukan strategi apakah akan dilestarikan, dipreservasi, atau lainnya. Hasilnya bisa direkomendasikan pada pemerintah kota masing-masing,” lanjut lulusan Kyoto Institute of Technology itu.

Menurutnya, buku itu cukup penting bagi masyarakat di peradaban sekarang yang masih memiliki bangunan dari masa lampau.

“Buku ini layaknya panduan bagi masyarakat apabila menemui bangunan kuno tapi berkeinginan dengan mengalihfungsikannya menjadi kafe yang tetap memiliki nilai historis,” kata pria yang hobi berenang itu.

Apresiasi terhadap buku tersebut sudah disampaikan oleh Pemkot Malang, alumni, dan pusat dokumentasi arsitektur yang tertarik untuk menjadikannya sebagai acuan dan teori pelestarian bangunan. Meski penyusunan buku tidak sampai satu tahun, namun penulisan dan penelitian membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Apalagi kendala terbesar dalam penyusunan buku ketiganya ini adalah suasana batin yang harus bagus.

“Kadang saya sibuk dan mood nya naik turun tidak bisa menulis bahkan ketika sedang ingin menulis,” ungkap Antar.

Ia berharap buku ini akan banyak digunakan oleh akademisi atau yang mencintai bangunan lama dan kuno bersejarah untuk mempertajam hasil penelitian mereka.(Der/Yei)