28 November 2022
28 November 2022
21.6 C
Malang
ad space

Mencicipi Sajian Ketan ‘Legenda’ yang Tak Lekang Waktu di Kota Batu

Kedai pos ketan legenda yang berada di di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu (Ayun/MVoice)
Kedai pos ketan legenda yang berada di di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu (Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Kota Batu memang punya segudang pesona. Saat berkunjung ke kota ini, ada banyak tempat wisata menarik yang bisa kamu eksplor. Mulai dari wisata alam, wisata buatan hingga wisata pertanian.

Tak hanya itu saja, tempat wisata kuliner dengan cita rasa lezat yang melegenda pun juga bisa kamu coba saat berkunjung ke kota yang mendapat julukan de Kleine Swizterland.

Bicara soal kuliner legenda di Batu, tentu tak lepas dari hidangan yang satu ini. Nah, Pos Ketan yang melegenda ini berada di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu.

Berdiri sejak tahun 1967, Pos Ketan Legenda kini memiliki puluhan varian toping. Mulai dari rasa original yang terdiri dari parutan kelapa, bubuk kedelai dan gula jawa, rasa keju susu, hingga rasa duren yang disajikan bersama buah duren asli.

Khotiul Jannah, pengunjung asal Pasuruan mengungkapkan belum ke Kota Batu jika belum mencicipi legitnya sajian ketan di kota dingin ini.

“Tekstur ketannya memang begitu pulen dan terasa meleleh di dalam mulut. Ini menjadi alasan saya kuliner ke Kota Batu. Karena ketan di sini beda dengan lainnya. Meski dibiarkan seharian teksturnya tak keras,” ujarnya.

Sugeng Hadi generasi kedua penerus bisnis Pos Ketan Legenda mengatakan usaha ketan ini pertama kali dirintis oleh neneknya, Siami.

“Resep itu seperti yang dijual oleh nenek sejak 57 tahun silam, hingga ketan kini identik dengan Kota Batu,” ungkapnya saat diwawancarai MVoice.

Pos Ketan Legenda juga mampu menjaga konsistensi rasa sejak 1967. Menurut Sugeng tak ada kiat khusus untuk memasak ketan.

“Paling penting pilih ketan yang berkualitas baik. Kami pilih ketan dari Thailand yang kualitasnya paling baik. Ini lebih mudah diolah dan awet daripada ketan lokal,” imbuhnya.

Untuk penambahan legenda pada nama Pos Ketan diberikan lantaran ketan ini memang melegenda di kalangan pelanggan setia. Warung ketan telah hadir sejak 52 tahun lalu dan masih ramai hingga saat ini.

Pos Ketan Legenda juga dikenal dengan waktu operasional panjang yakni sejak pukul 16.00-03.00 WIB.

Sementara, Plt. Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Imam Suryono mengatakan kuliner merupakan aset andalan untuk menjual dan meningkatkan perekonomian di suatu daerah.

“Banyak daerah dikenal karena kulinernya. Kuliner memberikan pula manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat,” tuturnya.

Nah, untuk mencicipi kenikmatan ketan legendaris ini, kamu cukup merogoh kocek sebesar Rp 6 ribu hingga Rp 16 ribu saja tergantung dengan varian rasa dan topping yang ingin dipilih.

Legitnya ketan Kota Batu menjadi destinasi kuliner yang sayang jika dilewatkan saat berada di kota dingin ini.(Der/Aka)

Menarik, Salma Gambarkan Jokowi Bawa Jaring Tangkap Teroris

Salma menunjukkan karya karikaturnya yang masuk 20 besar. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Salah satu siswa yang menjadi finalis dalam Lomba Karikatur Katakan Tidak Pada Teroris, Universitas Merdeka (Unmer) Malang, adalah Salma Aufadina.

Salma mewakili sekolahnya, SMK Telkom Malang. Salma terpilih menjadi finalis karena karikaturnya mengekspresikan fenomena terorisme secara menggelitik. Salma menggambarkan Presiden RI, Joko Widodo, sedang membawa jaring menangkap karakter-karakter kartun memakai pakaian dan tutup wajah hitam. Karakter itu menggambarkan teroris di Indonesia.

Ide itu Salma dapatkan dari membaca berita-berita terorisme di media online. Dari situlah Salma menemukan satu berita yang mengutip perkataan Joko Widodo, ‘Tidak Ada Ruang Untuk Teroris!’. Meski dadakan, ternyata Salma mampu mengerjakan karikatur sesuai deadline.

“Makanya saya gambar Jokowi bawa Jaring,” tukas dia.

Salma mengatakan, kedua orangtuanya mendukung dirinya mengikuti lomba karikatur. Apalagi Salma memang sudah hobi menggambar sejak sekolah dasar.

“Saya memang hobi menggambar dan desain,” kata siswa jurusan Rekayasa Perangkat Lunak ini.

Soal terorisme yang semakin menjamur, Salma mengaku tidak takut dengan terorisme. Namun Salma tetap berharap pemerintah serius menjaga keamanan daerah dan memberantas tuntas terorisme.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Kisah BKR Ambil Alih Pensenjataan Jepang di Malang

Anggota BKR: Imam Soedjai, Hamid Rusdi, Moetakat Hoerip
Anggota BKR: Imam Soedjai, Hamid Rusdi, Moetakat Hoerip

September 1945. Kala itu di bawah langit pagi yang bersejarah, massa bergerombol di depan kantor Kempetai, Jalan Semeru 42 Malang (sekarang SMP Kristen), mendesak pasukan Jepang untuk meninggalkan gedung dan menyerahkan persenjataan mereka.

Tekanan itu berhasil. Kesatuan Kempetai bersedia meninggalkan gedung dan menyerahkan persenjataan kepada pimpinan BKR Malang. Upaya itu dilakukan untuk mengantisipasi beredarnya informasi bahwa persenjataan Jepang akan diserahkan kepada sekutu yang notabene akan dikuasai oleh Belanda yang sejak awal ingin mengambil kembali Indonesia sebagai tanah jajahan.

Pengambilalihan senjata tuntas dalam tiga hari, dilaksanakan Satuan Tugas yang terdiri dari Soebijanto, Moetakat Hoerip, Soesilo, Soegito, Soepardji, Soemeroe, Bowo, Soedjono, Sulam Samsun, Soegeng, dan Sochifudin. Para personel Jepang dibawa ke Lebakroto (Malang Selatan) dengan pengawalan ketat oleh BKR untuk dikarantina ringan sembari menanti kedatangan pasukan sekutu yang akan menangani mereka.

Selanjutnya, pengambilalihan persenjataan Angkatan Udara Jepang di pangkalan udara Bugis (sekarang Bandara Abd. Rahman Saleh). Waktu itu, pangkalan udara Bugis adalah pangkalan udara terbesar dan terkuat di Jawa Timur.

Setelah beberapa kali perundingan dicapai kata sepakat antara Pemerintah Daerah Republik Indonesia Malang dengan Pimpinan Pangkalan Udara Bugis untuk dilaksanakan penyerahan persenjataan Jepang yang disimpan di pangkalan udara Bugis.

Maka, diserahkanlah 64 pesawat terbang, 22 buah dapat dipakai, 12 buah sedang diperbaiki, dan 30 buah dalam keadaan rusak, serta generator pembangkit listrik, bom, dan granat yang tersimpan dalam peti-peti, amunisi dan senjata-senjata ringan. Para personel Jepang yang tinggal di situ dikirim ke Lebakroto, Malang Selatan.

Penanggung jawab pangkalan udara Bugis kemudian diserahkan kepada Soehoed yang saat itu menjabat Kepala Sekolah Penerbangan Menengah di Malang. Dengan ketetapan dari BKR Malang, Soehoed ditetapkan sebagai Kepala Pangkalan Udara Bugis. Kemudian, Pemerintah Pusat mengangkat Karmen, BKR Udara RI (mantan Daidanco Peta di Mojokerto) menggantikan Soehoed.

Langkah berikutnya adalah pelaksanaan pengambilalihan senjata di Pujon. Perundingan demi perundingan yang dilakukan BKR dengan Laksamana Angkatan laut Jepang di Pujon menghasilkan kata sepakat, persenjataan AL Jepang diserahkan secara damai.

Perundingan-perundingan untuk membahas pengambilalihan kekuasaan dari militer Jepang,dilakukan oleh Delegasi Indonesia yang terdiri dari: R.A.A. Sam (pejabat Residen Malang, ketua), Imam Soedjai (BKR, anggota), Iskandar Soelaiman (BKR, anggota), Hamid Rusdi (BKR, anggota), Soebijanto (BKR, anggota), Moetakat Hoerip (BKR, anggota), Bambang Soemadi (Kepolisian, anggota), Abdoerrachman (Kepolisian, anggota), dan Soesilo (pemuda, anggota). Delegasi pemerintah militer Jepang terdiri dari: Mayjen Iwabe (ketua), Laksamana Muda Isido (Kolonel Angkatan Udara), Katagiri Hishashi (Kolonel Angkatan Darat), dan seorang Kolonel Kempetai, serta seorang Juru Bahasa Mayor AL Wanatabe.(idur)

Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) dalam Penyerbuan Pajaran, Tumpang, dan Jebakan Ranjau antara Wajak-Turen

Konvoi serdadu Belanda di Jawa (kiri). Serdadu Belanda melakukan rasia terhadap rakyat (kanan).
Konvoi serdadu Belanda di Jawa (kiri). Serdadu Belanda melakukan rasia terhadap rakyat (kanan).

MALANGVOICE – Berdasarkan perundingan dengan Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) penasehat TKR di Yogyakarta, Juli 1948, Kolonel Sungkono menginstruksikan kepada semua anggota kesatuan di bawah pimpinannya untuk mengumpulkan orang-orang Jepang, yang sedang berada di kesatuannya masing-masing di Jawa Timur untuk ditarik dan dijadikan satu kesatuan dengan tujuan bersama melawan Belanda. Tidak lama terkumpul 28 orang Jepang di Wlingi Blitar.

Di Wlingi, atas inisiatif Arif (T. Yoshizumi) dan Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) dibentuklah Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) yang dikomandani oleh Brigade Surachmad. Di sini, pasukan berlatih militer dan strategi gerilya secara mandiri dan mengusahakan makanan sendiri. Pada Agustus 1948, persiapan telah mantap, pasukan disebar, Komandan (WK) dengan 17 pasukan PGI menuju Dampit. Harsono (T. Tanimoto) dengan anggota 11 orang bertugas menuju Kediri.

Di Dampit mereka memasuki perkebunan dan menggunakan bekas kantor perkebunan Kartodol sebagai tempat untuk antara lain: merencanakan penyerangan pos-pos Belanda, membuat barang dan bahan perang rahasia untuk kepentingan sabotase, menyusun jaringan informasi, dan membentuk gerilya rakyat. Dalam perkembangannya, PGI ini kemudian mendapatkan tambahan 2 (dua) regu dari Brigade XIII.

Pada 30 Agustus 1948, pukul 24.00, PGI bersiap menyerbu pos Belanda di Pajaran yang memilik kekuatan satu seksi dan menempati gudang padi yang dipagari kawat berduri. Waktu itu kampung Pajaran suasananya terang penuh lampu minyak di kanan-kiri jalan karena sedang memeriahkan perayaan ulang tahun Ratu Belanda. Keadaan ini sangat menguntungkan PGI untuk menyerang. Kode ledakan dua bulu granat di atas pos Belanda member isyarat dimulainya penyerangan. Begitu gencarnya serangan, tetapi dari dalam pos tidak ada perlawanan sama sekali. Ketika terdengar tembakan dari arah depan pos, penyerangan dihentikan karena diduga ada pasukan bantuan Belanda yang baru datang dari pos Wajak. Esoknya diperoleh informasi, ternyata perlawanan Belanda malam itu bukan pasukan bantuan dari Wajak, tetapi tentara Belanda sejumlah 10 orang yang kebetulan baru pulang dari undangan Kepala Desa dalam rangka selamatan perayaan hari besar Belanda. Saat PGI menyerang, mereka tidak berani kembali ke pos yang sudah hancur dan hanya berjaga-jaga di halaman rumah Kepala Desa. Mereka juga tidak mengetahui siapa yang melakukan serangan.

Menurut laporan dari pasukan Brigade XII yang ditugaskan untuk memeriksa hasil serangan, pos Belanda hancur lebur, tiga orang petugas jaga bersenjata 12.7 mm mati tertembak, dan di dalam pos/gudang padi 20 orang Belanda tewas akibat reruntuhan bagunan dan ledakan granat.

Di Tumpang, PGI kembali menyerang pos Belanda pada 3 Oktober 1948. Serangan gerilya ini dibantu rakyat dengan penyerangan intensif, menggunakan bahan peledak, dan aksi pembakaran-pembakaran. Hasilnya, terbakarnya asrama musuh dan tiga serdadu Belanda tewas. Moril rakyat pun kembali menguat.

Di pertengahan Desember 1948, Belanda mengawali penyerangan dengan menggunakan pesawat-pesawat tempur melintas Malang menuju ke selatan, menyerang Turen dan Sedayu. Ketika dipastikan Turen dan Sedayu sudah diduduki musuh, PGI pun menyusun kekuatan dipimpin oleh Subejo (Hayashi) dan Sobana (T. Sakai) dan merencanakan menghancurkan panser-panser Belanda. Mereka memasang ranjau di jalan antara Wajak dan Turen yang selalu dilewati pasukan Belanda, sedangkan pasukan senapan mesin diberangkatkan menuju lokasi pertahanan yang telah direncanakan. Didapat informasi, Belanda menambah pasukan dengan satu kompi serdadu bersenjata lengkap untuk menghancurkan PGI.

Sementara menunggu hasil ranjau yang dipasang, PGI dan pasukan bantuan lainnya bersiaga di rumah Asisten Wedono. Ketika ledakan pertama terdengar, ternyata mengenai seorang pemikul kelapa yang sedang lewat. Pukul 06.30 pagi terdengar ledakan kedua, seorang prajurit melaporkan bahwa ranjau berhasil mengenai sasaran, yakni panser Belanda dan truk pengiring di belakangnya. Sebanyak 16 orang serdadu Belanda tewas. Dari pos Turen, Belanda segera memberikan pertolongan sembari melakukan penembakan membabi buta di sekitar lokasi kejadian.­(dur)

VIDEO: Kain Benang dan Tas Kresek Bisa Karya Menarik dan Menguntungkan

MALANGVOICE – Berawal dari hobi membuat berbagai barang dari kain benang, kini karya Boscha Rajut mulai dijadikan bisnis.

Tak hanya menggunakan kain benang saja, bahan yang digunakan bisa tas plastik.(Der/Aka)

Stray Cat Defender, Penolong Kucing Terlantar

Kegiatan SCD. (istimewa)
Kegiatan SCD. (istimewa)

MALANGVOICE – Perkembangbiakan kucing di tengah kota yang tak terkendali memaksa hewan berbulu ini kadang tersisihkan. Manusia yang tak ingin keberadaannya kadang memperlakukan kucing semena-mena, mengusir bahkan menyakitinya.

Tak jarang banyak kasus kematian kucing liar di perkampungan sering terjadi. Atau bahkan tertabrak di jalanan.

Beruntung, di Kota Malang terdapat Stray Cat Defender (SCD). Komunitas yang lebih mempedulikan kucing segala jenis yang mengalami masalah dengan memberikan aksi pembelaan hak hidup pada kucing sakit dan terlantar. SCD dibentuk pada 8 Agustus 2015 lalu, bertepatan dengan International Cat Day.

SCD prakarsai tiga orang atas dasar banyaknya kucing yang sakit dan terlantar serta maraknya animal abuse di Indonesia, khususnya Kota Malang.

Sejak pertama terbentuk hingga sekarang, SCD memiliki 12 anggota yang disebut skuat. Mereka kebanyakan berusia 20-28 tahun dan didominasi mahasiswa. Penanggung jawab SCD, Suci Cisika Putri, mengaku tidak terhitung jumlah kasus yang ditangani terhadap masalah kucing.

“Dari semua kasus itu ada yang selamat dan tidak. Serta ada pula yang sudah diadopsi atau dirilis kembali ke alam liar,” katanya pada MVoice.

Cisi sapaan akrabnya menjelaskan, beberapa kasus kucing yang pernah ditangani SCD antara lain, mengalami sakit parah seperti cancer, tumor, patah kaki, eyeball prolapse, pyometra, dan lain-lain.

SCD juga menangani kucing yang mengalami kasus animal abuse. Beberapa di antaranya yaitu Rambo yang perutnya diikat tali dan digantungi botol body lotion hingga berbulan-bulan. Selain itu Lucas, yang di dalam tubuhnya terdapat peluru hingga meninggal, namun sempat bertahan sekitar tiga bulan.

“Kucing didapat dari mana saja, khusus area Kota Malang. Kucing di’rescue’ jika tim menemukan kasus secara langsung atau menurut laporan dari orang-orang,” jelas Cisi.

Kucing yang direscue apabila sudah sembuh akan dicarikan adopter. Kucing yang disteril melalui program TNR (Trap-Neuter/Spay-Release) akan dilepas kembali di tempat asalnya atau tempat aman, karena tidak mungkin semua bisa ditampung. Program TNR bertujuan untuk mengendalikan populasi kucing di lingkungan sekitar.

Saat ini kucing yang dikeep si shelter berjumlah 24 ekor. Menariknya, SCD tidak mau memberikan lokasi shelter secara gambalng, pasalnya, menurut Cisi, hal itu bisa berdampak pada kelangsungan SCD.

“Kami pernah diusir karena tetangga tidak berkenan adanya banyak kucing. Selain itu bisa mencegah masyarakat membuang kucing di tempat kami,” paparnya.

Untuk menangani kasus over populasi, salah satu cara yang paling ampuh ialah sterilisasi yang dilakukan oleh dokter hewan dan memiliki banyak manfaat. Tidak disarankan untuk suntik KB karena sangat berbahaya bagi kucing. Selain itu, saat ini marak terjadi “breeding”, terutama kucing ras non domestic seperti Persia, Angora, dan sebagainya.

Alasan orang mengembangbiakkan kucing beragam, mulai dari keingingan orang untuk punya kitten yang lucu hingga untuk alasan ekonomi. “Jauh lebih baik kita mengadopsi dari jalan atau shelter daripada membeli. Untuk itu kami tak hentinya mengkampanyekan “adopt don’t buy!” tegasnya.

Selama ini, SCD tidak sendirian. Mereka ditolong para dermawan yang rutin memberikan donasi. Selain itu, lanjut Cisi, dana berasal dari swadaya tim dan usaha mandiri. “Kami menjual produk kreatif serta barang second yang layak pakai. Hasilnya digunakan untuk aktivitas rescue serta operasional tim,” ia menambahkan.

SCD berharap penyiksaan pada hewan lucu ini bisa berkurang. Sehingga penyelamatan juga berkurang. Beberapa kasus yang sering dialami soal kucing berpemilik ialah minimnya pengetahuan owner soal merawat kucing hingga kucingnya sakit bahkan terlantar, serta kucing yang dibiarkan beranak-pinak hingga owner kewalahan.

“Rescue adalah program jangka pendek. Sementara sterilisasi dan edukasi adalah program jangka panjang. Bumi bukan milik manusia saja. Adil dan berbagilah dengan makhluk hidup lain,” pesannya.(Der/Aka)

Dosen ITN Temukan Suplemen untuk Penyandang Autis

Siswi dan Nanik. (Anja a)
Siswi dan Nanik. (Anja a)

MALANGVOICE – Dosen Institut Teknologi Nasional (ITN) menciptakan suplemen yang berkhasiat untuk menyembuhkan autis. Suplemen ini berbahan utama tepung telur termodifikasi dengan tambahan ekstrak ginko biloba. Mereka adalah Siswi Astuti, Nanik Astuti, Endah Kusuma dan Ester P.

Siswi Astuti mengatakan, anak penyandang autis memerlukan diet tanpa gula, dan bebas gluten untuk membantu melancarkan metabolisme dan peredaran darah ke otak.

“Sehingga kami buatlah suplemen yang membantu menyembuhkan autis,” kata Siswi.

Suplemen tersebut berbentuk serbuk yang dimasukkan dalam kapsul. Setelah melalui serangkaian penelitian dan uji coba kepada anak penyandang autis sejak 2015-2016, sejumlah anak penyandang autis dari tingkat autis ringan-sedang mengalami kemajuan.

“Yang awalnya agresif, kini bisa kontak mata dengan orang lain. Tingkat depresinya bisa disembuhkan,” kata dia.

Suplemen ini sudah mendapatkan hak paten, dan dalam proses beberapa uji coba lainnya. Harapannya, suplemen ini bisa segera dipasarkan dan turun ke masyarakat.(Der/Aka)

VIDEO: Depot Es Talun yang Tetap Bertahan Sejak 1950

MALANGVOICE – Di Kota Malang terkenal dengan beraneka ragam sajian kuliner. Mulai makanan ringan hingga berat gampang ditemui di setiap sudut kota.

Namun, dari banyaknya kuliner yang ada, ternyata Malang punya sajian legendaris yang bertahan mulai 1950, ya tempat itu adalah Depot Es Talun.

Meski digempur dengan kuliner modern, Depot Es Talun tetap bertahan dengan ciri khasnya.

Pendiri Depot Es Talun pertama bernama Om Loek. Namun sejak 1998 depot es ini berpindah ke Wiwik Kholifah yang merupakan ibunda Afni, pengelola sekarang.

Meski berpindah kepemilikan, tetapi lokasi dan resep es Depot Es Talun masih sama. Lokasinya berada di Jalan Arief Rahman Hakim Nomor 2, Malang.(Der/Aka)

Lewat Buku, Prof Antariksa Getol Lestarikan Bangunan Kuno nan Bersejarah

Prof Antariksa menunjukkan buku-buku karyanya. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Demi melestarikan bangunan kuno dan bersejarah, Guru besar Arsitektur Universitas Brawijaya (UB) Malang, Prof Ir Antariksa Sudikno, pun rajin menulis buku. Buku ke-tiganya yang berjudul ‘Teori dan Metode Pelestarian Arsitektur dan Lingkungan Binaan’, diperuntukkan bagi para akademisi sebagai pegangan dan kajian pelestarian bangunan kuno dan bersejarah.

Ketua Program Magister Arsitektur Lingkungan Binaan itu mengatakan sesuai undang-undang cagar budaya, bangunan yang bisa dilestarikan adalah bangunan usia di atas 50 tahun, memiliki nilai kelimuan dan pengetahuan, serta asli dan tidak mengalami perubahan.

“Baru kemudian dikaji menggunakan pertimbangan lain seperti yang tercantum pada buku ini,” katanya saat ditemui MVoice.

Dia menambahkan, buku tersebut mencantumkan 8 pendahuluan hasil penelitian Antariksa bersama mahasiswa bimbingannya mengenai bangunan cagar budaya di beberapa daerah di Indonesia. Antara lain di Bogor, Surabaya, Padang, dan Kota Malang.

“Bangunan lama itu coba dibuka fisik dan dinilai karakternya untuk menentukan strategi apakah akan dilestarikan, dipreservasi, atau lainnya. Hasilnya bisa direkomendasikan pada pemerintah kota masing-masing,” lanjut lulusan Kyoto Institute of Technology itu.

Menurutnya, buku itu cukup penting bagi masyarakat di peradaban sekarang yang masih memiliki bangunan dari masa lampau.

“Buku ini layaknya panduan bagi masyarakat apabila menemui bangunan kuno tapi berkeinginan dengan mengalihfungsikannya menjadi kafe yang tetap memiliki nilai historis,” kata pria yang hobi berenang itu.

Apresiasi terhadap buku tersebut sudah disampaikan oleh Pemkot Malang, alumni, dan pusat dokumentasi arsitektur yang tertarik untuk menjadikannya sebagai acuan dan teori pelestarian bangunan. Meski penyusunan buku tidak sampai satu tahun, namun penulisan dan penelitian membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Apalagi kendala terbesar dalam penyusunan buku ketiganya ini adalah suasana batin yang harus bagus.

“Kadang saya sibuk dan mood nya naik turun tidak bisa menulis bahkan ketika sedang ingin menulis,” ungkap Antar.

Ia berharap buku ini akan banyak digunakan oleh akademisi atau yang mencintai bangunan lama dan kuno bersejarah untuk mempertajam hasil penelitian mereka.(Der/Yei)

Anjani, Pencetus Batik Banteng Khas Batu yang Menembus Pasar Internasional

Owner Sanggar Batik Anjani yang Produknya Mendunia, Anjani Sekar Arum. (Anjani Sekar Arum for MVoice)

MALANGVOICE – Batik cap Banteng khas Kota Batu selayaknya patut dibanggakan. Betapa tidak? Motif batik yang dicetuskan warga Desa Bumiaji, Kota Batu ini dikenal hingga internasional.

“Banteng merupakan kesenian rakyat asli dari Kota Batu. Maka dari itu saya bikinkan motifnya untuk batik,” kata Owner Sanggar Batik Banteng saat ditemui di sanggarnya (4/11).

Putri dari Pendekar Bantengan, Agus Tubrun, itu mengatakan, batik buatannya sudah melanglang buana hingga Jerman, Taiwan, dan Hongkong.

Dalam kancah nasional Anjani juga mengatakan bahwa batik bantengnya laris. Pasar terbesarnya adalah pada DKI Jakarta.

Kecintaan pada kesenian bantengan yang diturunkan oleh ayahnya dialirkan pada dunia fashion. Anjani mengaku bahwa dirinya sudah lama menyukai dunia fashion.

“Batik yang kami produksi adalah batik tulis dan cap,” ujarnya. Satu kain batik memakan pengerjaan dari satu minggu hingga tiga bulan tergantung kerumitan motifnya.

Batik dengan motif banteng garapan Anjani ini merupakan inisiasi pertama kali dalam dunia fashion. Kota Batu sudah memproduksi dua batik khas daerahnya, yaitu batik motif apel dan banteng.

Namun, pada musim pandemi ini Anjani mengaku bahwa terjadi penurunan omzet besar-besaran.

“Ada pemasukan tapi untuk kebutuhan masih belum cukup. Kami siasati dengan cara pengurangan produksi, kalau ada pesanan baru semua dikerahkan,” paparnya.

Perempuan kelahiran Batu ini menyebutkan sebelum pandemi omset yang diterima mencapai Rp40 – 50 juta per bulan. Kini pemasukan itu turun hingga 80%. Harga kerajinan dengan ciri khas motif bantengnya itu, berkisar dari Rp. 400 ribu sampai Rp12 juta untuk batik tulis dan batik cap dengan harga Rp150 – 300 ribu.(der)