Saleh Marzuki, Profesor UM Raih Award Dosen Inspiratif

Penyerahan penghargaan Dosen Inspiratif.(istimewa)

MALANGVOICE – Prof Dr H M Saleh Marzuki, memperoleh Award Bidang Inspirative Lecturer dari Asosiasi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Jurusan Ilmu Pendidikan (FIP-JIP). Kegiatan yang berlangsung 12-16 September 2017 tersebut, berlangsung di UTC Universitas Negeri Semarang (UNNES), dengan dihadiri 12 anggota Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), dan penyelenggara Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Se- Indonesia.

Guru besar emiritus Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang (UM) ini dinobatkan sebagai dosen inspiratif atas jasa dan reputasinya dalam dunia pendidikan.

“Prof Saleh Marzuki merupakan inspirator, hasil karya beliau banyak sekali, salah satunya adalah sebagai pencetus pengembangan permainan simulasi P4 (pemasyarakatan dan pengamalan Pancasila) tahun 1982-1984,” jelas Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UM, Prof Dr Bambang Budi Wiyono, saat diwawancari di ruang kerjanya.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan indikator lainnya terkait penilaian Inspirative Lecturer Award. Selain pengalaman dan reputasi dalam dunia pendidikan, indikator lainnya adalah keaktifanya dalam forum-forum pendidikan dan karya pendidikan.

Dalam bidang manajerial Prof Saleh Marzuki juga memiliki pengalaman yang banyak. Pria yang menamatkan studi pascasarjananya di University of Massachusetts, USA tahun 1982 ini pernah menjabat berbagai bidang di UM, yaitu; Kepala Biro AAK, IKIP Malang (1982-1987), Sekretaris Prodi Magister PLS IKIP Malang (1990-2000), Kepala Pusat Pelayanan Masyarakat, LPM IKIP Malang (1990-1993), Pembantu Dekan I FIP IKIP Malang (1994-1997), Dekan FIP IKIP Malang (1997-1999), Pembantu Rektor I UM (1999-2001), Pj. Rektor UM (2001-2002), dan Ymt Pembantu Rektor III (2003).

Sementara itu, dalam bidang lainnya Prof. Saleh Marzuki antara lain; pengabdian kepada masyarakat (International Labour Organization: A Good Presenter and Teaching Techniques for Adult, 2001), karya ilmiah (Educational Policies Pertaining to Urban Migrant in Malang Municipality: Journal of Southeast Asian Education Vol 4 Number 2 December 2003, SEAMEO Regional Center for Educational Innovation and Technology, Bangkok, dan penyaji makalah dan lokakarnya antara lain; Community-Based Basic Laerning Package: A Guide to Developing Suplementary Learning Package for A Literacy Program (Learning from Experience in Indonesia). The International Conference on Literacy ISCO-OKI Malang, Indonesia, 2001

Bambang berharap dengan berbagai prestasi yang diterima oleh civitas akademika UM ini dapat memberikan motivasi kepada para dosen muda agar mampu berkarya lebih baik lagi untuk pengembangan lembaga. Selain itu juga dapat membuka kerjasama antar lembaga guna mewujudkan cita-cita perguruan tinggi sebagai penyelenggara Tridharma Perguruan Tinggi.(Der/Yei)

BNN Kota Malang

Wanita Perkasa di Perang Kemerdekaan

Pejuang Wanita pada Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang. Seksi Wanita dipimpin Bu Prapti. Berdiri dari kiri Soekesi, Tutuk Rukamah, Nurul Komariah Soetowidjojo, Marhati. Duduk dari kiri, NInik Suratmi, Ibu Soeprapti, Petty Soepatmi Kadarisman. 1948.
Pejuang Wanita pada Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang. Seksi Wanita dipimpin Bu Prapti. Berdiri dari kiri Soekesi, Tutuk Rukamah, Nurul Komariah Soetowidjojo, Marhati. Duduk dari kiri, NInik Suratmi, Ibu Soeprapti, Petty Soepatmi Kadarisman. 1948.

Seakan terselip di antara lembaran sejarah, pada Perang Kemerdekaan di wilayah Karesidenan Malang, banyak jasa dan pengabdian yang telah dilakukan Seksi Wanita. Saat induk dari kesatuan wanita tersebut mengalami kekosongan, Letnan Kolonel drh. Soewondho mengumpulkan mereka di daerah Sumber Pucung dan sejak saat itu mereka di bawah naungan CMK Malang.

Mereka menjadi sebuah kesatuan khusus, yaitu Seksi Wanita, dengan Komandan Ibu Prapti. Sebelum meietus perang kemerdekaan, beliau menjabat Kepala Sekolah Kepandaian Putri.

Karena panggilan ibu pertiwi, kedudukan terhormat tersebut ditinggalkannya dan ia menceburkan diri dalam medan perjuangan bersenjata. Ibu Prapti dan kelompoknya kaum wanita telah ikut berjuang sejak pertempuran Surabaya sampai dengan perang gerilya di wilayah Karesidenan Malang. Mereka giat mengurus jenazah-jenazah korban pertempuran, mernberikan bantuan perawatan kepada korban perang yang terluka, dan giat di di dapur urnum. KalautTokoh pejuang wanita di Surabaya yang terkenal adalah Ibu Dar “mortir”, maka di Malang yang menjadi kebanggaan di antara pejuang adalah Ibu Prapti.

Mereka melakukan kegiatan perhubungan, sebagai kurir untuk menyampaikan informasi dari kesatuan ke kesatuan lainnya dan menyampaikan surat-surat penting, antara lain dari Mayor Hamid Rusdi kepada Kapten Soendjoto di Kasin Gang VIII (belakang pos Belanda, sekarang pos polisi).

Dokumen-dokumen penting mereka kirimkan dari markas satu ke markas lainnya, SWK satu ke SWK lainnya, seperti dari Gunung Kawi ke Gunung Semeru. Seksi Wanita pimpinan Ibu Prapti jelas membutuhkan keberanian dan penuh risiko. Tugas lain dari seksi wanita ini adalah sebagai ‘penunjuk jalan’. Selain jagoan menguasai medan, mereka juga mengerti tempat kedudukan komando dan pejuang gerilya. Tidak kalah pentingnya, para pejuang wanita tersebut merupakan “mata dan telinga” gerilyawan, sehinga sangat menguntungkan untuk menghindari pendadakan serangan pasukan Belanda.

Sewaktu Belanda melakukan Agresi Militer II, markas Seksi Wanita berada di Sumber Pucung. Saat terjadi penyerbuan, Seksi Wanita itu ikut melakukan Wingate Action ke daerah pendudukan Belanda. Sebagian berkedudukan di daerah Ketawanggede, Dinoyo, Malang. Sementara, Ibu Prapti berada di sekitar Sumberporong, Lawang. Tempat beliau tidak menetap di satu desa atau lokasi. Tidak jarang, beliau menyamar sebagai seorang perawat, serta ikut berperan dalam penculikan dokter (antara lain dr. Sutoyo) dari rumah sakit Turen untuk dibawa ke daerah gerilya, termasuk menyuplai obat-obatan untuk para gerilyawan.

Saat tiba pengakuan kedaulatan, para anggota seksi wanita ikut semua memasuki Kota Malang. Berbagai tugas telah menanti mereka. Beberapa orang bertugas sebagai anggota karyawati TNI dan ada yang menjadi guru. Beberapa anggota Seksi Wanita yang gugur semasa Perang Kemerdekaan, antara lain Kurnia, yang gugur di daerah Kesamben. Atas jasa-jasa yang mereka sumbangkan kepada bangsa dan negara, mereka oleh pemerintah telah dianugerahi Bintang Gerilya.(idur)

BNN Kota Malang

Kodew Sinam Kota Batu Juarai Paralayang di Turki

Atlet paralayang Kota Batu Rika Wijayanti (tengah) juarai Paragliding Acuracy World Cup (PGAWC) 2018 di Turki.
Atlet paralayang Kota Batu Rika Wijayanti (tengah) juarai Paragliding Acuracy World Cup (PGAWC) 2018 di Turki.

MALANGVOICE – Atlet paralayang (paragliding) Kota Batu tidak habisnya menorehkan prestasi. Teranyar, Juara I kategori kompetisi Paragliding Acuracy World Cup (PGAWC) 2018 disabet Rika Wijayanti di Siprus, Turki, 16-18 Februari 2018 lalu.

Ada cerita paling berkesan yang tidak akan dilupakan Rika. Alumnus SMK 17 Agustus Kota Batu ini berhasil mengalahkan idolanya sendiri, Marketa Tomaskova. Yakni atlet asal Republik Ceko yang meraih juara II. Sedangkan juara III diperoleh Veronika Culkova yang juga atlet Republik Ceko.

“Yang paling berkesan di PGAWC seri I, bisa mengalahkan idola saya. Idola saya ini top banget, dan memang senior,” kata dara 24 tahun ini, Jumat (23/2).

Dalam seri pertama ini, lanjut Rika, sejumlah 88 atlet dari 23 negara di seluruh dunia jadi pesaingnya. Tentu bukan perkara mudah bagi Rika hingga akhirnya berhasil menyisihkan para peserta dari berbagai negara tersebut. Kendala yang dia alami saat menjalani sesi pertama ini adalah masalah angin yang terlalu kencang. Sehingga hanya mendapatkan sedikit kesempatan penerbangan.

“Ya sempat was-was sih, kan ada (peraturan) maksimal (kecepatan) angin. Jadi kalau sudah melebihi kecepatan angin gak boleh terbang,” imbuhnya.

Usai mengikuti PGAWC seri I ini, Rika bergegas latihan lagi. Sebab, dia dipanggil negara untuk menjalani Asian Games 2018. Rika menjadi wakil Indonesia dan juga kota kelahirannya, Kota Batu.

“Kalau ada tryout ke laur negeri lagi ya berangkat,” tutup ragil dari empat bersaudara pasangan Ali – Bawon ini.(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Di Balik Dahsyatnya Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Mobil Brigadir Mallaby yang hancur di Surabaya (kiri). Bung Tomo menggelorakan semangat perjuangan (kanan).

MALANGVOICE – Awal September 1945, situasi di Jawa Timur cukup bergelora. Berbagai insiden terjadi dan seluruh rakyat siap siaga menunggu segala kemungkinan yang terjadi. Pasukan Sekutu mulai merambah Jawa Timur, terutama melalui Tanjung Perak untuk menyerbu Surabaya. Kondisi semakin memanas ketika rakyat dan BKR setempat bereaksi karena ternyata pasukan Sekutu bersekongkol dengan interniran Belanda.

Di wilayah lain di Jawa Timur, beberapa BKR seperti BKR Malang dan Madiun sudah menguasai beberara perbentengan (yinci-yinci) di daerah pegunungan Malang dan Madiun. Residen-residen (syucookang) yang ada terdiri dari pensiunan perwira tinggi Jepang, kecuali Bojonegoro dengan Residen Suryo dan Karesidenan Malang dengan Residen Mr. Singgih. Namun beberapa hari setelah kemerdekaan Mr. Singgih hilang secara misterius. Situasi pengambilalihan pemerintahan daerah menjadi terganggu karena yang menggantikan beliau adalah wakil orang Jepang.

Pertempuran hebat 10 November 1945 sebenarnya adalah rangkain dari peristiwa yang berawal di hari kedua kedatangan Brigade 49 Divisi India Ke-23 Tentara Sekutu (AFNEI) yang mendarat di Surabaya 25 Oktober 1945 dan dipimpin Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Pemerintah dan rakyat Indonesia menyambut dengan tangan terbuka. Namun, 27 Oktober 1945 mereka menyerbu penjara untuk membebaskan para perwira Sekutu dan pegawai RAPWI (Relief of Allied Prisoners of War and Interness) yang ditawan oleh pasukan RI. Akibatnya pos-pos Sekutu di Surabaya diserang oleh rakyat prabaya. Pemimpin-pemimpin Indonesia memerintahkan gencatan senjata, tapi pihak Sekutu ternyata tidak menghormati gencatan senjata, hingga Brigadir Jenderal Mallaby tewas dalam insiden yang belum terungkap jelas.

Sehari sebelumnya, 9 November 1945, tanpa berunding dulu dengan pemimpin Indonesia, pimpinan tentara Sekutu di Surabaya mengeluarkan ultimatum, padahal sudah terjadi kesepakatan yang membuahkan Contact Comitte Panitia Penghubung antara Sekutu dan Pemerintah RI. Pihak Sekutu mengultimatum dengan perintah agar pimpinan dan rakyat yang bersenjata harus melapor, menyerahkan senjata dan mengangkat tangan di atas kepala, dengan batas waktu sampai pukul 06.00 WIB tanggal 10 November 1945.

Rakyat melawan, pecahlah pertempuran Kota Surabaya. Paasukan sekutu berkekuatan hampir sepuluh hingga lima belas ribu orang, lebih dari satu divisi invantri, Divisi India ke-5 dan sisa Brigade Mallaby. Mereka didukung oleh meriam-meriam kapal penjelajah Sussex, kapal perusak, dan pesawat-pesawat Mosquito dan Thunderbold. RAF (Angkatan Udara Inggris). Pertempuran tidak seimbang ini ternyata berlangsung hingga awal Desember 1945.

Dalam pertempuran dahsyat ini, telibat pula bantuan pasukan dari semua penjuru tanah air, khususnya pasukan-pasukan dari Jawa Timur. Dari wilayah Karesidenan Malang, Probolinggo, Bondowoso, Pasuruan, Lumajang dan Malang bergantian diberangkatakan secara bergelombang. Pasukan yang telah cukup lama di garis depan kembali ke markas-markas komando untuk digantikan yang lain. Mereka kembali dan berbagi pengalaman untuk membangkitkan semangat perjuangan.

Resimen 38 Malang Kompi Sochifudin adalah kompi pertama yang diberangkatkan ke front pertempuran Surabaya dan Kompi Untung dari Resimen Bondowoso. Dari Probolinggo Kompi Oesadi yang merupakan pasukan inti mantan Heiho dan Peta. Dalam pertempuran Surabaya kompi ini kehilangan komandannya. Gelombang selanjutnya, arek-arek Probolinggo diberangkatkan ke front Surabaya, yang terdiri dari BKR dan lascar-laskar yang berasak dari BPRI, Pesindo, Hisbullah, Sabilillah, dan lain-lain serta kumpulan pemuda yang tergabung dalam satuan bersenjata. Pasukan Lumajang yang ikut bertempur di front Surabaya tidak hanya dari BKR_TKR saja tetapi juga melibatkan badan-badan perjuangan dan kelaskaran yang ada.

Selanjutnya dari Malang, pasukan Kompi III Batalyon III dipimpin Mayor drh. Soewondho dan komandan kompi Kapten Mohamad Bakri. Telah gugur dan hilang beberapa prajuritnya di daerah Ngagel termasuk komandan peleton Letnan Juari yang kemudian digantikan Letda Imam Soepardi dan berkonsolidasi di Kecamatan Porong dan bertugas di daerah pertahanan pantai di Bangil.

Di Malang pun, secara spontan dibentuk pasukan-pasukan Polri untuk ikut bertempur di Surabaya dan banyak pelajar-pelajar SMTP dan SMTA ikut menggabungkan diri. Mereka ikut bertempur mati-matian, kemudian bernaung di bawah Kompol II Moh. Yasin, serta mundur dan membuat benteng pertahanan di daerah Buduran dan Krian.

Panglima Divisi Untung Suropati, Mayjen Imam Soedjai menghimpun dan membawa serta Alim Ulama Karesidenan Malang ke front Surabaya dan membuahkan dampak psikologis yang memperkuat semangat perjuangan.

Di front pertempuran dahsyat Surabaya, gugur beribu-ribu pejuang RI sebagai pahlawan bangsa, di antaranya tidak dikenal jati dirinya dan dikebumikan sebagai pahlawan tak dikenal. (idur)

BNN Kota Malang

Batu Bumi Hangus, Pertempuran di Wilayah Pujon dan Penyerangan Sebaluh

Pasukan Belanda saat Agresi Belanda I di Malang (kiri), Tank Belanda memasuki Batu (1947)
Pasukan Belanda saat Agresi Belanda I di Malang (kiri), Tank Belanda memasuki Batu (1947)

MALANGVOICE – Agresi Belanda I yang bergitu gencar menyebabkan sebagian besar pasukan RI mundur dan membuat pertahanan di Batu, yakni di Gunung Dali, Rajekwesi, Gunung Bale, Gunung Seruk dan di Pegunungan Banyak. Pada waktu itu, 1948, Pujon-Ngantang adalah bagian dari wilayah Malang Barat yang meliputi Karesidenan Batu, termasuk Kasembon dan Batu.

Konsolidasi pertahanan dipimpin oleh Mayor Abdul Manan dan memiliki kekuatan kompi seperti Kapten Soemitro dan Kapten Sumeru, serta bantuan dari pasukan Batalyon Soenandar. Malang Barat hampir seluruhnya dikuasai Belanda, seperti Sengkaling, Dinoyo, dan Karangploso. Maka, rakyat pun berbondong mengungsi ke daerah Pujon, Kasembon, dan Ngantang. Rakyat Batu sebagian besar mengungsi ke Pujon dan Jurangkuali.

Kampung Songgoriti, Tambuh, dan Songgokerto mengalami kerusakan parah dan kosong akibat beberapa pertempuran dan Kota Batu sudah dibumihanguskan. Belanda bertahan dan menguasai Batu, membuat benteng pertahanan di Nganglik, Jambedawe, Songgokerto, dan Kawedanan Batu. Oleh pasukan RI jalan besar antara Sebaluh dan Pujon dirusak dan terputus.

Arus pengungsi menuju Pujon, Kasembon, dan Ngantang menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk di sana dan kehidupan sehari-hari semakin berat. Sebagian rakyat berdagang ke daerah pedalaman melewati jalan-jalan yang tidak diawasi oleh pasukan Belanda. Saat itu Belanda sedang melaksanakan blokade ekonomi terhadap RI. Jatah bantuan makanan didapatkan dari Kediri, Jombang, dan Mojokerto, daerah-daerah yang masih dikuasai RI. Namun, dalam kondisi demikian Wedono Suntoro yang bertempat tinggal di Pujon dapat menjaga kehidupan pertanian berjalan sebagaimana biasanya.

Sebelum terjadinya Agresi Belanda II, Batalyon Abdul Manan secara bergiliran mengadakan penyusupan untuk mengenali medan dan menyelidik situasi. Kompi Sumeru melaksanakan gerakan untuk memasuki daerah Lawang, Kompi Yusuf bergerak menyusup ke daerah Malang Barat, Kompi Benu bertugas menembus ke daerah Batu. Sementara Kepala Staf Batalyon, Soemitro, berjaga di pos komando di daerah Pasar Pujon/Ngroto.

Di awal Agresi Belanda II, pos pasukan Belanda di daerah Sebaluh diserang oleh Batalyon Abdul Manan. Pasukan Belanda terdesak mundur dan didapatkan rampasan dari mereka, antara lain 6 buah mantel, helm, telepon, dan mobil jeep yang diangkut beramai-ramai oleh penduduk.

Pada 19 Desember 1948, diperoleh informasi bahwa Belanda sedang melintas menuju ke barat, yaitu Gunung Kelet, desa Bian, Bakir, dan Bendosari Kecamatan Pujon. Terjadilah kontak senjata dengan Batalyon Abdul Manan dan Batalyon Sabaruddin. Di wilayah desa Maron, pasukan Belanda dihadang dan terjadi kontak senjata dengan Kompi Mistar.

Melanjutkan gerakan pasukan menuju Desa Kambal dan Selorejo, di desa Klangon pertempuran hebat terjadi ketika pasukan Belanda disergap oleh Kompi Soemadi yang dipimpin Letda Martawi yang kemudian mundur ke desa Gobet Mendalan. Belanda ternyata bertaktik lain, mereka menerobos hutan menuju Waduk Sekuli dan menduduki Kleppen Huis. Mereka menutup pintu air yang mengalir ke turbin dan membuang ke sungai Konto. Listrik pun padam. Nampaknya pasukan Belanda sudah mengetahui tentang taktik pasukan RI, yakni taktik bumi hangus dengan memakai bom yang dialiri arus listrik.(idur)

BNN Kota Malang

2,5 Tahun Pimpin Humas RS Saiful Anwar, Ini Sosok Dini yang Jadi Sahabat Wartawan

Rusyandini Perdana Putri (Dini). (Istimewa)
Rusyandini Perdana Putri (Dini). (Istimewa)

MALANGVOICE – Nama Rusyandini Perdana Putri tak asing di media massa. Betapa tidak, Dini, sapaan akrabnya, adalah corong utama penyebaran informasi seputar rumah sakit.

Ya, dia adalah Kasubag Humas Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) Malang.

Bergerak di bidang kehumasan mengharuskan Dini tahu segala hal seputar rumah sakit. Kemudian, melayani kebutuhan akses informasi dari para wartawan.

Perempuan 37 tahun itu mengabdi sebagai Kasubag Humas RSSA Malang selama 2,5 tahun. Selama itu pula ia menjadi referensi wartawan mengupdate informasi di RSSA Malang.

Dini dikenal supel, ramah, dan bersahabat dengan wartawan. Di lingkungan kerjanya, tidak ada perlakuan istimewa baik bawahan ataupun pihak eksternal seperti wartawan.

Bagi Dini, semua sama. Sama-sama istimewa dan luar biasa. Setiap pekerjaan tuntas, ia senantiasa memberikan apresiasi kepada rekan kerjanya. Tak heran jika pekerjaan kehumasan diacungi jempol banyak pihak.

Bisa jadi, karena motto hidupnya adalah “Hal Baik Jangan Ditunda. Apa yang diyakini baik, harus dilakukan segera baik individu maupun kerja sama.

Dulu, sebelum Humas RSSA Malang di bawah pimpinannya, tak sedikit pihak luar para pencari informasi mengeluh. Itu lantaran kinerja kehumasan tidak optimal. Pemberian akses informasi lelet, SDM yang kaku, dan tidak terbuka atas informasi publik.

Dini yang saat itu seorang Staf BKD Jawa Timur, ditunjuk oleh Gubernur Jatim untuk menduduki jabatan Kasubag Humas RSSA Malang.

Sejak saat itu Humas RSSA Malang mulai terbuka dan banyak informasi yang mudah diakses melalui pintu kehumasan.

Perubahan itu ada ketika perempuan yang hobi menanam bunga ini hadir memimpin jalannya aktivitas kehumasan di lingkungan RSSA Malang.

Banyak perubahan yang dilakukan mulai dari penyebaran kegiatan di media sosial, portal media mainstream, bahkan kerjasama dengan beberapa media dilakukan.

“Kami sangat dekat dengan temen-temen wartawan. Sinergitas selalu kami jalin. Humas dan wartawan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Harus bersinergi,” ujar Dini.

Hal seperti itu lah yang membuat perbedaan dengan sebelumnya. Selama 2,5 tahun, Dini menjadi ujung tombak penyebaran informasi resmi dari humas RSSA Malang.

“Alhamdulillah, senang bisa berjuang untuk RSSA Malang dan Pemprov Jatim melalui humas. Semoga pengabdian selama ini, terutama penyebaran informasi bagi masyarakat, menjadi amal ibadah kami,” tutur alumni IPDN Angakatan XIII itu.

Kini, Dini tak lagi dihubungi wartawan untuk dimintai konfirmasi. Tepat 10 April 2020, ia berulang tahun. Sebagai hadiah, ia dipercaya sebagai Kasie Penelitian RSSA Malang. Sosok perempuan ramah itu telah dilantik 4 April 2020 lalu untuk menduduki jabatan barunya.

“Terima kasih kerja sama dan dukungan semua pihak selama saya menjadi Kasubag Humas RSSA Malang, khususnya bimbingan dan arahan dari Jajaran direksi, paea dokter dan perawat serta seluruh tim karyawan RSSA Malang. Ingat, hal baik jangan ditunda. Tuntaskan,” tegasnya.(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Karena Kulit Bersisik, Nabila Sukses Bisnis Sabun Handmade Beromzet Jutaan

Aqila the handmade soap. (Anja arowana)
Aqila the handmade soap. (Anja arowana)

MALANGVOICE – Kulit yang halus mulus tanpa cela jadi dambaan semua wanita. Namun tidak dengan Nabila Al Bathaty, warga Malang pemilik bisnis sabun herbal. Dari keadaan kulit yang tak sempurna, Nabila terinspirasi memulai bisnis sabun herbal dan kini meraup untung jutaan rupiah

Sejak kecil Nabila, akrab disapa, punya permasalahan kulit yang bersisik karena terlalu kering. Keadaan kulit yang bersisik itu cukup menganggu dan berlangsung hingga Nabila berkeluarga sampai mempunyai satu anak. Nabila pun tak tahu sebabnya kenapa keadaan kulitnya tak kunjung membaik meski memakai berbagai produk perawatan. Barulah pada tahun 2013, Nabila mencoba sabun herbal buatan temannya. Sejak saat itu Nabila merasakan perubahan signifikan pada kulitnya.

Menjual produk bersama 1 karyawan dan adik. (Anja Arowana)
Menjual produk bersama 1 karyawan dan adik. (Anja Arowana)

“Kok kulit saya jadi membaik lalu lembab dan lembut. Dari situ saya coba buat sendiri di rumah. Bahannya ternyata dari minyak nabati seperti minyak zaitun, dan tanpa bahan kimia sama sekali,” paparnya saat ditemui MVoice.

Lalu ternyata kerabat dan teman Nabila berminat mencoba sabun tersebut. Dan ternyata cocok karena sabun itu sifatnya melembabkan, dan tidak banyak deterjen yang membuat wajah atau kulit terasa ‘ketarik’ atau ketat.

“Nah ternyata setelah saya pelajari, produk sabun kebanyakan mengandung bahan SLS yaitu sejenis zat kimia yang biasanya dipakai untuk sabun pembersih mesin. Harganya memang lebih ekonomis, namun zat ini sudah di larang oleh pemerintah dibeberapa negara maju,” tambahnya.

Barulah Nabila mencoba serius menjadikan sabun herbal sebagai bisnis. Nabila biasanya membeli bahan herbal seperti minyak kedelai, zaitun, jahe, madu, dan banyak lainnya. Kini produk herbal kecantikan Nabila berkembang tidak hanya sabun badan, melainkan sabun wajah, body butter, face oil, dan scrub. Sabun buatan nabila cocok untuk mereka yang berkulit sensitif atau yang ingin merawat kecantikan.

“Tapi, mereka yang memiliki masalah jerawat kronis sebaiknya ke dokter. Herbal saja tidak cukup,” tukasnya.

Lewat Instagram akun @aqila_handmadesoap, Nabila bisa menjual ribuan batang sabun buatan sendiri hingga keluar pulau Jawa. Omzet bisnis wanita berparas ayu ini pun mencapai jutaan rupiah.(Der/Ak)

BNN Kota Malang

Aksi Kompi Sumeru dan TRIP di Wingate Action Karanglo, Singosari, dan Lawang Repotkan Belanda

Sersan Ginkel (KL), Mayor Budiono, dan Mayor Abdul Manan. Kontak awal setelah gencatan senjata (Agustus1949). (Istimewa)
Sersan Ginkel (KL), Mayor Budiono, dan Mayor Abdul Manan. Kontak awal setelah gencatan senjata (Agustus1949). (Istimewa)

MALANGVOICE – Sesudah Perjanjian Renville, gencatan senjata tercapai. Namun, disadari sebagaimana di daerah-daerah lainnya, Belanda tidak jarang melakukan pelanggaran. Perjanjian Renville menjadikan wilayah RI semakin sempit dan dikurung daerah-daerah pendudukan Belanda.

Pada 19 Desember 1948, pukul 06.00 pagi Belanda melakukan Agresi Militer II. Hampir seluruh kota di Jawa berhasil dikuasai, termasuk Malang, yang semenjak Agresi Militer I sudah diduduki Belanda, dengan garis demarkasi ditentukan dari Pakisaji.

Belanda semakin meningkatkan patrolinya dengan pasukan berlapis baja di jalan raya Malang-Batu, Karanglo, dan Malang-Lawang yang menjadi jalur utama logistik dan mobilitas pasukannya.

Saat itu, penduduk semakin menyatu dengan pasukan RI. Hampir semua desa sudah menjadi daerah kekuasaan pasukan negeri, kecuali jalan raya. Pemerintahan sipil bentukan Belanda, Recomba (Regering’s Comtabiliteit Bestuur Ambtenaar) sudah nyaris lumpuh. Untuk itu pemantapan penguasaan wilayah yang telah dikuasai harus dibina dengan membentuk pemerintah darurat. Diangkatlah Soewartono sebagai Camat Karangploso, dan M. Rifai sebagai Camat SIngosari, dan Lawang masih dalam proses.

Pada Maret 1949, Belanda mengadakan patroli dan operasi besar-besaran di Karanglo dan Singosari. Pagi buta mereka mengadakan operasi pembersihan serentak dengan pasukan lapis baja dan bantuan pesawat pengintai. Pengepungan dari berbagai jurusan, tembakan membabi-buta, dan penduduk yang tertangkap dikumpulkan dan diinterogasi. Namun, karena gotong royong yang kuat antara penduduk dan pasukan gerilya RI, berita pengepungan ini sudah diketahui secara beranting, dan operasi pasukan Belanda dianggap kurang berhasil.

Untuk memperkecil nyali musuh dan mempersempit ruang gerak mereka, pasukan RI sering melakukan penyerangan ‘hit and run’ dengan kelompok-kelompok kecil. Menjelang subuh mereka menyerang pos-pos Belanda di daerah Karangploso, Pendem, dan Singosari. Juga penyerangan terhadap konvoi pasukan Belanda di sepanjang jalan Malang-Lawang dari atas bukit Mondoroko-Watugede, dan Songsong.

Dalam operasi besar yang dilakukan, gugur tiga pahlawan, yakni Komandan Regu Kopral Sumedi, Pratu Mochib yang tertembak di desa Tegalgondo Karangploso, dan Sersan I Madasih yang tertangkap dan ditembak di Ngroto, Pujon. Dari kesatuan lain, regu Heri Sugondo juga tertangkap.

Pada saat Wingate Action Kepala Staf Batalyon III memerintahkan Letnan Satu Soeyono untuk membantu Kompi Sumeru dalam memantapkan penyelenggaraan pemerintahan sipil di daerah Karangploso, Singosari, dan Lawang, serta memperkuat daya tahan perang gerilya di wilayah tersebut.

Diangkatnya Sersan Mayor Paimin, yang dikenal dengan Komandan ‘Stroot troep’ menjadi Komandan Seksi III, semakin meningkatkan serangan dan penghadangan terhadap pasukan Belanda. Seksi Suwandi yang bermarkas sementara di Dengkol, Singosari Timur, giat melaksanakan sabotase, seperti memutus kabel telepon, merusak jalan kereta api, bahkan membakar pasar Singosari. Pos-pos Belanda di Singosari pun tidak pernah tenang dari gangguan Seksi Suwandi. Nyaris setiap hari dilakukan penghadangan di jalan raya Malang-Surabaya, dan tidak jarang menewaskan beberapa dari konvoi pasukan Belanda. Pasukan “O” yang berkedudukan di desa Lang-Lang juga aktif membantu pasukan Kompi Sumeru dalam penyerangan dan penghadangan.

Anggota TRIP yang tergabung dalam Kompi Sumeru membantu penggalangan masyarakat dengan membuat dan menempelkan poster-poster di tempat strategis untuk membangkitan semangat rakyat melawan Belanda. Anggota TRIP mengusahakan cap dan stempel pemerintah darurat RI, baik untuk kecamatan maupun desa-desa, yang secara sembunyi-sembunyi dipesan dari Toko Buku ARC Salim, dalam rangka memperkuat legalitas pemerintah darurat RI dan melenyapkan pemerintah bentukan Belanda (Recomba).

Ketika penguasaan daerah telah cukup mantap, Kondan Sektor dipindahkan ke kampung Jeruk. Mendeg. Markas Seksi Suwandi bergeser ke Desa Ngepoh. Wilayah Kecamatan Karangploso, Singosari dan bagian timur Kecamatan Lawang dikuasai oleh Batalyon Abdul Manan, sementara Belanda hanya menguasai kota kecamatan dan jalan raya Malang-Surabaya.(idur)

BNN Kota Malang

Catatan Februari 1949: Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang

Situasi pertempuran di Wonokoyo, Dampit 1949

Pertengahan Januari 1949, besarnya kekuatan patroli pasukan Belanda dengan intensitas gerak yang tinggi disertai provokasi, perampokan, dan berbagai upaya untuk menurunkan semangat juang rakyat, menunjukkan ambisi Belanda yang kuat untuk menduduki Kota Dampit. Sejak awal Februari 1949 mereka bergegas memperbaiki jembatan dan jalan-jalan yang dirusak oleh pasukan gerilya RI dengan tujuan menguasai jalur perhubungan.

3 Februari 1949. Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) bergerak dari Wonokitri menuju Gunung Kelop untuk membuat pangkalan pesiapan sekaligus perbentengan. Bagian dari pekerjaan awal PUS 18 pada waktu itu adalah menyusun kembali pemuda desa (Pagar Desa) yang kokoh dan membentuk pelopor-pelopor dari golongan rakyat yang bersenjata. Pekerjaan lainnya adalah mencari berita dan membentuk perhubungan lewat pos-pos rahasia.

4 Februari 1949. Pagi hari, diperoleh kabar bahwa pasukan Belanda dari Pamotan sudah sampai di Kota Dampit. Dikirimlah satu regu penyelidik ke wilayah Sumber Kembar untuk membaca situasi dan mereka kembali dengan informasi bahwa Belanda dengan kekuatan satu regu berada di gardu. PUS 18 pun mengadakan stelling di benteng untuk bersiaga. Seksi I Dan Seksi II dengan Keiki Kanjue (senjata mesin ringan) dan regu senapan mulai bergerak dari Gunung Kelop menuju Sumber Kembar. Serangan urung dilakukan karena pasukan masuh sudah kembali ke Dampit.

Regu Keiki Kanjue dan regu senapan selanjutnya memasuki Kota Dampit dan ketika melihat ada sepasukan musuh berada di pertigaan jalan besar dekat pasar, mereka pun melepaskan tembakan. Terjadi pertempuran sampai saat musuh mendapat bantuan dari Pamotan dan bermaksud mengepung. Pasukan RI melakukan pengunduran karena mendapat serangan balasan dari dua jurusan dengan persenjataan yang lebih kuat dan senjata berat. Musuh melakukan pengejaran, namun mereka pun kemudian mundur ketika tiba-tiba mereka ditembaki oleh juuki dan tekidanto pasukan RI dari atas Gunung Kelop.

21 Februari 1949. PUS 18 dengan bantuan dari pasukan Sabar Soetopo telah selesai mempersiapkan rencana dan gerakan untuk melalukan serangan-serangan terhadap pasukan Belanda. Perlu dilakukan pengacauan-pengacauan terhadap pangkalan-pangkalan musuh di Turen dan Sedayu, serta menghambat pergerakan musuh ke selatan dan timur. Bantuan tenaga dari rakyat daerah otonom Purwantoro sangat penting sebagai upaya untuk mengobarkan semangat dan kesetiaan rakyat pada RI meskipun meraka ada di daerah pendudukan Belanda. Musuh yang waktu itu juga berpangkalan di Sedayu bermaksud memudahkan kepentingan gerakan dan perbekalannya di wilayah selatan dengan bantuan dari Krebet dan Malang.

22 Februari 1949. Tengah malam, PUS 18 bersama rakyat bergerak menyerang sasaran di Talok, merusak jembatan Lesti, dan menyerbu pos di Turen. Serangan berhasil, musuh menarik mundur pasukannya. Meskipun jembatan Kali Lesti gagal diledakkan, paginya, 23 Februari 1949, pukul 05.00 WIB Kota Sedayu dapat dikuasai.

24 Februari 1949. Banjarpatoman dan sekitarnya telah dikuasai oleh pasukan RI.

27 Februari 1949. Didapatkan berita bahwa sebagian pasukan Belanda bergerak menuju Ngelak dan Amadanom. Pasukan RI segera menaiki Gunung Pandan Asri untuk stelling di perbentengan, sementara pasukan musuh sudah sampai di ujung kampung Banjarpatoman. Menunggu kedatangan musuh, serangan tidak dilakukan, karena untuk merahasiakan posisi dan menghemat amunisi. Ditengarai musuh berkekuatan satu setengah kompi, bersenjata juki, PM (pistol mitralyur), diikuti pasukan Genie dan Telegrafi, dan sebagian besar terdiri dari tentara Cakra yang ditarik dari Bali (Pasukan Gajah Merah).

Pukul 08.00 terjadilah tembak menembak selama hampir 3 jam. Pasukan RI menghentikan tembakan karena persediaan amunisi hampir habis. Pertempuran Wonokoyo bisa dikatakan sebagai pertempuran terbesar selama ini di wilayah Semeru Selatan. Di pihak musuh, banyak berjatuhan korban tewas dan luka, termasuk tewasnya komandan mereka. Di pihak pasukan RI, gugur 3 orang pasukan dan 3 orang penduduk sekitar.

Siangnya, pasukan musuh menangani mayat para serdadu dan mereka yang terluka, lewat Amadanom menyusuri lembah sungai dan jalanan kembali ke Dampit. Pasukan RI berhasil merampas PM, 300 butir peluru Karaben, sebuah Karaben, 3 mortier dan tempat peluru lengkap.

Sementara itu di wilayah lainnya, pada 3 Februari 1949, pihak Belanda mengadakan serangan ke sarang gerilya di Trawas. Pasukan gerilya termasuk pasukan Mansur Solichin terpaksa melakukan pengunduran.

17 Februari 1949. Pasukan gerilya menyerang markas Belanda di Wonokerto, melakukan pengrusakan di jalan-jalan, merusak kawat-kawat telepon dan listrik, serta memasang ranjau darat (Myn). Pertempuran terjadi, delapan pasukan Belanda tewas, sebuah truk hancur terkena Myn.

Esok harinya, pasukan gerilya kembali beraksi di jalan kereta api dan jalan raya, dan pemasangan Myn di Candirubuh Kenduruan. Sorenya, Myn berhasil melumatkan 2 truk bermuatan serdadu Belanda. Tidak lama, bantuan musuh datang menggunakan kereta api yang kemudian terhenti dihantam pasukan gerilya. Terjadilah kontak senjata. Tiga belas serdadu Belanda tewas, dari pasukan gerilya gugur satu bunga bangsa, Much. Nasir.

25 Februari 1949. Kota Pandaan menjadi sasaran gerakan pasukan gerilya. Dengan tujuan melucuti senjata polisi Belanda, mereka melakukan penghadangan di jalan raya Pandaan-Sukorejo, memasang Myn dan merusak kantor-kantor Belanda. Dapat dirampas 4 pucuk senjata, pakaian, sepeda, dan peralatan lainnya.

26 Februari 1949. Malam hari. Pasukan gerilya berhasil menghancurkan sebuah panserwagon yang sedang berpatroli menuju Pandaan. (idur/Perjuangan Total Brigade IV pada Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang, 1997).

BNN Kota Malang

Menarik, Salma Gambarkan Jokowi Bawa Jaring Tangkap Teroris

Salma menunjukkan karya karikaturnya yang masuk 20 besar. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Salah satu siswa yang menjadi finalis dalam Lomba Karikatur Katakan Tidak Pada Teroris, Universitas Merdeka (Unmer) Malang, adalah Salma Aufadina.

Salma mewakili sekolahnya, SMK Telkom Malang. Salma terpilih menjadi finalis karena karikaturnya mengekspresikan fenomena terorisme secara menggelitik. Salma menggambarkan Presiden RI, Joko Widodo, sedang membawa jaring menangkap karakter-karakter kartun memakai pakaian dan tutup wajah hitam. Karakter itu menggambarkan teroris di Indonesia.

Ide itu Salma dapatkan dari membaca berita-berita terorisme di media online. Dari situlah Salma menemukan satu berita yang mengutip perkataan Joko Widodo, ‘Tidak Ada Ruang Untuk Teroris!’. Meski dadakan, ternyata Salma mampu mengerjakan karikatur sesuai deadline.

“Makanya saya gambar Jokowi bawa Jaring,” tukas dia.

Salma mengatakan, kedua orangtuanya mendukung dirinya mengikuti lomba karikatur. Apalagi Salma memang sudah hobi menggambar sejak sekolah dasar.

“Saya memang hobi menggambar dan desain,” kata siswa jurusan Rekayasa Perangkat Lunak ini.

Soal terorisme yang semakin menjamur, Salma mengaku tidak takut dengan terorisme. Namun Salma tetap berharap pemerintah serius menjaga keamanan daerah dan memberantas tuntas terorisme.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti
BNN Kota Malang