644 Korban First Travel di Kota Malang Gagal Berangkat Umrah

Kepala Cabang First Travel Malang, Andri Kunanta. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Kasus yang melanda First Travel terkait penggelapan juga dialami di Kota Malang. Tercatat, ada ratusan warga yang gagal berangkat umrah karena mempercayakan jasa tersebut.

Agen perjalanan umrah First Travel yang berada di Jalan Ki Ageng Gribig, Kedung Kandang, Kota Malang, yang menerima pendaftar mengaku ada 664 jemaah yang sudah mendaftar sejak 2016 lalu gagal berangkat.

“Total 664 dari 1116 calon jemaah batal berangkat umrah karena kasus itu di Jakarta,” kata Kepala Cabang First Travel Malang, Andri Kunanta, Kamis (24/8).

Kantor First Travel yang juga termasuk friendcase sudah berjalan sejak 1,5 tahun lalu. Pihaknya, lanjut Andri, sudah melayangkan somasi sejak 7 dan 15 Juni kepada kantor pusat terkait masalah itu. Namun, tidak ada jawaban.

Padahal, dalam somasi itu pihaknya meminta kantor pusat agar segera memberangkatkan jemaah atau mengembalikan dana. Pendaftar dikenakan biaya bervariasi mulai Rp 14,3 juta hingga Rp 17 juta.

“Saat ini owner masih diperiksa polisi dan kami masih menunggu hasilnya,” tandasnya.

Seperti diketahui, kasus itu menjadi perhatian publik karena melibatkan banyak korban yang gagal berangkat umrah.(Der/Ak)

Pelaku Penipuan Berkedok Separuh Cicilan Motor Punya Prinsip Aneh

Kuasa hukum Risna dan keluarga saat di Polres Malang Kota. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Kasus penipuan dengan modus memberikan cicilan sepeda motor dengan separuh harga yang melibatkan satu tersangka Risna Bautatik (36), muncul fakta baru. Kasus itu kini ditangani Polres Malang Kota.

Melalui kuasa hukum, Husain Tatang, ia membeberkan motivasi dan alasan warga asal Sulawesi Tenggara itu melancarkan aksinya hingga mempunyai korban sebanyak 120 orang.

Menurutnya, Risna memang dikenal baik dan suka menolong. “Ya klien saya ini tujuannya ingin menolong saja. Seperti sinterklas,” katanya pada awak media di Polres Malang Kota, Selasa (22/8).

Selain itu, Risna dianggap tidak mendapat keuntungan apapun. Bahkan, selama 2015 lalu, ibu dua anak ini justru mengalami defisit. Meski ia tak menampik bahwa kliennya itu salah.

“Rumah dan mobil sampai digadaikan untuk menutupi cicilan motor itu. Uang sekolah anaknya pun ikut terpakai,” lanjutnya sambil didampingi keluarga Risna.

Dari pihak keluarga pun sampai kaget dengan adanya kabar Risna ditahan polisi atas kasus itu. Sehingga keluarga tidak sempat bisa membantu Risna, karena hutangnya pada leasing mencapai Rp 1,7 miliar dari 178 motor kredit. Padahal, Risna mengaku pada keluarga sudah ada puluhan motor yang lunas.

“Klien saya punya prinsip kalau ada uang sekarang ya dihabiskan sekarang juga. Besok pasti ada berkat lain,” tambahnya lagi.

Kepada polisi, pihak keluarga atau kuasa hukum tersangka meminta adanya pengusutan dari kasus ini. Serta berharap semua korban yang merasa dirugikan untuk melapor agar semuanya jelas.

Seperti diketahui, dua korban Risna melapor pada polisi karena merasa ditipu. Risna kemudian ditangkap dan dikenai pasal penipuan dengan ancaman 4 tahun penjara.


Reporter: Deny Rahmawan
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria

Wali Kota Malang Kembali Diperiksa, Ini Imbauan KPK Terkait Pembahasan APBD

Wali Kota Malang, HM Anton. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Wali Kota Malang, HM Anton, kembali menjalani pemeriksaan di Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (22/8) hari ini. Anton diperiksa sebagai saksi untuk tersangka mantan Ketua DPRD Kota Malang, Arief Wicaksono.

Dalam hal ini, Arief Wicaksono disangka menerima suap pada dua perkara, yakni dari Jarot Edy Sulistyono dan Hendrawan Mahruzzaman. Arief sendiri juga kembali menjalani pemeriksaan di Gedung KPK.

Namun, kali ini Ketua DPC PDIP Kota Malang itu diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Jarot Edy Sulistyono. Selain itu, seorang anggota legislatif lain juga mendapat panggilan, yakni Ketua Fraksi Gerindra, Drs Salamet.

Pria berdarah Madura itu diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Arief Wicaksono. Juru bicara KPK, Febri Diansyah, menegaskan, ketiganya dimintai kesaksian terkait dugaan suap yang tengah didalami.

“Penelusuran aliran dana dan proses pembahasan dan persetujuan APBD Kota Malang menjadi materi yang didalami oleh penyidik pada rangkaian pemeriksaan kasus ini,” ungkapnya melalui pesan Whatsapp.

Dia menambahkan, saat ini KPK menangani beberapa kasus suap terkait pembahasan dan pengesahan APBD di sejumlah Kabupaten/Kota dan bahkan Provinsi di Indonesia. Terkait ini, Febri menyampaikan kepada para pejabat publik harus menjaga kejujurannya.

KPK mengimbau pada daerah-daerah lain agar memperhatikan kasus-kasus korupsi yang sedang ditangani ini. Menurutnya, perhatian tersebut diperlukan agar proses pembahasan APBD tidak dijadikan alat untuk tawar menawar untuk kentungan pribadi atau kelompok.

“Pembahasan dan pengesahan APBD yang transaksional apalagi ada unsur suap tentu dapat merugikan kepentingan masyarakat yang seharusnya dapat menikmati uang mereka secara maksimal,” pungkasnya.


Reporter: Muhammad Choirul Anwar
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Rem Blong, Truk Tronton Sebabkan Kecelakaan Maut, Empat Tewas

Jenazah kecelakaan maut Karang Ploso. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Kecelakaan maut terjadi di Jalan Raya Kertonegoro, Karang Ploso, Kabupaten Malang, Jumat (25/8). Sebuah truk bernopol N 9065 UA, menyeruduk beberapa kendaraan diduga karena rem blong sekitar pukul 16.45 WIB.

Akibat kebecelakaan maut itu, empat orang dinyatakan meninggal dunia. Masing-masing adalah Kuswanto, warga Takaran, Karang Ploso, Sujatmiko, warga Sumpil, serta Winarti dan Warsiti, warga Kendalsari, Karang Ploso, Kabupaten Malang.

Semua jenazah itu dibawa ke RS Saiful Anwar untuk divisum. Sementara itu, masih ada sekitar 10 korban lain yang masih dirawat di RS Prasetya Husada, Karang Ploso.

Dari informasi yang didapat MVoice, truk itu melaju dari arah barat ke timur. Namun, diduga rem blong sehingga lepas kendali dan menabrak beberapa sepeda motor, angkot dan mobil Panther.

Saat ini, pantauan di RS Saiful Anwar sudah banyak keluarga korban yang datang untuk memastikan identitas jenazah.(Der/Ak)

MCW Tuntut Bongkar Gurita Korupsi Kota Batu

Koordinator Malang Corruption Watch M. Fahrudin.(istimewa)

MALANGVOICE – Geliat aparat penegak hukum mengungkap pusaran korupsi di Pemkot Batu diapresiasi Malang Corruption Watch (MCW). Terlebih dengan aksi OTT Satgas Saber Pungli Kemenko Polhukam terhadap oknum pegawai Pemkot Batu, Kamis lalu (24/8).

Koordinator MCW, M. Fahrudin mengatakan, aparat selanjutnya harus mengungkap tuntas sampai ke akar-akarnya. Sebab, seringkali pengungkapan kasus tidak pernah selesai sepenuhnya, hanya berhenti pada pemain lapangan (eksekutor) dan tidak dikembangkan pada keterlibatan pejabat internal pemerintah yang lebih tinggi.

“Kondisi tersebut mengkonfirmasi bahwa APH di Kota batu belum sepenuhnya serius mengungkapkan siapa dibalik gurita besar korupsi di Kota Batu dan terkesan tebang pilih,” kata Fahrudin.

OTT yang dilakukan oleh Satgas Saber Pungli terhadap oknum di Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) tersebut lantas menambah tidak bekerjanya kepolisian dan kejaksaan di Kota Batu secara baik.

MCW mencatat ada beberapa dugaan korupsi yang tidak jelas penangannya dan kalaupun diproses hanya berhenti pada pemain lapangan (eksekutor).
Tercatat di antaranya,
1. dugaan korupsi PT BWR 2013
2. dugaan korupsi Roadshow (batu shining imvestment) 2015
3. dugaan korupsi pembangunan (pengadaan tanah) Block Office (sekarang: Balai Kota Among Tani)
4. dugaan korupsi piutang pajak Jatim Park Group
5. dugaan korupsi ruislagh tanah Dadaprejo
6. dugaan korupsi pengerjaan beberapa jalan di Kota batu 2014-2015
7. dan beberap dugaan korupsi lain.

Berangkat dari hal tersebut MCW bersama masyarakat Kota Batu mendesak Satgas Saber pungli segera menetapkan tersangka dan melakukan pengembangan kasus, menelusuri keterlibatan oknum lainnya. Melakukan penelusuran terhadap dugaan aliran dana yang berasal dari PT Gunadharna Anugerahjaya terhadap beberapa nama yang disebut.

“Jika tidak mampu menjalankan perannya. Maka KPK harus segera mengambil kasus tersebut. KPK ikut serta membongkar gurita Korupsi di Kota Batu,” pungkasnya.(Der/Ak)

Ngadirejo, Surga Wisata Tersembunyi Kabupaten Malang

Kolase air terjun indah di Desa Ngadirejo. (dok KKN 34)

MALANGVOICE – Banyaknya wisata yang ditawarkan membuat Desa Ngadirajo menjadi salah satu desa berpotensi untuk menjadi desa wisata. Alhasil, 4 Agustus 2017 lalu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang mensosialisasikan gerakan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS).

Peresmian yang digelar di balai desa Ngadirejo itu diikuti oleh seluruh pamong desa, penanggung jawab wisata desa dan mahasisa Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 34 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Ketua KKN 34 UMM, Zidny Albar, mengatakan, Malang merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang menjadi destinasi wisata baik bagi pengunjung lokal maupun internasional. Meningkatnya jumlah wisatawan pada setiap tahunnya membuat semakin banyaknya tempat wisata baru di Malang.

“Namun sayangnya tidak semua pengunjung tahu bahwa Malang mempunyai bayak sekali surga wisata tersembunyi bagi para wisatawan, salah satunya adalah desa Ngadirejo, Kecamatan Jabung,” kata dia Kepada MVoice, Senin (21/8)

Karena itu, lanjut dia, sosialisasi ini memberikan bekal pada warga agar mampu berpartisipasi dalam pengelolaan potensi wisata di desa mereka. Harapannya, tentu saja agar destinasi wisata di Desa Ngadirejo tidak kalah dengan desa wisata lain.

Dia menjelaskan lagi, Desa Ngadirejo merupakan salah satu desa di kecamatan Jabung, Malang. Terdapat dua air terjun terkenal di desa ini, yaitu coban Jodo, Coban Arema, dan coban Jidor. Selain itu juga terdapat wisata Sumber Urip dan Parang Tetes serta kuliner khasnya yaitu sambal bakar, kripik singkong bervarian rasa dan donat singkong.

“Donat singkong dan kripik singkong merupakan produk khas olahan desa Ngadirejo dibawah binaan divisi kewirausahaan KKN kelompok 34 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM),” tutupnya.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Tim Saber Pungli Sebut 18 Kali Korban Diperas Oknum Pegawai Pemkot Batu

Kabid Operasi Satgas Saber Pungli Brigjen Pol Widiyanto Poesoko, Jumat (25/8) di Mapolres Batu. (Aziz Ramadani)

MALANGVOICE – Operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Satgas Saber Pungli Kemenko Polhukam masih proses pendalaman. Sebab, korban yang merupakan kontraktor beberapa proyek Pemkot Batu ditengarai dimintai uang lebih dari 18 kali.

Hal ini diungkapkan Kabid Operasi Satgas Saber Pungli Kemenko Polhukam Brigjen Pol Widiyanto Poesoko. Widiyanto menjelaskan, dari keterangan pelapor, setiap kali bertemu oknum pegawai di Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kota Batu, selalu dimintai sejumlah uang.

“Total ada 18 kali korban dimintai uang,” kata Widiyanto.

Namun, Widiyanto tak dapat memastikan rincian nominal uang tersebut. Ke mana saja aliran uang hasil pungli itu masuk, pihaknya juga enggan menjelaskan.

“Masih kami dalami, nominalnya juga. Beberapa keterangan saksi masih terus didalami,” urainya.

Terpisah, informasi yang dihimpun MVoice, kontraktor yang melaporkan praktik pungli telah menyerahkan sejumlah uang dengan nominal Rp 805 juta. Ada lebih dari 5 oknum yang mendapatkan uang yang nominalnya bervariatif. Data tersebut dihimpun dari foto lembaran kertas berisi aliran dana yang diberikan kontraktor sebanyak 17 kali. Foto tersebut beredar di media sosial. Perihal tersebut, Widiyanto enggan berkomentar.(Der/Yei)

Aksi Unik Aremania Lakukan Karnaval di Stadion Gajayana

Karnaval Aremania di Stadion Gajayana. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Ada yang unik di pertandingan Arema Indonesia saat menjamu Perseta Tulungagung di Stadion Gajayana, Minggu (27/8). Para suporter Singo Edan melakukan karnaval di jeda laga memasuki babak ke dua.

Suporter berjuluk Aremania itu mendadak memasuki pinggir lapangan dari tribun sisi utara. Mereka berkumpul kemudian berkeliling lapangan bersama-sama.

Beberapa dari mereka menggunakan kostum unik. Ada yang memakai baju adat daerah, baju satpam, hingga memainkan seni bantengan. Namanya suporter, pasti selalu dibumbui dengan nyanyian dan sebagian mengibarkan bendera merah putih serta bendera Arema yang membuat semakin meriah.

Menurut salah satu Aremania yang mengikuti karnaval lapangan, Hadi, hal itu merupakan perwujudan dalam perayaan peringatan HUT RI. “Kami sengaja melakukan di stadion biar unik. Sekaligus mendukung Arema Indonesia,” katanya.

Aksi itu pun menyedot perhatian seluruh penonton di stadion yang tak lupa mengabadikan momen langka ini.

Sementara dari hasil pertandingan, Arema Indonesia unggul 2-0 di dalam lanjutan Liga 3 sore ini.(Der/Ak)

Petugas Amankan 3 Pasangan Diduga Mesum di Songgoriti

Sepasang muda-mudi diduga berbuat asusila diamankan petugas gabungan, Polres Batu, Satpol PP dan TNI dari kawasan Villa Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Minggu dini hari (28/5). (ist)

MALANGVOICE – Sejumlah 130 personel gabungan, Polres Batu, Satpol PP Kota Batu dan TNI, Sabtu malam (27/5) menggelar operasi di kawasan Kota Batu. Hasilnya, 3 pasangan diduga mesum alias asusila diamankan di kawasan Gang Macan Songgoriti. Petugas juga menyita 3 botol minuman keras (miras) di sebuah warung di kawasan Kali Lanang.

Tigas pasangan diduga bukan pasangan suami-istri sah tersebut, diantaranya, pasangan inisial EJ, 28, warga Desa Sumberagung, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang dan CT, 19, warga Kasembon Kabupaten Malang.

Ratusan personel gabungan dalam Operasi Pekat Semeru 2017 mendapat arahan dari Waka Polres Batu Kompol Nurmala, Sabtu malam (27/5)

Pasangan inisial FR, 24, warga Kecamatan Kanigaran Kota Probolinggo dan Suhartatik, 23, warga Desa Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Lalu pasangan ketiga yang masih berstatus pelajar atau mahasiswa, yakni RU, 19, warga Kecamatan Sanan Kulon, Kabupaten Blitar dan SP, 20, warga Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar.

Sedangkan operasi yang menyasar kawasan Kali Lanang, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, petugas mengamankan 3 botol minuman keras. Barang tersebut disita dari pemilik warung berinisial Is, 41, warga Dusun Ngujung, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji.

Kabag Ops Polres Batu, Kompol Zein Mawardi mengatakan, ketiga pasangan tersebut diamankan karena diduga berbuat asusila tanpa ada ikatan suami-istri yang sah.
Kepada mereka selanjutnya dilakukan pemeriksaan dan jika terbukti akan diproses sesuai hukum yang berlaku. ”Sedangkan untuk penjual miras tanpa izin resmi akan dilakukan tipiring (tindak pidana ringan),” kata Zein.

Operasi Pekat Semaru 2017, lanjut Zein, dilakukan awal Ramadhan ini guna menjaga dan menciptakan situasi aman dan kondusif di wilayah hukum Polres Batu khususnya. Sasaran operasi yakni pengecekan dan penertiban tempat hiburan malam, dan patroli di titik rawan kriminalitas.

”Malam ini, operasi dibagai tiga kelompok. Kelompok pertama dengan sasaran kawasan Songgoriti, Kedua kawasan Jalibar dan tempat karaoke, dan kelompok tiga, di kawasan Kali Lanang, payung dan paralayang,” beber mantan Kapolsek Dau ini.

”Operasi serupa akan terus dilakukan selama Ramadhan dan Idul Fitri,” imbuhnya.

Ada Tujuh Rangkaian dan Makna Filosofi dalam Tedak Siten

Tradisi tedak siten (Tika)
Tradisi tedak siten (Tika)

MALANGVOICE – Ada tujuh makna dalam prosesi tedak siten atau mudun lemah alias turun tanah.

Budayawan Jawa, Suryadi atau yang lebih dikenal dengan Ki Suryo menjelaskan, upacara untuk bayi usia tujuh bulan itu berisi semua harapan dan arahan dalam hidup.

Saat ditemui di lokasi tedak siten, Candi Jago, Desa dan Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, dia menjelaskan proses awal, bayi dipanjatkan tangga yang terbuat dari tebu.

Orang tua bayi mendampingi dan menuntun dalam semua proses.

tradisi-tedak-siten-tika3

Tebu menurutnya memiliki akronim anteping kalbu atau ketetapan hati dalam menjalani kehidupan.

“Tangga ibarat kehidupan jika tidak sesuai alur, yaitu berjalan lurus ke atas nanti akan roboh,” kata dia.

Selanjutnya, bayi melalui proses napaki jadah atau berjalan di atas jenang yang terbuat dari ketan.

Ada tujuh warna jadah yang dilewati bayi. Ketujuhnya adalah hitam, ungu, biru, hijau, merah, kuning dan putih.

“Maknanya, hidup berawal dari yang gelap dan berakhir dengan terang,” kata dia.

Proses ketiga adalah si bayi dimasukkan dalam kurungan ayam yang diibaratkan sebagai simbol dunia.

Kurungan itu berisi aneka macam mainan mulai yang berbentuk alat dapur hingga musik.

Bayi harus memilih satu dari sekian banyak mainan yang diletakkan dalam kurungan.

tradisi-tedak-siten-tika

Maknanya, lanjut Ki Suryo, itu merupakan simbol si anak memilih profesinya kelak ketika sudah dewasa.

“Semua simbol profesi ada di kurungan. Menjadi semacam penuntun bagi bayi dalam memilih pekerjaan nanti,” imbuh dia.

Usai mengelilingi ‘dunia’, bayi diharuskan memilih gambar tokoh wayang yang dipercaya dapat membentuk karakternya ketika dewasa.

“Makanya anak sekarang walau sudah dewasa tidak punya arah, karena meninggalkan tradisi. Ketika bayi tidak pernah melalui proses ini,” kata kakek satu cucu ini.

Selanjutnya, bayi yang mengikuti prosesi ini dimandikan dengan air dari tujuh sumber.

Ki Suryo menjelaskan, tedak siten cucunya kali ini, Putri Bilqis Maulidia Effendi mengambilkan air dari Sumber Awan, Sumber Nagan, dan Watu Gede di Singosari.

Juga diambilkan air dari Wendit, sekitar Candi Kidal, Jago dan Ngawonggo atau Sumber Jenon di Tajinan.

“Pitu (tujuh) sumber mengandung makna pitulungan. Setiap sumber memiliki warna, rasa dan khasiat sendiri. Harapannya, dalam hidup senantiasa mendapatkan pitulungan atau pertolongan,” kata juru kunci Candi Jago yang akan pensiun ini.

Proses keenam, si bayi ditempatkan dalam tikar yang sudah diberi uang koin dan beras kuning.

Maknanya, rejeki dan kehidupan yang dilambangkan dengan beras. Menurut Ki Suryo, dalam hidup mencari panguripan dan upo (butiran nasi).

Arti filosofi dalam proses ini, meski bergelimang uang dan kesejahteraan jangan sampai terperdaya.

“Tadi cucu saya membagi-bagikan uang kepada orang sekitarnya. Artinya, harus selalu berbagi. Budaya Jawa dan ajaran Islam juga mengajarkan kita untuk berbagi atau sedekah kepada sesama,” kata dia.

Terakhir, proses digaulkan dan dibiarkan bermain dengan teman sebaya. Maknanya, dalam hidup selalu butuh teman dan bersosialisasi.

“Ajaran Islam juga mengajarkan habluminanas atau hubungan baik dengan manusia selain hubungan baik dengan Allah,” kata dia.

Dia berharap, tradisi tedak siten ini bisa dijadikan kearifan lokal di Malang, khususnya di kabupaten.

“Sekarang kita dalam kondisi krisis moral. Anak muda kehilangan sopan santun. Hal ini karena mereka lupa budaya,” tandas dia.

Komunitas