Gelar Joko Galing Bercerita Kesewenangan Pimpinan

Salah satu adegan seni budaya ketoprak yang digelar di TKBJ Jawa Timur di Malang. (hamzah/malangvoice)

MALANGVOICE – Invasi budaya pop di Indonesia sedikit banyak telah merongrong kehidupan seni dan budaya lokal yang sejak lama berusaha dipertahankan para leluhur. Karenanya, menumbuh kembangkan kesenian dan budaya, merupakan kewajiban seluruh stake holder termasuk jajaran pemerintahan.

Apresiasi positif harus dialamatkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur yang sedia menghidupkan kembali budaya lokal dengan berbagai cara. Beberapa pagelaran budaya lokal, seperti ketoprak, ludruk hingga wayang orang berhasil disuguhkan di tengah masyarakat Kota Malang sepanjang tahun 2015.

Bertempat di Taman Krida Budaya Jawa Timur (TKBJ), pertunjukan yang sudah dimulai pada awal tahun ini ternyata mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Pantauan MVoice, Sabtu (29/8) di lokasi, penonton datang berjubel untuk menyaksikan sisa-sisa kejayaan budaya lokal itu.

BNN Kota Malang

Warga baik kalangan muda dan tua, terlihat antusias menonton suguhan Ketoprak THR Surabaya dengan lakon Joko Galing. Bercerita mengenai upaya kudeta dan kesewenang-wenangan kerajaan kepada rakyatnya, lakon ketoprak ini cukup memikat penonton.

Dikemas apik dengan memadukan iringan musik gending serta pencahayaan panggung yang atraktif, akting para aktor ketoprak ini di atas panggung, tampak hidup dan mampu mengaduk emosional penonton yang ada.

Kasi Pengembangan Seni dan Budaya, UPT Taman Budaya Jawa Timur, Widodo SSM, MM, mengatakan, menghadirkan kembali pertunjukkan seni dan budaya lokal masyarakat selain merupakan upaya menjaga dari kepunahan akibat tuntutan zaman.

“Dulu tahun 1990-an kita mengenal ketoprak Siswo Budoyo yang sempat digandrungi masyarakat, kini hal itu semakin ditinggalkan,” kata Siswono, kepada MVoice.

Padahal, nilai filosofis dan pesan yang ada dalam cerita ketoprak, ludruk, wayang orang, dan sebagainya, justru sangat pas dengan kondisi masyarakat Indonesia bila dibanding cerita impor dari luar negeri.

“Cerita ini lahir masyarakat dan hidup di masyarakat, jadi cerita ludruk atau ketoprak, sangat bisa diterima dengan baik sebenarnya,” beber dia.

Selain itu, dijelaskan, menghidupkan kembali seni dan budaya, sangat berhubungan erat dengan kehidupan pariwisata. Wisatawan, utamanya dari mancanegara selain tertarik dengan pesona alam, juga tertarik dengan kesenian lokal.

“Kalau kita mau hidupkan seni seperti ini, akan berdampak pada dunia pariwisata dimana imbasnya akan ada pada dunia perekonomiam,” tegasnya.

Oleh sebab itu, komitmen menghidupkan kembali budaya lokal, merupakan usaha strategis dengan efek domino yang positif di berbagai sektor lini.-