Lewat ‘Pernikahan Jahanam’, Kerumitan Cinta dan Rumah Tangga Tersaji

0
21
Penampilan para pemain Ludruk Kendo Kenceng di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Malang. (Muhammad Choirul)
Penampilan para pemain Ludruk Kendo Kenceng di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Malang. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Gagalnya rencana pernikahan sudah menjadi hal biasa untuk diangkat sebagai sebuah pertunjukan. Namun, Ludruk Kendo Kenceng yang disutradarai Sutak Wardhiono sukses menjadikannya tidak biasa.

Melalui lakon ‘Pernikahan Jahanam’ yang digeber Sabtu (19/11) malam di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Malang, kisah ini berawal dari pernikahan Kinasih, putri Suratno dan Sulastri, dengan Purnomo, putra keluarga Iskidjan. Rencana pesta besar-besaran sudah disiapkan.

Sesaat sebelum pernikahan berlangsung, datanglah Suntoro. Singkat cerita, kehadiran Suntoro membuat secuil rahasia di masa silam akhirnya terbongkar.

Suntoro membeberkan latar belakang Kinasih yang sebenarnya lahir dari buah cintanya bersama Sulastri. Kenyataan itu membuat Purnomo memilih urung menikahi Kinasih, dengan alasan enggan beristri ‘anak haram’.

Bujuk rayu sang ayah, Iskidjan, pun tak mampu membendung amarah Purnomo yang terlanjur naik pitam. “Mulo yen ngaji kuwi silo nang ngarep gurumu, ojo lewat facebook, ben ora gampang ngaram-ngaramke,” tutur Iskidjan.

Pesan moral itu, kurang lebih berarti, kalau mengaji, seharusnya bersila di depan guru, jangan lewat facebook, agar tidak mudah mengharam-haramkan sesuatu. Sementara itu, kegaduhan pada keluarga Kinasih terus berlanjut.

Berbagai upaya pembuktian dilakukan. Perlahan, silang-sengkarut asmara antara Sulastri dan Suntoro mulai terurai. Si sisi lain, sejumlah kebusukan Suratno di masa lalu terkuak.

“20 tahun kepungkur, aku kedaden sumpah. Gak bakal rabi karo wong wedok liyo sak liyane sulastri,” ungkap Suntoro, menunjukkan kesetiaannya pada Sulastri, sebelum akhirnya perempuan itu dijodohkan dengan Suratno.

Adegan demi adegan ludruk bernuansa teater ini diperagakan begitu apik, sehingga sukses menampilkan betapa rumitnya kisah cinta para tokoh. Esensi kesetiaan berkeluarga juga dipaparkan, tidak sekadar ditunjukkan dari satu sudut pandang.

Dalam pementasan ini, dua warga negara asing (WNA) turut ambil bagian. Mereka adalah Ellen Algren dari Swedia dan Ayaka ‘Endang’ Mashimo dari Jepang. Ayaka berperan sebagai teman Kinasih yang datang khusus dari Jepang untuk hadir dalam resepsi pernikahan itu.

Sementara, Ellen Algren berperan sebagai seorang jurnalis yang sedang mencari kontrakan di Malang. Bersama sejumlah tokoh lain, Ellen hadir di tengah cerita sebagai intermezo atau jeda guyonan saat cerita sedang genting.

Kepada MVoice, sang sutradara, Sutak Wardhiono, mengapresiasi keterlibatan dua WNA itu. “Algren saat ini sedang menempuh studi di Malang. Kalau Ayaka, bahkan sengaja datang dari Jepang khusus untuk main ludruk,” ungkapnya.

Terkait jalannya pertunjukan, dia menambahkan, ada beberapa terobosan yang disematkan, antara lain permainan visual. Nuansa treatrikal juga begitu kental pada pertunjukan ini.

“Kami ingin masyarakat, terutama anak-anak muda, ikut berperan aktif melestarikan seni tradisi. Jadi memang agak berbeda dengan ludruk biasanya,” pungkasnya.