Ketimbang Masker, Warga Terdampak Abu Bromo Lebih Butuh Obat Batuk

0
16
Warga Desa Taji melintasi balai desa. (fia)

MALANGVOICE – Semburan abu Bromo membuat sebagai warga di wilayah terdampak, khususnya Desa Taji mengalami gangguan kesehatan dalam bentuk batuk dan diare. Gangguan ini muncul ketika intensitas hujan abu sempat tinggi pada Jumat (8/1) pekan lalu.

Supiani, salah satu warga Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang mengatakan, abu Bromo banyak menempel pada pakaian yang dijemur. Abu vulkanik itu tidak bisa bersih hanya dengan dikibaskan. Sehingga ketika dipakai menjadi terhirup dan memicu batuk bahkan diare.

“Terutama pada anak-anak. Pasca hujan abu lebat di Jumat minggu lalu, besoknya banyak yang cari obat batuk dan diare. Tapi karena di posko PMI tak ada, akhirnya warga berinisiatif membeli sendiri di polikesdes,” cerita perempuan yang rumahnya disewa untuk posko Bromo itu.

Ibu dari Aura itu menambahkan, hujan abu biasanya cukup deras jika ketinggian semburan material vulkanik dari kawah Bromo berkisar antara 500 sampai 1000 mdpl. Jika di atas angka itu, abu biasanya terbang terbawa angin ke arah yang lebih jauh.

“Sempat ketebalan abunya tinggi. Ketika kita ukur pakai koin Rp 500, itu sampai tumpuk dua. Kalau sudah begitu, saya nggak beraktifikas luar ruangan,” imbuh perempuan berambut panjang ini.

Ia melanjutkan, banyak warga yang enggan memakai masker. Sehingga bantuan masker dan obat tetes mata menumpuk di posko PMI. Pelindung saluran pernafasan itu justru dinilai menghambat aktifitas saat di kebun.

“Orang-orang sudah terbiasa dengan abu Bromo, kalau pakai masker katanya panas,” cerita dia.

Supiani menambahkan, alih-alih masker atau obat tetes mata, warga justru lebih membutuhkan kacamata dan obat batuk. Dia menuturkan, beberapa orang yang beraktifitas di kebun memakai kacamata bahkan helm untuk melindungi diri dari abu Bromo.

“Bantuan obat tetes mata banyak, tapi nggak kepakai juga karena nggak ada yang sakit mata,” tukasnya.

Hal senada juga disampaikan Sampat. Tokoh masyarakat Desa Taji itu mengatakan, abu Bromo bukanlah hal baru, sehingga masker maupun obat tetes mata sampai saat ini belum diperlukan oleh warga.

“Kalau ke kebun pakai masker, malah panas. Nggak pas,” kata pria kelahirun 1920an itu.