Gubernur Maluku Buka Pesta Teluk Ambon dan Luncurkan HPN 2017

0
97

MALANGVOICE – Gubernur Maluku Ir Said Assagaff membuka Pesta Teluk Ambon ke-11 dan meluncurkan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2013 , Kamis (8/9), hari ini. Acara Pesta Teluk bertema Alam Beta Indah itu berlangsung di lapangan Polda Maluku di Tantui, Ambon.

Pesta Teluk Ambon berlangsung 8-10 September 2016. Menteri Pariwisata Arief Yahya yang semula dijadwalkan membuka acara, ternyata tidak hadir. Kegiatan yang berlangsung meriah itu dihadiri antara lain Pangdam Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo, Kapolda Maluku Brigjen Pol Ilham Salahuddin, dan Ketua Dewan Penasehat PWI Tarman Azam.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Maluku, sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara, Rosmin Tutupoho, mengatakan, pesta teluk telah berlangsung 11 kali.

“Acara ini terselenggara berkat kerja sama Pemprov Maluku dengan Kementerian Pariwisata. Sejumlah acara yang ditampilkan antara lain Arumbae Manggurebe yang diikuti peserta dari negeri-negeri adat yang ada di Maluku, lomba perahu semang, lomba memancing tradisional, dan lomba foto pariwisata, serta lomba bintang pelajar.

Dalam kesempatan itu juga diadakan peluncuran peringatan HPN 2017 yang secara simbolis dilakukan pemukulan tifa, pelepasan balon HPN, dan pelepasan burung merpati oleh Gubernur Maluku, Ketua Dewan Penasehat PWI, dan Ketua Panitia Pelaksana HPN 2017, Muhammad Ikhsan.

Alam Eksotik

Dalam sambutannya, Gubernur Maluku mengajak masyarakat selalu bersyukur atas kekayaan alam dan budaya Maluku yang sangat eksotik. Event Pesta Teluk Ambon telah menjadi agenda pariwisata tahunan Pemprov Maluku dalam rangka memperingati Hari Pariwisata Dunia (World Tourism Day), yang ditetapkan World Tourism Organization dan diperingati setiap 27 September.

Biasanya Pesta Teluk Ambon dilaksanakan setelah peringatan Hari Pariwisata Dunia yaitu pada 28 s/d 30 September. Tetapi tahun ini pelaksanaannya dimajukan dalam rangka menyemarakan HUT GPM ke-81 pada 6 September, HUT ke-441 Kota Ambon pada 7 September, sekaligus launching Hari Pers Nasional (HPN) 2017.

“Eksotisme bahari Indonesia timur memang tak habis dijelajah. Birunya laut dan putihnya pasir pantai seakan menjadi magnet tersendiri untuk mengundang anda kembali menikmati panorama bumi Tanah Air Beta,” kata Said.

Pesta Teluk Ambon dipusatkan di pinggir Teluk Ambon dengan pemandangan yang sangat indah. Nun Jauh di seberang teluk itu terdapat bukit-bukit menghijau. Di sebelah kanan membentang panjang Jembatan Merah Putih yang tahun ini baru diresmikan. Di Teluk Ambon sendiri lalu lalang kapal-kapal, termasuk perahu-perahu masyarakat yang akan mengikuti lomba.

Menurut Gubernur, acara ini dimaksudkan untuk menarik minat pelancong berkunjung, baik domestik maupun internasional, di samping menumbuhkan investasi dan perluasan bisnis pariwisata. Pesta Teluk Ambon juga dipercaya mampu mempererat tali persaudaraan dan nasionalisme baik bagi warga Maluku sendiri dan seluruh rakyat Indonesia.

Nama pesta Teluk Ambon, kata Gubernur, seperti dikutip dari rilis panitia HPN, mencerminkan dua hal yang sangat khas untuk Maluku.

Pertama, Teluk Ambon memiliki keindahan yang sangat menakjubkan, sekaligus menjadi pusat transportasi dan perdagangan provinsi Maluku yang dikenal sejak zaman kolonial hingga dewasa ini. Di Teluk Ambon yang indah ini bisa disaksikan pelbagai perahu dan kapal yang datang dan pergi sebagai pertanda bahwa teluk ini adalah urat nadi kehidupan. Apalagi di Teluk Ambon kini terpancang Jembatan Merah Putih, yang menghubungkan Jazirah Leitimur dan Jazirah Leihitu, sebagai icon teluk, baik untuk mempermudah akses transportasi, maupun menambah keindahan teluk ini.

Kedua, Teluk Ambon memiliki nilai historis serta sosial kultural yang sangat kaya. Jika diperhatikan secara baik, teluk ini berada di tengah antara wilayah adat Leihitu dan Leitimur, yang dapat dimaknai sebagai penghubung atau pertalian antara masyarakat Leihitu dan Leitimur, sekaligus menjadi sumber kehidupan untuk semua orang basudara di daerah ini.

Pada aspek yang lain, keberadaan teluk Ambon sebagai pusat transportasi dan dagang, telah menjadi media perjumpaan dan akulturasi pelbagai budaya, baik antara masyarakat indigeneous people (masyarakat asli) dengan pendatang, maupun masyarakat pendatang dengan masyarakat pendatang. Sehingga Maluku secara umum dan Ambon secara khusus sejak awal pembentukannya sudah menjadi kota yang kosmopolitan. Karena lahir dari Dadomi dan Tali Pusa Multikultural.

Masih menurut Said, sejak menjadi pusat rempah-rempah yaitu Cengkeh dan Pala, Maluku, khususnya Ambon menjadi tempat perjumpaan pelbagai saudagar, baik dari Nusantara, maupun dari mancanegara, terutama Arab, China, Persia, Gujarat, India, dan Eropa. Semuanya datang ke negeri datuk-datuk ini melalui jalur sutera (silk road) dan jalur rempah (spice route).

Maka tak mengherankan sejak awal, Maluku, khususnya kota Ambon selain menjadi Baeleo untuk masyarakat Siwalima, tetapi juga menjadi Baeleo Nusantara untuk pelbagai suku bangsa di Nusantara, serta Baeleo dunia untuk pelbagai bangsa yang datang dari belahan bumi ini.

Fakta Maluku, khususnya Ambon, telah menjadi Baeleo bersama Orang Basudara itu dapat dilihat dari beragam fam atau marga di daerah ini, misalnya, dari Sulawesi Selatan menggunakan fam Bugis atau Makassar, dari Sulawesi Tenggara menggunakan inisial La atau Wa, dari Sumatera, pake fam Padang, Palembang.

Dari Arab ada yang pakai fam Assagaf, Al-Idrus, Basalamah, Attamimi, dll. Dari Belanda ada yang pakai fam Van Afflen, Van Room, De Kock, Ramschie, Payer, dll. Dari Portugis ada yang pakai fam Da Costa, De Fretes, De Lima, Fareire, dll. Dari China ada yang pakai fam, Lie, Khouw, dll. Kemudian, kita juga bisa temukan beragam agama di sini, ada Salam (Islam), ada Sarane (Protestan dan Katolik), ada Hindu, ada Budha, dengan agama-agama suku, yang dianut katong pung basudara daru suku Naulu dan Hualu.

“Hal yang menarik, dari hasil akulturasi itu muncul pelbagai seni budaya yang sangat kaya dengan nilai-nilai multikultural. Misalnya akulturasi budaya lokal dengan Islam atau Arab, seperi Abda’u di Tulehu, Pukul Sapu di Mamala-Morela, Tarian Sawat. Akulturasi budaya lokal dengan Arab dan Melayu seperti tarian Dana-Dana. Serta akulturasi budaya lokal dengan Barat, seperti Tari Katreji, musik Hawaian, tarian Oralapei, Dansa Ola-Ola, dan tarian Cakaiba,” katanya.

Hal yang menarik, walaupun ada keragaman seni budaya serperti itu, tetapi ada juga seni budaya yang menyatukan keragaman Orang Basudara di daerah ini, antara lain tari Cakalele, budaya Makan Patita, Bambu Gila, dll. Semua kekayaan seni budaya yang lahir dari perjumpaan di Teluk Ambon ini merupakan potensi wisata budaya yang sangat kaya.