Duh… Sakit Parah, Bayi Enam Bulan Tanpa Orangtua Ini Harus Bertahan Hidup!

0
172
Bayi enam bulan yang harus berjuang hidup tanpa kedua orangtua (deny)

MALANGVOICE – Sungguh mengenaskan. Bayi laki-laki berusia 6 bulan, Imam Ampar Awank, harus berjuang hidup sendiri, karena ditinggal kedua orangtuanya. Saat ini Awank memang tengah dirawat di Irna 12 ICU, RS dr Syaiful Anwar, Kota Malang, karena penyempitan pembuluh darah di otak.

Sang ibu, Vindia Sari (17), meninggal saat Awank berusia tiga bulan, sedangkan sang ayah, Nur Cholis (19), dikabarkan meninggal di luar Pulau Jawa, saat bekerja selama enam bulan. Kini Awank dibantu Yayasan Kisah Nyata dan Jeritan Hati (KNdJH) untuk membantu pengobatan dan perawatannya di RS.

Menurut pendiri KNdJH, Nur Miftahul Jannah (34), selama hidup sebatangkara, Awank yang masih membutuhkan kasih sayang orangtua itu diasuh kakek buyutnya, Atemun (83), dan Suwarti (59), yang tinggal di Jalan Jodipan Gang 3, RT 04/RW06, Blimbing.

Sejak lahir, diceritakan Miftahul, Awank sudah sakit-sakitan, seperti batuk dan kejang, hingga tak pernah beranjak dari kasur. Namun karena Atemun hanya tukang becak, obat yang diberikan cukup sekadarnya, yang dibeli di warung atau apotik.

“Mereka pikir Awank hanya sakit biasa, karena itu diberi obat biasa saat kejangnya kumat,” katanya, saat ditemui MVoice di ruang 12 ICU, beberapa menit lalu.

Tiga hari lalu, bayi malang itu menderita kejang dahsyat, hingga tak sadarkan diri. Atemun kemudian membawa Awank ke dokter terdekat. Karena kondisi makin buruk, dokter memutuskan agar dirujuk ke RS Syaiful Anwar. Sayangnya, saat di UGD, Atemun keberatan membayar biaya pengobatan Awank sebesar Rp 1,5 juta, karena tak punya uang.

“Awank pun tidak segera mendapat perawatan, dari pagi sampai sore, karena tak ada biaya. Untung saya dapat informasi itu, dan akhirnya langsung menemui Awank. Akhirnya dia segera dirawat intensif,” lanjut Miftahul.

Usai diperiksa, baru diketahui penyebab bayi itu sering kejang-kejang. Dari hasil ronsen, pembuluh darah di otak menyempit. Tapi ada kejanggalan lain selain masalah di otak. Diperkirakan Awank juga sakit paru-paru. “Malam ini dia bakal di ronsen paru-parunya. Semoga tidak apa-apa,” harap Miftahul.

Kini Awank hanya tergeletak lemah di atas kasur, dengan bantuan selang untuk bernapas. Keluarganya pun tampak enggan mengurus Awank. Menurut Miftahul, keluarganya takut disuruh membayar obat dan pemeriksaan. Karena itu Miftahul berusaha keras mendaftarkan Awank di yayasan, agar mendapat kemudahan dan bantuan dari pemerintah.

“Saat ini biaya masih kami tanggung. Tapi setelah resmi jadi anggota yayasan, insha Allah Awank mendapat bantuan dari Dinas Sosial,” katanya.